Pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini punya arti sangat penting tidak saja bagi warga AS sendiri, tetapi juga bagi diaspora Indonesia. Pasalnya, hasil pilpres kali ini akan mempengaruhi sejumlah kebijakan penting selama empat tahun ke depan, seperti kebijakan imigrasi dan penanganan pandemi virus corona.

Tak heran, sejumlah diaspora Indonesia berkewarganegaraan AS kali ini turut aktif dalam mendukung calon presiden (capres) AS pilihan mereka dengan beragam cara. Mulai dari secara publik menyatakan dukungan, memberikan donasi, menghadiri kegiatan kampanye, hingga menjadi relawan bagi capres yang mereka dukung.

Orang-orang berbaris untuk memberikan suara mereka untuk pemilihan presiden yang akan datang karena pemungutan suara ketika badai tropis Zeta mendekati Pantai Teluk di New Orleans, Louisiana, AS, 27 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Kathleen Flynn)

Orang-orang berbaris untuk memberikan suara mereka untuk pemilihan presiden yang akan datang karena pemungutan suara ketika badai tropis Zeta mendekati Pantai Teluk di New Orleans, Louisiana, AS, 27 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Kathleen Flynn)

Selain itu, mereka juga tergerak untuk memberikan arti lebih bagi komunitasnya.

Salah satu kelompok diaspora Indonesia berkewarganegaraan AS yang aktif dalam pilpres kali ini adalah Pejuang Indonesian Coalition. Kelompok tersebut mengusung misi untuk memberikan kesadaran bagi diaspora Indonesia untuk tidak asal memberikan hak pilihnya. Namun, harus memilih pemimpin yang tepat.

Aldo Siahaan, salah satu anggota Pejuang Indonesian Coalition. (Foto: VOA)

Aldo Siahaan, salah satu anggota Pejuang Indonesian Coalition. (Foto: VOA)

“Kita akan encourage (mendorong. red) orang-orang, khususnya mereka diaspora Indonesia yang sudah menjadi US citizen, untuk benar-benar take it seriously (memberi perhatian serius.red)untuk mereka vote (pilih.red). Dan bukan hanya sekedar vote, tapi vote untuk the right leader,” kata Aldo Siahaan, salah satu anggota Pejuang Indonesian Coalition.

Kelompok tersebut merefleksikan masalah-masalah kaum imigran, terutama diaspora Indonesia di Philadelpia dan sekitarnya.

Dalam beberapa unggahan Pejuang Indonesia Coalition menunjukkan dukungan mereka kepada calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden. Dalam kampanyenya, Biden menjanjikan sejumlah kebijakan pro-imigrasi bila dia terpilih, termasuk menaikkan kuota jumlah pengungsi yang diperbolehkan masuk ke AS.

Sebaliknya, Presiden Trump selama menjabat menerapkan kebijakan imigrasi yang lebih ketat, misalnya, membangun tembok perbatasan dan membatasi kuota jumlah imigran yang mengajukan permohonan izin tinggal.

Katherine Antarikso, anggota Pejuang Indonesia Coalition. (Foto: VOA)

Katherine Antarikso, anggota Pejuang Indonesia Coalition. (Foto: VOA)

Katherine Antarikso, anggota lain di Pejuang Indonesia Coalition, mengatakan kelompok tersebut ingin menonjolkan visibilitas imigran Indonesia.

“Jadi kita mau grup ini membuat diaspora Indonesia dan imigran dari Indonesia terlihat,” tegas Katherine.

Pilpres AS kali ini yang akan digelar pada 3 November 2020 diperkirakan akan menjadi pemilihan dengan tingkat partisipasi pemilih tertinggi dalam sejarah. Hal ini karena kedua calon presiden, petahana Presiden Donald Trump dari Partai Republik dan lawannya, Joe Biden dari Partai Demokrat, menawarkan program-program yang saling bertolak belakang untuk sejumlah isu penting, seperti imigrasi dan penanganan pandemi virus corona.

Menurut data United States Elections Project di Universitas Florida, jumlah suara yang masuk dalam pemungutan suara dini di seluruh Amerika Serikat telah mencetak rekor dengan melewati 60 persen dari total 2016. Terakhir kali partisipasi pemilu melampaui 60 persen terjadi pada 1986. Untuk pilres 2020, United States Elections Project bahkan memperkirakan partisipasi dalam pilpres bisa menembus angka 65 persen.

Rania Nurita Bakhri salah satu relawan Pejuang indonesia Coalition.(Foto: VOA)

Rania Nurita Bakhri salah satu relawan Pejuang indonesia Coalition. (Foto: VOA)

Rania Nurita Bakhri memutuskan menjadi salah satu relawan Pejuang Indonesia Coalition. Tugas Rania adalah menelepon orang-orang yang sudah ada dalam daftar dan memastikan apakah mereka sudah terdaftar sebagai pemilih.

“Apakah mereka sudah terdaftar untuk memilih, apa mereka butuh surat suara lewat pos, atau ada pertanyaan lain, dan mendorong mereka untuk memilih. Saya fokus pada komunitas muslim di area Tri-State dan Pennsylvania,” kata Rania, yang juga relawan Council on American-Islamic Relations (CAIR) wilayah Philadelphia.

Sementara itu, sejumlah diaspora Indonesia yang mendukung Presiden Trump bergabung dalam kelompok Indonesian American for Trump. Kelompok itu lebih mendorong keterlibatan anggotanya untuk mempelajari isu-isu politik.

Sylvia Scott, seorang anggota Indonesian American for Trump, mengaku dia selama ini agak kurang memahami isu politik. Ia tergelitik untuk mendalami politik agar dapat mengenal sepak-terjang Trump lebih dekat. Apalagi, kata Sylvia, selama ini dia hanya mendengar hal-hal negatif mengenai Trump.

“OK, kalo gitu saya harus tahu. Gak mungkin lah orang sebanyak ini milih. Pokoknya jadi bertanya-tanya gitu. Kenapa dia yang terpilih karena semuanya yang saya dengar, all negative things, right? So finally, dari situ mulai tanya-tanya,” paparnya.

Seluruh usaha diaspora Indonesia untuk memenangkan capresnya akan terlihat hasilnya hanya dalam beberapa hari mendatang. Akankah Presiden Trump berhasil mempertahankan posisinya atau Joe Biden yang akan menggesernya? Kita tunggu saja. [ni/ah/ft]

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *