Menggali lubang kuburan sendiri, begitu bunyi pepatah lama atas peristiwa depopulasi yang sedang terjadi karena kebijakan depopulasi dan repopulasi China (Republik Rakyat Tiongkok).

Kebijakan fenomenal Depopulasi dan Repopulasi China cukup menggemparkan dan layak disorot global karena terbilang sangat unik. Konsekuensinya membawa banyak penderitaan pada setidaknya satu-dua generasi yang mengalaminya, tapi kemudian menjadikannya sebagai salah satu negara adidaya dunia, termasuk dalam bidang ekonomi. Ini adalah salah satu kebijakan sosial negara terpenting yang pernah diterapkan pada sepanjang sejarah dunia.

Kebijakan Satu Anak (One Child Policy)

Ketika salah satu figur reformis berpengaruh RRT, Deng Xiaoping, naik ke puncak kekuasaan pemerintahan pada tahun 1979, diberlakukanlah kebijakan pengontrolan yang dikenal sebagai One Child Policy (独生子女政策/ Dúshēngzǐnǚ zhèngcè) atau Kebijakan Satu Anak. Kebijakan itu kemudian sedikit direvisi pada 1980, dan sejak itu resmi diterapkan sampai akhirnya diberhentikan pada 22 Juli 2015.

Tujuan utama diberlakukannya kebijakan depopulasi di China/ RRT ini adalah:

  1. Pertumbuhan populasi negara tidak melebihi pertumbuhan ekonominya, dan
  2. Mengurangi dampak kerusakan lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam akibat meledaknya pertumbuhan populasi.

Berdasarkan data yang dilansir dari Badan Sensus World Bank PBB, pada tahun 1980, China memiliki populasi setinggi 981,2 juta jiwa. Angka ini nyaris menyentuh dua kali lipat sedari dulu kemerdekaan mereka pada 1949, dimana kala itu penduduk mereka sebanyak kurang lebih 540 juta jiwa. Saat ini, penduduk China berada di angka sekitar 1,38 miliar “saja”. Dengan kata lain, bisa dibilang China berhasil mengerem ledakan penduduk selama 40 tahun terakhir.

Reformasi Ekonomi China

Dari sisi pengontrolan ledakan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, kebijakan depopulasi RRT tersebut jelas terbilang sukses. Hal ini dapat dibuktikan dengan figur statistik mencengangkan ini.

Pertumbuhan GDP RRT mencapai era kejayaannya terutama sejak tahun 1990-an dan awal milenium 2000. Akan tetapi sedikit menurun pada tahun 2019 hingga saat ini, terutama karena pandemi COVID-19. Namun, itu pun masih di atas 5% dan sekarang mereka terus memproduksi berbagai kebutuhan APD dan masker dan laris manis diborong seluruh dunia, termasuk AS.

Manis di Atas Kertas, Miris di Belakang Layar

Sekilas, semua pencapaian di atas terdengar begitu indah bak cerita-cerita di dunia dongeng. Namun di balik kesuksesan itu, ada harga mahal yang harus dibayar oleh penduduk China, yang sebagian besar memusat pada pengorbanan kehidupan sosial.

Angka praktik aborsi di China bisa dibilang merupakan yang tertinggi di dunia. Statistik di atas hanyalah salah satu contoh (tahun 2008), namun selama 40 tahun penerapan kebijakan itu, posisi China selalu “unggul” di atas untuk kategori angka aborsi tertinggi dibandingkan negara lain.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satunya adalah karena masih melekatnya budaya patriarki di negeri panda itu. Memiliki anak laki-laki di sana teramat penting karena mewariskan nama marga, urusan pembagian harta, hingga pengaruh doktrin kebudayaan leluhur. Dikombinasikan dengan kebijakan modern depopulasi Dúshēngzǐnǚ (baca: tusengsheniu), maka tentu saja para orangtua akan melakukan segala cara untuk melahirkan anak laki-laki. Salah satunya yaitu dengan mengaborsi janin yang diindikasikan sebagai bakal perempuan.

Hingga pada zaman sekarang, terjadi ancaman hilangnya potensi besar tenaga kerja banyak dan murah RRT karena semakin rendahnya tingkat kelahiran negara mereka. Jika tren ini terus berlangsung, maka ini bisa menjadi bom waktu demografis bagi China karena semakin menua penduduknya, tapi tingkat kelahirannya rendah.

Repopulasi Sebagai Usaha Pemutarbalikan Keadaan = Pengorbanan (lagi)

Seperti yang kita ketahui, bukan Pemerintah Komunis China (PKC) namanya kalau tidak segera mendeteksi ancaman nasional dan bertindak tegas atasnya. Sayangnya, untuk menutupi lubang yang diciptakan karena kesewenang-wenangan, diperlukan pula tambal yang berbumbu kesewenang-wenangan. Jargon Depopulasi dan Repopulasi China muncul karena setelah depopulasi yang masif, kini pemerintah dengan seenaknya mencanangkan repopulasi.

Para perempuan lajang berusia menikah di RRT pun menjadi korban tekanan sosial, salah satunya akibat pemerintah RRT yang mendesak agar mereka segera menikah dan punya keturunan. Para feminis yang memperjuangkan hak-hak keseteraan wanita pun pasti akan dibredel dengan tegas karena jelas akan memberikan tekanan depopulasi bertambah dalam.

Melalui AllChina Women’s Federation (中华全国妇女联合会), pemerintah RRT mengeluarkan jargon yang merendahkan wanita yang dikenal sebagai the leftover women (剩女 / shèngnǚ) atau wanita sisa.

Dan mereka ada di mana-mana di seantero China, terutama di kota-kota besar yang menuntut kemapanan perekonomian tinggi.

Sampai-sampai di China terkenal dengan adanya pasar jodoh/ lelang lajang (marriage market) yang dihadiri para orang tua lajang dalam mencarikan jodoh demi anak-anaknya!

Yang ironis dari fenomena ini adalah:

  1. Pria lajang China tidak mendapatkan tekanan sosial serupa, malah mendapat predikat “golden bachelors” (黄金单身汉) atau “diamond single man” (钻石王老五),
  2. Terjadi ketidakseimbangan jumlah populasi gender pria China lebih banyak setidaknya 30 juta jiwa dibanding wanita China.

Pelajaran Penting yang Bisa Dipetik

Banyak orang tentu akan mengutuki kebijakan ini. Itu adalah hal yang lumrah. Namun dibalik semua ini, ternyata fenomena di negara berideologi komunis ini dapat membuka perspektif baru pada kacamata global. Karena secara esensial, hal ini memiliki sangkut paut dengan masalah klasik ras manusia. Tuntutan kehidupan modern dan bisa mapan, berkeluarga, lalu punya anak. Itu adalah isu global yang menimpa semua negara dan gender.

Dilansir dari studi yang diterbitkan Pulitzer Center, pria China cenderung akan nyaman menikah dengan wanita yang berlevel sosial 1 kelas di bawahnya (istilahnya dari sudut wanita, hypergamy). Jadi, pria level A akan menikahi wanita level B, pria B akan menikahi wanita level C, dan seterusnya. Dan bisa ditebak, budaya itu lumrah terjadi pada masyarakat modern di mana pun.

Jadi, yang awalnya adalah ancaman depopulasi RRT, kini malah menggarisbawahi masalah sosial universal ras manusia: tuntutan kehidupan modern dan semakin minimnya empati dalam hubungan romantis dua sejoli.

Pemerintah RRT sendiri pusing menghadapi ini dan terus mencari caranya untuk meningkatkan pertumbuhan kelahiran di negaranya. Tanpanya, beberapa dekade lagi ancaman depopulasi Asia Timur akan menghantam dengan keras dan mungkin akan terjadi global shifting power (lagi).

Hak-hak wanita sendiri juga kita tahu harus kita hormati karena mereka sama manusianya dengan pria. Tapi, selama kita (ras manusia) hanya berfokus pada masalah di kulitnya tanpa mengalamatkan empati dan respek kepada jiwa manusia, maka masalah klasik seperti hypergamy ini akan terus dominan merecoki kebahagiaan manusia. Baik pria dan wanita sama-sama bersalah atasnya dan harus mau memperbaiki keadaan.

Akhir Kata

Kalimat ini mungkin sering terlontar;

Hei, kapan nikah?

Namun kedepannya, ada baiknya berpikir ulang untuk mengeluarkan pernyataan itu. Apakah itu cukup bijak, atau justru membuat keadaan semakin memburuk?

Atau mungkin ketika kita sedang galau untuk mempertimbangkan;

Apakah dia pantas untuk kunikahi?

Coba lihat karakter dan moral orangnya. Akan tetapi di satu sisi, rendahkan ego dan ide pribadi tentang kemapanan (berlebihan).

Kita mungkin akan melewatkan kesempatan untuk menikahi seseorang yang ternyata sempurna meski di luar terlihat biasa-biasa saja level sosialnya saat itu.

Tapi ingat satu hal yang terpenting. Kita juga harus bisa bertanggung jawab untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kelak, jadi kecukupan standar itu penting juga. Jangan asal menikah, anaknya nanti bagaimana?

Bertanggungjawablah.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *