Infografik; Ladang Uang Pengembang Aplikasi Gratis

If your’re not paying for the product. You’re the product.

Sudah menjadi rahasia umum bilamana semua aplikasi yang biasa kita gunakan sehari-hari mengambil data penggunanya. Akan tetapi, bukan data pribadi seperti nama, nomor telepon, dan alamat yang mereka kumpulkan. Karena nyatanya itu tak terlalu penting bagi mereka. Yang penting bagi para aplikator itu adalah data preferensi pribadi profis, atau hal-hal yang kerap profis cari atau minati selama berselancar di internet.

Di balik manis dan elegannya aplikasi gratis serta fitur menghibur yang mereka sediakan, diam-diam mereka mengumpulkan dan mencari tahu apa yang profis sukai, mulai dari sesederhana berapa lama profis mengakses aplikasinya, hingga apa yang kerap profis bahas di portal aplikasi mereka. Mereka menggunakan Machine Learning untuk mengumpulkan data pengguna, yang nantinya data tersebut akan digunakan untuk memberikan saran konten serupa kepada profis.

Konten serupa yang terus muncul di gawai profis membuat profis semakin banyak menghabiskan waktu menggunakan platform mereka. Dan semakin lama profis menggunakan aplikasi mereka, maka semakin banyak pula data yang dapat mereka kumpulkan. Apakah sampai situ? Tentu saja tidak. Dari situlah mereka menghasilkan uang. Mereka menjual data preferensi tadi kepada pemasang iklan.

Pernahkah profis sadar? Ketika profis sebelumnya menghabiskan waktu untuk melihat beauty vlogger di Instagram, maka saat profis membuka YouTube, iklan yang muncul kebanyakan adalah produk kecantikan. Lantas, apakah profis spesial? Sayangnya, tidak juga. Preferensi kesukaan profis tadi akan dimasukkan menjadi sebuah ‘katalog’, bersama dengan jutaan orang lain yang memiliki preferensi yang sama. Jadi ketika sebuah penyedia produk kecantikan ingin menjual produknya, mereka dapat memilih ‘katalog’ yang telah disediakan oleh penyedia jasa dan disesuaikan dengan target pasarnya.

Misalnya, Sephora ingin memasang iklan di Instagram, maka Sephora akan memilih:

Jenis kelamin: Perempuan
Rentang usia: 20 – 30 tahun
Ketertarikan: Kecantikan, perawatan diri, fashion, dll.

Ini hanya contoh, aslinya akan lebih detil lagi.

Pertanyaannya, apakah praktik sejenis ini salah?

Sayangnya, tidak selalu begitu. Bilamana profis perhatikan, Syarat dan Ketentuan yang seringkali kita lewatkan di sebuah aplikasi kebanyakan telah mencantumkan ketentuan dimana mereka berhak mengumpulkan data-data tersebut. Selain itu pula, dari kacamata hubungan sosial, praktik semacam ini juga menguntungkan, kok!

Mengapa demikian? Karena bagi pihak aplikator, ini akan menjadi sumber pemasukan bagi mereka, yang implikasinya dapat membuat mereka mengembangkan aplikasi lebih baik lagi supaya para penggunanya dapat dengan nyaman mengakses aplikasi mereka. Di sisi pengguna, kita juga dapat menemukan hal-hal yang kita sukai, tanpa repot-repot mencari. Dan di sisi pengiklan, mereka dapat menemukan target pasar dan menjual produk mereka dengan efisien dan tepat sasaran. Jadi, jangan langsung mencap konotasi negatif terhadap praktik “jual data” semacam ini, ya!

Akan tetapi, ada baiknya profis selalu cermat dalam menyaring data yang selayaknya diunggah di internet. Mengapa demikian? Karena tak semua aplikator menerapkan praktik dengan cara bersih seperti ini. Demi keamanan dan kenyamanan privasi profis, perbanyak pula membaca Syarat dan Ketentuan sebuah aplikasi sebelum memulai akses terhadap aplikasi tersebut.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *