JAKARTA — Dua pakar politik Indonesia berpendapat, Joe Biden yang diproyeksikan sebagai pemenang pemilu presiden AS akan lebih memperhatikan isu-isu HAM dan kelompok-kelompok minoritas. Mereka juga berpendapat, pemerintahan Biden akan tetap memandang Indonesia sebagai mitra penting di Asia Tenggara.

Dalam diskusi bertajuk “Peta Kebijakan Amerika Serikat di Kawasan Asia Tenggara Pasca Terpilihnya Biden”, peneliti di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Siswanto menjelaskan dilihat dari geopolitik Amerika Serikat, Asia Tenggara termasuk zona persahabatan. Artinya Amerika menganggap penting untuk menjadikan kawasan ini sebagai mitra.

Siswanto belum bisa menilai ke arah mana kebijakan presiden terpilih Joe Biden dalam konflik di Laut China Selatan. Tapi dia meyakini Amerika di bawah pemerintah Biden akan melakukan kompromi dengan China.

Kapal perusak Angkatan Laut AS USS Stethem melewati perairan timur Semenanjung Korea dalam latihan militer bersama Angkatan Laut AS dan Angkatan Laut Korea Selatan "Operasi Foal Eagle, 22 Maret 2017. (Foto: Angkatan Laut AS)

Kapal perusak Angkatan Laut AS USS Stethem melewati perairan timur Semenanjung Korea dalam latihan militer bersama Angkatan Laut AS dan Angkatan Laut Korea Selatan “Operasi Foal Eagle, 22 Maret 2017. (Foto: Angkatan Laut AS)

Biden, menurut Siswanto, tidak akan mengerahkan armada perang Amerika secara berlebihan atau yang mengarah pada konfrontasi di Laut China Selatan.

“Namun Biden juga tetap menjaga apa yang disebut keseimbangan kekuatan. Setelah China muncul sebagai kekuatan baru di kawasan atau pengaruh Amerika diambil alih oleh China, itu tidak akan terjadi. Amerika tetap menjaga keseimbangan kekuatan di Asia tenggara dan akan tetap menjaga dominasinya di kawasan,” kata Siswanto.

Siswanto menduga, Biden akan menggelar kebijakan yang sedikit meredakan perang dagang dengan China. Biden, katanya,akan melakukan kompromi tanpa merugikan kepentingan Amerika. Kampanye, Biden pernah menyatakan bahwa ia tidak akan melunak terhadap China tapi tidak akan sekonfrontatif Trump.

Di era Trump, kata Siswanto, Amerika menjadikan kawasan Indo Pasifik alat untuk membendung perluasan pengaruh China. Dia menilai di masa Biden nantinya Indo Pasifik akan menjadi suatu forum kerjasama dibanding sebagai alat untuk bermusuhan dengan China.

Terkait Indonesia, lanjut Siswanto, Biden akan menjadikan Indonesia sebagai negara poros di Asia Tenggara. Indonesia penting bagi Amerika karena sumber daya alamnya yang melimpah, penduduknya yang besar, dan pengaruhnya yang signifikan di kawasan.

Siswanto meminta Indonesia berhati-hati karena Biden akan lebih memperhatikan nasib kaum minoritas. Dia bahkan menyimpulkan kepulangan Rizieq Syihab dari Arab Saudi sejalan dengan kebijakan Biden yang menghargai kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, dan sebagainya.

Biden juga akan memberi perhatian pada kemitraan komprehensif untuk meningkatkan kerjasama dengan Indonesia. Hubungan Amerika dengan umat islam di Indonesia juga akan lebih baik di era Biden karena Biden akan cenderung kooperatif dalam masalah-masalah Palestina.

Ketua Pusat Studi Amerika Universitas Indonesia Suzie Sudarman juga memperkirakan Biden akan lebih mengutamakan diplomasi dengan China dalam isu Laut China Selatan. Dia menambahkan perang dagang dengan China juga akan tetap dilanjutkan karena pengenaan tarif bea masuk yang tinggi bagi produk-produk asal negara Tirai Bambu tersebut disukai kubu Demokrat dan kubu Republik.

Terkait Indonesia, Suzie meminta pemerintah Indonesia harus memahami bahwa Biden akan mengedepankan prinsip-prinsip HAM, kebebasan beragama, dan hak-hak kaum minoritas.

“Itu adalah pusat perhatian dari politik luar negeri Amerika. Suka atau tidak, itu harus kita antisipasi tapi antisipasinya jangan kita marah-marah karena kita curiga dan sebagainya. Karena setiap administrasi kan beda penekanan,” ujar Suzie.

Suzie menambahkan kerjasama antara Indonesia dan Amerika akan terus berlanjut. Tapi dia menduga akan timbul persoalan dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Suzie menyebutkan kubu Demokrat tidak suka dengan Prabowo yang dituding melanggar HAM.

Suzie menekankan yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah kerjasama pertahanan antara kedua negara yang dicapai pada era Trump akan terus berlanjut selama Prabowo masih menjadi menteri pertahanan. Ia menyatakan, rekam jejak Prabowo di mata politisi Demokrat kurang baik. [fw/ab]

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *