10 November kemarin adalah momentum yang begitu membanggakan bagi rakyat Maluku Utara, utamanya Ternate. Bagaimana tidak, setelah menunggu dua puluh empat tahun, akhirnya Sultan kebanggaan kita, Sultan Baabullah resmi menyandang gelar sebagai Pahlawan Nasional. Rekomendasi ini sudah dimulai semenjak 1996 silam, setahun setelah sebelumnya Sultan Nuku dari Tidore mendapatkan predikat yang sama. Kala itu, diskusi ilmiah dengan tema “Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutra” digelar oleh Dirjen Kebudayaan Kemdikbud dan Pemda Provinsi Maluku.

Sayangnya, upaya-upaya tersebut masih belum mendapatkan titik terang, sehingga sempat berhenti disuarakan. Pada tahun 2012, wacana ini kembali digaungkan. Seminar dan penerbitan naskah mengenai Sultan Baabullah semakin gencar dilakukan. Tak hanya di lingkup Maluku Utara saja, melainkan pula nasional. Salah satu contohnya yaitu pada seminar di Desember 2019 silam, yang menghadirkan sejarawan Bondan Kanumoyoso dan Susanto Zuhdi di Universitas Indonesia.

Pada dasarnya, indikator untuk mengukur seorang tokoh agar dijadikan sebagai Pahlawan Nasional sederhana. Yaitu dengan kontribusi yang ia lakukan untuk mengusir penjajah atau membangun nusantara, baik secara langsung maupun sekedar diplomasi. Yang menjadi sulit adalah banyaknya kandidat, mengingat Indonesia memiliki geografi yang begitu luas, dan demografi yang beragam.

Sultan Baabullah, Si Pemberani dari Ternate

Sultan Baabullah lahir pada 10 Februari 1528, dengan nama kecil Kaicil Baru. Putra sulung dari Sultan Khairun Jamilu dan Boki Tanjung ini telah menunjukkan sikap ksatrianya sejak kecil. Tak hanya berani, ia pun memiliki prestasi yang kuat di bidang kemiliteran. Hal ini terbukti dengan jabatan Kapita Laut—jabatan militer tertinggi dalam struktur Kesultanan Ternate—yang berhasil ia sabet setelah bergabung dalam barisan pasukan Ternate. Tak hanya itu, Sultan Baabullah juga berkontribusi besar dalam kegiatan pelayaran ke sejumlah wilayah di Sulawesi dalam rangka ekspansi.

Pada tahun 1570, ayah Sultan Baabullah, Sultan Khairun harus meregang nyawa di tangan Portugis. Sontak, hal ini memantik kemarahan warga Ternate, tak terkecuali putranya. Penyingkiran Sultan Khairun ini dilandasi dengan motif Portugis yang bermaksud untuk menancapkan tentakelnya lebih dalam di Ternate. Bagi mereka, Sultan Khairun tak lebih dari pengganggu. Ia menciptakan peraturan-peraturan yang membuat Portugis sulit untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah. Tak hanya itu, politik penyebaran agama Katolik di Ternate pun terganggu pula karena kebijakan ketat yang Sultan Khairun terapkan.

Portugis menganggap kalau disingkirkannya Sultan Khairun sudah cukup. Namun sayangnya, mereka salah besar. Sultan Baabullah mewarisi watak kepemimpinan yang sama dengan ayahnya. Tentu saja ia tak mau semata-mata tunduk ke Portugis. Ia memilih untuk mengumpulkan kekuatan dan menyusun strategi yang tepat agar dapat mengusir Portugis dari pulau Ternate. Bahkan dalam pidato ketika pengangkatannya sebagai pengganti Sultan Khairun, Sultan Baabullah bersumpah untuk menuntut balas kematian ayahnya.

Serangan Balik ke Pihak Portugis

Strategi dan kekuatan telah terkumpul dengan baik. Sultan Baabullah yang sudah yakin dengan formasi tersebut mulai melancarkan aksinya. Pertama, ia mengirim enam perahu besar yang masing-masingnya berisi 100 pasukan Ternate ke benteng Portugis di Hitu, Ambon. Tujuannya agar prajurit Portugis di sana tak mengirim bala bantuan ke Ternate. Di saat yang sama, pasukan Sultan Baabullah juga mengepung benteng lain Portugis di Benteng Gamlamo di desa Kastela, Ternate.

Entah dari mana mereka mengetahui rencana itu, ternyata benteng di Hitu telah kosong. Prajurit Portugis di sana telah melarikan diri ke Leitimor, Ambon. Untungnya, orang-orang Portugis di Ternate masih ada. Mereka pun mengepung Benteng Gamlamo dan meminta Diego Lopez de Mesquita—gubernur Portugis di Maluku—menyerahkan pembunuh ayahnya untuk diadili. Tak lupa Sultan Baabullah juga mengirimkan surat kepada raja Portugis di Lisbon. Isinya sama, yaitu meminta Portugis bertanggungjawab atas kematian ayahnya.

Di surat itu, Sultan Baabullah menjelaskan bahwa ia berjanji untuk memulihkan hubungan baik antara Ternate dan Portugis bilamana Portugis mau bertindak kooperatif. Seandainya mau, sebenarnya bisa saja Sultan Baabullah memporak-porandakan Benteng Gamlamo. Meskipun persenjataan Portugis lengkap, namun jumlah mereka yang hanya ratusan tentunya akan kalah dengan pasukan Sultan Baabullah yang jumlahnya puluhan ribu. Namun disinilah mulianya hati beliau. Ia mengingat kalau di dalam sana terdapat wanita dan anak-anak pula. Ia tak ingin ada pertumpahan darah.

Kemauan Sultan Baabullah sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin Portugis bersikap adil. Lagipula, kedatangan mereka kan diawali dengan itikad baik. Ternate pun menyambut mereka dengan ramah pula. Mereka diizinkan berdagang, bermasyarakat, hingga membangun benteng. Namun perubahan sikap inilah yang membuat Sultan Baabullah geram. Portugis mulai mempraktikkan cara-cara kotor untuk memonopoli ekonomi. Apalagi, ayahnya harus mati di tangan Portugis yang notabenenya adalah pendatang.

Strategi Pengepungan

Selama dua puluh empat jam penuh, benteng Gamlamo dikepung dan terus diawasi oleh puluhan ribu pasukan gabungan dari Ternate, Jailolo, Gamkonora, Galela, Moti, Hiri, dan Makian. Selama itu pula, tak ada sedikitpun goresan yang tercipta. Mereka semua hanya mengepung, dengan tujuan orang-orang Portugis di dalamnya menyerah dan memilih untuk mengibarkan bendera putih.

Lima tahun berlalu, akhirnya bangsa Portugis pun menyerah. Dengan kondisi yang terisolasi, tentunya mereka tak dapat bertahan dengan baik. Kekurangan pasokan untuk bertahan hidup dan stres karena dikepung selama lima tahun penuh membuat Portugis mengibarkan bendera putih pada hari Saint Stephen’s Day atau Hari Suci Santo Stefanus, 26 Desember 1575. Saat itu pula, mereka angkat kaki dari Ternate. Ya, strategi pengepungan yang Sultan Baabullah lakukan berhasil dengan begitu mulusnya.

Benang Merah

Ucapan Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Terhadap Sultan Baabullah
Ucapan Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Terhadap Sultan Baabullah

Pengusiran itu mengembalikan perdagangan bebas di Maluku. Para pedagang Jawa, Arab, Melayu, Makassar, dan Cina yang selama ini tersingkir dan selalu dikejar-kejar Portugis ataupun Spanyol, kini memperoleh kebebasan untuk bersaing dalam perdagangan. Sebuah kisah yang begitu unik dalam sejarah penjajahan, dimana konflik dapat dimenangkan dengan solidaritas dan itikad untuk mengampuni.

Ya, Sultan Baabullah mengampuni mereka. Amarah karena terbunuhnya Sultan Khairun yang tak lain adalah ayahnya tak serta-merta ia lampiaskan pada bangsa Portugis yang tersisa di sana. Ia memilih untuk mengepung dan menyerang psikologis mereka, lalu membiarkan mereka pergi ketika mereka sudah menyatakan tanda menyerah.

Sultan Baabullah adalah sosok pahlawan yang mampu mengusir penjajah dari tanahnya tanpa perlu meneteskan darah. Sultan Baabullah mengerti bahwa amarahnya tak bisa ia lampiaskan semena-mena pada jiwa yang tak bersalah. Sultan Baabullah membuat kita bangga, dan jiwa ksatrianya haruslah turun sebagai kita, warga-warga penghuni kota Ternate. Dan atas kebaikan serta kepiawaiannya dalam mengusir penjajah, Sultan Baabullah layak untuk menyandang gelar Pahlawan Nasional.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *