BPBD Belum Pastikan Kerugian. Warning Warga Di Pesisir

MALUTPOST.TERNATE – Sebanyak lima kelurahan di Kota Ternate, mengalami kerusakan akibat peristiwa Gelombang besar yang menghantam pesisir Kota Ternate, Sabtu akhir pekan kemarin. Kelima kelurahan itu adalah, Kelurahan Bido Kecamatan Pulang Batang Dua, Kelurahan Loto dan Sulamadaha Kecamatan Ternate barat, Kelurahan Dufa Dufa Kecamatan Ternate Utara dan Kelurahan Togolobe di Kecamatan Pulau Hiri. Kelima kelurahan ini, rata-rata mengalami dampak abrasi. Akibatnya, talud penahan ombak patah karena terhantam ombak. Di Batang Dua, dilaporkan tiga rumah rusak, namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Karena pemilik rumah memilih cepat mengungsi ke daerah yang aman.

Tim Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Ternate turun langsung memantau lokasi terdampak abrasi tersebut. Hanya saja, karena kendala cuaca, pihaknya belum mampu memastikan detail kerusakan terjadi. “Belum ada laporan korban jiwa. Hanya di Batang Dua, tiga rumah sengaja ditinggalkan pemiliknya, guna menghindari hantaman ombak. Tapi rumahnya tidak rusak, mereka hanya mencari tempat yang lebih aman,” aku Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate M. Arif Gani.

Di Sulamadaha danLoto juga di laporkan adanya kerusakan talud. Bahkan pusat wisata Sulamdaha, yang baru diresmikan mantan Wali Kota Burhan Abdurrahman, saat ini terbengkalai. Sebagian Gazebo yang di bangun tepat di atas talud dicabut petugas dibantu warga untuk diamankan. Sementara beberapa ruas Talud hancur. Bahkan ombak menembus ke lantai pafing dan memporak porandakan kawasan sekitar. Selain lokasi utama, akses ke teluk juga putus. Menurut warga setempat, peristiwa tinggi gelombang seperti ini sangat langkah. Terakhir terjadi sekitar 20 tahun lalu.

Sedangkan di kelurahan Dufa dufa dan kelurahan Togolobe di pulau Hiri, tidak mengalami kerusakan yang signifikan. Hanya saja material yang terdapat di pantai seperti bebatuan kecil hingga sedang ikut terbawa arus ombak hingga ke dermaga dan pemukiman warga yang berada dekat dengan pantai. Di kelurahan Tafure pun demikian. Akibat ombak besar, menghantam bebatuan hingga berhamburan di jalan raya. Di titik ini cukup parah dan membuat warga di sejumlah kelurahan merasa kesulitan. Karena jalan tersebut merupakan satu-satunya jalur menuju kelurahan Tafure, Tabam, Tarau dan sejumlah kelurahan di bagian selatan menuju Ternate Barat.

“Kerugiannya kami belum pastikan. Karena terkendala cuaca. Tim belum bisa turun ke lokasi melakukan pendataan,” aku Arif.

Sembari mengatakan, jika kondisinya sudah normal. Maka pihaknya segera melengkapi data untuk disusulkan pembangunan kembali dasilitas yang rusak. Sebab ini kategori bencana alam yang pos anggarannya tersedia pada dana tak terduga. “Kita punya pos DTT senilai Rp10 miliar tahun ini. Yang sekarang juga digunakan untuk penanganan bencana non alam. Itu juga bisa di antisipasi untuk penanganan dampak bencana alam yang terjadi sekarang,” tukasnya. Sembari mengatakan, tinggi gelombang dan angin kencang di awal tahun ini merupakan badai La Nina. Sebagai mana diketahui, badai La Nina terdiri dari curah hujan, tinggi gelombang dan angin kencang yang di prediksi puncaknya pada bulan Maret hingga April mendatang.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Rizal Marsaoly menyampaikan, kerusakan yang terjadi di pusat wisata Sulamadaha kategori force majeure. Karena pembangunan fasilitas Sulamadaha sudah disertai perencanaan yang matang. Namun diluar dugaan terjadi tinggi gelombang mencapai 3 sampai 4 meter di saat air pasang. Menurutnya, tidak masalah. Karena semua gazebo masih aman. Sekitar tiga unit yang terdampak, tapi cepat diamankan ke lokasi yang aman. “Setelah kejadian ini, warga mengaku peristiwa seperti ini pernah terjadi tapi 20 tahun lalu. Ini kejadian diluar dugaan. Kami sudah antisipasi. Akan segera dilakukan perbaikan setelah cuaca ini kembali stabil,” tukasnya. (udy/mg-03/yun)

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *