Sudah 9 bulan lebih rutinitas Shearly Permatasari, seorang ibu satu anak di negara bagian Florida, AS berubah akibat pandemi virus corona. Kini hari-hari perempuan asal Surabaya ini lebih banyak dihabiskan untuk mendampingi dan mendukung putranya yang berusia 9 tahun untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Shearly Permatasari mendampingi puteranya, Mason, kelas 4 SD, melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) (foto: dok. pribadi).

Shearly Permatasari mendampingi puteranya, Mason, kelas 4 SD, melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) (foto: dok. pribadi).

“Karena pandemi ini juga, diharuskan saya sebagai ibu juga sebagai pendidik, sebagai guru yang menyiapkan segala sesuatunya untuk studi dia di rumah, menjadi tutor juga, menjadi pengingat dia supaya belajar piano, dan supaya belajar di sekolahnya juga semangat,” katanya kepada VOA.

Tantangan serupa juga dialami Melissa Vitri, seorang ibu dua anak di Dubai, Uni Emirat Arab. Putra pertamanya yang berusia 14 tahun memang sudah bisa melakukan PJJ secara mandiri, tapi putranya yang masih balita, lain cerita.

Melissa Vitri mendampingi puteranya yang berusia 3 tahun melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) (foto: dok. pribadi).

Melissa Vitri mendampingi puteranya yang berusia 3 tahun melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) (foto: dok. pribadi).

“Namanya anak 3 tahun, kayanya untuk online itu susah banget. Kayanya malah ibunya yang belajar. Dia ngga bisa duduk diam di depan screen berjam-jam gitu ngga bisa,” cerita Melissa mengenai pengalaman puteranya mengikuti sebuah program pendidikan anak usia dini (PAUD) secara virtual.

Kisah Shearly di Amerika dan Melissa di Uni Emirat Arab seolah mewakili apa yang dialami oleh banyak ibu di tengah pandemi virus corona, di mana sebagian besar kegiatan berlangsung secara online dari rumah.

Meski waktu semakin banyak tercurah untuk anak-anak, namun kedua perempuan yang berusia 30an itu selalu berusaha meluangkan waktu untuk diri sendiri, melakukan hobi favorit atau mewujudkan kreatifitas ke dalam suatu karya.

Bagi Shearly yang hobi memasak, kreasinya di dapur dituangkannya ke dalam blog dan kanal YouTube miliknya “StreetFood Recipe” atau di laman https://street-food-recipe.com/.

Shearly Permatasari mengelola kanal YouTube 'Street Food Recipe' (foto: dok. pribadi).

Shearly Permatasari mengelola kanal YouTube ‘Street Food Recipe’ (foto: dok. pribadi).

Di saluran ini, dia menampilkan resep, tips dan cara memasak puluhan hidangan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Salah satu video yang sedang diproduksinya adalah tutorial memasak suun goreng, hidangan sentimental yang mengingatkannya pada sang ibu di Surabaya.

“Kebetulan 22 Desember adalah ulang tahun mama. Setiap acara makan malam bersama mama selalu ada yang namanya suhun goreng jamur kering yang disajikan dengan kucai asin. Ini adalah menu yang sangat spesial karena selalu mengingatkan sama mama dan ini adalah signature dish-nya dia.”

Sementara Shearly mengenang ibu lewat makanan, Melissa mengabadikan sebuah cerita inspiratif mengenai ibunya lewat tulisan. Kisah tersebut menjadi bagian dari kumpulan cerita dalam sebuah buku antologi berjudul “Love You, Ibu” yang diterbitkan pada Hari Ibu tanggal 22 Desember di Indonesia.

Melissa Vitri menulis buku pada malam hari, setelah anak-anak tidur (foto: dok. pribadi).

Melissa Vitri menulis buku pada malam hari, setelah anak-anak tidur (foto: dok. pribadi).

“Latar belakang kisah jaman dulu dari ibu saya itu lumayan banyak tantangannya, kesulitannya. Beliau lahir satu tahun setelah kemerdekaan, jadi Indonesia masih rusuh, banyak keributan, jaman peperangan, ekonomi juga kurang baik, tidak seperti sekarang. Jadi banyak yang bisa diceritain dari situ,” kata perempuan asal Jakarta ini kepada VOA.

Buku perdananya itu ditulisnya bersama 13 ibu lain yang tinggal dan pernah tinggal di Dubai. Ia mengatakan, seluruh royalti penjualan disumbangkan ke Sekolah Anak Petani Cerdas Empowering Indonesia Foundation.

Menulis buku seperti yang dilakukan Melissa atau membuat video memasak seperti yang dilakukan Shearly merupakan bentuk aktualisasi diri sebagai seorang ibu ke dalam karya yang dipersembahkan bagi ibu, karena…

“Menjadi ibu adalah sebuah anugerah yang luar biasa,” pukas Shearly. [vm/em]

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *