Kehadiran COVID-19 yang menjangkit hampir seluruh negara di dunia secara mendadak menciptakan hantaman dahsyat di berbagai aspek kehidupan pada mayoritas negara. Tak hanya krisis kesehatan dan ekonomi, bergesernya tren sosial juga tercipta akibat penyakit yang disebabkan oleh mutasi virus corona ini. Meskipun tak semematikan pendahulunya (SARS dan MERS), namun tak dapat dipungkiri bahwasanya COVID-19 sukses menciptakan kepanikan massal. Pasalnya, virus ini memiliki kemampuan penularan yang sangat tinggi.

Dari kacamata awam, angka 97% tentunya dapat dijadikan indikator bahwa penyakit yang menyandang gelar pandemi ini dikategorikan “aman”. Namun nyatanya tidak, dan situasi ini justru lebih potensial sebagai ancaman ketimbang virus yang memiliki kemampuan membunuh hingga 97%. Ketika sebuah virus dengan sangat cepat membunuh 98% inangnya maka hanya ada tersisa 3% pasiennya yang masih bertahan untuk menyebarkan virus tersebut. Tetapi sebaliknya, andaikata virus “hanya” membunuh 3% inangnya, ada potensi untuk 97% penderita sisanya menyebarkan virus ini lebih luas lagi. Sewaktu 97% inang virus tadi berpotensi jadi penular, tentu penularannya pun akan menjadi jauh lebih besar sehingga agen-agen virus seperti ini relatif jauh lebih cepat meluas.

Dan seperti yang sejarah pernah catat,. Merunut waktu ke 1918, situasi ini pernah terjadi tatkala Flu Spanyol mewabah. Saat berakhirnya Perang Dunia I pada sekitar seratus tahun silam, wabah influenza menghantam Eropa. Tidak diketahui pasti dari mana asal flu ini, sebab negara-negara raksasa di dunia saat itu masih sibuk berperang, sehingga peristiwa pandemi yang sedang terjadi seakan luput dari perhatian media. Hampir semuanya sibuk membahas perang besar (The Great War) yang sudah memasuki tahun keempat. Hampir semua negara, kecuali Spanyol. Spanyol yang pada kala itu tidak aktif dalam peperanganlah yang dengan vokal menyuarakan ancaman global ini, sehingga virus ini pun lebih dikenal sebagai Flu Spanyol.

Sebelas bulan berlalu ketika perang dunia berakhir, barulah masyarakat Eropa menyadari kalau ternyata wabah sudah ada di depan hidung mereka. Tak hanya negara-negara di Eropa, wabah ini juga turut menjangkiti negara-negara di Asia, Amerika, Amerika, hingga Kepulauan Pasifik. Semenjak virus ini terdeteksi untuk pertama kali pada Januari 1918 hingga wabah berakhir pada Desember 1920, virus ini menjangkiti 27% penduduk dunia dan mencetak angka terinfeksi sebanyak 500 juta jiwa. Pandemi ini sukses membuat krisis kesehatan dan ekonomi di bumi pada masa itu, dan mencatat sebanyak 17 juta jiwa yang tewas karenanya.

17 juta tentunya adalah angka yang fantastis. Namun bilamana menilik dari total terinfeksi keseluruhan, persentase kematiannya hanya 3%. Tentunya persentase yang kecil, bukan?

Dari sini, kita bisa melihat bahwa angka 3% bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan begitu saja. Sekarang, mari kita pakai skenario ini pada pandemi COVID-19. 1 pasien COVID-19 menularkannya ke 5 orang, lalu 5 orang menularkan ke 25 orang, 25 orang menularkan ke 125 orang, dan seterusnya. Dari 125 pasien tersebut, 4 di antaranya meninggal dunia. Tiga persen. Maka bayangkan berapa banyak yang harus kehilangan nyawa seandainya virus tadi menyebar ke 1 juta orang atau 10 juta orang? Cara terbaik tentu saja mencegahnya sebelum wabah serupa menjadi terlalu besar.

Apakah COVID-19 akan jadi Flu Spanyol di generasi ini? Penulis pun tidak dapat memastikan, karena ahli medis pastinya lebih bisa memberikan penjelasan ilmiah soal itu. Namun sejarah merekam bahwa meremehkan pandemi bisa berakibat fatal.

Di sisi lain, penulis juga mencoba untuk positif. Untuk kali ini, ilmu kedokteran modern tentu sudah jauh lebih maju. Bukan separah seabad yang lalu ketika para pengidap flu dirawat di tenda massal dan banyak yang meninggal dunia di gubuk-gubuk dengan penanganan medis serba minimal. Hal ini tentunya menjadi faktor penting untuk menumbuhkan sikap optimis dalam menghadapi COVID-19. Namun terlepas dari semua itu, kewaspadaan selalu diperlukan. Karena apabila kita belajar dari sejarah, bangsa ini kerapkali terlambat menyadari ancaman. Soal angka kematian yang hanya 3% sama sekali bukanlah alasan untuk meremehkan.

Karena kita bukan keledai yang senantiasa terperosok ke lubang yang sama.

TT Ads

One comment

  • hardiana
    hardiana
    Reply

    selama yg meremehkan covid msh banyak, maka pandemi akan smakin parah di indo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *