Pesannya Juga tak Sampai Ke Publik

MALUT POST – TERNATE. Pelaksanaan debat kandidat Pasangan Calon (Paslon) Walikota dan Wakil Walikota Ternate, yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ternate, Selasa (27/10) malam tadi, tidak berjalan sebagaimana diharapkan publik. Masyarakat sulit mengakses jalanya adu gagasan keempat Paslon tersebut. Pasalnya, beberapa fasilitas siaran yang digunakan KPU, seperti live streaming di Facebook tidak bisa diakses, karena jaringan internet yang tidak mendukung. Begitu juga channel YouTube RRI, serta salah satu TV lokal yang dipakai KPU juga mengalami gangguan. Sementara lokasi debat yang digunakan tidak tersedia layar monitor di bagian luar.

Alhasil, banyak masyarakat dan pendukung yang datang terpaksa pulang dengan perasaan kecewa. Lantaran tidak bisa masuk ke ruang debat akibat pembatasan, jumlah undangan dengan pertimbangan protokol kesehatan.

Dari sisi isu juga dinilai sangat dangkal dan tidak terlalu menyentu substansi tema debat. Akademisi Universitas Khairun, Dr Mukhtar Adam menilai debat kandidat wali kota dan wakil wali kotayang di gelar KPU Ternate dengan tema terkait kesejahteraan ini dianggap tidak berkualitas, proses debat membosankan, tidak ada isu-isu terbaru yang dibangun dari fenomena yang dihadapi masyarakat kota saat ini. KPU, kata Mukhtar, tidak secara baik mempersiapkan format diskusi yang didasari pada, pertama, RPJP 25 tahun pembangunan Kota Ternate yang telah ditetapkan dalam Perda sebagai rujukan pembangunan kesejahteraan. Dalam debat itu, tidak tersaji, utamanya pada sesi pertanyaan yang sudah disiapkan oleh KPUD. Kedua, dunia lagi menghadapi resesi, akibat pandemi covid-19, yang mengganggu kesejahteraan rakyat dan memaksa negara harus melakukan berbagai upaya-upaya terobosan. Salah satunya, menitipkan kepada para calon kepala deara untuk turut serta merumuskan strategi pemulihan dan penanganan covid-19 dalam rumusan visi misi terkait isu kesejahteraan tidak menjadi isu dalam debat kandidat malam kemarin, “Sementara para calon wali kota jika terpilih akan berhadapan dengan beban berat, dari menata Kota Ternate yang kapasitas fiskal menurun, dengan berbagai dimensi yang harus ditangani. Sementara dalam debat itu, strategi dan roadmap yang jelas dan terukur tidak terungkap dengan jelas karena KPUD tidak mendesain debat yang baik dalam pengayaan gagasan pemulihan dan penanganan kebencian,” ungkap Mukhtra Kepada Malut Post, usai debat, kemarin (27/10).

Ketiga, lanjut Mukhtar, debat menjadi kegiatan yang biasa-biasa saja bahkan lebih berkualitas diskusi mahasiswa yang terkonstruktif dengan baik dari pada debat calon kepala daerah yang tidak membumi pada masalah dan tantangan yang dihadapi warga kota dalam 5 tahun kedepan.

Keempat, rumusan pertanyaan panelis yang tidak secara baik mengungkap fenomena kesejahteraan dalam debat kandidat sehingga muncul beberapa pertanyaan yang dirumuskan panelis menjadi tidak “nyambung” dengan topik besar dan fenomena kekinian serta masa depan Kota Ternate. Padahal, dinamika kesejahteraan yang dihadapi saat ini diprediksi akan berlanjut dalam 3 sampai 5 tahun kedepan adalah menurutnya daya beli masyarakat, sebagai dampak dari rendahnya investasi, tidak tersedia lapangan kerja, pasar global yang mengalami kelesuan adalah rangkaian tekanan pada daya beli masyarakat.

Kualitas SDM yang dipengaruhi oloh kualitas konsumsi bayi belita ibu hamil dan ibu menyusui yang berefek terhadap kualitas SDM.

“Ternate sebagai kota gugus pulau dengan pola hunian pada pulau-pulau kecil, yang berdampak pada disparitas kawasan dan wilayah yang bermuara pada kesejahteraan tidak menjadi tema diskusi sejahtera warga kota dan berbagai dinamika kesejahteraan yang tidak dikelola dengan baik dalam diskusi para calon pemimpin kota,” jabar Doktor Ota, sapaan akrabnya.

Tak hanya itu, sambung Mukhtar, rumusan pertanyaan yang mengembang dan tidak fokus oleh panelis dan cenderung berbelit-belit. Contoh pertanyaan pertama ke Pasangan Calon nomor urut 2, tidak secara tegas terkait kemiskinan Kota Ternate yang fluktuatif dengan tekanan tumbuh tertinggi pada 2019 ataukah terkait konsep ekonomi kerakyatan. Cara merumuskan soal yang panjang dan tidak fokus, pada problem kota. Atau pada pertanyaan kedua kepada pasangan calon urutan 3, substansinya pada pembangunan sumber daya manusia yang memiliki hubungan dengan tenaga kerja namun penggunaan istilah sumber daya tenaga kerja namun penggunaan istilah sumber daya tenaga kerja yang dikaitkan dengan sumber daya manusia pada substansi pembangunan angkatan kerja yang berkualitas menjadi tidak relevan, apalagi menggunakan istilah sumber daya tenaga kerja.

“Namun dari isu pokok, ya panelis ingin mengarahkan pada pembangunan sumber daya manusia yang dapat menghasilkan angkatan kerja bermutu yang dikenal dalam teori mutu modal manusia, agar bisa berkompetensi di pasar kerja global. Namun sayang, rumusan pertanyaan panelis tidak dapat dalam pemanfaattan istilah dan substansi yang diajukan kepada para calon walikota dalam debat kandidat,” tandas Mukhtar. (aby/udy/rul)

Iklan

One comment

  • Joyo
    Joyo
    Reply

    Seharusnya KPU Kota Ternate juga menggunakan semua Radio swasta di Kota Ternate

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *