Pernahkah profis mendengar negara bernama Tuvalu? Negara mungil yang terletak di Samudera Pasifik ini mungkin bisa dibilang luput dari kacamata internasional. Tidaklah aneh, lokasinya yang kecil, padat, minim aksesibilitas dan terpencil membuat negara terkecil keempat di dunia ini hanya dikunjungi tidak lebih dari 3.000 turis per tahunnya. Bahkan pada tahun 2016, negara ini hanya dikunjungi sekitar 2.000 turis, dimana 65%-nya datang dalam rangka perjalanan bisnis dan 15% sebagai pekerja lembaga internasional dan konsultan teknisi. Artinya, hanya 20% dari turis pada tahun tersebut yang datang dalam rangka rekreasi.

Negara dengan PDB terendah di dunia ini memiliki sekitar 11.000 penduduk yang bermukim di atas 26 km2 luas wilayahnya. Kondisi geografisnya juga cukup unik. Titik tertinggi di antara 114 pulau yang membentuk negara ini hanya setinggi 5 MDPL, sehingga tanah di atasnya tidak cocok dijadikan untuk pertanian. Lantas, industri yang menggerakkan roda perekonomian negara ini pun hanya Perikanan. Perkebunan di pulau ini ada, namun hasil buminya hanyalah kelapa dan sebuah tanaman asli yang bernama “Pulaka”. Sayangnya, tanaman ini memiliki kontribusi yang kecil buat sektor perekonomian.

Di bidang teknologi, negara yang terletak di antara Hawaii dan Australia juga memiliki ketertinggalan yang cukup signifikan dibanding tetangga-tetangganya. Tercatat, Tuvalu hanya memiliki stasiun AM yang itu pun diberikan oleh Jepang. Hanya 900 orang di negara ini yang menggunakan internet. Kecepatannya juga “luar biasa”, 512 kbps untuk unggah dan 1.5 mbps untuk unduh. Keterbatasan akses terhadap internetlah yang menjadi alasan mengapa negara ini cukup tertinggal dan kurang dilirik oleh turis

Dikelilingi oleh Samudera, apakah Tuvalu memiliki cadangan air bersih? Jawabannya tentu saja; tidak, profis. Lantas, bagaimana warga di sana memenuhi kehidupannya? Jawabannya adalah penyulingan air. Tuvalu bisa dibilang cukup beruntung karena mendapatkan belas kasihan oleh banyak pihak. Tempat penyulingan air yang dihadiahkan oleh PBB membuat mereka dapat bernafas lega untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Namun tak selamanya pasokan air tersebut dapat tetap mencukupi kebutuhan warga. Beberapa kali dunia mencatat bahwa negara-negara tetangganya sering mengirimkan bantuan air bersih ketika Tuvalu dihadapkan dengan kemarau panjang. Salah satunya Selandia Baru yang memasok kebutuhan air bersih kepada Tuvalu pada kemarau dampak badai El Nina pada 2011 silam.

Tak hanya di bidang kebutuhan air bersih, negara yang memiliki 1 sekolah tinggi dan 1 rumah sakit ini juga mendapatkan belas kasih dari salah satu tetangga jauhnya; India. Setiap tahunnya, India memasok sekitar $125.000 kepada satu-satunya rumah sakit di Tuvalu untuk pengadaan obat-obatan dan peralatan penting.

Beruntunglah bagi kita yang lahir di Indonesia, profis. Di masa kecil dulu, mungkin profis sering menikmati kegiatan bermain di lahan yang luas dan aman. Namun tidak di Tuvalu. Karena kekurangan lahan, tidak ada tempat yang cukup layak untuk anak-anak bermain. Alhasil, mereka bermain di landasan udara. Hal ini cukup lumrah di sana, karena para orangtua pun sudah memaklumi kebiasaan tersebut dan menganggap bahwa hal tersebut normal. Ketika sebuah pesawat ingin lepas landas maupun mendarat, sirine keras akan berbunyi menggema seluruh area bandara. Anak-anak yang bermain di sana pun tentunya sudah paham. Mereka langsung menyingkir dari “tempat bermainnya”. Hebatnya, belum pernah ada insiden apapun yang terjadi di bandara tersebut. Setelah pelandasan maupun pendaratan pesawat selesai, anak-anak pun akan dengan santainya kembali ke landasan dan melanjutkan kegiatan bermainnya.

Dengan segala keterbatasan itu, bagaimana bisa Tuvalu tetap bertahan? Logikanya, bilamana hanya mengandalkan uluran tangan negara lain, tentunya lambat laun negara ini kolaps dan menjadi sasaran empuk untuk dikuasai negara-negara yang membantunya.

Jawabannya adalah nama negaranya! Ya, profis tidak salah baca, kok. Nama Tuvalu membuat negara ini memiliki domain .tv. Siapa yang menyangka kalau ternyata nama negara yang mereka sandang menjadi berkah tersendiri untuk kemakmuran negaranya?

Di tahun 1998, sebuah perusahaan di Amerika membayar $50 juta kepada pemerintah Tuvalu untuk hak sewa domain .tv selama 12 tahun. Dengan uang ini, Tuvalu bisa bergabung ke PBB dengan membayar uang sebesar $100,000 pada masa itu. Domain .tv juga meningkatkan GDP sebesar 50% dan membuat pemerintah pada masa itu bisa memberikan layanan listrik disemua pulau. Diketahui, uang tersebut juga masih diputar oleh negara untuk memodali kehidupan masyarakatnya. Bahkan sekarang, domain ini juga diperjualbelikan oleh pemerintahnya untuk menunjang pendapatan negara.

Sayangnya, negara ini tak akan bisa bertahan selamanya. Ilmuwan memprediksi bahwa dalam kurun waktu lima puluh tahun kedepan, negara kepulauan ini akan tenggelam seiring imbas dari kenaikan air laut akibat pemanasan global. Hal ini bisa dibilang wajar mengingat rata-rata daratan di Tuvalu hanya memiliki jarak 1,5 – 2 meter saja dari permukaan laut. Hal ini tentu menyedihkan karena pada waktunya nanti, semua penduduk harus dievakuasi ke tempat yang aman. Dimana bukan tak mungkin bilamana riwayat eksistensi Tuvalu bisa tamat.

Terlepas dari semua dinamika tersebut, masyarakat Tuvalu bisa dibilang cukup bahagia dalam menjalani kehidupan. Bagi mereka, anugerah indahnya alam tropis khas pulau-pulau di sekeliling lautan adalah berkah yang layak dinikmati. Negara ini minim kejahatan dan memiliki solidaritas antar masyarakat yang begitu tinggi.

Semoga pemerintah Tuvalu dan PBB dapat menemukan solusi terbaik dari ancaman tenggelamnya pulau ini pada waktunya kelak, ya!

TT Ads

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *