Mewabahnya COVID-19 memaksa semua institusi pendidikan di seluruh belahan bumi menerapkan protokol jaga jarak, sehingga kegiatan pendidikan tatap muka pun ditiadakan. Hasilnya, pembelajaran secara daring (online) pun menjadi sebuah kebiasaan baru. Hadirnya fasilitas konferensi video di internet bisa dibilang cukup inovatif, karena tak disangka, media inilah yang menjadi sarana penghantar ilmu semua peserta didik dalam menjalani kegiatan belajar mengajar di masa pandemi.

Di Indonesia sendiri, hal ini juga terimplementasi. Dari jenjang SD hingga Perguruan Tinggi, metode pembelajaran secara daring telah berjalan semenjak Maret silam, dimana Indonesia mengkonfirmasi kasus positif pertama. Awalnya, pelaksanaannya menimbulkan keraguan dari beberapa pihak. Selain masalah ketidaksiapan tenaga didik yang akan menjalankan kegiatan mengajar, kendala juga terdapat pada aksesibilitas peserta didik terhadap sinyal, kuota internet, dan perangkat yang kompatibel untuk mengakses panggilan video.

Kadung terpaksa, akhirnya sistem pembelajaran daring pun tetap dilaksanakan. Pemerintah juga dapat mengakali dengan baik mengenai kebutuhan kuota yang tentunya semakin melonjak bagi peserta didik. Hal ini dibuktikan dengan adanya bantuan subsidi kuota yang didistribusikan pada seluruh peserta didik di setiap jenjang pendidikan di Indonesia. Meskipun belum sepenuhnya merata, setidaknya pemerintah sudah mulai mengambil langkah secara bertahap.

Seiring berjalannya proses pembelajaran daring, masalah-masalah baru muncul. Salah satunya mengenai efektifitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilakukan secara daring. Mulai dari ketidakpahaman siswa akan materi yang diajarkan karena tenaga pendidik tidak terbiasa untuk mendistribusikan ilmu dengan non-tatap muka, hingga menurunnya minat atau orientasi dari peserta didik itu dalam menempuh ilmu karena belum ditemukannya formulasi yang dapat memantau eksistensi dan fokus peserta didik saat mengikuti pelajaran.

1) Kurangnya Kompetensi Tenaga Pendidik dalam Mendistribusikan Ilmu secara Daring.

Sekalipun telah memenuhi unsur audiovisual, kegiatan mengajar yang menggunakan konferensi video secara daring tetap saja terasa tidak bisa semaksimal tatap muka. Suasana psikologis tatkala tatap mata dilakukan secara langsung dan dengan perantara layar akan terasa berbeda, sehingga sang tenaga pendidik seakan kehilangan sisi optimalnya dalam memberikan pengajaran. Alhasil, proses transfer ilmu akan berjalan dengan tidak efisien, atau bahkan dalam situasi terburuk dapat menjadi sia-sia.

2) Minimnya Pantauan yang Menyebabkan Siswa Kesulitan untuk Berfokus dan Kehilangan Minat Belajar.

Meskipun wajah dan suaranya dapat terlihat jelas di layar, namun seorang pengajar tidak akan pernah bisa mengetahui secara utuh situasi di sekitar peserta didiknya. Sebagai contoh, bisa saja seorang siswa yang tubuhnya berada di depan layar, sebenarnya sedang menonton film dengan meletakkan layar lagi di belakang layar yang ia gunakan untuk belajar.

Hal ini akan menimbulkan kebiasaan “meremehkan” terhadap kegiatan belajar, dan tentunya dapat berdampak bilamana nantinya pembelajaran tatap muka akan dimulai kembali. Tentunya, situasi ini akan menjadi tantangan baru bagi tenaga pengajar untuk mempersiapkan formulasi terbaik saat Kegiatan Belajar Mengajar secara langsung sudah kembali diselenggarakan, agar siswa dapat terlepas dari kebiasaan lamanya yang cenderung enggan mengikuti pelajaran saat pembelajaran daring berjalan.

3) Sinyal Internet, Kuota, dan Perangkat yang Kompatibel

Bagi peserta didik dan pengajar yang tinggal di perkotaan, perkara sinyal tentunya bukanlah masalah yang besar. Namun beda halnya dengan mereka yang tinggal di pedesaan yang memiliki kesulitan akses terhadap sinyal internet. Dalam menjalankan program video konferensi secara daring, sekedar adanya sinyal bukan berarti dapat membuat program berjalan baik. Dibutuhkan pula kestabilan sinyal yang mumpuni selama konferensi video daring, agar semua yang disampaikan oleh tenaga pendidik dapat terdengar dengan sempurna.

Selain itu, perangkat gawai ataupun laptop yang digunakan untuk Kegiatan Belajar Mengajar juga harus diperhatikan. Sebagai pengingat, masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Jangankan membeli gawai dan kuota intenet, untuk makan sehari-hari saja harus membanting tulang berbelas jam terlebih dahulu. Padahal, pendidikan adalah kewajiban dan hak yang harus ditempuh oleh setiap masyarakat, bukan?

4) Kehidupan Sosial Peserta Didik

Tak dapat dipungkiri, ilmu yang bersifat teknis bukanlah satu-satunya hal yang bisa didapatkan di sekolah. Malah, bisa dibilang kalau mata pelajaran yang ditempuh di sekolah hanya memiliki bobot di bawah 50 persen. Sisanya? Tentu saja ilmu sosialisasi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan rekan dan lingkungan di luar rumah.

Peserta didik yang diwajibkan untuk terkungkung dalam rumah dan menghabiskan waktunya sehari-hari di depan gawai atau monitor komputernya berpotensi melunturkan kemampuan komunikasi langsung nantinya. Mengapa demikian, karena pola perilaku manusia dari dunia maya dan dunia nyata dapat berbeda. Bisa jadi, di depan layarnya seorang peserta didik akan menjadi pribadi yang ekspresif dan aktif. Namun bilamana dihadapkan dengan dunia nyata, ia akan merasakan sebuah perbedaan yang berujung ketidaknyamanan dikarenakan terjadinya gegar kebiasaan. Dimana sebelumnya ia telah nyaman untuk berinteraksi dari balik layar, namun kini harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar secara langsung.

Wacana Pembelajaran Daring Permanen, Tatkala Efek Negatif akan Melebihi Efek Positif

Dari beberapa penjabaran di atas, tentunya masih banyak lagi kendala-kendala lain yang dihadapi para peserta didik di seluruh dunia ketika menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar dengan metode daring. Namun dengan menarik intisari dari empat poin tadi, takaran efektifitas belajar daring tentunya sudah terlihat dengan jelas, dimana rasio ketidakefektikannya akan lebih buncit ketimbang keefektifannya.

Wacana mengenai pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar secara daring yang akan dipermanenkan beberapa waktu silam tentunya harus dikaji kembali dengan memperhatikan poin-poin krusial yang dapat menyebabkan efek buruk bagi Sumber Daya Manusia di Indonesia nantinya. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa dewasa ini, banyak sektor industri yang mulai mendigitalisasi alur pelaksanaannya, namun penulis memandang bahwa aspek Pendidikan adalah hal yang bisa dibilang mustahil untuk dipintaskan melalui teknologi.

Manusia Tetaplah Manusia

Secanggih apapun teknologi, manusia tetaplah manusia. Nalar yang dimiliki sedari lahir tak mungkin hanya diasah dengan ilmu teknis, melainkan praktik pula. Selain itu, ilmu-ilmu kehidupan yang acapkali ditemukan dalam aktivitas sehari-hari juga merupakan aspek yang penting agar seorang manusia dapat bertumbuh menjadi pribadi dewasa yang memiliki kemampuan mumpuni.

Seorang manusia yang dalam usia pertumbuhan membutuhkan sosialiasi, interaksi, dan komunikasi secara langsung dengan manusia lain. Jangan sampai karena kebelet ingin dinilai menjadi negara yang bisa memaksimalkan teknologi, faktor pendidikan yang dikorbankan. Karena impikasinya akan berdampak panjang terhadap kualitas Sumber Daya Manusia.

TT Ads

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *