MALUTPOST.TERNATE – Setelah ditutup pengoperasiannya oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate, pusat kuliner Bacamu hari ini kembali beroperasi. Beroperasinya Bacamu ini, setelah proses administrasi syarat izin tingkat Kelurahan telah tuntas dan didaftarkan ke Sistem Perizinan Satu Pintu (Sintap).

Kepala DLH Kota Ternate, Tony Sahrudin Ponto mengatakan, setelah syarat administrasi berupa Surat Keterangan Usaha (SKU) di Kelurahan telah terbit, maka izin bisa berproses sesuai jenjang. Sebab yang menjadi hambatan selama empat bulan, adalah SKU dari lurah Takoma. Untuk bisa menerbitkan SKU, warga sekitar harus bersedia mendatangani surat tidak keberatan.

“Kami mengenali pokok masalahnya dan langsung mengambil langkah. Yang paling krusial adalah bau limbah, maka didatangkan mobil tinja untuk menyedot. Kemudian, membuat surat pernyataan jaminan memenuhi semua tuntutan warga. Dengan begitu, warga tidak lagi punya alasan untuk tidak setuju,” jelasnya.

Setelah resmi didaftarkan ke Sintap, lanjut Tony, pihaknya menyetujui untuk beroperasi kembali. Kendati begitu, operasi ini belum menggugurkan surat keputusan penutupan dengan batas waktu 14 hari. Karena itu, pihak pengelola kata dia, segera mempercepat usulan syarat izin lingkungan.

Setelah didaftarkan ke Sintap dan dinyatakan lengkap berkasnya, langsung dibawa ke PUPR untuk disidangkan dengan kelompok kerja dan dikeluarkan rekomendasi izin pemanfaatan ruang (IPL). Setelah proses di dua instansi ini tuntas, barulah disampaikan ke DLH untuk proses izin lingkungan.

“Kalau administrasnya sudah masuk ke DLH. Barulah Surat Keputusan Penutupan Paksa gugur. Namun jika proses di Sintap dan PUPR tidak selesai sampai melewati batas waktu 14 hari. Maka langkah tegas DLH adalah dibekukan secara permanen, dan langsung di-police line,” terangnya.

Tony mengaskan, jika mengikuti ketentuan, belum bisa diizinkan beroperasi. Namun karena ini adalah jenis usaha yang menampung puluhan UKM, maka perlu ada langkah alternatif penyelamatan. Jika tidak, maka pelanggan 31 lapak akan lari dan terpaksa mereka harus memulai ulang kegiatan dari awal.

“Setelah membersihkan bak penampung, kami juga meminta pengelola melakukan penyemprotan untuk menghilangkan bau. Itu juga telah dilakukan, sehingga hari ini sudah langsung beroperasi, sambil mengurus izin,” sebutnya.

Selama pengoperasian sementara ini, pengelola juga setiap dua minggu harus menyedo limbah dalam bak penampung. Karena untuk membangun Ipal, butuh waktu. Karena harus dibahas dalam dokumen UKL UPL. “Tidak hanya Ipal untuk pengelolaan limbah, tapi juga tingkat kebisingan. Akan diatur, termasuk parkir dan asap yang dihasilkan. Semuanya akan termuat dalam dokumen UKL-UPL,” tukasnya. (udy/yun)

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *