Isak tangis keluarga korban semakin kuat ketika satu demi satu dari empat peti jenazah mulai dipaku sebelum dibawa menuju pemakaman umum desa Kalemago, Lore Timur.

Semar (7) tahun hanya bisa menangis sambil menyandarkan tubuhnya ke salah seorang anggota keluarga yang berupaya menenangkannya. Bocah perempuan itu ingin mencegah peti mati yang berisi jasad pamannya, Paulus Papah, dibawa ke lokasi pemakaman. Menurut pihak keluarga, Semar sangat dekat dengan pamannya itu.

Paulus Papah adalah satu satu dari empat warga desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso yang dibunuh oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur pada Selasa (11/5) ketika sedang memanen buah kopi di kebun yang berjarak sejauh dua kilometer dari desa itu. Keempatnya beragama Kristen.

Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah Komisari Besar Polisi Didik Supranoto memperlihatkan foto sembilan anggota kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Rabu, 12 Mei 2021. (Foto: Yoanes Litha)


Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah Komisari Besar Polisi Didik Supranoto memperlihatkan foto sembilan anggota kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Rabu, 12 Mei 2021. (Foto: Yoanes Litha)

Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah Komisari Besar Polisi Didik Supranoto, mengatakan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) diduga kuat merupakan pelaku pembunuhan empat petani itu. Empat korban itu adalah Lukas Lese, Marten Solo, Paulus Papah dan Simson Susah. Mereka sedang memanen buah kopi ketika didatangi lima anggota kelompok teroris MIT.

“Semua korban ini berada di kebun yaitu di kebun kopi, kemudian berdasarkan keterangan saksi didatangi oleh lima orang. Nah lima orang ini, salah satunya dikenal oleh saksi mereka adalah Daftar Pencarian Orang (DPO) Mujahidin Indonesia Timur yang bernama Qatar,” kata Didik Supranoto saat memberikan keterangan pers di Mapolda Sulawesi Tengah, Rabu pagi (12/5).

“Saksi kemudian melapor kepada Kepala Desa. Kepala Desa melapor ke Polsek, setelah itu Satgas Madago Raya mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP), disitulah kita temukan di lokasi pertama ada dua korban. Tidak jauh dari situ ditemukan lagi dua korban lainnya, jadi jumlahnya ada empat yang meninggal dunia,” papar Didik Supranoto.

Prosesi ibadah pemakaman untuk empat warga yang dibunuh kelompok MIT di Balai Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Rabu, 12 Mei 2021. (Foto: Yoanes Litha)


Prosesi ibadah pemakaman untuk empat warga yang dibunuh kelompok MIT di Balai Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Rabu, 12 Mei 2021. (Foto: Yoanes Litha)

Dari pemantauan VOA di lokasi, empat peti mati berwarna putih itu diletakkan berjejer di Balai Desa Kalemago, tempat kegiatan ibadah pemakaman itu digelar. Ratusan pelayat memadati tenda-tenda yang disiapkan hingga ke rumah-rumah warga di sekitar tempat itu. Setelah prosesi ibadah pemakaman, keempat peti mati yang berisi jenazah para korban MIT itu kemudian diusung untuk dimakamkan di pekuburan umum di desa itu.

Desak Presiden Jokowi Bertindak Tegas

Otniel Papunde, Sekretaris Desa Kalemago kepada VOA mengatakan pembunuhan empat warga di desa itu berdampak pada psikologis warga yang kini diliputi rasa ketakutan dan tidak aman. Diungkapkannya selama ini warga di desa itu berada dalam situasi serba salah, di satu sisi mereka takut untuk ke kebun karena khawatir bertemu kelompok MIT, tapi di sisi yang lain bila tidak ke kebun maka mereka tidak punya sumber pendapatan ekonomi keluarga.

Warga mengusung empat peti mati menuju pekuburan Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Rabu (12/5/2021) Foto : Yoanes Litha


Warga mengusung empat peti mati menuju pekuburan Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Rabu (12/5/2021) Foto : Yoanes Litha

Ia berharap pemerintah pusat segera bertindak tegas agar gangguan keamanan di wilayah itu tidak berlarut-larut dan terus jatuh korban jiwa warga tidak berdosa.

“Kalau bisa disampaikan saja kepada Presiden supaya ini jangan main-main karena kita lihat ini sudah lama kasihan. Kami dari desa tetangga berapa lagi korban itu yang dalam artian satu lingkungan kami di Lore Timur ini. Jadi kalau bisa bagaimana kerjasamanya ini supaya ini benar-benar tuntas karena kebanyakan masyarakat kami di Kalimago itu di lereng-lereng situ menjadi nafkah kehidupan,” harap laki-laki berusia 45 tahun itu.

Lokasi Kebun Jauh, Warga Kerap Menginap Ketika Panen

Menurut Otniel, dari 210 keluarga – dengan total 735 jiwa – di desa Kalemago , 95 persen berprofesi sebagai petani yang mengolah tanaman kakao dan kopi di lereng-lereng gunung. Karena berada di lokasi yang jauh, warga biasa bermalam di kebun, khususnya saat memanen hasil kebun.

Prosesi pemakaman empat warga yang dibunuh kelompok MIT di Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Rabu, 12 Mei 2021. (Foto: Yoanes Litha)


Prosesi pemakaman empat warga yang dibunuh kelompok MIT di Desa Kalemago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Rabu, 12 Mei 2021. (Foto: Yoanes Litha)

“Harapan kami kepada pemerintah kepada Presiden bahwa kalau tidak tuntas ini maka kami disini tidak akan bisa lagi keluar untuk mencari nafkah, dalam artian kami mau bagaimana nanti desa Kalimago ini. Korban berjatuhan terus, apalagi aduh kami semua ini banyak korban ini Pak, terus terang kayak sudah tidak diperhatikan kami ini,” kata Otniel dengan suara lirih.

Bupati Janji Bantu Ekonomi Keluarga Yang Khawatir Berkebun

Menjawab pertanyaan VOA, Bupati Poso, Verna Gladies Merry Inkiriwang mengatakan pemerintah kabupaten Poso akan berupaya membantu warga yang nampaknya dalam beberapa waktu ke depan belum dapat ke kebun karena alasan keamanan.

Anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah, Sabtu, 7 November 2020, saat melakukan penyisiran di Kelurahan Mamboro, Palu Utara, Kota Palu Sulawesi Tengah, mencari keberadaan 2 DPO teroris MIT. (Foto: dok).


Anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah, Sabtu, 7 November 2020, saat melakukan penyisiran di Kelurahan Mamboro, Palu Utara, Kota Palu Sulawesi Tengah, mencari keberadaan 2 DPO teroris MIT. (Foto: dok).

“Yang menjadi PR (pekerjaan rumah.red) kami adalah bagaimana kami bisa menyuplai dan untuk sementara waktu bisa kami menjamin kehidupan masyarakat teristimewa yang berada di Kalimago ini sehingga masyarakat tidak kesusahan untuk melanjutkan kehidupan apalagi kebutuhan paling dasar untuk makan dan minum,” jelas Verna ketika melayat di desa Kalimago.

Pemerintah Kabupaten Poso menegaskan pihaknya secara terus menerus berkoordinasi dengan dengan TNI-POLRI serta pemerintah provinsi dan pemerintah pusat untuk mengatasi gangguan keamanan yang masih kerap terjadi terjadi di wilayah itu. [yl/em]

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan positivity rate COVID-19 di Indonesia per Mei 2021 mencapai 11,3 persen. Angka ini, menurut Wiku, terendah selama pandemi, di mana terjadi penurunan yang cukup signifikan dibandingkan pada Januari hingga Februari 2021. Ketika itu, jumlah kasus positif menyentuh level 27,2 persen.

Penurunan ini, menurut Wiku, disebabkan berbagai intervensi yang dilakukan pemerintah, seperti adanya kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) secara mikro.

“Perbaikan dengan penghapusan cuti bersama pada tanggal merah, serta intervensi kebijakan melalui pelaksanaan PPKM Mikro dan pembentukan posko di tingkat Desa atau Kelurahan terbukti berpengaruh dalam menurunkan angka penambahan kasus positif dan kasus aktif dari waktu ke waktu sehingga positivity rate juga menurun. Positivity rate di Indonesia pada Mei adalah 11,3 persen, terendah selama pandemi,” ungkap Wiku dalam telekonferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (11/5).

Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito. (Foto:VOA)

 

Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito. (Foto:VOA)

Meski terjadi penurunan, Wiku berharap masyarakat tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Pasalnya, belajar dari situasi pandemi yang terjadi di India, peningkatan kasus secara signifikan sangat mungkin terjadi.

Wiku menjelaskan, positivity rate COVID-19 di India pada awalnya lebih rendah dibandingkan dengan di Indonesia, yakin berkisar 2-3 persen dan paling tinggi mencapai delapan persen pada September tahun lalu.

Namun, kondisi ini berubah sejak April 2021, di mana positivity rate corona di India mencapai 14 persen, dan menyentuh level 21,7 persen pada Mei 2021, dengan penambahan kasus harian mencapai 400.000 kasus.

“Ini menunjukkan, tidak butuh waktu lama untuk menaikkan kasus yang diakibatkan oleh abainya kita dalam menjaga protokol kesehatan. Sedangkan di Indonesia, butuh belajar selama 12 bulan menangani pandemi untuk akhirnya menemukan formulasi yang tepat dalam menjaga agar kasus semakin turun setiap harinya,” paparnya.

Maka dari itu, Wiku meminta masyarakat untuk tidak pulang ke kampung halaman pada masa libur Idul Fitri. Ia menekankan, apabila masyarakat tetap nekat mudik, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan bernasib sama seperti India.

“Sebagai gambaran, keadaan di India saat ini sangat mengkhawatirkan, di mana rumah sakit sudah tidak mampu lagi menampung pasien, baik COVID-19 maupun non COVID-19. Bukan hanya rumah sakit, tenaga kesehatan maupun alat kesehatan dan obat-obatan yang dibutuhkan juga tidak mencukupi lagi. Jangan sampai kita berada dalam kondisi seperti ini. Maka dari itu, jangan lakukan silaturahmi fisik. Ketahuilah, jika kita masih memaksakan untuk bertemu dalam rangka silaturahmi fisik, baik dengan keluarga ataupun dengan kerabat di manapun, maka kemungkinan besar kita dapat tertular dan menularkan virus COVID-19,” tegasnya.

Zonasi COVID-19

Per 9 Mei 2021, ujar Wiku, terdapat 12 kabupaten/kota yang masuk zona merah atau risiko tinggi. Sedangkan untuk daerah dengan risiko sedang atau zona oranye tercatat 324 kabupaten/kota.

Wiku memperingatkan satgas dan pemerintah di daerah agar menyiapkan sarana dan fasilitas kesehatan guna menangani potensi peningkatan kasus. Pasalnya, zonasi oranye didominasi oleh daerah tujuan mudik.

“Sebagai catatan jumlah kabupaten/kota di zona oranye didominasi oleh kabupaten/kota yang berasal dari provinsi tujuan mudik seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat. Ini harus menjadi perhatian kita bersama, mengingat di provinsi-provinsi ini penularan lebih mungkin terjadi dengan cepat,” kata Wiku.

Ribuan Pemudik Positif Corona

Dalam kesempatan yang lain, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan hasil dari pengetatan dan penyekatan yang dilakukan pihak kepolisian di 381 titik lokasi terdapat ribuan pemudik yang positif COVID-19.

“Jumlah pemudik yang dirandom testing dari 6.700, 4.123 orang positif, dan dilakukan isolasi mandiri 1.686 orang dan yang dirawat 75 orang. Kemudian untuk kendaraan di operasi ketupat, jumlah yang diperiksa 113.694 dan yang diputar balikkan 41.097 dan pelanggaran 346 kendaraan,” ungkap Airlangga.

Orang-orang antre untuk check-in tiket dengan barang bawaan mereka di Bandara Soekarno-Hatta untuk mudik menjelang perayaan Idulfitri, di tengah wabah COVID-19 di Tangerang . (REUTERS)

 

Orang-orang antre untuk check-in tiket dengan barang bawaan mereka di Bandara Soekarno-Hatta untuk mudik menjelang perayaan Idulfitri, di tengah wabah COVID-19 di Tangerang . (REUTERS)

Ia menambahkan, Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga telah tiba di Indonesia mendekati libur lebaran kali ini. Tecatat, 24.215 PMI tiba di tanah air pada April kemarin, sementara pada Mei diprediksi setidaknya akan ada 25.467 PMI yang akan pulang.

Pemerintah, ujar Airlangga, akan melakukan penanganan secara khusus terkait kedatangan PMI untuk mencegah terjadinya imported cases di tanah air. Pihak Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), kata Airlangga, akan berkoordinasi dengan Pemda setempat dan pihak TNI/Polri untuk melakukan karantina, serta screening ketat dengan tes swab PCR.

“Dan hasil positif yang cukup tinggi ini diantisipasi di daerah yang memang masuk untuk PMI dan kemarin dengan Pak Gubernur dibahas di daerah Sumatera, termasuk dengan Riau, Kepri, Kaltara, Kalbar terkait kebutuhan tempat, karantina bagi PMI dan diantisipasi yang dilakukan termasuk penambahan kapasitas di daerah Dumai misalnya, di mana RS Pertamina akan membantu untuk mengisi kesiapan tersebut,” pungkasnya.

Epidemiolog: Indonesia Termasuk Negara Dengan Risiko Paparan COVID-19 yang Tinggi

Ahli Epidemilogi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan kenekatan masyarakat yang tetap mudik pada masa lebaran kali ini berpotensi besar dalam menyebar virus corona, apalagi sebagian besar pemudik tidak mengetahui apakah dirinya positif atau negatif corona.

Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

 

Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

“Kita ini memiliki tes positivity rate di atas 10 persen. Berapa pun pokoknya di atas 10 persen itu adalah daerah atau negara yang memiliki risiko paparan tinggi. Eksposurenya tinggi sehingga setiap orang yang mobile itu besar kemungkinan membawa virus,” ujar Dicky kepada VOA.

Menurut Dicky, tingkat penularan virus corona di Indonesia sudah masuk level transmisi komunitas atau community transmission. Ini artinya, pemerintah, kata Dicky, tidak bisa mendeteksi sebagian besar infeksi virus corona yang ada di masyarakat. “Jadi baru puncak gunung esnya yang bisa dideteksi,” tuturnya.

Maka dari itu, arus mudik memang berpotensi meningkatkan kasus COVID-19 di Indonesia, namun memang tidak akan serta merta meningkat seperti yang terjadi di India.

Bom Waktu

Lebih jauh Dicky mengungkapkan ia meragukan validitas klaim pemerintah bahwa kurva kasus COVID-19 di tanah air sudah turun. Menurutnya, laporan COVID-19 yang disajikan pemerintah selama ini tidak memadai untuk bisa dijadikan sebuah kurva epidemiologi. Hal ini dikarenakan data-data yang disajikan tidak secara real time, dengan jeda yang cukup panjang dan jumlah tes yang tidak memenuhi standar WHO dan tidak merata di seluruh daerah.

Para petugas memeriksa sebuah bus penumpang pada hari pertama penerapan larangan mudik nasional untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19, di Tasikmalaya, Jawa Barat, 6 Mei 2021. (Foto: Adeng Bustomi/ Antara Foto via Reuters)

 

Para petugas memeriksa sebuah bus penumpang pada hari pertama penerapan larangan mudik nasional untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19, di Tasikmalaya, Jawa Barat, 6 Mei 2021. (Foto: Adeng Bustomi/ Antara Foto via Reuters)

“Saat ini sebenarnya kurva kita ini masih panjang, lama dan menguat, dan masih di gelombang pertama, artinya ketika satu gelombang belum selesai dalam waktu satu tahun itu artinya strateginya salah, tidak efektif dan itu tidak berhasil melandaikan kurva. Kita belum melandaikan kurva ini dan ini berbahaya karena artinya kita menyimpan bom waktu, dan itulah yang menyebabkan kita masih berada dalam level community transmission,” tuturnya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, Dicky menyarankan pemerintah melakukan perbaikan mulai dari sistem pengawasan di komunitas, puskesmas, rumah sakit serta surveillance genomic. Selain itu, ia berharap pemerintah juga bisa memperbaiki sistem kesehatan dengan baik, mulai dari semua fasilitas kesehatan beserta sumber daya manusia (SDM) yang cukup dan memadai.

“PSBB (pembatasan sosial berskala besar) menjadi sangat penting, mungkin 2 minggu paling tidak, di Jawa Bali serentak untuk mencegah, karena ini saya sampaikan alarmnya sudah semakin serius, sudah saatnya kita lakukan respon yang jauh lebih serius,” pungkasnya. [g/ab]

Pasca gempa bumi mulai tumbuh kesadaran warga di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, untuk kembali ke kearifan lokal dengan membangun kembali tempat tinggal mereka yang rusak akibat gempa menggunakan bahan material dari kayu. Bupati Mamuju, Sitti Sutinah Suhardi, mengatakan kearifan lokal masa lalu warga di daerah itu yaitu mendirikan bangunan rumah panggung terbuat dari kayu. Namun, seiring perkembangan zaman, model rumah panggung ditinggalkan karena tidak seindah bangunan rumah beton.

Sitti Sutinah Suhardi, Bupati Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. (Foto:VOA)

 

Sitti Sutinah Suhardi, Bupati Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. (Foto:VOA)

“Kalau dulu masyarakat di Mamuju itu rata-rata rumahnya terbuat dari kayu, rumah panggung, hanya karena untuk zaman sekarang mereka anggap tidak keren lagi punya rumah panggung, banyak yang membangun rumah batu dan sekarang dengan adanya gempa, mereka kembali dengan penuh semangat membangun rumah terbuat dari kayu. Jadi kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Mamuju itu, kembali lagi,” kata Sitti Sutinah Suhardi dalam “Maestro Talkshow bertema Indonesia Waspada Gempa”, Minggu (9/5).

Gempa bumi berkekuatan 6,2 yang mengguncang Mamuju dan Majene di Sulawesi Barat menyebabkan korban meninggal dunia 109 jiwa. Berdasarkan laporan BNPB per 15 Maret 2021 dampak gempa di Kabupaten Mamuju menyebabkan kerusakan bangunan sektor permukiman sebanyak 15.522 unit. Di Kabupaten Mamuju, rumah rusak berat sebanyak 2.054 unit, rusak sedang 3.843 unit, dan rusak ringan 5.526 unit.

Susanto Samsudin, National Director Habitat for Humanity Indonesia menilai pasca bencana di Mamaju juga perlu dilakukan kegiatan pelatihan-pelatihan mitigasi bencana kepada masyarakat agar mendirikan rumah yang ramah gempa. Di beberapa daerah tertentu yang rawan gempa, ada kearifan lokal masyarakat yang mendirikan rumah menggunakan material fleksibel seperti kayu dan bambu yang tidak mudah roboh saat diguncang gempa.

Susanto Samsudin, National Director Habitat for Humanity Indonesia. (Foto: VOA)

 

Susanto Samsudin, National Director Habitat for Humanity Indonesia. (Foto: VOA)

“Tapi ini ada modernisasi di mana ada perubahan di mana orang berpikir kalau rumah dengan semen, dengan bata, itu lebih bergengsi. Karena merasa lebih bergengsi dan dia di daerah gempa kemudian dia membangun bangunan, mencampur misalnya tiangnya kayu tapi dindingnya bata dan dia tidak memperhatikan sebenarnya bata dan kayu itu harus ada alat penguatnya, kalau tidak, lebih parah sehingga batanya semuanya roboh,” jelas Susanto Samsudin.

Relawan dari “Habitat for Humanity Indonesia” juga memberikan pelatihan membangun rumah tahan gempa dengan teknologi ferosemen di desa-desa terdampak gempa di Kabupaten Mamuju.

Tim SAR memeriksa bangunan yang roboh akibat guncangan gempa di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu, 16 Januari 2021. (Foto: Antara Foto/Sigid Kurniawan via Reuters)

 

Tim SAR memeriksa bangunan yang roboh akibat guncangan gempa di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu, 16 Januari 2021. (Foto: Antara Foto/Sigid Kurniawan via Reuters)

Ferosemen adalah teknik memperkuat dinding bangunan dengan cara menambahkan anyaman kawat ayam atau kini dikenal sebagai kawat besi dengan ketebalan lebih dari satu milimeter. Anyaman kawat yang rapat itu diletakkan pada jarak satu sentimeter dari dinding bangunan. Agar tidak bergeser, anyaman itu diikat menggunakan kawat pengikat pada paku payung yang ditancapkan di dinding bangunan yang terbuat dari susunan bata ringan maupun batako. Anyaman kawat itu nantinya akan tertutup setelah dinding diplester menggunakan adukan semen dengan ketebalan dua sentimeter.

Kerawanan Bencana Gempa di Pulau Sulawesi Tinggi

Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG mengatakan berdasarkan fakta geologi dan tektonik, Sulawesi Barat umumnya memiliki indeks potensi risiko gempa bumi yang cukup tinggi. Hal itu dikarenakan Sulbar bersebelahan dengan sesar naik Mamuju yang berada di pantai Mamuju hingga ke Kabupaten Mandar. Sesar itu telah memicu setidaknya delapan kali gempa sejak 1915 yang beberapa diantaranya juga diikuti dengan tsunami. Sejarah gempa yang berulang memerlukan kewaspadaan melalui upaya mitigasi (pengurangan risiko bencana).

Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG. (Foto: VOA)

 

Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami BMKG. (Foto: VOA)

“Yaitu dengan membangun bangunan tahan gempa atau kalau belum bisa mewujudkan bangunan tahan gempa yang lebih mahal, masyarakat dapat membangun bangunan yang berbahan ringan dari kayu dan bambu yang didesain menarik,” kata Daryono. Pemerintah setempat juga perlu melakukan penataan ruang berbasis risiko tsunami untuk mencegah masyarakat bermukim di pesisir pantai yang pernah dilanda tsunami.

“Tapi kalau memang tidak bisa dipindah, harus masyarakat memahami disebut sebagai evakuasi mandiri yaitu dengan cara menjadikan guncangan gempa yang terjadi itu sebagai peringatan dini tsunami,” jelas Daryono.

Menjawab pertanyaan VOA, Daryono menjelaskan potensi bencana gempa bumi di Pulau Sulawesi masih tinggi. Setidaknya ada tiga sesar (patahan) yang perlu diwaspadai karena sudah cukup lama tidak melepaskan energi gempa kuat yaitu Sesar Matano di Morowali, Sulawesi Tengah, Sesar naik selat Makassar dan Sesar Walanae yang berada di Parepare hingga Bulukumba di Sulawesi Selatan. [yl/ka]

Indonesia mengecam pengusiran paksa enam warga Palestina dari wilayah Sheikh Jarrah, di Yerussalem Timur, serta tindak kekerasan terhadap warga sipil Palestina di kompleks Masjid Al Aqsa yang menyebabkan ratusan korban luka-luka. Dalam cuitan di Twitter hari Sabtu (9/5) Kementerian Luar Negeri Indonesia menegaskan bahwa hal itu telah “melukai perasaan umat Muslim.”Lebih jauh ditambahkan bahwa “pengusiran paksa dan tindakan kekerasan tersebut bertentangan dengan berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB, hukum humaniter internasional – khususnya Konvensi Jenewa IV tahun 1949 – dan berpotensi menyebabkan ketegangan dan instabilitas di kawasan.”

Indonesia, tambah Kemlu, menggarisbawahi pentingnya mengambil langkah nyata bagi masyarakat internasional untuk menghentikan langkah pengusiran paksa dan penggunaan kekerasan terhadap warga sipil Palestina itu.

Kantor Komisioner Tinggi PBB Untuk Hak Asasi hari Sabtu (9/5) juga menyampaikan hal serupa. Juru bicara UNOHCHR Rupert Colville mendesak Israel untuk menghentikan segala bentuk pengusiran paksa keluarga-keluarga pengungsi Palestina yang tinggal di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, karena melanggar hukum humaniter internasional. Colville menegaskan bahwa pelanggaran hukum itu “dapat dianggap sebagai kejahatan perang.”

Pengusiran dan kekerasan di Al Aqsa melukai sejumlah orang, termasuk enam polisi Israel. Dua warga Palestina dilaporkan tewas hari Jumat (8/5).

Israel tidak menanggapi kritik kantor komisioner tinggi PBB itu dan aksi kekerasan terus berlanjut. Namun Kementerian Luar Negeri Israel mencuit bahwa warga Palestina telah mengeksploitasi pengusiran paksa itu untuk memicu kerusuhan. “Kelompok-kelompok teror Palestin akan bertanggungjawab penuh terhadap aksi kekerasan akibat tindakan mereka.”

Mahkamah Agung Israel dijadwalkan akan menyampaikan keputusannya untuk mendukung pengusiran paksa warga Palestina itu atau tidak, dalam sidang padahari Senin (10/5).

Sementara Kementerian Luar Negeri Indonesia kembali mendesak masyarakat internasional “untuk melakukan langkah nyata untuk menghentikan langkah pengusiran paksa warga Palestina dan penggunaan kekerasan terhadap warga sipil.” [em/ah]

VOA – Gunung Sinabung kembali meletus, Jumat (7/5), memuntahkan abu vulkanik setinggi 2,8 kilometer ke udara.

Penduduk desa-desa di dekat gunung berapi di provinsi Sumatera Utara itu telah dipindahkan setelah letusan sebelumnya, dan tidak ada evakuasi atau laporan jatuhnya korban akibat letusan baru tersebut.

Orang-orang telah disarankan untuk tinggal 5 kilometer dari mulut kawah dan waspada terhadap hujan abu dan longsoran puing-puing vulkanik.

Aktivitas gunung berapi itu meningkat belakangan ini, dengan setidaknya 15 letusan kecil tercatat dalam sepekan terakhir, kata Armen Putra, seorang petugas pos pemantau Gunung Sinabung.

“Potensi letusan masih tinggi. Akan ada lebih banyak lagi letusan dalam waktu dekat, ” kata Putra.

Sinabung adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Sekitar 30.000 orang yang tinggal di dekatnya terpaksa mengungsi dalam beberapa tahun terakhir.

Gunung tersebut termasuk salah satu di antara lebih dari 120 gunung berapi aktif di Indonesia yang terletak di Cincin Api Pasifik, kawasan yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik dan sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai Sabuk Gempa Pasifik. [ab/uh]

Alya Sarah Lawindo, 19 tahun, tak seperti kebanyakan remaja di Amerika. Setiap akhir pekan, Alya mengajari anak-anak belajar mengaji secara virtual, dari rumahnya di Arlington negara bagian Virginia.

Souma (5 tahun), salah seorang murid Alya Lawindo di madrasah. (Photo courtesy orang tua Souma)

 

Souma (5 tahun), salah seorang murid Alya Lawindo di madrasah. (Photo courtesy orang tua Souma)

“Bunda dari dulu pernah jadi guru ngaji di madrasah sudah bertahun-tahun. Dan pas Alya sudah remaja, Alya mikir udah waktunya buat ngajarin anak, apalagi di komunitas Muslim Indonesia di Amerika sini,” ujar Alya kepada VOA.

Murid-murid yang diajarinya berusia lima hingga 12 tahun, seperti Souma.
“Dia baik… sabar… dan cantik,” kata bocah lima tahun ini kepada VOA.

Menjadi relawan madrasah telah dijalani Alya sejak lima tahun lalu.“Yang paling besar reward-nya jadi guru ngaji itu bisa lihat improvement anak-anak. Bulan pertama ngaji masih agak kaku, atau masih belajar tadjwid-nya. Pas sudah selesai, bisa keluar, bisa move on ke kelas yang berikutnya.”

Ketekunan Alya dalam menjadi relawan, diakui oleh IMAAM, organisasi yang mengelola madrasah, dengan memberinya Penghargaan Relawan Muda pada 2019.

Lestarikan Budaya Minang

Selain mengajar sukarela, mahasiswi S1 Hubungan Internasional di American University ini juga aktif melestarikan seni budaya Minang bersama Rumah Gadang USA. Sanggar itu didirikan pada 2007 oleh kedua orangtuanya yang berasal dari Sumatera Barat.

Alya Lawindo bersama orangtua, Muhammad Afdal dan Nani Afdal, pendiri sanggar Rumah Gadang USA. (Photo courtesy: Muhammad Afdal)

 

Alya Lawindo bersama orangtua, Muhammad Afdal dan Nani Afdal, pendiri sanggar Rumah Gadang USA. (Photo courtesy: Muhammad Afdal)

Sang Ayah, Muhammad Afdal, mengatakan, “Alhamdulilah waktu kita pertama kali (dirikan), Alya sangat berminat sekali karena waktu kecil kita kemana-mana selalu putar lagu Minang, di rumah pun kalau ada video, putar video Minang.”

Menurutnya penting untuk meneruskan budaya agar tidak luntur. “Saya melihat ini kalau kita tidak kenalkan, kita akan kehilangan generasi, mereka akan hanya kenal budaya Amerika saja,” tambah laki-laki yang berasal dari kabupaten Agam ini.

Sejak usia enam tahun, Alya mulai belajar tarian dan nyanyian Minang. Keterampilannya terus diasah. Kini dia fasih berbahasa Minang, pandai bermain biola, bermain Randai, teater khas Minangkabau, hingga berpantun.

“Tigo balai barumah gadang

adonyo di pakan sinayan

ambo ketek jolong ka gadang

kok salah tolong ingekan.”

Bersama Rumah Gadang USA, dia telah tampil dalam berbagai pertunjukkan di seluruh AS.

Alwa Lawindo melakukan tari piring dalam sebuah pertunjukkan di AS. (Photo courtesy Muhammad Afdal)

 

Alwa Lawindo melakukan tari piring dalam sebuah pertunjukkan di AS. (Photo courtesy Muhammad Afdal)

“Mengikuti bermacam festival di antaranya Richmond Folklife Festival, Smithsonian Folklife Festival, the Kennedy Center, dan negara bagian lain… Di samping itu kami sering mengisi acara budaya di KBRI Washington DC,” paparnya.

Dan saat pandemi, dia diundang mengisi seminar virtual sebagai “padusi milenial” oleh Minang Diaspora Network baru-baru ini.

Afdal mengaku bangga dengan putrinya yang tetap memegang teguh adat budaya, meski jauh di Amerika, seperti pepatah Minang, “Setinggi-tingginya bangau terbang, namun pulangnya ke kubangan jua. Sejauh-jauhnya pergi merantau, kampung halaman terbayang jua.” [vm/nr]

BKPSDM Sudah Menyurat ke Masing-Masing OPD

MALUTPOST.TERNATE – Tim verifikasi dan evaluasi pemberhentian Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate, sudah menyerahkan SK Pemberhentian PTT ke Badan Kepegawaian, Pengembangan dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM). Sesuai hasil verifikasi dan evaluasi, ada 466 PTT yang dipastikan diberhentikan. SK pemberhentian diserahkan langsung oleh ketua tim verifikasi dan evaluasi, Muhdar Din bersama anggota, yang diterima kepala BKPSDM Kota Ternate Junus Yau, pagi kemarin (5/5).

“Sudah diserahkan. Tadi pagi, pak Dar (Muhdar Din) dan anggota tim sudah serahkan ke saya (SK Pemberhentian),” kata Junus di ruang kerjanya. JUnus menegaskan, BKPSDM tidak bertindak sebagai eksekutor terhadap pemecatan 466 PTT tersebut. BKPSD hanya bertugas menerima SK Pemecatan dari tim verifikasi dan evaluasi, kemudian diteruskan ke masing-masing Prganisasi Perangkat Daerah (OPD).

Ia menyebut, yang bertindak bertindak sebagai eksekutor adalah tim verifikasi dan evaluasi. KArena SK pemberhentian tersebut sudah ditandatangani oleh Hasyim Daeng Barang semasa menjabat sebagai Pj Wali Kota Ternate pada bulan April lalu. “Itu (pemberhentian) tim verifikasi dan evaluasi yang eksekusi. Dan itu sudah ditandatangani oleh pak Pj (Hasyim Daeng Barang),” ujarnya.

Pemberhentian 466 PTT ini tertuang dalam SK Wali Kota Ternate nomor 800/1260.a/2021 tentang pemberhentian dengan hormat Pegawai Tidak Tetap, di lingkungan Pemerintah Kota Ternate tahun 2021.

Junus mengatakan, setelah menerima SK tersebut, selanjutnya akan ditindaklanjuti. Ia juga sudah menandatangani surat edaran untuk diteruskan ke masing-masing OPD. Karena itu, bisa disimpulkan bahwa 466 tersebut sudah resmi diberhentikan.

MEski demikian, Junus tidak menyebutkan sebaran pada masing-masing OPD dari 466 PTT yang diberhentikan tersebut. “Tapi sudah resmi diberhentikan,” tandasnya. (tr-01/yun)

MALUTPOST.TERNATE – Untuk merealisasikan program 100 hari kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman dan JAsri Usman, maka semua SKPD dituntut bergerak cepat. Langkah cepat itu juga yang direspons Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Ternate.

Dishub bergerak cepat menyeselesaikan persoalan traffic light, yang selama ini dikeluhkan warga terutama pengguna jalan. Ya, lampu jalan mengatur lalu lintas ini sempat tidak berfungsi hampir satu tahun.

Bahkan sudah mendapatkan keluhan dari pengguna jalan dan mendapatkan sorotan dari DPRD maupun akademisi. Namun, kini traffic light di dua ruas jalan sudah difungsikan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Ternate Faruq Albaar mengatakan, total ada dua titik traffic light yang di perbaiki. Pertama di perempatan Kelurahan Bastiong Talangame.

Menurutnya, ruas jalan tersebut sering dipadati oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Apalagi di momentum ramadhan, pada sore haris ellau padat. Orang-orang bepergian untuk membeli kebutuhan berbuka puasa, Jadi, perbaikan dilakukan untuk menjawab keluhan pengguna jalan. Selain itu, ini juga langkah untuk kita wujudkan program 100 hari kerja pak Wali,” kata Faruq.

Menurut Faruq, tidak hanya di ruas jalan Bastiong Talangame yang diperbaiki, tetapi di ruas jalan depan pengadaian juga. Untuk di kawasan pengadaian ini, sementara masih berwarna kuning, karena maish proses untuk menjadi normal. Kata dia, ini akibat dari lama tidak berfungsi. “Di wilayah pegafaian belum langsung maksimal, sebab masih dalam tahapan. Yang jelas, sudah diperbaiki dan akan kembali normal,” ujarnya.

Faruq mengatakan, selain itu, saat ini Dishub juga fokus memperbaiki lampu jalan yang sudah tak berfungsi. Ada beberapa titik yang sudah berfungsim seperti di jalan menuju Moya.

“Saat ini kita fokus mau fungsikan di jalan menuju Kediaman Pak Wali. Kabelnya sudah dekat sudah bisa berfungsi,” tandasnya. (tr-03/yun)

MALUTPOST.TERNATE – Pembangunan di Kota Ternate memang dinilai masih menyentuh beberapa kecamatan di pulau terluar. Ini terbukti, masih banyak warga yang selalu mengeluh dengan pelayanan dasar mereka. Tiga pulau terluar yang dari tahun ke tahun belum tersentuh pembangunan secara maksimal, yakni Moti, Hiri, dan Batang Dua.

Wakil Wali Kota Ternate, JAsri Usman setelah dilantik pada 26 April berjanji akan menyerap berbagai aspirasi warga di tiga pulau terluar itu. Caranya adalah, ia akan berkantor di tiga kecamatan tersebut. Nah, hari ini Wakil Wali Kota Ternate ini sudah memulai aktivitas berkantor di Moti.

Di Moti ini, Jasri Usman didampingi ketua DPRD Kota Ternate Muhajirin Bailussy dan dua pimpinan OPD yakni Kepala Bapelitbangda Rizal MArsaoly dan Kepala Dinas Pertanian, Tamrin Marsaoly.

Sebelumnya, Jasri membeberkan, rencana berkantor di Pulau terluar yang sulit di akses seperti Batang Dua, Hiri, dan Moti tersebut, agar bisa mengetahui dan menyerap langsung kebutuhan dan pelayanan dasar warga di sana.

“Kalau kecamatan yang jaraknya jauh, tentunya kita harus berkantor selama satu tahun atau dua hari di situ. Biar kita bisa mengetahui langsung, apa yang dibutuhkan warga di situ,” kata Jasri usai pelantikan sat itu.

Sebagai langkah awal bekantor di Moti ini, mulai Kamis (6/5) hari ini, Wakil Wali Kota akan menggelar rapat dengan semua lurah di Kecamatan Moti. Rapat ini untuk menyerap aspirasi dan mengetahui keluhan serta kebutuhan apa yang ada di Moti. Pelayanan dasar seperti, kebutuhan air bersih, masalah pendidikan, kesehatan, bahkan infrastruktur dan lain-lain.

Selain itu, Moti juga dinilai merupakan salah satu kawasan yang memiliki potensi pertanian. Karena itu, saat berkantor di Moti itu, ia didampingi Kepala Dinas Pertanian, Tamrin Marsaoly. (tr-01/yun)