Tak selamanya darah yang diwakilkan oleh warna merah pada sang saka bendera merepresentasikan darah pejuang. Pembantaian Santa Cruz (atau juga dikenal dengan Pembantaian Dili 1991) ialah buktinya. Peristiwa ini adalah salah satu sejarah kelam, keping cerita dari blundernya pemangku kuasa kala itu yang hingga saat ini masih meninggalkan luka pada benak saudara-saudara di negara tetangga kita, Timor Leste.

Infografik; Pembantaian Santa Cruz 1991
Infografik; Pembantaian Santa Cruz 1991

Pemantik

Pada Oktober 1991, sekumpulan orang yang tergabung dalam delegasi parlementer Portugal bermaksud untuk melakukan kunjungan ke Timor Leste. Dalam rombongan itu, terdapat pula 12 orang wartawan yang ditugaskan untuk meliput kunjungan ini. Namun karena di antara wartawan-wartawan itu terdapat Jill Joleffe—seorang wartawan Australia yang kerap mengangkat isu kemerdekaan Timor Leste—, maka pemerintah pun melarang kunjungan tersebut.

Muncullah bara perselisihan itu. Kelompok pemuda pro-kemerdekaan Timor Leste yang menganggap peluang mereka untuk mengangkat isu kemerdekaan telah raib langsung merasa kecewa dan mulai melakukan gerakan-gerakan unjuk rasa untuk mengekspresikan kebencian mereka terhadap kebijakan yang pemerintah Indonesia keluarkan.

Percik api mulai muncul ketika terjadi konfrontasi antara aktivis pro-integrasi dan kelompok pro-kemerdekaan yang pada saat itu tengah melakukan pertemuan di gereja Motael Dili. Pada akhirnya, Afonso Henriques dari kelompok pro-integrasi tewas dalam perkelahian. Tak lama berselang, seorang aktivis pro-kemerdekaan, Sebastião Gomes ditembak mati oleh tentara Indonesia.

Pemakaman Berdarah Sebastião Gomes

Makam Sebastião Gomes
Makam Sebastião Gomes

12 November, Sebastião Gomes dimakamkan di pemakaman Santa Cruz. Pada momentum itu pula, terjadi unjuk rasa sebagai wujud protes tindakan represif yang dilakukan tentara terhadap kelompok pro-kemerdekaan. Api kebencian secara tiba-tiba membesar ketika sekelompok tentara datang untuk mengawasi prosesi pemakaman itu.

Beberapa demonstran dipukuli dan diamankan dengan alasan penertiban. Dari pihak tentara sendiri, seorang mayor, Geerhan Lantara, ditusuk oleh salah seorang demonstran. Menurut penuturannya, Geerhan Lantara menyerang beberapa demonstran tanpa alasan, termasuk seorang anak perempuan yang sedang mengibarkan bendera Timor Leste.

Saat iring-iringan warga mulai memasuki areal TPU, beberapa orang terus berunjuk rasa di depan pagar. 200 tentara dikerahkan sambil menenteng senjata ke arah kerumunan. Di sinilah pembantaian Santa Cruz dimulai. dalam pemakaman, tentara melepaskan tembakan ke arah ratusan warga sipil tak bersenjata. Sedikitnya 250 warga Timor Timur tewas dalam peristiwa ini. Peristiwa ini dinamakan pembantaian Santa Cruz karena lokasi jagalnya berada di dalam pemakaman Santa Cruz.

Terekam dan Tersebar

Pembantaian ini disaksikan oleh dua wartawan Amerika Serikat, Amy Goodman dan Allan Nairn, dan direkam oleh Max Stahl yang diam-diam membuat liputan untuk Yorkshire Television di Inggris. Saat Stahl sedang merekam, Goodman dan Nairn mencoba “melindungi warga Timor” dengan berdiri di antara mereka dan tentara Indonesia. Terekamlah momentum ketika beberapa tentara mulai memukuli Goodman. Nairn juga dipukuli dengan senapan saat mencoba melindungi Goodman hingga tengkoraknya retak.

Para juru kamera berhasil menyelundupkan pita video tersebut ke Australia. Mereka memberikannya kepada Saskia Kouwenberg, wartawan Belanda, untuk menghindari penangkapan dan penyitaan oleh pihak berwenang Australia yang sebelumnya telah diinformasikan oleh pihak Indonesia untuk melakukan penggeledahan total terhadap para juru kamera itu ketika mereka tiba di Australia.

Video ini ditayangkan dalam dokumenter First Tuesday berjudul In Cold Blood: The Massacre of East Timor di ITV di Inggris pada Januari 1992. Rekaman Stahl, ditambah kesaksian Nairn, Goodman, dan rekan-rekan sejawatnya, memicu respons keras di seluruh dunia. Program In Cold Blood: The Massacre of East Timor mendapat anugerah Amnesty International UK Media Awards pada tahun 1992.

Dampak dan Tercorengnya Citra Indonesia

Demonstran yang Menuntut Kemerdekaan Timor Leste
Demonstran yang Menuntut Kemerdekaan Timor Leste

Seketika setelah film dokumenter tadi viral, segenap aktivis kemanusiaan di seluruh dunia langsung mengecam tindakan keji tersebut. Mereka semua bersolidaritas dalam mendukung rakyat Timor Leste. Organisasi pro-kemerdekaan Timor Leste pun semakin vokal dalam menyuarakan cita-cita mereka. Mereka menganggap, pembantaian Santa Cruz adalah kejahatan kemanusiaan dan mendesak pemimpin negara masing-masing untuk mengambil langkah tuk memberikan sanksi terhadap Indonesia.

Kongres Amerika Serikat memangkas anggaran program pelatihan IMET untuk militer Indonesia. Bahkan, Presiden Clinton memutus kerja sama militer dengan Indonesia pada tahun 1999. Portugal mendorong negara-negara Uni Eropa untuk menekan Indonesia, tetapi gagal. Hal ini karena Inggris memiliki hubungan ekonomi erat dengan Indonesia yang melibatkan penjualan senjata. Pemerintah Australia yang saat itu sudah mempererat kerja sama dengan militer Indonesia juga memutus sementara hubungan militer akibat kekerasan yang terjadi usai referendum kemerdekaan pada 1999.

12 November kini menjadi Hari Pemuda di Timor Leste. Hari yang diwarnai oleh tragedi berdarah pada 1991 dianggap sebagai momen yang sakral, karena bagi mereka, inilah jalan awal dimana diplomasi mereka berhasil. Ketika pemangku kekuasaan di Indonesia kala itu melakukan blunder, dan mereka pun sukses menggaet dukungan internasional.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *