MALUTPOST.MABA – Seorang anak di bawah umur di salah satu desa pada Kecamatan Kota Maba, Halmahera Timur (Haltim) menjadi korban pencabulan dan pemerkosaan 10 remaja.

Korban yang baru duduk di bangku kelas 1 SMP itu disetubuhi 10 remaja pada pada waktu yang berbeda. Kejadian itu baru terungkap setelah gadis 13 tahun ini menceritakan hal tersebut pada 13 tahu pada sang ibu. Tak membutuhkan waktu lama, mereka langsung melaporkan kejadian itu ke Polres Haltim. Saat ini kasusu tersebut tengah diitangani Reskrim Polres Haltim.

Informasi yang dihimpun Malut Post menyebutkan, kejadian tersebut terjadi sejak Oktober 2020 hingga Januari 2021 lalu. Para pelaku melakukan aksi itu pada malam hari dengan modus berpacaran lalu membujuk korban melakukan hubungan layaknya suami istri.

Seluruh kejadian yang di alami korban berlangsung di kamarnya. Mirisnya dari 10 pelaku itu tujuh diantaranya masih berusia belasan tahun, bahkan ada yang juga baru duduk di bangku kelas 1 SMP. “Jadi kejadian ini, tempatnya yakni di rumah atau kamar korban. Hanya waktunya yang berbeda-beda. Misalnya, malam ini, salah satu pelaku sudah melakukan persetubuhan dan pencabulan setelah itu malam atau hari berikutnya pelaku lain melakukan kejahatan yang sama.”

Jadi tidak bersamaan, Saat kita masih melakukan pendalaman, apakah ada keterkaitan antara para pelaku ini atau tidak,” terang Kapolres Halmahera Timur (Haltim) AKBP, Eddy Sugiarto, didampingi Kasat Reskrim, AKP Paultri Yustiam dan Kabag Humas, Iptu JUfri Adam, dalam jumpa pers, di aula Polres, Rabu (3/3).

Kapolres menyebutkan, 10 pemuda yang diduga menjadi pelaku dalam kasus itu adalah, ZA (14) Pelajar SMP kelas I, MA (16) Pelajar SMA kelas II, MH (20) belum bekerja, WN (13) pelajar SMP, JM (14) pelajar kelas III SMP, LY (15) pelajar SMP kelas III, RH (17) pelajar SMA kelas II, ZH (14) pelajar kelas II SMP, HH (19) pelajar SMA kelas II, dan NA (21) bekerja sebagai kurir jasa. “Dari sepuluh tersangka ini hanya tiga yang di tahan, sementara tujuh tersangka hanya dilakukan penahanan rumah karena masih di bawah umur,” jelasnya.

Sejauh ini, pihaknya sudah mengumpulkan sejumlah barang bukti, berupa baju yang digunakan para pelaku, serta barang bukti lainnya, seperti I buah seprei bermotif doraemon. “Jadi untuk kepentingan penyelidikan barang bukti semunya sudah kami simpan, untuk proses lebih lanjut. Untuk para tersangka anak di bawah umur yang saat ini belum di tahan, akan dilakukan penyerahan berkas atau P21, ke kejaksaan,” jabar Kapolres.

Dalam kasus ini, sambung Kapolres, bisa jadi ada tersangka tambahan. Sejauh ini pihaknya masih melakukan pendalaman untuk memastikan hal tersebut. “Ada kemungkinan tersangka lain juga, makanya kita masih terus melakukan pendalaman kasus ini,” ucapnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, para tersangka dijerat dengan pasal 81 ayat 2 dan pasal 82 ayat 1 Undang-Undang Nomor 17 tentang Perlindungan Anak, dengan hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan maksimal 15 tahun serta denda sebesar Rp 5 miliar. “Jadi pasal yang kita sangkakan juga berbeda-beda, karena ada yang melakukan pencabulan ada yang persetubuhan serta ada perbuatan berlanjut sesuai perbuatan para pelaku,” pungkasnya. (ado/rul)

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *