Video berdurasi sekitar satu menit itu memperlihatkan puluhan orang berbaring berjajar di pinggir pantai, sementara sejumlah orang lainnya memukuli mereka.Peristiwa perpeloncoan berlangsung dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan yang digelar tiga hari mulai 27 Februari hingga satu Maret 2021 di pantai Nambo, Kendari, Sulawesi Tenggara.

Kegiatan itu melibatkan 79 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan pendidikan ekonomi angkatan 2020.

La Ode Abdul Hamdan Hakim, selaku Sub Koordinator Humas Universitas Halu Oleo kepada VOA mengatakan pihak universitas sedang memproses para mahasiswa yang melaksanakan kegiatan tanpa izin itu.

“Perhatian Universitas Halu Oleo karena ini tanpa izin, ini semua keinginan dari himpunan mahasiswa jurusan yang senior-senior, itu tanpa sepengetahuan dan itu sudah termuat dalam surat edaran rektor dan aturan akademik bahwa tidak ada kegiatan-kegiatan itu apalagi selama pandemi ini,” jelas La Ode Abdul Hamdan dihubungi pada Kamis (4/3) siang.

“Itu sekarang dalam proses makanya semua yang terlibat dalam kegiatan itu akan disanksi,” tegasnya.

Ditambahkannya, bentuk sanksi itu akan diputuskan kemudian oleh Rektor Universitas Halu Oleo.

Wakil Rektor III UHO Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Nur Arafah (Baju Biru) memberikan keterangan pers kepada wartawan di Kendari, Sulawesi Tenggara. Selasa, 2 Maret 2021. (Foto: La Ode Abdul Hamdan Hakim)

Wakil Rektor III UHO Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Nur Arafah (Baju Biru) memberikan keterangan pers kepada wartawan di Kendari, Sulawesi Tenggara. Selasa, 2 Maret 2021. (Foto: La Ode Abdul Hamdan Hakim)

Menurutnya sejak 2014 Universitas Halu Oleo sudah menghapus kegiatan ospek yang melibatkan perpeloncoan. Universitas Halu Oleo merupakan merupakan perguruan tinggi negeri yang diresmikan pada 1981. Haluoleo diambil dari nama salah seorang raja pada kerajaan Konawe yang hidup sekitar abad tujuh belas.

Permohonan Maaf

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi FKIP UHO, Ilon Saputra, dalam penjelasan yang direkam menyampaikan permohonan maaf bila kegiatan yang terekam itu dinilai keliru oleh masyarakat.

Kegiatan itu menurutnya bertujuan untuk membentuk karakter, moral dan mental mahasiswa baru yang berasal dari angkatan 2020.

“Saya ingin mengklarifikasi bahwa video tersebut adalah bukan video penganiayaan akan tetapi video tersebut merupakan salah satu dari pembentukan karakter dan mental adik-adik mahasiswa” jelas Ilon Saputra.

“Untuk itu sekali lagi disampaikan kepada pihak publik permohonan maaf ketika video itu dinilai salah,” ujarnya.

Kegiatan Perpeloncoan melibatkan 79 mahasiswa Universitas Halu Oleo, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan pendidikan ekonomi angkatan 2020. (Foto: Tangkapan Layar)

Kegiatan Perpeloncoan melibatkan 79 mahasiswa Universitas Halu Oleo, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan pendidikan ekonomi angkatan 2020. (Foto: Tangkapan Layar)

Hal senada juga dikemukakan oleh Sahdan, Ketua Panitia kegiatan itu. Menurutnya video yang beredar itu hanya salah satu dari serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam upaya mereka membentuk mental dan karakter mahasiswa lainnya.

“Permohonan maaf saya juga kepada teman-teman yang sudah melihat video itu, Jangan disalah-artikan karena video yang beredar itu hanya sepotong dari kegiatan yang kami lakukan,” kata Sahdan.

Pengamat Pendidikan Sulawesi Tenggara (Sultra), Prof Abdullah Alhadza menegaskan tidak ada manfaat apapun dari kegiatan perpeloncoan terhadap pembentukan karakter, moral dan mental mahasiswa. Kegiatan itu menurutnya lebih dimotivasi oleh mahasiswa senior yang ingin dikenal oleh mahasiswa yunior.

“Saya kira itu adalah inisiatif yang ngawur dari mahasiswa, jadi biasa anak-anak muda kadang-kadang ingin aktualisasi diri, tapi kadang-kadang ini kebablasan. Kalau mengenai nuansa edukatifnya sama sekali tidak ada, tidak memberi manfaat apa-apa,” kata Abdullah dihubungi Jumat (5/3).

Menurutnya sejak lama kegiatan perpeloncoan sudah dilarang karena melanggar etika dan jauh dari nuansa akademik.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah meminta agar perpeloncoan mahasiswa di Kendari Sulawesi Tenggara itu ditangani secara serius.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Paristiyanti dalam keterangan yang dilansir dari detik.com, Rabu (3/3), mengatakan Kemendikbud mengeluarkan surat bahwa Proses Belajar Mengajar (PBM) saat ini masih dilakukan secara daring.

Menurut surat itu pula, hanya penelitian dan pencapaian kompetensi tertentu yang boleh dilakukan secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan 5M untuk mencegah penyebaran COVID-19. [yl/ab]

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *