Profis, apakah kalian tahu kalau di muka bumi ini, ada sejenis hewan yang semasa hidupnya bisa menghabiskan jarak tempuh hingga 10× jarak pulang pergi dari Bumi ke Bulan? Sebagai mahkluk yang mengandalkan naluri, melakukan perjalanan jauh tentunya merupakan hal yang berbahaya. Mulai dari fenomena alam, kelelahan, hingga predator, setiap hewan yang berkeriapan di alam liar tentunya memiliki risiko keselamatan yang besar saat sedang mengembara, Profis.

Nah, sekarang waktunya Profis berkenalan dengan Burung Albatross. Hewan ini adalah salah satu burung laut yang menakjubkan dan “bermain jauh”. Usia mereka bisa hidup sampai lebih 50–60 tahun, dan kuat “terbang melayang” hingga 8,5 juta km semasa hidupnya. Beberapa jenis Albatross seperti Wandering Albatross dan Southern Royal Albatross memiliki bentangan sayap yang impresif dengan rata-rata 3 m hingga ada yang 4 m!

Rahasia aero-superioritas para burung cantik ini bukan di seberapa besar tubuh dan sayap mereka karena gravitasi bumi dan hukum Newton itu nyata dan absolut. Mereka telah menyempurnakan teknik terbang-melayang (flying+extensive gliding) yang disebut “dynamic soaring” yang membuatnya mampu menempuh jarak 22–23 m untuk setiap 1 m altitude yang hilang. Berkat kemampuan efisiensi itu, dalam sekali terbang saja mereka bisa menempuh 16.093 km (10.000 mil), dan dalam setahun saja mampu menempuh jarak 120.000 km.

Para ilmuwan, pakar dirgantara, hingga antusias pencinta hewan banyak yang terkesima dengan kemampuan terbang Albatross yang unik itu. Anatomi tubuh burung Albatross memiliki fitur pesawat yang canggih. Jika pesawat terbang manusia memiliki sensor pitot tubes untuk mendeteksi kecepatan angin di sekitar ruang udara pesawat, para Albatross memiliki fitur serupa di kedua lubang di paruhnya yang sekaligus memberinya kemampuan superior untuk mencium sumber makanan (ikan, contohnya).

Tidak hanya itu, tanpa harus membuang banyak kalori (energi) untuk mengkontraksi otot-otot sayapnya dalam mempertahankan posisi sayap statis membentang untuk melayang, para Albatross bisa mengunci sayapnya saat membentang melayang. Detak jantungnya pun jadi bisa rendah meski saat mereka berkelana bermain jauh menempuh sekeliling penjuru dunia, dan tetap relatif stabil di udara meski di tengah angin laut yang ganas sekalipun (bagi kapal layar/laut buatan manusia).

Uniknya, para Albatross ini meski hidupnya mengembara sampai ke ujung dunia, tapi mereka:

1) Menunda untuk kawin selama 10–15 tahun pertama hidupnya dalam mencari pasangan sekaligus latihan hidup yang keras, dan

2) Ketika mereka sudah “jatuh cinta”, yang biasanya dimulai dengan ritual “courtship berdansa” dulu, sebagian besar burung Albatross rata-rata berpasangan seumur hidup dengan pasangan yang sama. Bahkan ada yang tidak kawin lagi jika pasangannya mati seperti spesies Laysan Albatross. Menurut ilmuwan, ada kemungkinan besar pilihan bermonogami dalam dunia hewan sekalipun (tidak hanya manusia) ada kaitannya dengan genetika a.k.a. ada DNA spesifik yang berkaitan langsung dengan reproduksi monogami.

Tapi, para burung ini sama halnya seperti banyak spesies liar di bumi saat ini, juga mengalami kerentanan kepunahan akibat aktivitas manusia di mana dari 21 spesies Albatross yang ada 19 di antaranya masuk kategori “VulnerableIUCN Red List. Mereka adalah salah satu burung yang penurunan populasinya paling rentan dan mengkhawatirkan (jumlahnya ribuan yang mati setiap tahunnya). Sering mereka tersangkut, terluka, tenggelam mati karena menyambar ikan dan tersangkut di jaring dan kail nelayan. (isu overfishing dan illegal fishing).

Wah, ternyata dunia maritim menyimpan kekayaan fauna yang begitu fantastis ya, Profis! Oleh karena itu, mari kita jaga laut kita dengan selalu membatasi penggunaan sampah plastik, ya!

TT Ads

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *