Pyonghattan; Cerminan Kesenjangan Sosial di Korea Utara

Miskin, terisolir, dan dimusuhi banyak negara dunia tak lain merupakan gambaran singkat akan Korea Utara yang profis ketahui, bukan?

Negara yang memiliki ideologi bernama juche ini terkenal akan pemerintahannya yang otoriter, kejam, dan mengekang warganya untuk berekspresi secara bebas dan berkontak dengan dunia luar. Bagaimana tidak, setiap hari masyarakat Korea Utara dicekoki oleh berbagai propaganda dari siaran televisi, poster, hingga berbagai sarana lain yang secara tersirat mendoktrin warganya agar patuh dan mengabdikan seluruh hidupnya kepada negara dan Supreme Leader mereka. Selain itu, akses internet juga sangat langka dan sangat dibatasi penggunaannya oleh pemerintah.

Juche yang merupakan sistem komunis ala Korea Utara tentunya membuat hampir seluruh warganya hidup dalam kesetaraan—yang di sini berkonteks kemiskinan—. Lantas apakah hal ini membuat tak ada satupun pengusaha kaya di Korea Utara?

Donju, Sebutan untuk Kaum Konglomerat di Korea Utara

Jika di Korea Selatan kaum Konglomerat disebut sebagai Chaebol, maka Korea Utara menyebutnya sebagai Donju. Kemunculan gelombang orang kaya baru di Korea Utara dimulai pada 2002. Akademisi US-Korea Institute di Johns Hopkins School of Advanced International Studies, Michael Madden, menuturkan, hal ini dipicu pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan memperbolehkan warga negara Korea Utara berdagang dan berbisnis. Sebagian besar orang kaya baru ini merupakan mereka yang memiliki hubungan baik dengan rezim pemerintahan Kim Jong-un. Mereka juga diperbolehkan untuk berbisnis asalkan membayar uang suap pada pihak pemerintah.

Donju dalam bahasa Korea artinya penguasa uang. Sesuai dengan namanya, mereka memiliki banyak uang dan kehidupan yang berbeda dengan kebanyakan warga Korea Utara lainnya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Biasanya para Donju adalah mereka yang bekerja sebagai petinggi pemerintahan, militer, berjualan di pasar gelap, dan menguasai pasar Korea Utara.

Kim Jong-un sadar bahwa golongan 1% di negaranya membutuhkan sarana untuk menghabiskan uang. Oleh sebab itu ia mendirikan pusat-pusat perbelanjaan, olahraga, dan kebudayaan sejak menjabat sebagai pemimpin tertinggi Korea Utara.

“Korut hari ini bukanlah Korut dua dekade silam.”

Kim Jong-un
Pyonghattan, Manhattan Versi Korea Utara

Jika Amerika memiliki Manhattan, para Donju di Korea Utara tinggal di Pyonghattan yang merupakan sebuah kawasan elit dengan rumah besar dan fasilitas lengkap seperti gim, supermarket yang menjual bahan makanan impor dari negara lain, arena bermain bowling, atau restoran mewah yang menyediakan menu steak hingga makanan bergizi lainnya (Ini tentu bertolak belakang dengan kehidupan sebagian besar rakyat Korea Utara yang dilanda kemiskinan), wahana bermain air, sampai tempat untuk menunggang kuda.

Komplek Pyonghattan didukung restoran-restoran mewah yang siap memenuhi hasrat akan makanan dan minuman dengan kualitas bahan dan rasa nomor satu. Harganya tentu tidak murah. Tapi restoran juga tidak hanya berfungsi untuk mengisi perut, melainkan juga sarana menjadi kebarat-baratan. Misalnya di restoran bertema Jerman dekat Menara Juche, pengunjung bisa memesan steak dan kentang seharga 48 dolar. Dinding restoran bergaya tumpukan bata. Agenda kulineran makin lengkap berkat layar televisi besar yang menampilkan pertunjukan ice skating. Di sudut lain, terdapat restoran sushi dan barbeque. Pengunjung dapat menikmati daging bakar rekomendasi pelayan dengan harga termurah sekitar 50 dolar per orang.

Minuman orang kaya di Korea Utara lainnya adalah kopi cappucino. Minuman yang disesap di balkon apartemen jelang matahari tenggelam ini dihargai hingga 10 dolar per cangkir. Ada juga restoran mewah di Korut yang sekaligus difungsikan sebagai tempat pesta pernikahan dengan tarif mencapai 500 dolar per jam. Jika bosan, Kim Jong-un menyediakan taman hiburan, wahana bermain air, wahana pertunjukan lumba-lumba, dan resor ski mewah. Resor ski di dekat Kota Wonsan.

Gaya hidup penduduk Pyonghattan menunjukkan ironi yang amat parah. Kondisi mereka berkebalikan 180 derajat dibandingkan masyarakat pada umumnya. Sementara kebanyakan orang Korea Utara hanya memiliki gaji 10-20 puluh dollar per bulan dan akrab dengan kesulitan memenuhi pangan serta kebutuhan pokok lainnya, warga Pyonghattan malah menikmati kelonggaran aturan dan kemewahan yang bablas.

Mengapa Penduduk Pyonghattan Dianakemaskan?

Tak dapat dipungkiri, penghasilan segelintir crazy rich Korea Utara ini cukup membuat mata rezim yang berkuasa menjadi hijau. Para uang-uang berjalan ini tentunya dapat menjadi mesin penghasil yang akan sangat membantu perekonomian Korea Utara yang seiring berjalannya waktu semakin terpuruk. Melalui dana-dana yang mereka belanjakan pada fasilitas mewah yang Kim Jong-un sediakan di Pyonghattan, pemerintah dapat membuka keran baru perekonomian negara.

Jadi, profis tidak perlu heran bilamana mereka para konglomerat ini hidup dalam kebebasan tanpa perlu dihantui aturan dan hukuman yang kejam bilamana hidup di luar batasan hukum Korea Utara. Karena sejatinya, mereka bahkan dilindungi.

Iklan

2 comments

  • JASA DESAIN GRAFIS
    JASA DESAIN GRAFIS
    Reply

    sisi positifnya, 1% konglomerat ini memberi dampak perekonomian yg baik utk korut

  • hamid
    hamid
    Reply

    negara aneh! jgn sampai indonesia mengikuti jejaknya..!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *