Disease X pandemi baru – Pandemi COVID-19 telah memasuki usianya yang pertama. Meskipun perekonomian dan banyak aspek lain telah terhempas jatuh akibat dilibas penyakit yang mewabah ini, namun badai masih belum berakhir.

Beberapa entitas mengklaim kalau mereka telah sukses menciptakan vaksin yang digadang-gadang mampu menanggulangi pandemi. Akan tetapi, masalah seakan tak cukup sampai di situ. Keefektifan vaksin masih dipertanyakan. Malah, masih banyak pihak yang menggoreng skenario pada proses distribusi vaksin untuk kepentingan pribadi.

Memasuki tahun 2021, bumi dikejutkan oleh temuan yang baru-baru ini dipublikasikan oleh ilmuwan dunia. “Disease x“, atau “penyakit x” seakan melukiskan gambaran mimpi buruk baru bagi dunia.

Apa Itu Disease x?

Apa itu Disease X?
Apa itu Disease X?

CNN, salah satu media raksasa yang terkenal di kancah internasional baru saja mempublikasikan film dokumenter yang membahas fenomena ini. Liputan diambil pada sebuah negara di bilangan Afrika Tengah. Negara berbentuk Republik Demokratik bernama Kongo.

Video diawali dengan gambaran hewan liar yang sengaja ditangkap, kemudian diperjualbelikan di pasar lokal. Sebuah hal yang nampaknya tidak asing bagi kita belakangan ini, dimana pada awal-awal pandemi COVID-19, hal serupa juga kita dapat di Tiongkok Daratan.

Kemudian berlanjut dimana beberapa jurnalis CNN beserta tim medis dan warga lokal yang menyusuri aliran sungai di sana, untuk mencapai desa yang dimana pada tempat itu terdapat beberapa pasien terindikasi Ebola dengan gejala aneh. Istilah Disease x mulai dikutip di sini. Penggunaan diksi tersebut dipakai dengan alasan bahwa bisa saja penyakit yang diderita pasien di sana adalah bentuk mutasi virus Ebola yang pernah mewabah di Afrika beberapa waktu silam.

Disease x Bukan Nama Penyakit Baru

Secara harfiah, disease x adalah sebutan untuk sebuah penyakit yang dianggap potensial untuk menciptakan sebuah pandemi baru yang mengglobal. Sebelum dideteksi pada akhir 2019 lalu, COVID-19 adalah disease x. Begitu pula dengan SARS, MERS, dan berbagai pandemi lainnya yang pernah terjadi dalam sejarah eksistensi manusia. Jadi, Disease x atau penyakit x bukanlah nama dari sebuah penyakit yang spesifik merujuk ke gejala tertentu.

Sayangnya, Istana FM menemukan beberapa artikel yang mengutip istilah ini dengan deskripsi yang mampu menciptakan misinterpretasi definisi bagi pembaca. Padahal, kesalahan pemahaman ini dapat berdampak besar karena mendorong kemunculan penyebaran berita hoax.

Terdeteksinya Disease X: Tamparan dan Refleksi bagi Manusia

Deforestasi
Deforestasi

Dalam peliputan yang dilakukan oleh CNN, dikutip bahwa Ebola pada awal-awal terdeteksi di wilayah yang mengalami deforestasi. Deforestasi atau penggundulan hutan cukup marak belakangan ini. Tak perlu jauh-jauh mengeksplor belahan bumi lain, di Indonesia, bahkan Maluku Utara sendiri pun, fenomena serupa telah marak.

Selanjutnya bergerak di pandemi yang saat ini kita hadapi, COVID-19. Meskipun belum seutuhnya valid, namun dugaan awal mula penyebaran virus yang berasal dari hewan liar dan menular ke manusia telah menjadi premis yang cukup kuat. Hewan liar yang menjadi pembawa awal virus juga dikenal tinggal di iklim yang lembab, yang identik dengan hutan.

Berkaca dari dua fenomena di atas, runtuhnya separator antara kehidupan hewan liar dan manusia sebagian besar disebabkan oleh hilangnya habitat hewan itu sendiri. Penyebabnya tak lain yaitu eksploitasi besar-besaran oleh manusia. Salah satu yang paling kontras, yaitu hutan.

Hutan-hutan digunduli untuk kepentingan kita, tanpa memikirkan nasib mahkluk hidup yang berkeriapan di dalamnya. Parahnya lagi, orientasi dari penggundulan tersebut juga bersifat tersier. Alih-alih pemanfaatan untuk hal yang memiliki urgensi tinggi, pengambilalihan lahan hutan malah dipakai untuk urusan bisnis.

Jika Indonesia Menjadi Zona Awal Munculnya Wabah Baru
Pedagang hewan liar di pasar lokal
Pedagang Hewan Liar di Pasar Lokal

Per tahun 2020 kemarin, Kalimantan yang dilabeli sebagai salah satu paru-paru dunia telah kehilangan lebih dari enam puluh persen lahan hijaunya. Deforestasi yang cukup brutal membuat banyak dari penghuni alami habitat pada hutan-hutan di sana kehilangan tempat tinggal mereka. Hasilnya, hewan-hewan yang kehilangan tempat itu pun mencari lapak baru. Memasuki lahan pemukiman, berkontak erat dengan manusia, serta berpotensi menularkan disease x yang bisa saja mereka bawa.

Jika hal itu terjadi, mungkinlah baru mata kita terbuka. Namun, harus seperti itukah kencangnya tamparan agar mata kita terbuka?

Meminta Maaf Kepada Bumi

Bukan bumi yang telah melewati fase sulit. Bukan hewan dan tumbuhan juga. Melainkan kita, manusia. Sayangnya, nasib buruk yang sampai saat ini masih kita emban adalah tuaian dari apa yang kita tanamkan.

Kutipan-kutipan yang dijabarkan sebelumnya baru mengulik satu aspek. Padahal, masih banyak aspek lain yang berpotensi membawa kita lebih dekat dengan disease x yang dapat menciptakan pandemi baru. Seperti mencairnya es di kutub yang diduga menimbun banyaknya spesimen virus sejak jutaan tahun silam, dan lain-lain.

Sudah selayaknya kita meminta maaf kepada bumi. Tak perlu bertanya bagaimana, karena sebagai manusia, seharusnya kita sudah tahu etika menghargai alam semesta.

Kemana orang Singapura berlibur? – Memiliki kawasan seluas 719 kilometer persegi, Singapura hanya sedikit lebih luas dari Jakarta (661 kilometer persegi). Kondisi ini membuat wilayah di Singapura cukup padat, sehingga masyarakat “Kota Singa” itu memiliki keterbatasan akses untuk hiburan.

Memang, terdapat beberapa tempat wisata kelas dunia di sana. Akan tetapi, jumlah yang terbatas tentunya membuat masyarakat Singapura cenderung mencari alternatif berlibur di luar negaranya.

Uniknya, kebiasaan berlibur orang Singapura ke luar negeri membentuk fenomena yang cukup menarik untuk diulas. Situasi tersebut membentuk segmen tersendiri yang seakan menjadi ciri khas setiap kategori dalam menentukan lokasi berlibur mereka.

1) Golongan Konglomerat dengan Umur 30 Tahun Keatas

Jamie Chua, konglomerat Singapura saat berlibur ke Jaipur, India
Jamie Chua, konglomerat Singapura saat berlibur ke Jaipur, India

Orang-orang ini akan memilih untuk berlibur ke negara-negara yang justru aneh di telinga para pelancong negara lain. India, Mesir, Switzerland, dan Afrika Selatan adalah favorit mereka.

Mengapa mereka memiliki destinasi ini? Mengapa tidak keliling Eropa atau Amerika? Jawabannya, karena mereka sudah bolak-balik ke sana saat kunjungan bisnis. Alhasil, lokasi mainstream tidak masuk ke bucket list mereka lagi.

2) Golongan Konglomerat dengan Umur 30 Tahun Kebawah

Para anak muda tajir ini lebih memilih menghabiskan waktunya untuk belanja baju di Paris, make-up di Amerika, dan berpesta di Beach Club Bali. Bali jadi destinasi favorit anak muda Singapura, karena selain pantainya yang indah, Bali juga memiliki wisata kuliner yang lezat bagi mereka.

Masakan Singapura tidak memiliki rasa yang sekuat masakan Indonesia, sehingga mereka cinta sekali dengan makanan Indonesia. Anak muda tajir melintir Singapura juga tidak pernah ketinggalan konser bergengsi macam Coachella.

3) Golongan Menengah dengan Umur 30 Tahun Keatas

Penjual di Jepang yang Melayani Turis Singapura yang Berlibur
Penjual di Jepang yang melayani turis Singapura yang berlibur

Mereka akan memilih untuk liburan di sekitar Asia Timur seperti beberapa kota di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan RRT. Agendanya biasanya berburu kuliner. Golongan ini memilih destinasi tersebut karena cenderung lebih terjangkau.

4) Golongan Menengah dengan Umur 30 Tahun Kebawah

Destinasi berlibur orang Singapura golongan bawah dengan umur di bawah 30 tahun
Destinasi berlibur orang Singapura golongan bawah dengan umur di bawah 30 tahun

Kalau anak mudanya, tentu saja lebih memilih ke tempat-tempat rekreasi seperti Disneyland Jepang dan Hongkong, atau Everland Korea Selatan. Ada juga yang sekedar berbelanja di Taiwan, bahkan main judi di Macau.

5) Golongan Bawah Semua Umur

Batam, destinasi berlibur favorit masyarakat Singapura golongan bawah
Batam, destinasi berlibur favorit masyarakat Singapura golongan bawah

Khusus golongan ini, tidak ada diferensiasi umur. Ya, seperti gambar di atas, Batam adalah destinasi utama para pelancong dengan golongan ini dalam menghabiskan waktu berlibur.

Ada beberapa alasan mengapa Batam menjadi destinasi favorit. Namun yang paling utama adalah karena jaraknya yang dekat, akses dan harga di sana juga bisa dibilang cukup murah bila dibandingkan dengan perekonomian masyarakat Singapura golongan bawah sekalipun.


Jadi, sudah tahu kan kemana orang Singapura berlibur?

Fakta mencengangkan tentang Jepang — Sebagai sebuah negara maju, kesan positif tentunya melekat di kepala kita ketika mendengar negara Jepang. Terbayang kecanggihan teknologi, kesopanan dan kedisiplinan budayanya, serta paras tampan dan cantik penduduknya.

Sayangnya, semua yang kasat mata ternyata tak sepenuhnya istimewa. Negara yang pernah memainkan peran antagonis di benua Asia ini ternyata memiliki banyak fakta mencengangkan nan kelam yang tak banyak diketahui orang. Apa saja? Berikut fakta mencengangkan tentang Jepang:

1) Fenomena Hikikomori yang Semakin Meresahkan

Hikikomori di Jepang

Di Jepang, Hikikomori adalah kondisi psikologis yang membuat orang menutup diri dari masyarakat, sering tinggal di rumah mereka, dan enggan bersosialisasi. Tak tanggung-tanggung, mereka yang terjerat dalam fenomena ini bisa berdiam diri di rumah sampai berbulan-bulan!

Kita mengenal Jepang sebagai negara yang sangat sistematis, terstruktur, dan maju. Terdengar elegan, namun ternyata inilah faktor pendorong timbulnya fenomena ini. Kemajuan itu menuntut masyarakatnya untuk selalu perfeksionis, hingga menciptakan kesan kaku dan dipenuhi tekanan.

Fenomena yang diidap oleh setengah juta penduduk Jepang ini kebanyakan dialami oleh penduduk berusia remaja hingga pemuda. Tekanan sosial dari lingkungan dan bahkan keluarga sendiri membuat mereka merasa lebih nyaman dengan kesendiriannya di rumah. Selain itu, bullying adalah penyebab terbanyak lainnya.

Para Hikikomori menjadi semakin banyak karena banyaknya siswa atau orang muda yang frustrasi dengan lingkungan mereka yang penuh dengan bully, kesempatan kerja yang sempit, atau bosan dengan kehidupan yang ada di sekitar mereka. Mereka akhirnya mengandalkan orang tua untuk terus menopang hidup mereka, tak sedikit yang berujung dengan bunuh diri karena merasa sia-sia.

2) Masalah Etika yang Begitu Kompleks

Di Jepang, hal yang mungkin dianggap remeh oleh manusia di belahan bumi lain dapat menjadi besar. Ketatnya budaya disiplin dan malu yang secara turun temurun melekatlah sebabnya. Sekali lagi, terdengar begitu ideal. Akan tetapi, dampaknya terhadap individu dapat berbuntut panjang.

Di Jepang, ada sebuah tradisi bernama Harakiri. Tradisi yang cukup fenomenal di zaman dahulu itu adalah cara orang Jepang untuk mempertahankan harga dirinya, baik karena kesalahan maupun rasa malu. Sayangnya, Harakiri ternyata bukanlah sesuatu yang enteng. Harakiri adalah jenis tindakan bunuh diri dengan menyobek perut menggunakan katana.

Fenomena Harakiri di Jepang

Meskipun dewasa ini praktik tersebut semakin menurun, akan tetapi para pelaku Harakiri masih ada, terutama dari mereka yang lahir dari latarbelakang keluarga yang kental budaya. Mirisnya, penyebabnya kebanyakan sepele. Rasa malu atau bersalah akibat perbuatan yang tak sejalan dengan konsep etika Jepang.

3) Jam Kerja yang Sangat Panjang, Namun Kontras dengan Produktivitas

Di Jepang, waktu untuk bekerja seakan mengisi 75 persen dari aktivitas harian orang dewasa. Budaya malu yang besar membuat mereka masih akan terus bekerja untuk pulang lebih larut dari senior mereka. Mereka juga malu bila harus membawa pulang pekerjaan mereka, sehingga negara tersebut masuk ke dalam salah satu negara dengan jumlah jam kerja paling panjang di dunia.

Jam kerja tertinggi di dunia

Dari tabel di atas, mungkin masih ada negara-negara gila kerja lain di atas Jepang. Akan tetapi, tabel produktivitas di Jepang juga menduduki urutan yang jomplang.

Produktivitas kerja tertinggi di dunia

Lagi-lagi, inilah yang menjadi faktor lain yang mendorong penduduk Jepang semakin merasa stres dalam menjalani kehidupan mereka. Pekerjaan dengan beban dan waktu yang menggembung, namun produktivitas dan penghasilan yang tak seberapa.

4) Masalah Populasi I; Tergerusnya Populasi Muda

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan dimana ras Jepang dapat punah dalam beberapa puluh tahun kedepan apabila masalah populasi tak kunjung terselesaikan. Miris, ungkapan tersebut bukanlah omong kosong semata. Semenjak tahun 2008 silam, angka kematian sudah melebihi angka kelahiran di Jepang.

Angka kelahiran dan kematian di Jepang

Penyebabnya bervariasi, namun rendahnya angka pernikahan adalah salah satu pendulang utamanya.

Angka pernikahan dan perceraian di Jepang

Dari grafik di atas, kita dapat melihat bahwa angka perceraian masih rendah, namun angka pernikahan terus menurun. Begitu pula dengan angka kelahiran yang lebih rendah daripada kematian. Hal ini menarik, karena rupanya ada kecenderungan dari penduduk Jepang yang cukup umum saat ini untuk menunda pernikahan, tidak menikah sama sekali, dan banyak juga yang menikah namun berkomitmen untuk tidak punya anak.

Selain itu, isu ketimpangan gender juga membuat wanita di Jepang enggan menikah, atau menikah tanpa mau memiliki anak. Dalam indeks Gender Gap oleh PBB, dari 149 negara, wanita Jepang ada di peringkat 110 sebagai negara dengan perbedaan status terbesar antara Lelaki dengan Wanita. Para wanita menyiasati hal ini dengan mengurangi “beban” mereka, dengan tidak mau mempunyai anak.

Untuk mengatasi tingkat kelahiran yang terus menurun ini, pemerintah Jepang melakukan banyak upaya seperti menjamin biaya sekolah anak, mendukung wanita untuk berkarir dan memiliki emansipasi sesuai perkembangan jaman. Bahkan Jepang mendukung para wanita untuk tidak berganti nama belakang setelah menikah, agar memberikan kesan bahwa wanita kini sudah setara dengan pria.

5) Masalah Populasi II; Overpopulasi Lansia

Lansia Jepang

Pola hidup sehat masyarakat Jepang membuat jumlah manula di sana sulit berkurang, karena hampir seluruhnya berumur panjang. Tercatat, Jepang memiliki lansia dengan jumlah terbanyak di dunia.

Negara Jepang memiliki lansia terbanyak

Hal ini tidak diinginkan pemerintah, karena lansia sudah tidak produktif. Mereka cenderung menjadi beban negara karena tidak bekerja, akan tapi terus membutuhkan biaya hidup. Banyak diantara mereka tidak memiliki pensiun sehingga mengandalkan pemerintah. Beberapa bahkan rela dipenjara demi bisa terjamin hidupnya.

Mereka beranggapan bahwa di penjara jauh lebih baik, karena makan mereka ditanggung. Mereka bahkan mendapat perawatan kesehatan gratis di penjara. Biaya panti jompo sangat mahal, mereka malu jika terus bergantung pada anak-anak mereka, sehingga penjaralah yang menjadi pilihan.

6) Maraknya Pernikahan Aneh

Bukan, ini bukan pernikahan sesama jenis. Bukan juga pernikahan dengan hewan. Melainkan;


Berefleksi dari fakta mencengangkan tentang Jepang di atas, sejatinya pencipta jargon Cahaya Asia itu bukanlah negara yang sempurna. Banyak masalah internal yang terjadi dalam dinamika kehidupan mereka.

Apakah profis siap tinggal di Jepang?

Bendera Brazil sangat rumit — Di antara jajaran negara yang terletak di Amerika Selatan, bisa dibilang Brazil memiliki keunikannya tersendiri. Kondisi geografis yang indah, demografis yang beragam, serta konflik yang kerap terpantik seakan menciptakan ciri khas tersendiri terhadap negara ini. Selain itu pula, bendera Brazil juga memiliki kekhususan yang jarang diketahui orang.

Bendera Brazil

Tampaknya, bendera negara terluas di Amerika Selatan ini cukup sederhana komposisinya. Hanya kotak hijau, belah ketupat kuning, lingkaran biru, tulisan Ordem E Progresso dengan latar putih, dan bintang-bintang. Tapi ternyata, komposisi yang membentuk bendera Brazil ini sangatlah kompleks.

Lingkaran Biru yang Berada di dalam Bendera Brazil Membentuk Pola Rumit

Bagian biru bendera Brazil

Bilamana diperbesar, barulah banyak orang menyadari bahwa titik bintang yang bertengger di bagian biru bendera Brazil memiliki makna tersendiri. Semua bintang disusun menurut konstelasi yang terlihat di langit Rio de Janeiro tanggal 15 November 1889 pukul 8.30 pagi waktu setempat. Ukuran besar kecilnya bintang menyesuaikan dengan luas wilayah masing-masing state di Brazil. Penjelasan mengenai konstelasi bintang dalam bendera Brazil ialah sebagai berikut:

  1. Procyon, melambangkan state Amazonas. Bintang ditempatkan paling kiri melambangkan lokasi state Amazonas yang berada paling barat di Brazil.
  2. Canis Major, melambangkan state Mato Grosso, Amapá, Rondônia, Roraima, dan Tocantins;
  3. Canopus, melambangkan state Goiás;
  4. Spica, melambangkan state Pará. Bintang ditempatkan di atas tulisan Ordem E Progresso melambangkan lokasi state Pará yang berada di atas garis khatulistiwa;
  5. Hydra, melambangkan state Mato Grosso do Sul dan Acre;
  6. Crux Australis, melambangkan state São Paulo, Rio de Janeiro, Bahia, Minas Gerais, dan Espírito Santo;
  7. Sigma Octantis, melambangkan state Distrito Federal atau Brasília yang merupakan ibu kota Brazil;
  8. Triangulum Australe, melambangkan state Rio Grande do Sul, Santa Catarina, dan Paraná;
  9. Scorpius, melambangkan state Piauí, Maranhão, Ceará, Alagoas, Sergipe, Paraíba, Rio Grande do Norte, dan Pernambuco. Bintang-bintang ditempatkan paling kanan melambangkan lokasi semua state yang berada paling timur di Brazil.

Aturan Rumit Lain dalam Menggambar Bendera Brazil

Selain bintang-bintang yang rumitnya bukan main, penulisan Ordem E Progresso juga memiliki aturan sendiri. Huruf P dalam kalimat itu harus berada tepat di bagian diameter vertikal lingkaran. Setiap huruf dalam tulisan Ordem dan Progresso ditulis dengan tinggi 0.33 meter dan lebar 0.30 meter. Tulisan E ditulis dengan tinggi 0.30 meter dan lebar 0.25 meter.


Dari pemaparan mengenai bendera Brazil yang ternyata sangat rumit, sudah sewajarnya kita menanamkan rasa bersyukur karena Indonesia memiliki bendera yang sederhana, namun mampu menuangkan makna filosofis yang begitu dalam.

eSIM Card di Indonesia — Mulai dari tipe Full, Mini, Micro, hingga Nano, ukuran kartu SIM (SIMcard) pada ponsel terus dipangkas. Alasannya, karena teknologi yang disematkan di dalam ponsel akan semakin canggih seiring berjalannya waktu. Hasilnya, celah sekecil apapun di dalam bodi ponsel harus dimanfaatkan untuk meletakkan sistem lain.

Revolusi SIM Card di Indonesia

Tren ini tidak berhenti di ukuran nano yang bahkan sudah sangat kecil. Beberapa tahun belakangan, tren penggunaan eSIM Card atau kartu SIM non-fisik mulai menjamur di Indonesia. Para penyedia layanan telekomunikasi telah memulai lomba untuk merancang produk eSIM yang inovatif dengan strateginya masing-masing.

Serba-serbi eSIM Card di Indonesia

Smartfren adalah operator pertama yang membawa teknologi ini ke Indonesia. Berbeda dengan kartu SIM biasa, eSIM bersifat non-fisik. Cara pemakaiannya yaitu memanfaatkan teknologi barcode, dimana penggunanya memindai kode batang tersebut untuk mengaktifkan di ponselnya.

Sistem ini tentunya sangat inovatif, mengingat pengguna tidak perlu repot-repot membongkar pasang celah kartu SIM-nya. Apalagi, cara membuka tempat kartu SIM di ponsel kekinian cukup rumit. Ponsel berkonsep gawai kebanyakan mendesain bentuk ponselnya seminimalis mungkin. Membuka tempat kartu SIM memerlukan jarum khusus yang ditusukkan ke lubang dimana tempat kartu SIM tersebut tersimpan. Sayangnya, jarum tersebut tak selalu kita bawa.

Sayangnya, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) masih belum mengatur regulasi yang jelas mengenai sistem ini. Bisa dibilang, penggunaan eSIM di Indonesia tidak dilarang. Namun tanpa adanya regulasi, keamanan penggunaan masih dipertanyakan oleh para calon pengguna yang berminat dengan teknologi embedded SIM Card ini.

Keuntungan Ketika eSIM Card Sudah Didukung Mayoritas Ponsel

1) Lebih Murah

Jangan salah, produksi kartu SIM fisik tetap membutuhkan biaya. Biaya produksi benda mungil itu juga tidaklah sedikit. Dengan adanya inovasi ini, penyedia layanan operator telepon bisa menekan biaya produksi kartu SIM fisik. Dampaknya bagi pengguna yaitu harga paket internet akan lebih murah. Karena biaya untuk produksi kartu fisik oleh operator telepon akan dialokasikan untuk memanjakan pengguna mereka, dengan mempersembahkan biaya yang lebih terjangkau.

2) Teknologi Ponsel Waterproof akan Lebih Terjangkau

Teknologi anti air atau waterproof adalah salah satu hal yang diidam-idamkan hampir seluruh pemakai ponsel. Dengan pengaplikasian khusus eSIM pada ponsel, maka produsen ponsel akan lebih mudah untuk mewujudkan teknologi tersebut dengan biaya yang terjangkau. Mengapa demikian? Konsep ponsel khusus eSIM akan membuat desain ponsel tidak lagi memerlukan di sasis telepon. Implikasinya, improvisasi membuat bodi telepon yang tahan air akan lebih mudah diterapkan.

3) Tak Ada Lagi Gonta-Ganti Kartu SIM

Beberapa tahun sekali, tak jarang kartu SIM yang tersemat di ponsel kita tiba-tiba tidak dapat terbaca. Entah disebabkan oleh gangguan pada kuningan ponsel itu sendiri, atau karena fisik kartu SIM-nya yang sudah renta, namun hal ini sangat menyebalkan. Kita harus berkorban waktu dan biaya untuk pergi ke gerai resmi operator untuk mendapatkan fisik baru kartu nomor telepon kita. Setelah era eSIM berjaya, hal ini tak akan lagi kita temukan.

4) Aman

Sistem kartu non-fisik tentunya memaksimalkan teknologi digital yang dapat dengan mudah dikontrol oleh operator telepon. Di masa depan, kehilangan atau kerusakan ponsel tidak akan berdampak pada hilangnya nomor telepon. Pastinya, operator telepon penyedia eSIM akan membuat terobosan baru, dimana layanan laporan secara daring akan diciptakan. Mulai dari blokir hingga permintaan agar nomor yang sama kembali diaktifkan pastinya bisa dilakukan dengan mudah oleh pengguna.

Antara Sumatera Timur dan Aceh — Bagi beberapa orang, konotasi negatif mengenai Aceh telah melekat. Masifnya isu separatisme mengenai daerah di ujung barat Nusantara tersebut membuat banyak asumsi yang timbul akan kesetiaannya terhadap Indonesia. Sayangnya semua itu salah.

Tujuh puluh tahunan silam, Aceh pernah menjadi benteng bagi keutuhan republik. Ketika nafas terakhir federasi Sumatera mencari dukungan dari enam belas bangsa di sana, Aceh dan Nias adalah dua bangsa yang secara tegas menunjukkan penolakan.

Terlahirnya Konsep Negara Sumatera Timur

Pada masa itu, Sumatera terbagi menjadi dua golongan, pro-republik dan pro-feodal. Pemikiran ini berasal dari Tanah Deli. Kaum pro-republik terpicu oleh semangat nasionalisme yang gencar bergelora di nusantara. Sementara kaum pro-feodal berisi para pendukung dari bangsawan Sumatera (terutama Melayu) yang tak ingin kehilangan kekuasaan mereka atas kerajaan di Sumatera.

Dalam memperjuangkan kepentingan politik itu, kaum pro-feodal menggalang dukungan dari masyarakat non-pribumi. Mereka membuka jalur kemudahan kepada para pekerja India, saudagar Tionghoa, dan kaum kolonial Belanda. Bahkan Belanda amat senang dengan niatan para sultan membentuk negara pro-Belanda ini dan menjadi sponsor di balik gerakan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kaum pro-republik justru semakin menguat. Menguatnya dukungan masyarakat ke kaum pro-republik pun membuat pro-feodal berusaha berkompromi dan mencari jalan keluar. Alhasil, tercetuslah konsep federasi Sumatera, dimana agar negara Sumatera menjadi negara federasi di dalam Indonesia. Dengan konsep ini, Sultan Melayu diharapkan memiliki integritasnya tersendiri sekalipun Indonesia telah berdiri kokoh.

Daud Bereuh, Pahlawan Keutuhan Indonesia dari Sumatera yang Jarang Dibahas

Daud Bereuh, tokoh Aceh yang Menolak Negara Sumatera Timur

Tengku Mansoer, bangsawan Melayu Sumatera Timur yang berperan menggawangi inisiasi ini berniat menyelenggarakan Muktamar Sumatera sebagai momentum deklarasi federasi Sumatera. Ia mengundang enam belas bangsa besar di Sumatera, termasuk Daud Bereuh yang saat itu memimpin Aceh.

Sungguh bijaksana Daud Bereuh yang menolak undangan tersebut, bahkan mengecamnya. Daud juga menyebutkan bahwa konsep federasi hanyalah rekaan Belanda untuk menancapkan tentakelnya di nusantara. Lewat suratnya, Daud Beureueh menyatakan dengan tegas;

Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada, sebab itu kita tidak bermaksud untuk membentuk suatu Aceh Raya dan lain-lain karena kita di sini adalah Republiken. Sebab itu juga, undangan dari wali negara Sumatera Timur itu kita pandang sebagai tidak ada saja, dan karena itulah tidak kita balas.

Di Aceh tidak terdapat salah paham sebagaimana diterangkan oleh Belanda itu, bahkan kita mengerti betul apa yang dimaksud oleh Belanda itu dengan Muktamar Sumateranya. Maksud Belanda ialah hendak mendiktekan kepada dr. Mansoer supaya menjalankan politik devide et impera-nya lagi. Sebab itu kita menolak adanya Muktamar Sumatera tersebut dan kita sendiri telah siap menanti segala kemungkinan yang bakal timbul dari sikap penolakan kita itu.

Kita yakin bahwa mereka yang menerima baik undangan dr. Mansoer tersebut, bukanlah orang Republiken. Tetapi mereka itu adalah kaki tangan dan budak kolonialisme Belanda yang selama ini sudah diberi makan roti.

Kesetiaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah RI di Jakarta bukan dibuat-buat serta diada-adakan, tetapi kesetiaan yang tulus dan ikhlas yang keluar dari lubuk hati nurani dengan perhitungan dan perkiraan yang pasti. Rakyat Aceh tahu pasti bahwa kemerdekaan secara terpisah-pisah, daerah perdaerah, negara pernegara, tidak akan menguntungkan dan tidak akan membawa kepada kemerdekaan yang abadi.

Alasan Aceh Menolak Federasi Sumatera

Selain melihat ini sebagai akal-akalan Belanda, Aceh juga menunjukkan loyalitas untuk republik tatkala beberapa bangsa Sumatera lain masih ragu-ragu. Selain itu bangsa Aceh tidak pernah menganggap Sumatera sebagai satu kesatuan hingga didambakan adanya federalisme khusus Sumatera

Bagi orang Aceh, bangsa-bangsa Sumatera, seperti Lampung, Minang, maupun Palembang itu setara dengan bangsa-bangsa non-Sumatera. Tidak pernah ada ikatan khusus antara (misalnya) Aceh dan Palembang hanya karena keduanya sama-sama berasal dari Sumatera. Dari sini bangsa Aceh memandang federasi Sumatera adalah ide yang mengada-ada.

Sepemahaman dengan Aceh, Nias Menolak Pula Usulan Tersebut

Penolakan Nias akan Negara Sumatera Timur

Ternyata tak hanya Aceh. Dari enam belas bangsa di Sumatera kala itu, Nias pun menyatakan ketidaksetujuannya dengan wacana tersebut. Hal itu diungkapkan pemimpin Nias ketika utusan Tengku Mansoer datang ke Gunungsitoli.

Muktamar Sumatera itu sendiri sebenarnya tidak sukses. Sebagian besar tokoh undangan yang menyanggupi hadir sejatinya bukan para tokoh yang memiliki pengaruh besar di suku masing-masing. Sehingga Muktamar Sumatera ditutup dengan hasil yang sangat tidak memuaskan.

Berakhirnya Mimpi Federasi Sumatera Timur

Kemenangan pro-republik akhirnya menjadi pemenang antara pemikiran Sumatera Timur dan Aceh. Seiring berjalannya waktu, tokoh-tokoh penting setiap bangsa di Sumatera mulai berganti haluan menjadi pro-republik. Mayoritas tokoh Sumatera pada saat itu menyadari bahwa primordialisme bukanlah kunci dari keberhasilan kemerdekaan.

Selain itu, kekuatan pihak pro-republik terlampau besar untuk dihadapi kaum pro-feodal, baik dari aspek militer maupun dari aspek diplomasi internasional. Mimpi Negara Sumatera Timur luluh beberapa bulan kemudian, tatkala Negara Kesatuan Republik Indonesia diakui Belanda pada 27 December 1949. Hingga kemudian, entitas itu bubar pada tanggal 15 Agustus 1950.

Tingkat kepercayaan terhadap vaksin — Berita-berita mengenai uji coba vaksin semakin digencarkan melalui media-media raksasa belakangan ini. Media daring, televisi, hingga radio seakan kompak menyiarkan proses penyusunan vaksin COVID-19 yang digadang-gadang hampir selesai. Narasi pun dikemas sepositif mungkin. Tak lain dan tak bukan, sebabnya karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin semakin menurun.

Sebelum pandemi berlangsung pun, beberapa riset skala global menyatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat penurunan kepercayaan terhadap vaksin yang cukup tinggi. Sepanjang 2015 hingga 2019 silam, angka ini terus merosot. Penyebabnya beragam. Namun sentimen agama dan politik adalah salah satu faktor utamanya.

Secara umum, hadirnya vaksin dalam sejarah dunia memang menciptakan pola pandang tersendiri bagi masyarakat. Dalam garis besar, ada dua golongan. Yaitu mereka yang percaya dan tidak percaya. Sayangnya, tingkat keekstriman masing-masing pandangan tersebut semakin memasuki tahapan yang kian tak stabil akibat dari polarisasi politik dan maraknya misinformasi di masa digital ini.

Tingkat Kepercayaan Terhadap Vaksin COVID di Indonesia

Dari 5.852 responden yang dipakai WHO dalam survei mengenai pemakaian vaksin di Indonesia, hanya 57% yang menyatakan kesiapannya untuk mengenakan vaksin tersebut. Meskipun lebih dari setengahnya, namun angka ini patut dijadikan sebagai bahan evaluasi, karena 43% sisanya adalah alarm peringatan bagi kesehatan masyarakat.

Prinsip kerja vaksin itu sendiri tak hanya untuk kesehatan individu, melainkan sosial. Bilamana sebagian orang tidak mau divaksin, praktis kekebalan kolektif di lingkungan masyarakat pun sulit dicapai. Dampaknya tentu saja akan kembali pada masyarakat itu sendiri. Penularan penyakit akan sulit menghilang, bahkan tak menutup kemungkinan membuat virus bermutasi sehingga resistan terhadap vaksin yang sudah ada.

Ketidakpercayaan Terhadap Pemerintah dan Ekstrimisme Keagamaan

Tak dapat dipungkiri, kondisi ini dapat dikatakan timbul karena didorong oleh sentimen politik. Fenomena dalam dunia perpolitikan di Indonesia membuat beberapa golongan menjadi antipati terhadap apa yang pemerintah berusaha sajikan, termasuk vaksin itu sendiri. Ketidakpercayaan inilah yang menciptakan dorongan untuk tidak mau memakai vaksin tersebut.

Selain itu, ekstrimisme di bidang keagamaan juga menjadi pemantik besar lainnya. Ada beberapa kandungan di dalam vaksin yang dinilai tidak sesuai dengan standar kehalalan produk yang boleh dikonsumsi. Meskipun anggapan ini mulai ditangkis oleh pemuka-pemuka agama, namun pemikiran ini seakan telah berakar dan sulit dihilangkan.

Strategi-strategi yang Mulai Diluncurkan Pemerintah

Narasi persuasif mulai bermunculan di tayangan media belakangan ini. Tujuannya tak lain adalah untuk merangsang psikologis masyarakat agar mau mempercayai vaksin. Tokoh-tokoh agama juga dimunculkan guna mengenyahkan pemikiran-pemikiran yang menganggap vaksin tidak halal.

Strategi ini cukup bagus, namun justru berisiko. Tindakan yang bagai pisau bermata dua ini dapat diselewengkan oleh narasi tandingan yang bisa saja menyebutkan kalau semua yang ditayangkan di media hanyalah gimmick semata. Dampaknya jauh lebih besar. Bilamana strategi ini gagal, tingkat kepercayaan terhadap vaksin justru malah menurun.

Pertanyaan Besar dan Menantang; Sanggupkah Pemerintah Menjamin Keamanan Vaksin COVID-19 Kelak?

Menemukan sebuah vaksin bukanlah hal yang mudah. Apalagi, vaksin yang sedang dicari nantinya akan dipakai untuk menangkis virus yang dianggap memiliki kompleksitas yang tinggi. Selain dua faktor yang sebelumnya telah dipaparkan, faktor keamanan adalah raksasa lain yang dapat menghalangi distribusi vaksin di Indonesia.

Minimnya kesediaan petinggi-petinggi pemerintahan untuk menjadi yang pertama dalam mencoba vaksin tersebut juga menambah ketidakpercayaan masyarakat. Seakan-akan, pemerintah sendiri pun tak dapat menjamin keamanan vaksin yang akan mereka distribusikan. Apabila pemerintah berani menjamin keamanan dengan menunjukkan diri mereka sebagai pemakai perdana setelah vaksin diresmikan, maka dapat dijamin tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin akan melonjak.

Arti warna seragam sekolah — Sejak zaman penjajahan Jepang, sekolah-sekolah di Indonesia sejatinya sudah memiliki seragam. Hal ini merupakan saran dari Jepang agar setiap siswa yang menempuh pelajaran mendapatkan kesetaraan. Namun pada masa itu, seragam setiap sekolah masih berbeda-beda.

Asal Mula

Ialah Bapak Idik Sulaeman selaku Direktur Pembinaan Kesiswaan di Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah periode 1979-1983. Beliau yang mencetuskan ide penyetaraan seragam sekolah di seluruh Indonesia.

Pria yang merupakan pencipta lambang OSIS dan sebutan Paskibraka ini menerbitkan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah pada 17 Maret 1982, saat masa pemerintahan Soeharto. Isinya tentang penggunaan seragam sekolah dan aturan corak warna bagi tiap tingkatan sekolah.

Warna seragam sekolah setiap jenjang pendidikan

Makna Filosofis

Di balik pemilihan warna yang dipakai untuk seragam SD, SMP, dan SMA, tersirat makna filosofis yang masih belum diketahui banyak orang. Padahal, filosofi ini penting untuk memaknai arti dari pengenaan corak warna di tiap seragam angkatan sekolah, yang bukanlah sekedar dekorasi semata.

Infografik; Arti Warna Seragam Sekolah
Infografik; Arti Warna Seragam Sekolah

1) Merah Pada Tingkat SD

Warna merah di sini melambangkan keceriaan, energi, dan keberanian. Diharapkan siswa dapat meningkatkan hasrat dan semangat untuk belajar di sekolah.

2) Biru Pada Tingkat SMP

Warna biru dipilih sebagai lambang percaya diri. Dikarenakan usia masuk SMP adalah usia remaja, diharapkan siswa dapat membangun rasa percaya diri dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

3) Abu-abu Pada Tingkat SMA/SMK

Warna abu-abu di sini berarti sikap labil karena usia masuk SMA adalah usia peralihan dari remaja ke dewasa. Selain itu, warna abu-abu juga bermakna ketenangan di mana siswa diharapkan dapat lebih tenang dan fokus dalam belajar, serta berpikir secara matang dan dewasa.

Indonesia mampu menjadi negara maju – Pada tahun 1967 silam, Indonesia pernah menjadi salah satu bangsa termiskin di Asia. Wajar saja, 97% dari pendahulu kita adalah buta huruf ketika Indonesia merengkuh kemerdekaan. Ya, kita pernah berkubang di lumpur yang menyedihkan.

Kira-kira separuh abad yang lalu, hanya bangsa Rwanda, Burundi dan Mali yang memiliki nasib lebih mengenaskan dari Indonesia. Sungguh sebuah ironi pada masa itu dimana negara yang memiliki sumber daya alam melimpah harus masuk ke daftar di atas. Alasannya tak lain karena ketidakstabilan dan kompleksnya situasi politik di Indonesia.

Indonesia Kini; 2020

“Kami menggoyang langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang bekerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Ir Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia

Nyatanya, frasa bangsa tempe, bangsa kuli, dan banhsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari cukup mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia kala itu. Seakan sebuah dongeng, kita mungkin tak akan percaya kalau Indonesia pernah memiliki nasib sekelam demikian.

Puluhan tahun berlalu, Indonesia telah bertransformasi menjadi negara yang begitu kontras dengan kesedihannya dulu. Ya, negara kita tak lagi muncul di papan klasemen negara termiskin. Baik di dunia, maupun di Asia.

Negara termiskin di dunia 2020

Dari urutan terbawah, saat ini kita telah sukses menyalip Filipina, Myanmar, bahkan India. Kita sukses menjadi negara papan tengah, dan tentunya memiliki peluang yang besar untuk lebih maju lagi di masa depan.

Negara dengan infrastruktur terbaik di Asia tenggara

Dari segi infrastruktur transportasi, nama kita bertengger di posisi yang cukup menggiurkan. Hal yang tentunya dapat memantik investor untuk menanamkan modalnya di kita.

Jangan lupakan pula aspek kompetitif. Dari negara urutan terbontot, kita sukses menanjak tangga hingga menjadi urutan ke-empat di Asia Tenggara dan nomor 45 di dunia. Ya, 50 besar dari ratusan negara di dunia ini!

Ketika bangsa ini menjalani kehidupan tahun 1960-an, kita disibukkan dengan urusan kelaparan, gizi buruk, polio, buta huruf, dan pembunuhan senegara.

Sekarang bangsa Indonesia disibukkan oleh perkara investasi, infrastruktur jalan tol, kereta peluru, MRT, pemerataan ekonomi, ekspor lobster, hutan, kualitas pendidikan, mobil listrik, korupsi anggaran, kedaulatan data, alutsista, demo buruh, demokrasi, dan debat agama.

Betul. Masalah semakin kompleks. Tapi coba perhatikan, levelnya sudah berbeda. Suka tidak suka, begitu jauh bangsa ini sudah berubah dalam enam puluh tahun.

Belajar dari Korea Selatan yang Mampu Berevolusi menjadi Raksasa

Korea Selatan berangkat dari negara miskin pada tahun 1965, sampai menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-sebelas di dunia pada tahun 1995. Dari sebuah negara yang bertahan dengan mengirimkan pekerja-pekerja kasar di tambang batu bara Jerman, hingga kini menjadi manufaktur teknologi kelas dunia. Berawal negara yang ibukotanya tidak mempunyai bentuk, menjadi salah satu kota metropolitan termodern di dunia.

Seoul, pernah disebut sebagai ‘neraka urban’. Sungai Han yang bercorak kecokelatan diapit oleh rumah-rumah berdinding tripleks kumuh. Warganya hidup di kemiskinan akut, pencemaran di mana-mana, dan angka kejahatan begitu tinggi. Di negara ini hanya terdapat 50 perusahaan aktif yang memperkerjakan tidak sampai seribu orang karyawan. Sisa penduduknya semua bekerja serabutan.

Di waktu musim dingin melanda Korea, mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Masyarakatnya berpendidikan rendah, oligarki dan mafia menguasai negeri, alamnya tidaklah mempunyai SDA yang bisa diandalkan, dan pemimpinnya tidak kompeten.

Dalam peringkat perekonomian dunia, Korea Selatan di masa sulitnya memiliki posisi papan tengah. Posisi yang sama yang dimiliki Indonesia saat ini. Bahkan secara kasat mata, tentunya kita tahu walau di posisi yang sama, kondisi kita sekarang jauh lebih menguntungkan ketimbang mereka.

Satu Generasi Adalah Kunci Perubahan

Korea telah mengubah nasibnya dalam satu generasi. Singapura mengubah nasibnya dalam satu generasi. China mengubah nasibnya dalam satu generasi. Selanjutnya, barangkali negara tetangga kita, Vietnam, yang akan mengubah nasibnya dalam satu generasi mendatang.

Lantas, apakah kita akan mengikuti jejak yang sama? Tidak perlu waktu lama. Untuk mengubah negeri Indonesia menjadi negara kaya atau menjadi negara miskin. Menjadi negara sejahtera atau menjadi negara gagal. Menjadi Macan Asia atau kembali menjadi Raksasa Tidur Asia Tenggara. Semua itu hanya perlu satu generasi.

Setiap generasi mempunyai tantangan masing-masing. Mengatakan bahwa “masalah Indonesia saat ini begitu berat sehingga tidak mungkin jadi negara maju” adalah satu penghinaan terhadap leluhur kita, yang telah membawa bangsa ini dari papan bawah menuju papan tengah, dari negara termiskin di Asia menjadi negara menengah.

Meskipun perjalanan tidak selalu lancar, Indonesia sudah pernah beranjak dari negara termiskin di Asia menjadi anggota G-20. Indonesia sudah pernah lolos kekacauan dari periode 1945, 1949, 1953, 1961, 1965, 1974, 1984, 1998, dan luput dari Balkanisasi.

Siapkah Generasi Z Membawa Indonesia Menjadi Negara Maju?

Angkatan terbaru dalam generasi dunia karir di Indonesia mulai diisi oleh generasi Z, penerus generasi Y atau yang kerap disebut milenial. Di masa depan, pos-pos strategis dalam lingkup organisasi swasta maupun pemerintah akan diisi oleh generasi pembaharu ini.

Seperti yang sebelumnya telah dipaparkan, sekarang adalah kesempatan generasi Z untuk menyetir kemana negara ini kan mengarah. Ke arah yang lebih baik sehingga bisa mengantarkan Indonesia agar mampu menjadi negara maju, atau justru sebaliknya?

Jawabannya; tergantung. Dan percayalah, ini akan sulit, jauh lebih sulit dari perjuangan generasi sebelumnya. Namun bukan berarti mustahil. Karena ingat, posisi kita saat ini bisa dibilang tidaklah buruk.

Terkecuali kalau generasi Z hanya bisa berkoar “Hidup saya susah. Birokrasi berbelit, pemerintah korup, dan rakyatnya tidak terdidik. Indonesia tidak akan maju!” seraya menyeruput kopi di Starbucks, kemudian memposkan keluh-kesahnya di Instagram, hanya gara-gara membaca berita politik.

Kata kunci digital marketing 2021 – Pemasaran digital atau digital marketing merupakan cara paling efektif dalam melakukan branding merk. Tren ini mulai muncul seiringan dengan meledaknya angka pengguna gawai layar sentuh sejak 2012 silam. Sebabnya, karena gawai layar sentuh dianggap lebih ramah pengguna dalam segi pengoperasiannya, sehingga banyak hal dapat dilakukan melaluinya.

Pada tahun 2020 ini, dunia diwarnai oleh banyak kejadian mengejutkan. Sebut saja pandemi, merebaknya kasus pencurian dan jual beli data, sentimen antar ras yang melahirkan jargon Black Lives Matter, hingga beberapa gerakan yang mengatasnamakan identitas kelompok, baik positif maupun negatif. Tren dan peristiwa yang terjadi selama tahun 2020 ini tentunya akan menjadi faktor yang membentuk pola keberhasilan bisnis pada 2021.

Lalu, konsep bisnis apa yang nantinya akan berbuah keberhasilan pada tahun depan? Berikut kami rangkum kata kunci digital marketing 2021 yang tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan arah konsep bisnis!

1) Bisnis yang Bisa Diakses dari Manapun dan Kapanpun

Bisnis yang Bisa Diakses dari Manapun dan Kapanpun

Semenjak COVID-19 melanda, semua orang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Belajar, bekerja, hingga aktivitas lain yang selama ini dilakukan secara konvensional mulai dari perbankan hingga kesehatan, secara ajaib diadaptasi dalam bentuk daring. Tentunya, internet adalah komponen yang diandalkan untuk menunjang kegiatan tersebut.

Sayangnya, kebutuhan hiburan dan sosialisasi adalah hal yang paling sulit diredam. Meskipun internet telah memiliki ragam jenis variasi media sosial, namun kebutuhan ini masih saja sulit untuk dipuaskan. Celah inilah yang tentunya sangat potensial bagi pelaku bisnis yang mampu membuat terobosan baru untuk menambalnya. Sudah pasti, digital marketing adalah media yang nantinya efisien untuk memperkenalkan brand inovatif ini.

2) Bisnis yang Mampu Menciptakan Kesetaraan Identitas

Bisnis yang Mampu Menciptakan Kesetaraan Identitas

Masih terekam jelas di kepala kita tatkala pertengahan tahun silam, demonstrasi besar-besaran akibat isu rasial meledak di bumi Amerika Serikat. Kejadian ini diawali oleh kasus yang kekerasan yang melibatkan kepolisian di sana. Kerusuhan pun tereskalasi karena anggapan terjadinya diskriminasi kulit hitam adalah sebab oknum polisi tersebut membunuh korban.

Selain itu, gerakan feminisme modern juga mulai vokal di kehidupan sehari-hari. Banyak produk-produk yang menyuarakan narasi untuk mencintai fisik sendiri guna menghapus standarisasi kecantikan perempuan. Saat ini, beberapa merk telah mengadopsi kampanye ini sebagai bagian dari program digital marketing mereka. Namun baru sedikit. Jadi artinya, celah ini masih sangat luas di 2021.

3) Bisnis yang Dapat Menjamin Kenyamanan dan Keamanan Data Pengguna

Bisnis yang Dapat Menjamin Kenyamanan dan Keamanan Data Pengguna

Pencurian data semakin meresahkan. Sayangnya, perusahaan besar sekalipun tidak dapat menjamin keamanan big data penggunanya. Bahkan, bisa jadi pula kalau di masa depan, undang-undang dan regulasi pemerintah akan mengatur penjaminan data pengguna. Di sinilah potensi itu. Pebisnis yang mampu menjamin keamanan data konsumennya akan memenangkan pasar.

Di 2021, tak menutup kemungkinan kalau fokus keamanan dan kenyamanan dalam memakai sebuah platform adalah hal yang banyak dijumpai dalam konsep digital marketing. Para pemilik bisnis akan berlomba-lomba menciptakan iklan digital yang merangsang psikologis pengguna, bahwa produk yang mereka luncurkan dapat terjamin keamanan sibernya.

4) Bisnis yang Sanggup Menawarkan Benefit Jangka Panjang

Bisnis yang Sanggup Menawarkan Benefit Jangka Panjang

Kembali karena merupakan dampak pandemi. Orang-orang cenderung mempertimbangkan banyak hal ketika ingin membuat keputusan pembelian. Hal ini tak lain karena pandemi membuat perekonomian menjadi surut, sehingga strategi finansial ikat pinggang banyak diterapkan.

Strategi ini telah diadopsi oleh perusahaan-perusahaan jual beli aset dalam meluncurkan strategi digital marketing mereka. Dengan menciptakan kata kunci yang merangsang psikologis, mereka sukses menjadi salah satu brand yang dianggap elegan dan tentunya menyadari banyak orang akan pentingnya aset di masa muda.


Di tahun 2021 mendatang, lahan pada digital marketing memiliki banyak hal potensial yang bisa diadopsi ke bisnis yang sedang dijalankan. Dengan konsep bisnis yang tepat, dan strategi digital marketing yang smooth dan tepat sasaran, maka bisnis akan mengalami kemajuan pesat.

Artinya, perusahaan baru sekalipun mampu menjadi penguasa segmen bisnis di pasar.