Lebih dari dua setengah dekade berselang sejak 1994, hadirnya internet di Indonesia kini telah mengubah berbagai pola pada hampir seluruh aspek industri di Nusantara. Mulai dari penyimpanan data, sarana bersosialisasi, sistem pembayaran, jual beli, transportasi, hingga pengobatan sekalipun telah mampu dijangkau oleh teknologi ajaib ini.

Tren jual beli konvensional adalah salah satu yang mendapatkan pergeseran terbesar. Melonjaknya pengguna transaksi digital di Indonesia bisa dibilang hanya melalui proses yang singkat hingga sebesar saat ini. Tren ini dimulai pada tahun 2000-an, dimana Kaskus yang saat itu merupakan raksasa forum interaksi di Indonesia memperkenalkan fitur Jual Beli dalam situsnya. Inilah yang merupakan cikal bakal hadirnya Belanja Daring atau e-commerce di Indonesia.

Tahun 2011, e-commerce Indonesia mulai menggeliat. Tak hanya Kaskus, beberapa nama beken lain seperti TokoBagus dan Berniaga (yang kini telah melebur sebagai OLX) mulai mewarnai industri e-commerce Indonesia. Pada masa itu pula, beberapa telur-telur raksasa e-commerce saat ini (Bukalapak, contohnya) sudah mulai beroperasi, meskipun masih belum setenar senior-seniornya di atas.

Para juragan (sebutan untuk penjual di era awal e-commerce) berlomba-lomba memproduksi barang-barang yang dapat menarik pasar, mendistribusikan, dan menjual secara mandiri barang-barang tersebut di situs-situs jual beli. Ini adalah gelombang pertama e-commerce, tempat orang-orang yang melek internet melakukan transaksi jual beli semasif mungkin. Dalam tahap ini, e-commerce membuka begitu banyak ruang untuk pekerjaan kreatif.

Tiga tahun berselang, pola bisnis e-commerce baru yang dianggap lebih menguntungkan mulai dilirik beberapa juragan yang merasa persaingan pasar semakin ketat. Tanpa disadari, fase inilah yang merupakan awal dari terjajahnya pemain e-commerce lokal. Para juragan mulai mengimpor barang dari luar negeri, mendirikan toko daring, dan memasarkan dagangannya. Banyak juragan-juragan baru bermunculan. Merasa terdesak, juragan-juragan lama pun mengalihkan strategi ke sistem yang sama. Pada era ini, Bukalapak dan Tokopedia mulai unjuk gigi.

2017 pun tiba, masa dimana sistem dropship mulai diperkenalkan. Melihat pasar Indonesia yang semakin potensial tentunya membuat para produsen barang impor yang mayoritas dari Tiongkok memanfaatkan momentum. Kita sekarang menjadi dropshipper. Orang Indonesia memiliki platform online dan mengiklankan bisnis mereka, akan tetapi produksi dan pengiriman sudah tidak kita tangani lagi, karena dikerjakan dari luar negeri. Ini adalah era Shopee, JD, dan Lazada. Mereka mendirikan kantor di Indonesia, namun semuanya dilakukan dari luar negeri. Segala sesuatunya semakin mudah, kita bahkan tidak perlu lagi menangani distribusi.

Beberapa orang mulai sadar, portal dan pemain e-commerce Indonesia tak lagi menjadi juragan seutuhnya, melainkan hanya bertindak sebagai proxy.

Tahun ini, peran kita semakin tersudut. Kita sama sekali tak layak disebut juragan, karena peran yang kita ambil tak lebih sebagai pengiklan. Alibaba (atau mungkin juga Amazon) sedang masuk ke Indonesia. Barang diproduksi di luar negeri, didistribusikan oleh perusahaan asing, dan dijual oleh e-commerce asing. Yang bisa kita lakukan pada dasarnya hanyalah mengiklankan dan mendukung produk ke pengikut kita di media sosial.

Mungkin, tidak banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mengambil bagian dari bisnis e-commerce, karena pemain raksasa tentunya secara perlahan akan mendominasi lanskap dari ujung ke ujung, sementara pemain lokal sebagian besar memainkan peran kecil. Hanya beberapa dari para juragan yang memiliki modal besar yang bisa bertahan. Alhasil, toko-toko dengan modal kecil dan pemain baru akan sulit (atau bahkan mustahil) mengembangkan sayapnya di e-commerce Indonesia.

Masa Depan E-commerce Indonesia

Beberapa tahun mendatang, bukan sebuah hal mustahil kalau nantinya kita hanya akan menjadi penonton. Ya, para produsen dari negeri seberang tentunya tak akan membiarkan “makanannya” terbagi, bukan? Ketimbang mengekspor ke penjual lokal Indonesia, lebih baik mereka sendiri yang menancapkan tentakel di ladang subur tersebut.

Saat ini pemerintah kita berupaya melindungi produsen lokal dengan membatasi impor barang dari luar negeri, terutama melalui pelabuhan dan bandara. Para petugas bea cukai itu berani mengambil langkah-langkah pelarangan dan pajak barang impor. Tetapi banyak orang yang marah atas hal ini, karena mereka mengira pemerintah berusaha menghalangi mereka untuk mendapatkan keuntungan dengan menjual barang impor murah dari Tiongkok.

Padahal, Ini adalah langkah yang diambil pemerintah untuk melindungi pabrikan lokal. Sebuah keputusan yang diambil untuk melindungi pasar agar kita tetap bisa menjadi juragan di kandang sendiri, menjaga pasar dari potensi ancaman yang haus akan lahan basah di e-commerce Indonesia.

E-Commerce adalah pertarungan yang panjang, tidak dapat dimenangkan dalam semalam. Dan hari ini, penulis berpikir bahwa kita belum siap. Sekeras apapun pemerintah berusaha untuk menghentikan, memblokir, dan melarang barang impor, itu hanya akan menunda efeknya untuk sementara. Satu-satunya cara untuk mengambil kembali dunia e-commerce Indonesia tak lain yaitu dengan cara meningkatkan daya saing masyarakat Indonesia itu sendiri.

Ketika Alibaba memasuki wilayah kita, hal-hal akan terlihat bahagia bagi konsumen Indonesia. Namun di balik itu, akan terlihat menyedihkan bagi pabrikan lokal. Barang murah dari luar negeri akan membanjiri pasar kita, memasuki setiap rumah tangga Indonesia. Ujungnya pun tentu akan merugikan bangsa kita. Mengubah kita menjadi “bangsa konsumen”. Dan kemudian, “e-commerce kita” selesai.

Masa depan e-commerce Indonesia? Mereka akan tumbuh besar. Namun para juragan akan gagal menguasai kandang sendiri.

Istana FM
TT Ads

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *