Berukuran besar dan memiliki daging yang berlimpah mungkin akan membuat profis bertanya-tanya, apa alasan gajah tidak bisa diternakkan? Padahal bilamana diternakkan, tentu saja akan banyak perut yang terisi selama beberapa hari dari setiap ekor gajah yang dijagal.

Tentunya pernyataan di atas tidak salah, namun ada alasan lain yang membuat gajah tidak cocok atau bahkan tidak bisa diternakkan.

  • Ruang Peternakan yang Harus Sangat Luas

Untuk subspesies terkecil sekalipun, ruang yang dibutuhkan gajah untuk hidup akan berpuluh kali lipat ketimbang sapi, kerbau, atau hewan ternak lainnya. Karena gajah adalah hewan yang perlu menyalurkan keaktifannya agar tidak stres. Idealnya, dibutuhkan luas wilayah yang setara kurang lebih satu buah desa untuk satu peternakan gajah yang berisi 15-20 ekor gajah.

  • Pangan Ternak yang Begitu Banyak

Karena ukurannya besar, otomatis seekor gajah memerlukan makanan yang banyak pula. Per harinya, gajah diklaim mengonsumsi sebanyak 100 hingga 250 kilogram buah-buahan, dedaunan, ranting, akar-akaran, dan rumput. Jika sebuah “peternakan gajah” memiliki 30 gajah, maka pemiliknya harus menyediakan setidaknya 7,5 ton makanan per hari. 

Selain itu, bilamana peternakan gajah tidak berlokasi dekat dengan sumber air alami, maka pemiliknya juga harus merogoh kocek untuk menyediakan air. Jumlahnya tidak akan sebatas minum saja, karena gajah suka air. Mereka suka berendam dan main air.

  • Reproduksi Gajah yang Membutuhkan Waktu Lama dan Tidak Produktif dalam Menghasilkan Keturunan

Gajah baru matang secara seksual di usia 9 hingga 15 tahun. Kehamilan gajah adalah yang paling lama di antara semua mamalia darat, yaitu dua tahun.

Selain itu, gajah tidak kawin setiap tahun. Karena gajah merupakan hewan berstrategi K (punya sedikit anak, tapi perawatannya intensif), maka induk gajah akan tetap merawat anaknya bertahun-tahun setelah lahir. Interval kelahiran gajah dari anak pertama ke anak kedua bisa empat sampai lima tahun.

  • Sistem Kehidupan Gajah yang Berbeda dengan Hewan Ternak pada Umumnya

Gajah memiliki struktur sosial dan interaksi yang lebih kuat dibanding sapi atau hewan ternak lain. Mereka berkeluarga, punya hierarki, bisa menerima atau menolak anggota baru, dan bisa berkabung atau gelisah jika ada keluarga mereka yang mati atau hilang. Tentunya manusia tidak akan bisa menggiring gajah ke tempat algojo begitu saja dan membiarkan yang lain menonton dari jauh. Mereka akan langsung paham dan “menyelamatkan” anggotanya yang terancam

  • Peruntukannya Memang Bukan Sebagai Hewan Ternak

Gajah sejak dulu memang bukan makanan. Karena ukurannya yang besar, orang lebih mudah memandang gajah sebagai hewan transportasi, hewan tempur, dan hewan pekerja, daripada makanan. Sejauh ini, belum ada catatan sejarah yang menorehkan tentang peradaban yang mengonsumsi gajah.

Terlepas dari semua itu, peradaban hewan besar ini telah mengalami banyak ancaman dan cerita kelam yang mereka alami. Mulai dari perburuan untuk diambil gadingnya, dijadikan tunggangan, hewan sirkus, hingga keterlibatan dengan perang di masa lalu.

Kita sudah punya sapi, kambing, domba, babi, ayam, bebek, kerbau, angsa, dan berbagai hewan ternak lain. Itu sudah cukup. Tidak perlu ditambah-tambahi lagi.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *