Infografik; Negara-negara yang Gagal Melunasi Hutangnya
Infografik; Negara-negara yang Gagal Melunasi Hutangnya

Dalam aspek kenegaraan, hutang adalah pisau bermata dua yang nyatanya berperan krusial dalam menjaga stabilitas perekonomian. Tak jarang demi memenuhi kebutuhan daya untuk pembangunan, negara-negara di dunia memilih untuk menempuh jalur hutang. Hal ini cukup berisiko, namun dapat memberikan hasil yang maksimal pula bilamana dapat dikelola dengan baik. Sebagai contoh, hutang yang ditujukan untuk pembangunan infrastruktur dapat menopang aksesibilitas sebuah negara guna menggaet investor dan menunjang berbagai macam industri di negara itu. Implikasinya, negara tersebut akan mendapat pemasukan yang tentunya dapat menutup hutang dan menambah pundi-pundi kas negara.

Sayangnya, hutang-hutang itu tak selamanya mendapat pengelolaan yang tepat. Berikut terangkum tiga negara di dunia yang harus membayar mahal oleh karena hutang yang mereka buat;

1. Yunani

Negara Yunani Gagal Melunasi Hutangnya

Negeri para dewa yang terletak di belahan bumi Eropa ini sempat menyandang predikat sebagai negara maju. Industri pariwisata mereka yang cukup untuk menopang sendi perekonomian nasional harus kolaps oleh karena peristiwa gagal bayar hutang yang mereka buat kepada IMF.

Yunani bukanlah negara besar. Penduduknya hanya sekitar 11 juta orang. Ini bahkan lebih rendah dari penduduk di Jawa Barat yang mencapai sekitar 46 juta orang. Alhasil, roda perekonomian pun tak sebesar negara-negara tetangganya. Sayangnya, mereka seakan tak henti menerbitkan surat utang atau obligasi ke investor guna memanjakan penduduknya.

Tanpa disadari, hutang-hutang itu terus menumpuk hingga menjadi bom ekonomi yang tak dapat terhindarkan. Tepat pada 30 Juni 2015, Yunani dinyatakan gagal membayar hutang sebesar kurang lebih (bila dirupiahkan) 22 Triliun. Alhasil, bank-bank tutup, pembatasan tarik tunai di ATM diberlakukan, hingga angka pengangguran melonjak tinggi.

Demo di Yunani Akibat Negara Gagal Melunasi Hutang

Untungnya, Yunani berhasil pulih dari kondisi ini. Setelah pertemuan selama 17 jam di Ibu Kota Belgia, Brussels, Pemerintah Yunani menerima syarat-syarat yang diminta zona Eropa terkait dengan perbaikan ekonomi. Setelah perundingan yang alot, akhirnya pihak-pihak negosiator menemukan solusi. Beruntunglah Yunani, karena akhirnya berhasil terselamatkan dari jurang kebangkrutan satu bulan setelahnya.

2. Sri Lanka

Sri Lanka Gagal Melunasi Hutangnya

Pada masa kepemimpinan Presiden Mahinda Rajapaksa yang menjabat dari 2005 hingga 2015, Sri Lanka tergiur dengan bantuan yang China tawarkan dalam rangka pembangunan megaproyek Kota Pelabuhan Metropolis di Kolombo (ibukota Sri Lanka). Kucuran dana fantastis yang bilamana dirupiahkan mencapai 20 Triliun tersebut awalnya ditafsirkan sebagai wujud kepercayaan China terhadap prospek Sri Lanka yang dianggap akan menguntungkan.

Mengutip South China Morning Post, China akan mendirikan kota metropolis yang mirip seperti Singapura atau Hong Kong di atas lahan reklamasi seluas 665 hektar. Selain membangun kota pelabuhan di Kolombo, China dalam dua dekade terakhir juga telah membantu Sri Lanka mendanai dan membangun jalan raya, bandara, pelabuhan dan rel kereta. Sri Lanka berutang sebesar lebih dari US$ 8 miliar.

3. Zimbabwe

Zimbabwe Negara Gagal Melunasi Hutangnya

Senasib dengan Sri Lanka, negara di benua Afrika yang cukup terkenal dengan pariwisata satwa liarnya ini pun harus berurusan hutang dengan raksasa Asia yang sama. Guna memaksimalkan industri di dalam negeri, pemangku kepentingan di Zimbabwe kerap mengajukan suntikan dana berbentuk hutang dari beberapa negara, yang salah satu favoritnya adalah China.

Hutang yang terus menerus ditumpuk nyatanya tak sebanding dengan pendapatan negara. Alhasil, peristiwa gagal hutan pun terjadi. Dalam kasus ini, Zimbabwe berhadapan China. Zimbabwe memiliki utang sebesar 40 Juta US$ kepada China, tetapi tak mampu membayarkan pertanggungjawaban itu.

Alhasil, Zimbabwe harus membayar mahal kesalahannya. Per 1 Januari 2016, Yuan (mata uang China) resmi dilantik menjadi mata uang Zimbabwe. Hal ini tentunya menjadi kerugian tersendiri bagi negara penghutang dari berbagai aspek, mulai dari kepunahan Dollar Zimbabwe, hingga munculnya sentimen politik dari Zimbabwe dan beberapa negara yang selama ini memiliki hubungan kurang baik dengan China.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *