Gambar di atas adalah penampakan Museum Penjara Abashiri di Jepang. Coba profis perhatikan, ada patung manusia sedang memanjat langit-langit penjara. Itu adalah patung memorial dari seorang legenda the king of escape yang pernah hidup di Jepang.

Namanya Yoshie Shiratori. Pria ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum setelah sebelumnya mencuri dan membunuh. Ia lahir di prefektur Aomori dan memiliki seorang istri serta satu anak perempuan. Yoshie menjadi terkenal setelah berhasil kabur sebanyak empat kali dari empat penjara yang berbeda.

Ketika di penjara pertama, Yoshie merasakan ketidakadilan dari perlakuan kasar yang dialaminya, yang menurutnya tidak layak ia dapatkan meskipun ia seorang pembunuh.

Pelarian pertamanya terjadi pada tahun 1936, dimana ia menggunakan seutas kawat untuk membuka kunci dari pintu besi kecil tempat mengirimkan makanan, lalu menggunakan kemampuan tubuhnya yang elastis untuk bisa melalui pintu tersebut. Setelah itu, Yoshie mengambil kunci borgol dan kembali ke selnya. Ia menunggu dan menghabiskan 10 hari untuk mendengarkan langkah kaki agar bisa memastikan jarak penjaga patroli dan waktu patroli. Kemudian ia berhasil membuka pintu sel dan rumah tahanan penjara hanya bermodalkan kawat.

Tidak lama setelah itu, ia kembali tertangkap dan dijebloskan ke penjara di daerah Sendai. Di penjara ini, ia mendapat perlakuan baik dan tidak melarikan diri.

Perang Dunia ke-dua pun meletus, sehingga ia pun dipindahkan ke penjara di Akita. Karena mengetahui bahwa Yoshie memiliki catatan pernah kabur, pihak penjara pun melakukan tindakan antisipasi dengan meletakkan Yoshie di sebuah ruangan kecil dengan tinggi 3 meter dan dijaga dengan ketat dari luar. Ruangan ini dikelilingi tembaga yang halus dan hanya bagian atasnya berpagar besi. Yoshie juga mengenakan borgol di kaki dan tangannya selama 24 jam.

Tak tahan diperlakukan bagai pesakitan di sini, Yoshie pun kembali merencanakan pelarian. Butuh 6 bulan baginya untuk dapat berhasil lolos.

Suatu hari, penjaga mengecek Yoshie. Ketika membuka pintu ruangan, ternyata Yoshie sudah tidak ada di dalam ruangan. Belakangan mereka baru sadar kalau ternyata Yoshie diam-diam mencari lembaran logam, kemudian menumpuknya di sepanjang dinding sebagai tumpuan kaki agar dia dapat melarikan diri lewat ventilasi udara dari langit-langit penjara.

Yoshie kembali ditangkap, dan kali ini ia dipindahkan ke penjara Abashiri di Hokkaido, penjara paling ketat saat itu dengan udara yang sangat dingin. Di Abashiri, penjaga penjara banyak melakukan penyiksaan. Penjagaan terhadap Yoshie juga semakin diperketat lagi. Yoshie pun harus mengenakan sepatu khusus seberat 20 kilogram dan tidak diberi makanan serta pakaian yang layak.

Butuh 8 bulan bagi Yoshie untuk bisa kabur dari penjara Abashiri. 26 Agustus 1944, saat penjaga sedang memeriksa kamar-kamar penjara, tiba-tiba mereka mendengar suara keras dari atap dan melihat sekelebat bayangan hitam. Ternyata, atap penjara sudah rusak dan Yoshie sudah berhasil kabur lagi.

Kali ini triknya sangat mengagumkan. Ternyata selama 8 bulan, Yoshie selalu menyisihkan sebagian makanannya. Ia pun menggunakan sup miso yang ia sembunyikan di pojokan untuk merendam borgol agar terkikis (berkarat) dan akhirnya lapuk. Kemudian, dia menggunakan kelenturan tubuhnya untuk keluar dari jendela observasi yang mana cukup mustahil untuk dilakukan kebanyakan orang.

Yoshie kembali ditangkap dan ditempatkan di penjara Sapporo. Ini adalah penjara terakhir yang berhasil ia “jebol”. Kali ini, dia ditahan di sebuah ruangan khusus dan penjagaan semakin ketat. Namun siapa sangka, Yoshie kembali, berhasil melarikan diri dengan menggali lubang di bawah alas tidurnya.

Yang lebih mengagumkan adalah aktingnya selama di penjara Sapporo yang suka memperhatikan atap-atap. Para penjaga yang melihatnya dibuat berpikir seolah-olah Yoshie sedang mencari cara kabur lewat atap, padahal sebenarnya ia diam-diam menggali lubang.

Setelah lewat 1 tahun pelarian, Yoshie akhirnya menyerahkan diri. Kali ini, pengadilan mencabut hukuman mati yang sebelumnya sudah mengancamnya, dan menjatuhi hukuman 20 tahun kurungan di penjara Tokyo. Di sana, ia diperlakukan dengan sangat baik sehingga merasa tidak perlu untuk melarikan diri lagi.

Akhirnya, Yoshie pun bebas secara murni pada tahun 1961 setelah sebelum-sebelumnya menjalani masa kurungan yang penuh gejolak dan dinamika.

Menurut catatan, Yoshie Shiratori memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Dia bisa berlari sampai 120 kilometer dan melakukan dislokasi sendi di seluruh tubuhnya. Bahkan untuk ukuran lubang yang hanya muat kepala saja, Yoshie bisa membuat seluruh tubuhnya melewati lubang itu. Kemampuan supernya ini yang membuat Yoshie Shiratori akhirnya menjadi legenda, bahkan bisa disebut sebagai antihero nya Jepang.

Kisah hidupnya juga dijadikan novel berjudul Hagoku oleh Akira Yoshimura pada tahun 1983, dan difilmkan oleh NHK TV pada tahun 1985. Terbaru pada tahun 2017, TV Tokyo merilis ulang film mengenai jalan hidup sang Prison Break ulung ini.

TT Ads

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *