Beberapa investor mulai menyebutkan, bahwa setelah data, air adalah emas berikutnya (“Water is the new Gold“)

Pertumbuhan angka manusia yang terus melonjak sangatlah kontras dengan ketersediaan air bersih di atas bumi yang semakin menipis. Kondisi ini tentunya sangatlah miris, mengingat populasi manusia beberapa puluh tahun kedepan akan dihadapkan pada risiko nyata konflik kemanusiaan.

Ironisnya, bibit-bibit konflik itu telah dimulai dari sekarang. Bergeser ke perbatasan Asia-Afrika, negara yang telah menjadi bukti nyata akan bahaya laten ini bernama Suriah. Perang saudara yang masih melanda negara gersang ini dilukiskan dengan berbagai adegan dramatis. Meskipun air bukanlah alasan utama mereka berperang—melainkan efek domino dari demonstrasi di Mesir yang berhasil menjatuhkan Husni Mubarak—, namun air adalah salah satu senjata untuk bernegosiasi antara pihak-pihak yang berselisih pada perang saudara ini.

Sebabnya? Sederhana saja, mereka kekurangan air bersih sejak kekeringan besar di musim panas 2008–2009.

Bisa dilihat sendiri dari peta diatas, 2 daerah yang termasuk terkena dampak paling parah adalah Raqqa dan Deir el-Zor, yang juga merupakan markas ISIS.

Perebutan Air Bersih Memang Menjadi Ladang Subur Berkembangnya Konflik

Selain kasus Suriah, ternyata masih banyak daerah lain di dunia yang rawan konflik perebutan air, atau yang pengamat geopolitik sebut sebagai “Water Wars” / Perang Air, seperti contohnya daerah Kashmir yang diperebutkan India, Pakistan, dan Tiongkok, serta konflik Mesir dan Ethiopia.

Mesir dan Ethiopia

Ethiopia kini sedang dalam proses pembangunan bendungan GERD (Great Ethiopian Renaissance Dam) dengan bantuan Tiongkok di sungai Nil Biru—salah satu anakan sungai Nil yang terbesar—. Walaupun tidak berbatasan langsung dengan Mesir, namun negara yang identik dengan piramida itu sangat khawatir akan kehadiran bendungan yang juga jadi PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) ini. Karena meskipun akan membantu Ethiopia mencukupi kebutuhan listriknya, namun dampaknya bagi mereka yaitu bisa mengurangi drastis debit air sungai nil yang mencapai Mesir.

Ditambah lagi, hampir seratus persen warga Mesir mengandalkan air bersih untuk hidup dari aliran sungai Nil.

Tiongkok yang Sudah Membangun Belasan Bendungan PLTA di Sungai Mekong Atas.

Dan kalaupun bukan konflik bersenjata langsung, persoalan air ini pun juga bisa dijadikan leverage (pengaruh tawar menawar) besar kepada negara-negara sekitar. Contohnya RRT/ Tiongkok yang sudah membangun belasan bendungan PLTA di sungai Mekong atas.

Dalam gambar di atas, tentunya kita mengamati adanya pembangunan bendungan di atas wilayah Laos dan Kamboja oleh Tiongkok. Awalnya, dua negara tersebut sudah melakukan penolakan pembangunan bendungan melalui organisasi Komisi Sungai Mekong (Mekong River Commission). Alasannya tak lain karena bendungan-bendungan ini mengakibatkan fluktuasi sungai Mekong yang abnormal, yang berujung pada berkurangnya ikan & habitat spesies yang menjadi mata pencaharian kebanyakan penduduk Laos & Kamboja.

Namun karena mereka masih membutuhkan dukungan kerjasama ekonomi dari Tiongkok, akhirnya mereka pun “mengalah” dan membiarkan Tiongkok dengan leluasa mengeksploitasi kawasan tersebut. Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan kalau Tiongkok pun telah menjadikan “mahalnya sumber air” sebagai propaganda untuk membuat tetangganya mau patuh.

Bagaimana Tentang Indonesia?

Sayangnya, kita tak lebih baik dari mereka yang sudah mulai tersentuh oleh konflik karena penipisan cadangan air bersih. Bahkan, konflik internal dan perang saudara cukup menjadi potensi yang menghantui bilamana ketersediaan air bersih semakin menipis.

Langkah Konkrit Menghemat Air

Konflik akibat kesediaan air bersih yang semakin menipis bisa kita cegah mulai dari kedisiplinan diri sendiri. Pemakaian air bersih yang harus dihemat serta upaya untuk menjaga lingkungan adalah hal paling sederhana yang bisa kita lakukan.

Seperti yang sejarah pernah catat, air adalah pisau bermata dua, dimana “emas” ini adalah penyokong utama kehidupan mahkluk hidup di atas bumi, namun juga bisa menjadi komponen alam untuk menyeleksi penghuninya. Dan setelah peringatan ini, potensi seleksi alam itu makin jelas terlihat adanya. Di masa depan, air tak lagi membunuh melalui bencana, melainkan “memakai” manusia itu sendiri untuk berkonflik dengan sesamanya demi berebut setetes air bersih.

TT Ads

2 comments

  • Rosmi
    Rosmi
    Reply

    Miris… Bumi semakin tua..

  • Priyo Muhammad
    Priyo Muhammad
    Reply

    merinding aku bacanya.. ayo selamatkan bumi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *