Bertengkar Karena Sebagian Tempat, Lainnya Tak Dapat

MALUT POST – TERNATE. Pedagang di dalam terminal bertengkar. Mereka saling merebut lapak tempat penjualan. Pasalnya, pembagian lapak yang dilakukan petugas Dinas Perhubungan, tidak sesuai jumlah pedagang. Sebagian pedagang mendapat lebih dari satu lapak, sementara lainnya tidak diberikan. Kejadian ini terjadi kemarin siang, Selasa (20/10).

Mereka memarahi salah satu pekerja yang diminta Aida untuk menata lapak tersebut. Tak terima dengan kata-kata ketiga pedagang, tukang (pekerja bangunan, red) lalu pergi melapor ke Aida. Tidak berselang lama, Aida datang dan langsung menanyakan, kenapa ketiganya mempersoalkan lapak tersebut.

Adu mulut keempat padagang ini-pun tidak terhindarkan. Dalam pertengkaran itu, Aida mengaku dia bukan mengambil, tapi itu keputusan petugas dan bukan gratis tapi dibayar. Tidak puas, ketika pedagang pun balik menyerang Aida. Dengan mempertanyakan kenapa sudah dapat satu lapak, caplok lagi lapak yang lain. Padahal tempat tersebut sebelum di bangun pihak Dishub, ketiganya juga berjualan di lokasi itu.

Di tengah pertengkaran, Lurah Gamalama Iksan Muhammad yang sementara bekerja langsung keluar. Dia meminta agar keempat pedagang menyelesaikan persoalan mereka di Dishub. “Keempat pedagang ini sama-sama berjualan di lokasi ini. Sebelum lapak dibangun, Setelah pembangunn lapak, bagaimana sistem pembagaiannya, Kami tidak tahu. Karena itu tugasnya Dishub. Hanya Karena pertengkaran ini di depan kantor lurah, kami melerai mereka,” singkat Lurah.

Juhria mengaku, dirinya bersama tiga rekannya tidak menuntut banyak. Hanya satu lapak untuk mereka bertiga berjualan. Karena sebelumnya, ketiganya juga berjualan di lokasi yang sama. Hanya karena renovasi kembali terminal, mereka diminta stop berjualan. Setelah pembangunan barulah mereka kembali.

“Katanya ini dibayar 5 juta. Kami tidak bersedia bayar, Karena kami tidak diberitahu. Padahal kami ini pedagang di sini dengan puluhan tahun. Kenapa dorang bilang kami bukan pedagang di sini,” tuturnya.

Setelah pertengkaran, tidak lama kemudian kepala Terminal Zulkarnain Baso datang ke lokasi. Namun dia tidak membuka komonikasi dengan ketiga pedagang. Zulkarnain hanya berkomonikasi dengan Aida, yang sementara memantau tukangnya bekerja. Setelah itu, Zulkarnain kembali ke pos Dishub. Beberapa menit kemudian, Sekretaris Dishub Fahrudin tiba di lokasi. Dia hanya mendengar keluh kesah ketiga pedagang tenpa mengambil keputusan.

Zulkarnain saat dikonfirmasi mengakui, ketiganya memang pedagang. Namun dia berkeputusan tidak mengakomodir ketiga pedagang tersebut lantaran dianggap tidak pernah membayar sewa lokasi. Dia mengaku, pedagang yang diakomodir adalah pedagang yang patuhi ketentuan, yakni menyewa lokasi dan juga membayar.

“Dorang biar bayar leo tiap hari, tapi saya berpatokan pada bukti penyetoran Dispenda Salama ini mereka tidak menyetor,” katanya sambil menunjukkan bukti setoran salah satu pedagang yang sudah terlihat lusuh.

Bukti penyetoran yang ditunjukan itu juga tidak disertai dengan tanggal dan tahun penyetoran. Hanya nama dan besaran. Bahkan, dia mengaku, sebelumnya Ati diberikan satu lapak, tepat di depan akses masuk mesjid terminal. Namun karena permintaan pihak pengelola mesjid, agar jalanya diperlebar 12 meter. Maka lapak yang sebelumnya ingin diberikan ke Ati dibatalkan. Sementara kedua rekannya, kata Zulkarnain, bukan pedagang di lokasi tersebut.

“Mereka berjualan di luar lapak yang dibangun tepatnya di depannya. Setelah itu, Pindah lagi. Dan hanya bayar leo. Tidak bayar tempat,” katanya, sembari meminta salah satu stafnya agar memberi keterangan bahwa ketiga pedagang tersebut tidak membayar retribusi. (udy/yun)

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *