Program Kloning Mahkluk Hidup cukup marak-maraknya dibahas saat ini. Negara-negara maju seakan berlomba untuk menciptakan teknologi ini. Menarik benang merah dari pertentangan moral, agama, dan ilmu pengetahuan, tentunya hal tersebut menelurkan pertanyaan baru; “Apakah Moral Menghambat Kemajuan Peradaban?”


Perkenalkan, Dolly. Ia adalah mahkluk hidup pertama yang berhasil dikloning oleh manusia pada tahun 1996. Domba ini adalah bukti dari fantastisnya kemajuan teknologi yang manusia bangun, karena kondisi fisik dan organnya sangatlah normal selayaknya domba yang lahir secara natural. Padahal, secara teknis bisa dikatakan bahwasanya domba ini adalah “ciptaan” manusia.

Program Kloning Mahkluk Hidup

Dua puluh satu tahun berlalu, barulah manusia sukses menciptakan gebrakan baru yang lebih mencengangkan. Di tahun 2017, proses kloning mahkluk hidup telah berhasil menduplikasi primata—mahkluk yang notabene memiliki kemiripan genetik paling tinggi dengan manusia—melalui “diciptakannya” Zhong Zhong dan Hua Hua.

Program Kloning Mahkluk Hidup

Mengapa Butuh Hingga 21 Tahun untuk Mengembangkan Proyek yang Sama pada Hewan Primata?

Sekilas, kita tentu bertanya-tanya; mengapa waktu yang dibutuhkan bisa sebegitu lama untuk mengembangkan program modifikasi genetik jenis kloning agar dapat diimplementasikan pada primata?

Pertama-tama, tentu saja tak dapat dipungkiri bahwasanya Program Kloning Mahkluk Hidup sangat sulit dan membutuhkan riset serta eksperimen yang mungkin perlu dilakukan hingga ratusan atau ribuan kali. Namun di samping itu, ada pula penghambat yang berupa kontroversi akibat alasan-alasan moral yang timbul tatkala pengembangan ilmu kloning ini dijalankan.

Program Kloning Mahkluk Hidup

Moral dan Kemajuan Peradaban serta Teknologi

Salah satu alasan moral yang kerap dikemukakan tak lain adalah tentang asas keagamaan, dimana bagi beberapa pihak, hal ini dianggap sebagai sesuatu yang melanggar kodrat antara manusia dan Tuhan, dan menimbulkan sebuah persepsi situasi tentang manusia yang “bermain-main dengan ciptaan Tuhan”.

Yang menjadi perdebatan moral lain, tujuan dan dampak jangka panjang yang diakibatkan dari kloning. Misalnya seseorang yang sekarat karena mengalami kegagalan satu organ tubuh, dan kesulitan mendapatkan donor. Akhirnya dokter memutuskan untuk mengkloning orang tersebut dan organ tubuh yang berfungsi baik akan dicangkokkan ke tubuh asli orang pertama. Berarti mahkluk hasil kloningnya akan berfungsi sebagai seonggok daging yang hanya akan diambil organ tubuhnya.

Tentu saja, jika di masa depan teknologi kita sudah secanggih itu untuk melakukan hal tersebut, akan ada banyak nyawa manusia yang tertolong. Akan tetapi, apakah secara moral itu dapat diterima?

Program Kloning Mahkluk Hidup

Tahukah mengapa proses uji klinis sebuah obat baru membutuhkan proses hingga puluhan tahun? Karena uji coba dilakukan pada hewan terlebih dahulu, lalu pada manusia. Para ilmuwan harus mencari hewan yang secara genetik mirip dengan manusia, namun memiliki tingkat kepekaan akan rasa sakit yang rendah. Misalnya, babi atau tikus.

Setelah melakukan uji coba pada ribuan hewan lab, mereka tetap harus mengkalkulasi setiap kemungkinan bahwa obat tersebut bisa jadi cocok di hewan lab, tapi belum tentu cocok 100% pada manusia. Maka dari itu, manusialah—sukarelawan atau orang yang mengajukan diri dan mendapatkan kompensasi—yang tetap menjadi uji coba terakhir untuk obat baru tersebut. Namun tentunya, dengan risiko yang jauh lebih kecil.

Ribuan tes telah dilakukan sebelum akhirnya obat baru tersebut siap di produksi massal untuk dijual. Bahkan setelah uji coba tiada ujung tersebut dilalui, akan tetap ada orang yang tidak cocok dengan obat tersebut.

Pertanyaannya, berapa banyak waktu yang dapat ilmuwan hemat jika mereka langsung melakukan uji coba pada manusia?

Moral; Landasan Kemanusiaan yang Membuat Semuanya Tetap Stabil di dalam Jalur

Akan tetapi, moral bukan cuma sekadar tentang nyawa manusia, melainkan pula tentang norma sosial. Sudah sejauh apa peradaban manusia jika kita tidak meributkan pemimpin sebuah negara itu agamanya harus apa? Telah sejauh mana kita mengeksplorasi luar angkasa jika kita tidak meributkan apakah hukuman mati untuk koruptor itu melanggar HAM atau tidak? Seberapa canggih teknologi kita saat ini jika kita tidak meributkan siapa yang salah ketika kasus pemerkosaan yang terjadi? Tentu saja, penulis tidak mengatakan bahwa kita perlu membuang semua moral dan berfokus pada pengembangan sains dan teknologi.

Moral adalah pondasi peradaban manusia. Tanpa eksistensi moral, peradaban kita mungkin malah akan berjalan mundur, karena semua akan berperilaku seperti manusia barbar. Yang menjadi poin penulis adalah, bahwa benar moral menghambat kemajuan peradaban manusia. Akan tetapi, perlu digarisbawahi bilamana moral pulalah yang menjaga peradaban manusia tetap ada. Moral menjaga kita semua di jalur yang benar.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *