Sekitar lebih dari 200 tahun silam di timur Nusantara, perairan Banda diamuk oleh badai semalam suntuk. Ialah Kapten Christopher Cole bersama dua ratusan bala tentara Inggris yang tersisa pada pelayaran itu yang berhasil menaklukkan alam serta merebut harta karun bernama Bandaneira. Kehilangan lima puluh persen anggotanya karena cuaca buruk bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, hal itu cukup memukulnya. Namun di sisi lain, akhirnya Christopher Cole berhasil menapakkan langkah awal dalam mengubah sejarah rempah-rempah nusantara di dunia.

Pekatnya langit membuat tentara-tentara Belanda yang berjaga di sisi kastil telat menyadari kehadiran Inggris. Malang bagi mereka, artileri, senapan, hingga meriam mereka macet karena diguyur hujan. Pasukan Inggris yang menyemut semakin mendekat, memanjat sudut-sudut Fort Belgica dengan tekad dan keberanian. Pertempuran pun tidak terhindarkan. Di bawah hujan besar, pasukan Inggris berhasil membuat Belanda terpojok dan membantai penguasa kastil. Sekurangnya tiga puluh prajurit Belanda ditawan dan lebih dari dua lusin kanon dirampas.

Pagi itu, Inggris merebut Bandaneira tanpa melepaskan satu tembakan pun.

Kemenangan armada Kapten Cole ini bak menjadi totem pembuka bagi pendudukan Inggris di Maluku, sekaligus awal dari penutup fenomena perdagangan rempah yang terjadi selama berabad-abad di seluruh dunia. Hanya empat tahun Inggris menduduki Kepulauan Banda namun itu sudah lebih dari cukup untuk mengubah jalan sejarah dunia.

Eksklusifitas Rempah-rempah pada Masa Lampau

Pada masa lampau, rempah-rempah adalah tanaman eksklusif. Hasrat Eropa untuk menemukan tanaman-tanaman eksotis dari berbagai belahan dunia telah memicu babak kedua penjelajahan samudera. Rute-rute menuju wilayah “dunia baru” dibuka, tanah-tanah ditaklukkan, dan badan usaha dagang ikut didirikan demi menguasai jalur-jalur rempah-rempah eksklusif.

Kapulaga hanya ditemukan di India, Vanilla hanya tumbuh di Meksiko, Cabe Ceri atau Pimento hanya didapati di Karibia. Sementara di Nusantara, tanaman paling eksklusif adalah Pala. Pala hanya tumbuh di Maluku, atau lebih tepatnya hanya ada di gugus-gugus pulau bergunung-gunung sebelah tenggara Seram, yaitu Kepulauan Banda. Kumpulan dari pulau-pulau kecil ini menjadi satu-satunya lokasi di dunia yang menyimpan tanaman Nutmeg (Pala), tumbuhan yang buahnya dipercaya punya sejuta khasiat.

Di era itu, Pala menjadi rempah-rempah paling tenar seantero Eropa karena penggunaannya yang dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan makanan, kosmetik, hingga obat-obatan. Tak heran bilamana setelah berhasil menguasai kepulauan ini, Belanda langsung mengeksploitasi pala dan memonopoli perdagangannya melalui VOC.

Banyak cara yang dilakukan oleh para penguasa Eropa dalam mengamankan praktek monopoli rempah-rempah. Selain membatasi akses pulau dari pedagang asing, para penguasa Eropa mengolah rempah-rempah sedemikian rupa sebelum bisa diangkut keluar dari daerah penghasilnya, misalnya dengan menggoreng atau menumbuk. Pemrosesan ketat ini bertujuan supaya bijinya tidak dapat ditanam lagi.

Dengan cara ini, para penguasa Eropa berhasil mempertahankan monopoli terhadap komoditas selama berabad-abad, sehingga eksklusivitas rempah-rempah terjaga. Namun tidak demikian halnya dengan Inggris.

Masuknya Inggris ke Maluku

Berbeda dengan negara-negara Eropa lain di periode itu, Inggris menganut pemikiran globalis. Inggris khawatir apabila rempah-rempah terlalu eksklusif di suatu wilayah, maka kelangsungannya dapat terancam. Bayangkan, apabila terjadi bencana seperti tsunami yang menghancurkan sebuah pulau rempah, maka itu bisa berujung kepada punahnya tanaman-tanaman penting tersebut.

Inggris yang menyadari hal ini pun mengadakan penelitian ekstensif di berbagai kawasan jajahannya di seluruh dunia, tak terkecuali di Nusantara, untuk menemukan daerah cadangan sebagai alternatif lahan perkebunan.

Keberhasilan membudidayakan pala di Sri Lanka, diikuti dengan lokasi-lokasi jajahan Inggris berikutnya, diawali dari Penang, Bengkulu, Singapura, Zanzibar, Grenada, dan Guatemala yang bergantian sukses menjadi “kebun duplikat” Kepulauan Banda.

Tidak hanya pala, Inggris pun mereplikasi keberhasilan ini kepada berbagai tanaman rempah-rempah yang ada di seluruh dunia, mulai dari kunyit hingga cendana.

Rempah-rempah, Riwayatmu Kini..

Industri rempah-rempah tidak pernah mati, bahkan tumbuh secara kontinu. Pada tahun 2010, industri rempah-rempah di dunia tumbuh mencapai US$ 6 milyar dengan konsisten meskipun tertinggal dari pertumbuhan industri komoditas lainnya, seperti minyak bumi, yang jauh lebih kencang sehingga tidak lagi menarik.

Hal ini tentu berkaitan dengan harga rempah-rempah yang tidak lagi mahal. Selain sebab rempah-rempah tidak lagi eksklusif, pemanfaatan rempah-rempah juga cenderung tidak integral seperti pada zaman lampau. Hal ini adalah alasan mengapa kebijakan mengekspor rempah tidak akan membuat Indonesia jadi super-kaya.

Ketika Belanda menguasai Nusantara, orientasi mereka adalah profit yang dikeruk melalui sistem monopoli rempah-rempah. Sementara Inggris berpikir secara globalis dengan mengangkut pohon-pohon pala beserta tanahnya ke seluruh belahan dunia sebagai bentuk upaya sistematis mengakhiri monopoli.

Perbedaan pola pikir kedua negara Eropa ini mengubah arah perjalanan sejarah. Hanya dalam waktu empat tahun, Inggris sukses membunuh bisnis yang dahulu bertahan selama ratusan tahun.

Demikianlah keistimewaan rempah-rempah di Nusantara berakhir.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *