Mental Korupsi – Bahkan di tengah pandemi sekalipun, tindak pidana korupsi masih saja diberlakukan oleh beberapa oknum dalam kursi pemangku kebijakan. Masih terngiang di pikiran kita tatkala pejabat dari dua Kementerian tersandung kasus rasuah. Bahkan salah satunya berhubungan dengan bantuan sosial terhadap masyarakat terdampak pandemi.

Dalam kasus ini, ada begitu banyak orang yang menggantungkan harap agar hukuman mati diketuk palu pengadilan. Bukan bermaksud kejam, namun praktik seperti demikian telah menjenuhkan banyak pihak. Apalagi karena ini berhubungan dengan bantuan sosial, dan dilakukan di tengah pandemi. Selain itu, Undang-undang juga mendukung hukuman mati dalam contoh kasus seperti ini.

Mengesampingkan korupsi ala pemangku kebijakan, marilah kita merefleksikan diri sejenak. Bukankah ketika kita berada di posisi tersebut, tak menutup kemungkinan kita dapat terjerumus hal yang sama?

Korupsi Sehari-hari yang Sering Luput dari Kesadaran

Tanpa disadari, kita seringkali melakukan praktik korupsi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam filosofinya, korupsi tak selalu berkaitan dengan uang. Korupsi dapat pula diartikan dengan tindakan yang menguntungkan diri sendiri, namun dengan merugikan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan kata lain, korupsi bisa disamakan dengan mengambil sesuatu yang bukanlah hak kita.

Melalui definisi di atas, ranah tindak korupsi tentunya akan mengalami perluasan kondisi. Salah satu contoh yang seringkali kita lalaikan yaitu antrian. Dari mengantri untuk membeli sesuatu, sampai mengantri ketika lalu lintas mengalami kemacetan. Sudah berapa kali kita menyerobot giliran orang lain? Sayangnya, kita masih menganggap lumrah hal tersebut.

Kemudian, budaya menyontek yang terus lestari di dunia pendidikan. Apakah menyontek bisa dikategorikan sebagai korupsi? Tentu, jelas! Lagi-lagi, hal ini dianggap lumrah. Bahkan oleh beberapa lingkungan pelajar, memberikan contekan dianggap sebagai indikator solidaritas. Miris? Sangat! Sebuah ironi menyedihkan ketika mental korupsi telah tertanam di kepala kita sedari belia.

Berkendara di atas trotoar, melawan arah, melanggar lampu lalu lintas, dan budaya korupsi lain yang kita anggap sebagai kewajaran adalah pemicu bercokolnya jiwa koruptor di kehidupan kita.

Hipokrit dalam Menyikapi Korupsi adalah Sinyal bahwa Kita Takkan Pernah Bisa Mengenyahkan Korupsi

Ketika berita OTT dari KPK disiarkan di media, semua orang pun bersorak-sorai. Hukum mati para koruptor terus digaungkan selayaknya doa. Padahal, orang yang menggembar-gemborkan hal tersebut baru saja menambah waktu istirahat kerjanya hingga dua jam. Lebih banyak satu jam dari jatah yang seharusnya.

Dalam aspek psikologis, watak adalah hal yang kompleks. Namun di samping itu, watak yang buruk akan menjadi semakin buruk ketika disokong oleh daya yang besar. Mereka yang sering berkorupsi dalam kehidupan sehari-hari bisa jadi akan lebih parah ketimbang para koruptor saat ini, apabila mereka ditempatkan pada posisi yang kuat.

Menjadi orang baik itu mudah. Yang sulit adalah menjadi tidak hipokrit.

Sanggupkah Masyarakat Kita Lepas dari Jerat Korupsi?

Iya atau tidaknya jawaban pertanyaan ini bergantung dari pola pikir masyarakat itu sendiri. Pola pikir setiap individu dalam sebuah masyarakat akan terbangun dari lingkungan awal, yaitu keluarga dan pendidikan formal. Ketika masyarakat masih melumrahkan tindakan korupsi hak, waktu, nilai di sekolah, dan lain-lain, maka dapat disimpulkan bahwa ada yang salah dalam pembentukan karakter di lingkungan awal.

Pola asuh dari setiap keluarga adalah kunci pertama dalam mengenyahkan mental koruptor dari setiap individu di masyarakat. Salah satu contoh kecil, dengan tidak menuruti setiap permintaan anak yang mungkin bisa membuat orang lain tak nyaman, atau dengan menegur anak ketika salah. Ini sangatlah penting, mengingat ketika pola asuh ini diterapkan, seorang anak akan memahami bahwa di dalam kehidupan bermasyarakat, ada beberapa garis yang tak boleh dilanggar.

Lalu kunci yang kedua adalah lingkungan pendidikan di sekolah formal. Budaya menyontek dan memberi contekan muncul akibat konsep akan pengagungan nilai akademik. Setiap peserta didik yang memiliki nilai baik akan dianggap pintar dan keren dalam kacamata lingkungan. Padahal, tak semua orang memiliki tipe kecerdasan yang sama. Diambilah jalan instan, menyontek. Sampai pada detik ini, dimana tindak korupsi nilai ini masih dianggap sesuatu yang halal.

Kesadaran Diri adalah Kunci

Tamparan sekeras apapun tak akan mengubah persepsi seseorang tentang kesalahan yang selama ini dibuat. Yang membuat pikiran terbuka adalah dirinya sendiri. Oleh karena itu, tantangan yang sesungguhnya adalah dengan menciptakan kesadaran diri itu sendiri.

Peraturan membuat kita menjadi lebih disiplin, tertib, dan teratur. Bukan malah untuk dilanggar. Dengan menerapkan kesadaran diri akan setiap tindakan beserta dampaknya ke belakang, maka secara perlahan mental korupsi akan menghilang dari kepala kita.

Pada akhirnya, bukan hanya kepala kita saja. Semua kepala dalam masyarakat akan terbebas dari mental korupsi.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *