Tingkat kepercayaan terhadap vaksin — Berita-berita mengenai uji coba vaksin semakin digencarkan melalui media-media raksasa belakangan ini. Media daring, televisi, hingga radio seakan kompak menyiarkan proses penyusunan vaksin COVID-19 yang digadang-gadang hampir selesai. Narasi pun dikemas sepositif mungkin. Tak lain dan tak bukan, sebabnya karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin semakin menurun.

Sebelum pandemi berlangsung pun, beberapa riset skala global menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat penurunan kepercayaan terhadap vaksin yang cukup tinggi. Sepanjang 2015 hingga 2019 silam, angka ini terus merosot. Penyebabnya beragam. Namun sentimen agama dan politik adalah salah satu faktor utamanya.

Secara umum, hadirnya vaksin dalam sejarah dunia memang menciptakan pola pandang tersendiri bagi masyarakat. Dalam garis besar, ada dua golongan. Yaitu mereka yang percaya dan tidak percaya. Sayangnya, tingkat keekstriman masing-masing pandangan tersebut semakin memasuki tahapan yang kian tak stabil akibat dari polarisasi politik dan maraknya misinformasi di masa digital ini.

Tingkat Kepercayaan Terhadap Vaksin COVID di Indonesia

Dari 5.852 responden yang dipakai WHO dalam survei mengenai pemakaian vaksin di Indonesia, hanya 57% yang menyatakan kesiapannya untuk mengenakan vaksin tersebut. Meskipun lebih dari setengahnya, namun angka ini patut dijadikan sebagai bahan evaluasi, karena 43% sisanya adalah alarm peringatan bagi kesehatan masyarakat.

Prinsip kerja vaksin itu sendiri tak hanya untuk kesehatan individu, melainkan sosial. Bilamana sebagian orang tidak mau divaksin, praktis kekebalan kolektif di lingkungan masyarakat pun sulit dicapai. Dampaknya tentu saja akan kembali pada masyarakat itu sendiri. Penularan penyakit akan sulit menghilang, bahkan tak menutup kemungkinan membuat virus bermutasi sehingga resistan terhadap vaksin yang sudah ada.

Ketidakpercayaan Terhadap Pemerintah dan Ekstrimisme Keagamaan

Tak dapat dipungkiri, kondisi ini dapat dikatakan timbul karena didorong oleh sentimen politik. Fenomena dalam dunia perpolitikan di Indonesia membuat beberapa golongan menjadi antipati terhadap apa yang pemerintah berusaha sajikan, termasuk vaksin itu sendiri. Ketidakpercayaan inilah yang menciptakan dorongan untuk tidak mau memakai vaksin tersebut.

Selain itu, ekstrimisme di bidang keagamaan juga menjadi pemantik besar lainnya. Ada beberapa kandungan di dalam vaksin yang dinilai tidak sesuai dengan standar kehalalan produk yang boleh dikonsumsi. Meskipun anggapan ini mulai ditangkis oleh pemuka-pemuka agama, namun pemikiran ini seakan telah berakar dan sulit dihilangkan.

Strategi-strategi yang Mulai Diluncurkan Pemerintah

Narasi persuasif mulai bermunculan di tayangan media belakangan ini. Tujuannya tak lain adalah untuk merangsang psikologis masyarakat agar mau mempercayai vaksin. Tokoh-tokoh agama juga dimunculkan guna mengenyahkan pemikiran-pemikiran yang menganggap vaksin tidak halal.

Strategi ini cukup bagus, namun justru berisiko. Tindakan yang bagai pisau bermata dua ini dapat diselewengkan oleh narasi tandingan yang bisa saja menyebutkan kalau semua yang ditayangkan di media hanyalah gimmick semata. Dampaknya jauh lebih besar. Bilamana strategi ini gagal, tingkat kepercayaan terhadap vaksin justru malah menurun.

Pertanyaan Besar dan Menantang; Sanggupkah Pemerintah Menjamin Keamanan Vaksin COVID-19 Kelak?

Menemukan sebuah vaksin bukanlah hal yang mudah. Apalagi, vaksin yang sedang dicari nantinya akan dipakai untuk menangkis virus yang dianggap memiliki kompleksitas yang tinggi. Selain dua faktor yang sebelumnya telah dipaparkan, faktor keamanan adalah raksasa lain yang dapat menghalangi distribusi vaksin di Indonesia.

Minimnya kesediaan petinggi-petinggi pemerintahan untuk menjadi yang pertama dalam mencoba vaksin tersebut juga menambah ketidakpercayaan masyarakat. Seakan-akan, pemerintah sendiri pun tak dapat menjamin keamanan vaksin yang akan mereka distribusikan. Apabila pemerintah berani menjamin keamanan dengan menunjukkan diri mereka sebagai pemakai perdana setelah vaksin diresmikan, maka dapat dijamin tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin akan melonjak.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *