Siapa yang sangka, start-up Indonesia di tahun 2000-an yang diboikot ini adalah kesempatan emas yang pernah kita buang

Apakah profis pernah mendengar negara bernama Estonia? Mungkin, masih banyak dari kita yang belum mengetahui eksistensi negara mungil di benua Eropa ini. Negara yang jumlah penduduknya mungkin setara dengan Kabupaten di Indonesia ini ternyata sukses menelurkan aplikasi chatting yang cukup booming di ranah global.

Ya, Skype! Mungkin Skype bukanlah aplikasi yang terkenal di Maluku Utara. Namun jangan salah, ternyata aplikasi chatting daring ini cukup laris dipakai di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Bahkan, kantor-kantor di ibukota pun masih banyak sekali yang memanfaatkan Skype sebagai media untuk berkomunikasi di ranah profesional.

Selain karena user interface-nya ramah pengguna, fitur yang lengkap, kecepatan yang optimal, aplikasinya yang tidak terlalu berat, hingga banyaknya emoticon yang dianggap relate dengan dunia kerja adalah alasan mengapa aplikasi ini dipilih. Kemudian, penggunaan Skype yang juga jarang dipakai untuk ranah pribadi pun dianggap sebagai kelebihan lain, dimana penggunanya dapat memilah antara media bersosialisasi yang sifatnya pribadi dan pekerjaan.

Tahukah profis? Indonesia hampir pernah memiliki Skype-nya sendiri. Sayangnya, dimana Estonia sedang berupaya untuk membangun layanan panggilan telepon berbasis internet atau voice over internet protocol (VoIP), pemerintah kala itu malah membredel proyek inovatif ini dengan alasan yang cukup pragmatis.

VoIP yang Gagal Tumbuh akibat Pembredelan

Adrie Tanuwidjaya namanya. Pria berusia 35 tahun ini harus menelan pil pahit setelah merealisasikan ide cemerlangnya untuk menciptakan wadah komunikasi jarak jauh dengan biaya yang tentunya akan sangat jauh lebih hemat dibanding layanan serupa di Indonesia pada tahun 2000 silam.

Bisnis yang ia mulai rintis pada bulan keenam di millenium baru itu harus kandas di tengah jalan akibat sikap penyelenggara layanan operator telepon di kala itu yang menganggap bahwa hadirnya teknologi VoIP adalah sebuah “gangguan di lahan basah”. Pemilik PT Supandi Jaya ini harus membayar mahal perbuatan mulianya dengan mendapatkan sanksi pidana. Tak hanya itu, aset dan modal perusahaannya pun lenyap, tak jelas kemana muaranya. Kantornya pun disita, sebuah kondisi miris pada kala itu yang tentunya membuat bibit inovator lain akan berpikir dua kali untuk memulai layanan inovatif di Indonesia.

Skype baru diperkenalkan oleh Estonia di tahun 2003. Artinya, Adrie dan banyak starter lain di Indonesia telah empat tahun lebih cepat untuk memulai layanan ini. Sayangnya, disaat Estonia mendukung mati-matian inovasi yang ditetaskan oleh masyarakatnya, Indonesia malah haus menangkap-nangkapi mereka karena anggapan melanggar hukum. Memang, saat itu aturan mengenai layanan VoIP masih belum memiliki regulasi, sehingga dianggap ilegal. Namun yang disayangkan, pemangku kebijakan malah memilih untuk mengambil jalur instan—dengan cara menafsirkan perbuatan ini sebagai tindakan melanggar hukum—ketimbang menerbitkan aturan baru yang dapat memayungi serta menumbuhkembangkan terobosan ini.

Inovasi = Bibit Improvisasi

Lahirnya wadah percakapan gratis secara daring tentunya diawali dengan cita-cita untuk memiliki saluran komunikasi yang efisien dan hemat biaya. Karena tak dapat dipungkiri, layanan SMS dan Panggilan Seluler membutuhkan pulsa yang biayanya tentu jauh lebih besar karena operasional untuk pemanfaatan jaringannya lebih rumit. Lalu hadirlah internet, sebuah subjek tak kasat mata yang tanpa disangka mampu mengubah tatanan dunia.

Lahir dan besarnya WhatsApp, LINE, Facebook, Instagram, dan media sosial lainnya bermula dari karsa untuk memiliki wadah berkomunikasi dan bersosialisasi jarak jauh, real time, dan tentunya dapat dilakukan dengan ongkos yang murah. Kesimpulannya, ranah percakapan dan panggilan berbasis internet adalah cikal bakal akan fantastisnya teknologi itu di masa mendatang.

Mari mengkhayal sejenak. Seandainya VoIP di Indonesia dulu tak dibredel, bukan tak mungkin di masa ini perusahaan startup yang didirikan di awal millenium ke-dua ini dapat menjadi raksasa media sosial di Indonesia, atau bahkan dunia. Kasus dimana warga Indonesia mampu untuk membuat terobosan terlebih dahulu sebelum lahirnya Skype adalah sebuah bukti bahwasanya kita memiliki potensi untuk berkreasi dan unjuk gigi di ranah nasional.

Seandainya bisnis VoIP ini didukung perkembangannya pada awal-awal kemunculan di Indonesia, tentunya mereka akan menciptakan inovasi-inovasi baru untuk mempertahankan bisnis mereka. Inovasi yang dimaksud di sini yaitu skenario bertransformasinya mereka menjadi sebuah media sosial.

VoIP “A” akan berinovasi di bidang media sosial yang menghasilkan ranah berinteraksi sekaligus galeri daring, lalu jadilah Instagram khas Indonesia. Lalu VoIP “B” akan berinovasi di bidang media sosial yang menghasilkan ranah berinteraksi sekaligus publikasi video berbasis daring, lalu jadilah YouTube khas Indonesia. Dan seterusnya, hingga startup Indonesia mendunia.

Malang, Peluang di Pelupuk Mata Harus Kandas

Sekarang VoIP telah dilegalkan. Namun semuanya terlambat. Media Sosial dari negara-negara lain telah lahir dan berevolusi menjadi raksasa. Kita telah gagal mempertahankan peluang. Demi menuruti permintaan pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh karena tujuan jangka pendek, maka tujuan jangka panjang pun dikorbankan.

Setidaknya, kehadiran ojek daring Go-Jek tentunya dapat menambal luka itu. Ya, semoga saja di masa depan pun kepemilikannya tetap di pangkuan Indonesia.

Iklan

2 comments

  • kiomkiom
    kiomkiom
    Reply

    suka sedih kalo baca2 seperti ini. kita dulu punya potensi. tapi semuanya kandas karena manusia rakus yg takut pendapatannya terganggu

  • Oscarmyday
    Oscarmyday
    Reply

    perdere peso velocemente

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *