MALUT-POST TIDORE Meski Kota Tidore Kepualuan dinyatakan bebas dari Malaria dan stunting setelah menerima penghargaan dari Kementrian Kesehatan (kemenkes) belum lama ini, tapi tidak dengan gizi buruk. Ini mencuat setelah Puskesmas Tosa dikecamatan Tidore Timur diduga dan diketahui menolak salah satu pasien gizi buruk. Akibatnya pelayanan di Puskesmas Tosa dinilia tidak profesiaonal. Demikian yang disarankan M. Ramli Jafar, salah satu pasien gizi buruk dari Kelurahan Mafututu. Balita berusia 1,7 tahun itu diduga ditolak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dipuskesmas Tosa.

Mayang Asji (28) selaku keluargah pasien mengatakan, sebelum itu, dirinya perna membaca suarat edaran dari dinas kesehatan (Dinkes) kota Tikep. Dalam edaran itu, dijelsakan bahwa warga yang wajib memilki kartu Indonesia sehat (KIS) namun belum dicetak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Diceritakan Mayang, pasien memnag belum punya KIS karena antrian panjang. tapi edaran ini, kata Mayang tidak disosialisasikan pihak puskesmas Tosa.

Padahal dihadapnya petugas puskesmas, Mayang sudah menjelaskan kalau KIS belum dicetak. tapi sesuai edaran Dinkes, balita dengan usia 1,5 tahun sudah bisa mendapatkan pelayanan kesehatan hanya dengan KK. Bahkan jika kartu BPJS kesehatan sudah aktif, maka pasien harus dilayani, sebagaimana edaran Dinkes. faktanya tidak. petugas di puskemas tetap tidak mau melayani jika tidak memilki KIS.

” Kartu BPJS dan KIS kami sudah aktif, tapi kenapa dipaksa berobat memakai umum” ungkapnya jumat (30/4)kemarin.

Lanjut Mayang di puskesmas lain yang ada di kota Tikep, sudah melayani pasien gizi buruk hanya dengan mengunakan KK atau e KTP. Berbeda dengan puskesmas Tosa yang hanya mau melayani pasien kalau sudah punya KIS. terpaksa, kata Mayang, pihaknya harus membayar saat berobat pertama pada tanggal 26 April kemarin.

Mirisnya lagi, pada tanggal 27 atau keesokan harinya, pihak keluarga kembali mendatangi puskesmas Tosa untuk meminta rujukan itu ditolak. ” Hari kedua kami minta tapi mereka tidak mau kasih. mereka mau harus ada kartu BPJS kesehatan, ” akunya.

Disaat bersamaan, kondisi pasien gizi buruk sedang kritis tapi petugas justru minta pihak keluarga supaya berkoordinasi ke kantor BPJS kesehatan untuk memastikan, apakah kartu pasien sudah aktif atau belum. Sementara pasien saat ini sedang flu dan batuk. ” sya terpaksa bonceng anak pasien dan ibunya bolak balik pergi ke kantor BPJS keshatan yang jaraknya cukup jauh, ” tuturnya.

Tidak hanya kelurgahnya. lanjut Mayang, anak kandunganya yang bernama Sry siska sudah masuk dalam daftar posyandu sejak tahun 2020 kemarin tapi saat dirinya mendatangani puskesmas Tosa melakukan pengecekan, nama anaknya tidak tercantum dalam buku puskesmas. bahkan ketika berat badan sang anak turun dratis, dirinya sempat mendatangani puskesmas Tosa dan meminta tambahn bahan makanan (TBM) seperti berkuit. itu karena berat badan anaknya tidak sesuai dengan umur.

” Tapi petugas bilang nama anak sya tidak ada dipuskesmas Tosa, padahal waktu itu, mereka sudah d

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *