Anak Tidak Minta Dilahirkan — Problematika kehidupan setiap manusia yang terlahir ke dunia ini memang kompleks. Banyak sekali ambiguitas, paradoks, dan hal-hal yang tak dapat dimengerti, disimpulkan, dan diterima yang terjadi pada kita semua. Terutama bagi mereka yang saat ini menyandang gelar sebagai Generasi Z dan Generasi Alpha. Sayangnya, mayoritas dari beberapa di antara kita harus menanggung beban masalah yang lebih kuat dalam ranah internal, ketimbang eksternal, di mana pada akhirnya, jiwa-jiwa yang muda itu berteriak di depan telinga orang tuanya; “Sebagai anak, saya tak pernah meminta untuk dilahirkan!”

Secara kebahasaan, sejatinya jargon “anak tidak minta dilahirkan” adalah sesuatu yang mengandung logical fallacy atau sesat pikir. Hal ini disebabkan karena pernyataan ini lebih mengarah ke permintaan akan sesuatu yang tidak ada (atau mustahil). Karena kalau seorang individu bisa meminta agar dia dilahirkan, maka seharusnya eksistensi individu tersebut ada, dan tentu akan mematahkan pernyataan itu sendiri.

Namun mari kita kesampingkan terlebih dahulu hal tersebut. Sebagai orang tua—baik di umur muda maupun tua—, mari kita “mengosongkan gelas” terlebih dahulu dari semua naluri ego yang kita miliki dan meresapi baik-baik makna dari ungkapan ini.

Kontrol Penuh Terhadap Kehidupan Anak Telah Menjadi Budaya yang Dianggap Baik

Tak dapat dipungkiri, sedari dulu hingga sekarang, budaya di mana orang tua hadir sebagai “mesin pembentuk anak” merupakan hal yang tak dapat dipisahkan dalam ranah sosial kehidupan. Karena biar bagaimanapun, lingkungan pertama yang anak kenal setelah lahir di dunia ini tak lain adalah keluarganya sendiri. Dan di situ pulalah ada orang tua, baik kandung maupun tiri, orang tua adalah orang yang sosok yang memiliki andil besar dalam membesarkan seorang jiwa.

Namun di sinilah hal klise itu terjadi. Andil besar yang dimiliki orang tua ini seakan menjadi alasan untuk menghaturkan ego tersendiri di mana orang tua tersebut merasa berhak untuk membentuk anaknya menjadi apa pun yang dia mau. Tak peduli dengan jenis bakat yang dimiliki sang anak, kepribadiannya, maupun sumber daya internal maupun eksternal yang si anak miliki.

Tak terasa, waktu berganti hingga sang anak tumbuh menjadi sosok yang dewasa. Si anak mengenal lingkungan baru, bersosialisasi dengan ekosistem asing yang pastinya dapat mentransfer pemikiran baru kepada si anak. Anak tersebut juga akan mulai menyadari apa kekurangan dan kelebihannya, serta membandingkan dengan apa yang orang tuanya paksakan kepadanya. Sang anak sadar bahwa ia tak dapat memenuhi apa yang orang tuanya inginkan, namun si orang tua tak mau tahu. Inilah yang menjadi landasan munculnya istilah toxic parenting.

Kamu Harus Jadi PNS supaya bisa bikin Ayah dan Ibu bangga!

orang tua memaksa anak anak tidak minta dilahirkan

Ucapan ini nampaknya sangat tidak asing bagi kita yang hidup di Indonesia. Atau mungkin, kalian adalah salah satu penerima perintah tersebut? Jangan khawatir, kalian tidak sendiri. Banyak orang tua yang menjadikan anak sebagai pelampiasan terhadap egonya dan menghantui mereka dengan berbagai tanggung jawab yang membebani kehidupan anaknya. Anak juga sering dikotak-kotakkan dengan berbagai standar dan dipaksa menuruti ego orang tuanya demi gengsi semata.

Ketika si anak menolak keinginan tersebut karena ia memiliki impian lain, lantas sang orang tua akan mengeluarkan jurus sakti; mengomeli, mulai selembut sindiran, hingga caci maki berbalut bentakan. Tak lupa embel-embel “kami sudah mengurus kamu dari kecil” dikeluarkan. Dan pada tahap terakhir, melabeli anak dengan gelar “durhaka”. Ketika dikritik, tamengnya pasti satu; “sebagai orang tua, kami hanya mau yang terbaik untuk anak“. Padahal nyatanya, yang baik bagi orang tua bukan berarti baik bagi si anak, bukan?

Mari merenung sejenak. Apakah pembentukan akan sesuai yang diinginkan seorang manusia kepada manusia lain secara paksa bukan bagian dari pelanggaran HAM? Setiap individu yang dewasa, berhak menentukan tujuan hidupnya sendiri. Dan sekali lagi, standar baik dan buruk setiap manusia berbeda.

Anak Sebagai “Mesin Pahala” Orang Tua

anak menyalim ibu orang tua anak tidak minta dilahirkan

Beberapa anak yang masuk ke pesantren mengeluh karena tak dapat mengikuti pelajaran agama dengan dosis tinggi. Belum lagi, pola hidup yang harus begitu disiplin. Hal ini tentu sangat menyiksa individu yang memiliki kepribadian fleksibel. Anak-anak tersebut sempat menolak, tapi apa daya, mereka dipaksa. Daripada tak mengenyam bangku pendidikan karena orang tuanya tak mau membiayai pilihan pendidikan lain?

Saat dipertanyakan alasannya, orang tua tersebut pasti akan berkelit, “Saya mau ilmu agama yang terbaik untuk anak saya. Karena ketika saya membiarkan ia menjadi pendosa, maka saya pun akan berdosa.” Lantas apakah merampas hak untuk bahagia anak sendiri bukanlah sebuah dosa?

Hal serupa juga mungkin terjadi pada ranah institusi pendidikan lain. Si anak memiliki kecerdasan kinestetik, di mana otaknya dominan pada aktivitas keolahragaan, tapi orang tuanya memaksa agar anaknya masuk ilmu kedokteran. Beberapa di antara individu tersebut mungkin sukses melalui semua tempaan itu. Tapi kembali, tak semua. Mari kita berempati karena tak semua jiwa memiliki nyali dan mental yang kuat dalam menghadapi rutinitas yang tak ia sukai. Karena ujung-ujungnya bisa ditebak; putus sekolah, kabur, berbuat kriminal, atau skenario terburuknya, depresi hingga berakhir bunuh diri.

Anak Tetangga Sudah Pada Nikah, Tuh! Kamu Mau Nikah Kapan? Mama Mau Gendong Cucu!

Kalau ini, biasanya kaum hawa yang paling sering kena getahnya. Wajar, budaya patriarki yang ekstrem masih berkembang di negara ini. Biasanya kaum hawa juga ditakut-takuti dengan ungkapan “Kamu mau jadi perawan tua?” dan sebagainya. Alih-alih membuat semua pihak bahagia, hal ini malah menjadi buah simalakama bagi sang anak itu sendiri. Bilamana tak menurut, ia akan dicap pemberontak. Bilamana menurut, aksesnya untuk mengejar mimpi akan tersekat kehidupan rumah tangga.

Akhirnya, kehidupan pernikahan sang anak menjadi tidak harmonis. Perceraian pun terjadi, dan berimplikasi pada generasi keturunannya yang berikutnya.

And the Big One, KEMISKINAN STRUKTURAL

Banyak sekali orang tua yang bersikeras untuk memiliki anak. Padahal, ekonominya belum mampu untuk membesarkan anaknya tersebut dengan fasilitas yang layak. Biasanya mereka akan bersembunyi di balik kata “mengajari anak hidup dari nol alias miskin agar dia tidak jadi sosok yang sombong”. Alhasil, si anak hidup dalam kondisi yang dihasilkan oleh ego orang tuanya. Mau melawan? Takut dikira durhaka. Mau mengkritik atau mengeluh? Takut dikira tidak bersyukur.


meme kemiskinan struktural anak tidak minta dilahirkan

Kembali ke inti topik, mengapa jargonanak tidak minta dilahirkan” semakin populer? Kembali ke sebab dan akibatnya. Api tak serta merta muncul tanpa ada sesuatu yang memantik. Beberapa “pemantik” tersebut telah dipaparkan. Namun yakinlah, ini hanya setitik dari ribuan kasus yang berbeda.

Terlepas dari kesalahan logika istilah ini, pesan dari pernyataan tersebut tetaplah sangat bagus. Yaitu ajakan untuk menjadi orang tua yang baik, supaya anak merasakan indahnya dunia karena terlahir dari orang tua yang selalu memberi pola asuh yang baik dan benar, serta mendukung keinginan dan menerima atau menghargai segala kekurangan mereka.

Jangan membuat mereka menyesali keberadaan mereka, sambil mengeluh:Tahu begini, untuk apa saya lahir?

Iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *