Pihak Sekolah Perketat Penerapan Prokes

MALUT POST – TERNATE. Setelah sembilan bulan siswa-siswi menjalani kegiatan belajar di rumah dengan sistem online. Mulai Senin Kemarin, Siswa tingkat TK, SD dan SMP telah menjalani kegiatan belajar tatap muka di masing-masing sekolah.

Pantauan koran ini di beberapa sekolah, para orang tua antusias mengantarkan anak-anak mereka. Bahkan sebagian orang tua rela datang lebih awal menunggu di depan sekolah, untuk menjemput anaknya, setelah jam belajar selesai. Tidak hanya orang tua, para siswa juga terlihat semangat dan ceria, mengawali masuk kelas perdana ini. Begitu juga para guru di setiap sekolah.

Mereka menjemput siswa di depan sekolah. “Menodong” siswa dengan alat pengukur suhu tubuh. Menariknya, umumnya digital infrared harus ditembakkan ke bagian kepala. Namun para guru memilih di bagian tangan siswa. Dengan alasan, tidak membuat siswa kaget, lantaran bentuknya seperti senjata. Setelah mengukur suhu tubuh, siswa lalu diberi cairan hand sanitizer barulah dipersilakan masuk kelas.

Setiap siswa yang datang tidak ada yang tidak pakai masker, bahkan apel sebelum mengawali belajar tidak lagi diterapkan. Siswa juga tidak diberikan waktu berinteraksi setelah jam belajar.

Begitu kegiatan belajar selesai, siswa langsung diantar ke depan sekolah, untuk diserahkan ke orang tua yang telah menunggu. Kendati begitu, ada sebagian sekolah yang belum melaksanakan kegiatan belajar tatap muka. Salah satunya SMP Negeri 2 kota Ternate.

Sekretaris Diknas Kota Ternate Mahmud J. Abdurahman mengangakan, hari pertama pelaksanaan belajar tatap muka berjalan lancar. Rata-rata sekolah telah melaksanakan kegiatan balajar tatap muka, dengan sestem penerapan protokol kesehatanyang ketat. Selain itu, setiap orangtua siswa diberikan surat pernyataan bersedia dan tidak bersedia anaknya melaksanakan kegiatan belajar tatap muka.

“Meski disediakan surat pernyataan tidak setuju. Namun belum ada orang tua yang menyampaikan surat pernyataan tidak setuju. Artinya banyak orang tua menyetujui kagiatan belajar tatap muka,” akunya. Kendati begitu, dirinya mengingatkan kepada sekolah agar menerapkan protokol kesehatan diperketat. Dia mengaku, jumlah siswa juga dikurangi di setiap ruang belajar. Dimana standar satu kelas 32 siswa, di bagi dua. Sehingga ada jarak tempat duduk setiap siswa. “Para guru di sekolah sudah paham benar sistem protokol kesehatan. Hasil penentuan dihari pertama alhamdulillah jalan lancar dan semua sekolah jalankan protokol kesehatan,” akunya.

Meski kegiatan belajar tatap muka ini telah dilaksanakan. Namun sewaktu-waktu bisa berubah. Tergantung dari status Covid-19 di Kota Ternate. “Kita sekarang sudah kuning, sehingga bisa tatap muka. Kita berdoa agar tidak naik ke orang lagi, karena Ternate saat ini aksesnya sangat terbuka. Jika status risikonya naik, maka tetap dihentikan kegiatan belajar tatap muka,” akunya.

Terpisah, akademisi Unkhair, DR. Syahril Muhammad menilai, sudah seharusnya proses belajar dilaksanakan tatap muka. Menurut Ketua Pendidikan Profesi Guru (PPG) Unkhair itu, pembelajaran online salama ini dinilai gagal. Gagal yang dimaksud. lanjut Syahril, dilihat dari banyak faktor. “Seperti orang tua yang aktivitasnya menjual ikan dipasar, mereka yang punya kesibukan lain. Orang tua punya keterbatasan ekonomi, lalu sibuk mencari nafkah di luar rumah. Mereka tidak mungkin mendampingi anak-anaknya,” sebutnya. (udy/mg-05/yun)

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *