Disease X pandemi baru – Pandemi COVID-19 telah memasuki usianya yang pertama. Meskipun perekonomian dan banyak aspek lain telah terhempas jatuh akibat dilibas penyakit yang mewabah ini, namun badai masih belum berakhir.

Beberapa entitas mengklaim kalau mereka telah sukses menciptakan vaksin yang digadang-gadang mampu menanggulangi pandemi. Akan tetapi, masalah seakan tak cukup sampai di situ. Keefektifan vaksin masih dipertanyakan. Malah, masih banyak pihak yang menggoreng skenario pada proses distribusi vaksin untuk kepentingan pribadi.

Memasuki tahun 2021, bumi dikejutkan oleh temuan yang baru-baru ini dipublikasikan oleh ilmuwan dunia. “Disease x“, atau “penyakit x” seakan melukiskan gambaran mimpi buruk baru bagi dunia.

Apa Itu Disease x?

Apa itu Disease X?
Apa itu Disease X?

CNN, salah satu media raksasa yang terkenal di kancah internasional baru saja mempublikasikan film dokumenter yang membahas fenomena ini. Liputan diambil pada sebuah negara di bilangan Afrika Tengah. Negara berbentuk Republik Demokratik bernama Kongo.

Video diawali dengan gambaran hewan liar yang sengaja ditangkap, kemudian diperjualbelikan di pasar lokal. Sebuah hal yang nampaknya tidak asing bagi kita belakangan ini, dimana pada awal-awal pandemi COVID-19, hal serupa juga kita dapat di Tiongkok Daratan.

Kemudian berlanjut dimana beberapa jurnalis CNN beserta tim medis dan warga lokal yang menyusuri aliran sungai di sana, untuk mencapai desa yang dimana pada tempat itu terdapat beberapa pasien terindikasi Ebola dengan gejala aneh. Istilah Disease x mulai dikutip di sini. Penggunaan diksi tersebut dipakai dengan alasan bahwa bisa saja penyakit yang diderita pasien di sana adalah bentuk mutasi virus Ebola yang pernah mewabah di Afrika beberapa waktu silam.

Disease x Bukan Nama Penyakit Baru

Secara harfiah, disease x adalah sebutan untuk sebuah penyakit yang dianggap potensial untuk menciptakan sebuah pandemi baru yang mengglobal. Sebelum dideteksi pada akhir 2019 lalu, COVID-19 adalah disease x. Begitu pula dengan SARS, MERS, dan berbagai pandemi lainnya yang pernah terjadi dalam sejarah eksistensi manusia. Jadi, Disease x atau penyakit x bukanlah nama dari sebuah penyakit yang spesifik merujuk ke gejala tertentu.

Sayangnya, Istana FM menemukan beberapa artikel yang mengutip istilah ini dengan deskripsi yang mampu menciptakan misinterpretasi definisi bagi pembaca. Padahal, kesalahan pemahaman ini dapat berdampak besar karena mendorong kemunculan penyebaran berita hoax.

Terdeteksinya Disease X: Tamparan dan Refleksi bagi Manusia

Deforestasi
Deforestasi

Dalam peliputan yang dilakukan oleh CNN, dikutip bahwa Ebola pada awal-awal terdeteksi di wilayah yang mengalami deforestasi. Deforestasi atau penggundulan hutan cukup marak belakangan ini. Tak perlu jauh-jauh mengeksplor belahan bumi lain, di Indonesia, bahkan Maluku Utara sendiri pun, fenomena serupa telah marak.

Selanjutnya bergerak di pandemi yang saat ini kita hadapi, COVID-19. Meskipun belum seutuhnya valid, namun dugaan awal mula penyebaran virus yang berasal dari hewan liar dan menular ke manusia telah menjadi premis yang cukup kuat. Hewan liar yang menjadi pembawa awal virus juga dikenal tinggal di iklim yang lembab, yang identik dengan hutan.

Berkaca dari dua fenomena di atas, runtuhnya separator antara kehidupan hewan liar dan manusia sebagian besar disebabkan oleh hilangnya habitat hewan itu sendiri. Penyebabnya tak lain yaitu eksploitasi besar-besaran oleh manusia. Salah satu yang paling kontras, yaitu hutan.

Hutan-hutan digunduli untuk kepentingan kita, tanpa memikirkan nasib mahkluk hidup yang berkeriapan di dalamnya. Parahnya lagi, orientasi dari penggundulan tersebut juga bersifat tersier. Alih-alih pemanfaatan untuk hal yang memiliki urgensi tinggi, pengambilalihan lahan hutan malah dipakai untuk urusan bisnis.

Jika Indonesia Menjadi Zona Awal Munculnya Wabah Baru
Pedagang hewan liar di pasar lokal
Pedagang Hewan Liar di Pasar Lokal

Per tahun 2020 kemarin, Kalimantan yang dilabeli sebagai salah satu paru-paru dunia telah kehilangan lebih dari enam puluh persen lahan hijaunya. Deforestasi yang cukup brutal membuat banyak dari penghuni alami habitat pada hutan-hutan di sana kehilangan tempat tinggal mereka. Hasilnya, hewan-hewan yang kehilangan tempat itu pun mencari lapak baru. Memasuki lahan pemukiman, berkontak erat dengan manusia, serta berpotensi menularkan disease x yang bisa saja mereka bawa.

Jika hal itu terjadi, mungkinlah baru mata kita terbuka. Namun, harus seperti itukah kencangnya tamparan agar mata kita terbuka?

Meminta Maaf Kepada Bumi

Bukan bumi yang telah melewati fase sulit. Bukan hewan dan tumbuhan juga. Melainkan kita, manusia. Sayangnya, nasib buruk yang sampai saat ini masih kita emban adalah tuaian dari apa yang kita tanamkan.

Kutipan-kutipan yang dijabarkan sebelumnya baru mengulik satu aspek. Padahal, masih banyak aspek lain yang berpotensi membawa kita lebih dekat dengan disease x yang dapat menciptakan pandemi baru. Seperti mencairnya es di kutub yang diduga menimbun banyaknya spesimen virus sejak jutaan tahun silam, dan lain-lain.

Sudah selayaknya kita meminta maaf kepada bumi. Tak perlu bertanya bagaimana, karena sebagai manusia, seharusnya kita sudah tahu etika menghargai alam semesta.

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *