MALUT-POST-TERNATE Tim Pengadilan Inflasi Daerah (TPID) Kota Ternate dinilai gagal dalam menekan harga barang terutama harga sapi jelang lebaran idul adha.

Ketua Asosiasi Pengusaha Sapi dan Kerbau (Apsaku) Kota Ternate Ibrahim Hamid menuturkan, problem kenaikan harga sapi dan daging sapi sudah sejak lama, tapi TPID tidak pernah punya kesiapan dalam mencegah lonjakan harga. “rapat sering dilakukan tapi tidak terealisasi,” keluhnya. Pada kondisi normal, harga sapi Rp 8 juta-Rp 9 juta per ekor. Namun jelang lebaran melonjak Rp 13 juta-28 juta per ekor. Sedangkan harga daging sapi semula paling tinggi Rp 150 ribu, sekarang tembus Rp 170 ribu per kilogram. “Harga daging sapi di pasar untuk saat ini Rp 150 ribu-Rp 170 ribu, dulu kita masih dapat harga Rp 140 ribu perkilogram,” ujarnya.

Harga sapi dan daging kerbau melonjak itu disebabkan beberapa faktor yang acap kali terjadi, namun pemerintah terutama TPID tidak peka terhadap situasi. Menurut dia, di bawah kepemimpinan wali kota yang dahulunya menjadi ketua TPID selama 9 tahun, harusnya kenaikan harga barang jelang hari besar sudah bukan persoalan besar, dan tahu cara menekan harga jelang lebaran. Namun, kenyataan tidak ada solusi untuk menekan harga dan menjawab permasalahan di pasar.

Faktor yang sering terjadi yaitu sapi banyak dikirim ke luar Maluku Utara (Malut), dari pada dalam daerah. Peternak sengaja menyembunyikan sapi jantan, agar harga sapi bisa naik, serta permasalahan lainnya yang sering terjadi. Ibrahim mengatakan, mereka kesulitan mendapatkan sapi untuk disembelih. Biasanya sapi yang disiapkan untuk lebaran bisa sampai 50 ekor, tapi sekarang paling tinggi 20 ekor. harapnya pemerintah dapat menekan harga, karena yang menjadi korban yaitu masyarakat atau konsumen. “Ini juga dapat pengaruh inflasi daerah,” pungkasnya. (cr-02/onk)

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *