Ketika mendengar negara Venezuela, tentunya profis akan dibayangi dengan banyak hal-hal eksotis. Negara yang secara geografis berada pesisir Utara Amerika Latin itu memang memiliki banyak pantai yang indah. Selain itu, negara ini juga dianugerahi dengan karunia minyak yang berlimpah, sehingga tak heran bilamana guru-guru IPS di seluruh dunia pada 10-15 tahun lalu melabeli Venezuela sebagai negara yang identik dengan minyak bumi.

Nama Venezuela mungkin tidak seterkenal Arab Saudi sebagai negara penghasil minyak. Tapi faktanya, Venezuela adalah negeri yang SANGAT KAYA akan minyak, bahkan melebihi Arab Saudi sekalipun. Sejak tahun 1910 hingga tahun 1940, industri minyak bumi di sana berkembang pesat hingga menjadi produsen minyak terbesar ke-tiga di dunia, membawahi Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Puncaknya, pada laporan perusahaan minyak British Petroleum tahun 2014, Venezuela dinyatakan memiliki cadangan minyak bumi sebanyak 297 milyar barel, sementara Arab Saudi “hanya” punya 265 milyar barel. Minyak bumi begitu melimpah ruah di Venezuela, mungkin bisa diibaratkan seperti negeri fiksi Wakanda yang memiliki tambang Vibranium di film Marvel Black Phanter.

Di sisi lain, industri modern di seluruh dunia mengandalkan minyak bumi sebagai tenaga penggeraknya. Otomatis, selama berpuluh-puluh tahun Venezuela menjadi negara yang makmur sebagai produsen minyak akibat tingginya permintaan.

Memasuki awal millenium hingga 2013, Venezuela sempat menyandang predikat sebagai surga dunia. Rakyatnya begitu dimanjakan oleh subsidi pemerintah. Tak tanggung-tanggung, harga bensin pada bulan Juni 2013 di negara itu hanya 1 sen USD per liter, atau setara Rp. 140,- saja, profis! Di Venezuela, harga bensin bahkan lebih murah daripada air mineral karena bantuan subsidi pemerintah. Selain itu, pemerintah mereka juga memberikan ragam subsidi lain kepada rakyatnya, seperti perumahan, listrik, bahkan makanan. Betul-betul surga dunia bukan, profis?

Tragisnya, semua kenikmatan itu harus dibayar dengan sangat mahal, semata-mata hanya karena niat baik yang tidak dibarengi pengetahuan ekonomi yang benar. Alhasil, semua kenikmatan surga yang diberikan kebijakan subsidi hanyalah ilusi sesaat. Dibalik kenyamanan itu, ada harga yang harus dibayar, dan harganya sangat mahal, yaitu kehancuran ekonomi negara Venezuela.

Hanya selang beberapa tahun, atau tepatnya sejak tahun 2014, Venezuela berubah 180° dari “surga dunia” menjadi “neraka dunia”.

Kebijakan Ekonomi Hugo Chavez

Mungkin profis bertanya-tanya, apa yang membuat perekonomian Sang Raksasa Minyak ini bisa jomplang dalam durasi yang begitu singkat? Untuk menjawab hal itu, ada baiknya kita melakukan kilas balik dengan membahas tokoh di balik kebijakan ekonomi Venezuela yang dianggap begitu membahagiakan pada tahun 1999-2013.

Hugo Chavez, mantan presiden Venezuela. Beliau adalah mantan tentara yang pernah terlibat kudeta. Pada tahun 1999, Hugo memenangkan pemilu setelah berkampanye besar-besaran dengan menjanjikan keadilan sosial dan pemberantasan kemiskinan. Guna menarik simpati di awal kepemimpinannya, Hugo menciptakan banyak kebijakan populis demi memerangi kemiskinan sekaligus membahagiakan warganya dengan bermodalkan pendapatan dari minyak bumi yang bisa dibilang bernominal fantastis.

Demi mengurangi pengangguran dan kemiskinan, Chavez juga terus merekrut banyak rakyatnya untuk menjadi pegawai perusahaan produsen minyak di Venezuela bernama PDVSA (Petróleos de Venezuela S.A.).

Ribuan orang direkrut masuk ke dalam perusahaan PDVSA tanpa melalui proses seleksi yang jelas. Terlepas produksi minyak sedang stagnan atau menurun, ribuan orang terus dipekerjakan di PDVSA tanpa proses seleksi kemampuan, semata-mata supaya mereka bisa mendapatkan gaji PDVSA yang sangat besar dengan harapan “terangkat dari jurang kemiskinan”.

Di sisi lain, Chavez juga memberlakukan kebijakan untuk menasionalisasikan perusahaan-perusahaan swasta dari skala kecil hingga skala besar. Ya, bukan cuma perusahaan besar, tetapi toko-toko kecil juga banyak yang diambil alih oleh pemerintah. Sederhananya, semua karyawan swasta berubah menjadi pegawai yang bekerja di bawah negara, yang gajinya dibayar melalui anggaran kenegaraan. Chavez praktis sedang memusatkan semua kegiatan ekonomi ke tangan pemerintah Venezuela, sementara sektor swasta semakin sedikit dan insignifikan jumlahnya.

Bagi Chavez, cara untuk menciptakan keadilan sosial adalah dengan mengendalikan sebanyak mungkin kegiatan ekonomi. Dalam pandangan Chavez, para pengusaha yang menciptakan usaha sektor swasta hanya akan menciptakan ekonomi yang tidak adil, yang merugikan rakyat miskin. Pemikiran ini disebut paham “Statisme” (State = negara), dimana negara berupaya mengambil alih segala bentuk kegiatan ekonomi seluas-luasnya dari yang skala besar hingga terkecil.

Kedengarannya, semua itu bagus. Efek jangka pendeknya terlihat indah: rakyat miskin Venezuela berkurang banyak, orang-orang miskin jadi mendapat pelayanan kesehatan, bensin yang murah membuat segalanya jadi murah. Chavez memangkas angka kemiskinan: dari 60% menjadi 30%. Chavez adalah pahlawan rakyat. Sayangnya semua itu ada harganya.

Perhatikan semua kebijakan Chavez di atas. Semua sektor dibebankan pada anggaran pemerintah, mulai dari gaji pegawai bank sampai petani. Sementara itu, bukan berarti negara punya uang tidak terbatas, penghasilan negara juga ada batasnya. Satu sektor yang menjadi batu tumpuan bagi penghasilan negara Venezuela yaitu penjualan minyak bumi ke seluruh dunia. Masalahnya, hanya sektor itu yang menjadi satu-satunya andalan pemerintah untuk menjaga semua kesetimbangan ekonominya.

Sumber pendapatan negara Venezuela, 95% berasal dari laba ekspor minyak bumi PDVSA. Kalau di kebanyakan negara, tentu penghasilan utama negara bersumber dari pajak. Pajaknya dapat dari siapa? Sebagian besar tentunya dari pengusaha-pengusaha yang memutarkan ekonomi dari sektor swasta. Sayangnya, kebijakan Chavez menasionalisasikan perusahaan swasta membuat Venezuela hampir tidak punya penghasilan dari sektor pajak. Perusahaan-perusahaan yang seharusnya menjadi sumber penghasilan pajak negara, malah menjadi beban pemerintah untuk menggaji semua karyawan dan mengoperasikan perusahaannya.

Akibatnya bisa ditebak, pengeluaran “surga dunia” ini melonjak hingga ratusan persen pada 2013. Bahkan ketika harga minyak sedang tinggi-tingginya, anggaran negara Venezuela tetap defisit.

Lalu bagaimana jika anggaran negara defisit? Jawabannya cuma satu, hutang. Sebenarnya, keputusan berhutang yang diambil sebuah negara sah-sah saja, asalkan dipakai untuk investasi pada sektor produktif agar pembayarannya bisa terukur. Masalahnya, utang negara Venezuela malah dialokasikan untuk menambal kebijakan-kebijakan subsidi yang selama ini memanjakan rakyatnya.

Gawatnya lagi, banyak negara dan lembaga keuangan yang berani memberikan utang kepada Venezuela dengan jumlah besar. Mereka semua berpikir, “Harga minyak kan sedang tinggi, pasti Venezuela bisa mempertanggungjawabkan utang ini”. Semua orang memprediksi harga minyak ke depannya akan terus meningkat.

Ironisnya sejarah ekonomi terus terulang: tidak ada harga yang naik selamanya. Prediksi banyak orang salah. Harga minyak bumi terjun bebas pada tahun 2014. Mendadak, tragedi ekonomi terbesar sepanjang sejarah menerpa Venezuela.

Krisis Ekonomi di Venezuela

Pertengahan 2011, Hugo Chavez menderita kanker. Sejak saat itu, dia harus menghabiskan segenap waktu dan tenaganya untuk menjalani pengobatan. Hingga pada Maret 2013, Hugo Chavez pun wafat. Seluruh negara berkabung. Ketika Venezuela masih dalam proses peralihan kekuasaan, harga minyak bumi terjun bebas tahun 2014. Otomatis laba PDVSA juga ikut terjun bebas, yang artinya penghasilan negara menurun drastis. Akibatnya, industri yang selama ini digadang-gadang menjadi tumpuan pendapatan pun limbung akibat kehilangan kendali ekonomi.

Penerus Chavez, Nicolas Maduro, kelimpungan menghadapi kekacauan ini. Setahu Maduro, kebijakan Chavez itu berhasil selama bertahun-tahun. Ia pun berpikir bahwa semua masalah akan beres dengan meneruskan apa yang sudah Chavez kerjakan. Padahal kebijakan-kebijakan Chavez untuk mensubsidi rakyat, menasionalisasikan sektor swasta, serta terlalu mengandalkan satu sektor industri (minyak bumi) adalah bom waktu ekonomi. Pemerintah Venezuela mengalami defisit yang sangat besar.

Seperti sebelumnya, Maduro berpikir kalau masalah akan dapat ia selesaikan dengan hutang. Namun kali ini berbeda, harga minyak yang terjun bebas membuat semua negara tidak berani meminjamkan uang kepada negara malang ini.

Sayangnya, Maduro terpaksa menutup defisit dengan kesalahan yang sangat fatal: mencetak uang bolivar (VEF) sebanyak-banyaknya. Hiperinflasi atau inflasi tinggi di luar batas kewajaran terus menggerogoti perekonomian Venezuela. Industri perdagangan lumpuh, harga-harga barang melambung tinggi, mata uang bolivar jadi tidak berharga sama sekali.

Akibatnya, semua kebijakan ekonomi Chavez berlandaskan NIAT BAIK untuk menyejahterakan rakyat, malah berbalik menjadi senjata makan tuan. Kemiskinan dan kelaparan melonjak tinggi. Harga barang yang terus naik membuat semua orang menyerbu toko, semua orang berupaya menimbun bahan pokok karena takut harga naik lagi. Bayangkan saja, setiap hari bahkan setiap jam, harga beras, kentang, dan telur naik.

Lebih buruk lagi, produksi minyak PDVSA yang selama ini menjadi andalan utama mereka terus menerus turun, sampai-sampai Sang Raksasa Minyak harus mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Begitu ironis bukan, profis?

Kambing Hitam

Menghadapi masalah sebesar ini, Maduro yang sudah kehabisan akal akhirnya melakukan hal yang paling sering dilakukan politikus yang kehabisan akal: mencari kambing hitam. Untuk memilih kambing hitam ini sangat mudah:

Ini pasti konspirasi asing yang mencoba menyabot negara Venezuela!

Semakin terdesak, Maduro menindak tegas semua orang yang mencoba memprotes kebijakan-kebijakannya, melabeli mereka sebagai “antek-antek asing” hingga memenjarakan beberapa tokoh yang vokal terhadap isu ini dan oposisi pemerintah.

Melihat bencana sosial yang begitu dahsyat di sana, kita patut mensyukuri kondisi Indonesia yang jauh lebih beruntung, profis. Pada zaman peralihan orde baru ke reformasi, Indonesia pernah mengalami hal yang serupa, yang untungnya tidak membawa akibat seburuk Venezuela.

Oleh karena itu, ada baiknya kita selalu berjuang bersama untuk menjaga keutuhan perekonomian negara, dengan cara selalu memberikan kontribusi terbaik kepada tempat kita bekerja ya, profis!

TT Ads

One comment

  • yono lapak
    yono lapak
    Reply

    Ini harus dibaca mreka yg selalu minta subsidi! Se mengerikan ini dampak nya??!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *