Cara Keluar dari Kemiskinan — Tren kemiskinan struktural dalam aspek finansial di Indonesia seakan bukan lagi hal yang asing. Jika keturunan generasi pertama telah hidup dalam kemiskinan sedari lahir hingga akhir hayatnya, maka sampai generasi kelimanya pun tak menutup kemungkinan mengalami nasib yang sama. Sebaliknya, energi serupa pun terjadi pada mereka yang terlahir dengan mengecap kekayaan sedari nafas pertama. Bahkan sampai tujuh turunan sekalipun, harta tersebut seakan abadi.

Hal inilah yang membuat sila kelima seakan sangat sulit—atau mungkin mustahil—terimplementasi. Dalam kasus ini, tak ada yang bisa disalahkan. Karena sistem perekonomian itu sendiri yang membuat atmosfer ekonomi kita semua seakan memiliki kastanya tersendiri. Namun sebagai entitas yang hidup dan berekonomi, ada baiknya kita semua memahami faktor pendukung yang membuat lingkaran setan ini terus berputar.

Akses ke Segala Hal Terbaik Membutuhkan Uang

Akses ke Segala Hal Terbai

Fase bayi dan kanak-kanak adalah periode krusial yang menentukan kualitas seorang manusia di masa dewasanya kelak. Sialnya, mereka yang hidup di garis kemiskinan nyatanya tak memiliki akses apapun untuk membangun kualitas terbaik keturunannya kelak. Tak perlu jauh-jauh ke pelosok negara, di Jakarta sendiri pun yang notabene adalah ibukota, bayi yang diberi air tajin sebagai pengganti susu formula pun masih sering ditemukan.

Waktu berputar,…

bayi-bayi tersebut pun akan tumbuh menjadi manusia berusia belia. Tentu saja, opsi sekolah yang dipilih adalah yang ala kadarnya. Tak perlu tutup mata, pendidikan di Indonesia masih berkasta. Ada sekolah bagus, ada yang tidak bagus. Yang tidak bagus tentunya guru-gurunya pun tidak kompeten. Mungkin kompeten, tapi tentunya tidak seoptimal sekolah swasta yang biayanya hingga beratus-ratus juta. Akan tetapi ada yang lebih miris. Mereka yang tak mampu sekolah, atau bahkan sudah sekolah, namun harus putus di tengah jalan karena biaya. Dan lagi, hal ini pun mudah kita temui di kota-kota besar, bahkan Jakarta.

Setelah lulus sekolah…

dengan perjuangan keluarganya yang berdarah-darah, mereka berhasil melalui tahapan wajib belajar selama 12 tahun. Selanjutnya, tibalah mereka di tahap awal sebagai manusia dewasa. Perguruan tinggi? Ah, mimpi. Mereka berlomba mencari kerja karena dikejar tekanan untuk segera membalas budi terhadap keluarga yang selama ini mendukungnya. Tentunya di usia yang masih segar, pekerjaan akan mudah didapat. Tapi diiringi dengan gaji ala kadarnya. Yang menjadi miris, bagi mereka uang tersebut sangat besar.

Mimpi demi mimpi digantung, pembelian demi pembelian semakin impulsif. Bak serigala yang lepas dari rantai, mereka megap dengan gemerlap dunia. Uang dihambur-hamburkan untuk jalan-jalan dan kesenangan. Beberapa di antaranya juga memilih untuk langsung menikah. Karena ilmu dari pendidikan yang pernah dilalui tak seoptimal pendidikan mahal, mereka kurang paham yang namanya manajemen risiko. Pula, tak mengerti pentingnya sebuah tabungan.

Usia pun memasuki seperempat abad…

pekerjaan mulai terganggu. Ada yang memilih resign, ada yang memilih untuk bertahan. Sialnya di usia ini, lowongan pekerjaan yang muncul mulai tak sesuai ekspektasi. Maksimal umur 23 tahun, minimal Sarjana, dan format syarat-syarat lain yang kerap mengesampingkan kompetensi.

Masalah demi masalah muncul, padahal anaknya terus bertumbuh. Dan di detik-detik pertumbuhan anaknya itulah, kemiskinan generasi selanjutnya akan terulang.

Lingkungan

anak miskin

Selain pendidikan, lingkungan adalah aspek lain di mana seorang individu menyerap banyak ilmu dan perspektif baru. Pola pergaulan kita sudah terbiasa dengan pengkotak-kotakan sesuai dengan kelas kita masing-masing, baik di sekolah maupun di lingkungan. Orang yang besar dari keluarga miskin akan tinggal di lingkungan dengan derajat ekonomi serupa. Hingga pada akhirnya, informasi yang bertukar pun hanya sekedar putaran ilmu yang dapat melestarikan kemiskinannya saja.

Sebagai contoh,…

hal-hal yang berbau mistis dan non-sains akan jauh lebih diminati ketimbang topik ilmu pengetahuan di pergaulan mereka. Kemudian dalam hal pengelolaan uang, obrolan akan jauh dari tema tabungan, apalagi investasi, mengingat pola kehidupan mereka yang miskin lebih bertumpu ke “yang penting bisa survive di hari ini dulu, yang besok ya lihat saja besok”. Singkatnya, kehidupan yang dijalani hanya fokus ke tujuan dasar, yaitu tetap bergerak dan bernafas. Yang implikasinya membuat orang yang berasal dari lembah kemiskinan sulit bangkit dari keterpurukannya.


Terlepas dari dua faktor utama yang telah dipaparkan, sering juga kita temui kasus di mana mereka yang lahir dari keluarga miskin berhasil bangkit dari keterpurukan. Dan sebaliknya pula, mereka yang lahir dari keluarga kaya justru bisa jatuh sejatuh-jatuhnya. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tentu, ada beberapa hal yang bisa diubah yang semuanya berbalik kembali ke diri kita sendiri sebagai individu yang berakal budi. Hal tersebut secara garis besar mencakup menjadi dua kategori.

1) Mental

Mental ini sendiri terbagi lagi menjadi beberapa aspek, seperti pola pikir, kemauan dan tekad untuk berubah, serta mencari tahu dan memperjuangkan cara-cara yang bisa dilakukan untuk menggapai pintu keluar dari label kemiskinan yang disandang. Utamanya kita yang hidup di era informasi terbuka, hal-hal seperti ini bukanlah sesuatu yang sulit diakses. Setelahnya, hanya tinggal menyesuaikan cara-cara yang ada dan mengimplementasikan pada kehidupan masing-masing.

2) Relasi

Menjaga relasi dengan orang yang sekiranya memiliki power lebih dalam membantu diri keluar dari jurang kemiskinan akan sangat bermanfaat. Namun yang perlu digarisbawahi, memanfaatkan dalam konteks ini patutnya tidak dilakukan dalam ranah yang negatif. Hal-hal yang bisa dilakukan yaitu dengan memanfaatkan modal berupa ilmu atau koneksi yang

Anak Tidak Minta Dilahirkan — Problematika kehidupan setiap manusia yang terlahir ke dunia ini memang kompleks. Banyak sekali ambiguitas, paradoks, dan hal-hal yang tak dapat dimengerti, disimpulkan, dan diterima yang terjadi pada kita semua. Terutama bagi mereka yang saat ini menyandang gelar sebagai Generasi Z dan Generasi Alpha. Sayangnya, mayoritas dari beberapa di antara kita harus menanggung beban masalah yang lebih kuat dalam ranah internal, ketimbang eksternal, di mana pada akhirnya, jiwa-jiwa yang muda itu berteriak di depan telinga orang tuanya; “Sebagai anak, saya tak pernah meminta untuk dilahirkan!”

Secara kebahasaan, sejatinya jargon “anak tidak minta dilahirkan” adalah sesuatu yang mengandung logical fallacy atau sesat pikir. Hal ini disebabkan karena pernyataan ini lebih mengarah ke permintaan akan sesuatu yang tidak ada (atau mustahil). Karena kalau seorang individu bisa meminta agar dia dilahirkan, maka seharusnya eksistensi individu tersebut ada, dan tentu akan mematahkan pernyataan itu sendiri.

Namun mari kita kesampingkan terlebih dahulu hal tersebut. Sebagai orang tua—baik di umur muda maupun tua—, mari kita “mengosongkan gelas” terlebih dahulu dari semua naluri ego yang kita miliki dan meresapi baik-baik makna dari ungkapan ini.

Kontrol Penuh Terhadap Kehidupan Anak Telah Menjadi Budaya yang Dianggap Baik

Tak dapat dipungkiri, sedari dulu hingga sekarang, budaya di mana orang tua hadir sebagai “mesin pembentuk anak” merupakan hal yang tak dapat dipisahkan dalam ranah sosial kehidupan. Karena biar bagaimanapun, lingkungan pertama yang anak kenal setelah lahir di dunia ini tak lain adalah keluarganya sendiri. Dan di situ pulalah ada orang tua, baik kandung maupun tiri, orang tua adalah orang yang sosok yang memiliki andil besar dalam membesarkan seorang jiwa.

Namun di sinilah hal klise itu terjadi. Andil besar yang dimiliki orang tua ini seakan menjadi alasan untuk menghaturkan ego tersendiri di mana orang tua tersebut merasa berhak untuk membentuk anaknya menjadi apa pun yang dia mau. Tak peduli dengan jenis bakat yang dimiliki sang anak, kepribadiannya, maupun sumber daya internal maupun eksternal yang si anak miliki.

Tak terasa, waktu berganti hingga sang anak tumbuh menjadi sosok yang dewasa. Si anak mengenal lingkungan baru, bersosialisasi dengan ekosistem asing yang pastinya dapat mentransfer pemikiran baru kepada si anak. Anak tersebut juga akan mulai menyadari apa kekurangan dan kelebihannya, serta membandingkan dengan apa yang orang tuanya paksakan kepadanya. Sang anak sadar bahwa ia tak dapat memenuhi apa yang orang tuanya inginkan, namun si orang tua tak mau tahu. Inilah yang menjadi landasan munculnya istilah toxic parenting.

Kamu Harus Jadi PNS supaya bisa bikin Ayah dan Ibu bangga!

orang tua memaksa anak anak tidak minta dilahirkan

Ucapan ini nampaknya sangat tidak asing bagi kita yang hidup di Indonesia. Atau mungkin, kalian adalah salah satu penerima perintah tersebut? Jangan khawatir, kalian tidak sendiri. Banyak orang tua yang menjadikan anak sebagai pelampiasan terhadap egonya dan menghantui mereka dengan berbagai tanggung jawab yang membebani kehidupan anaknya. Anak juga sering dikotak-kotakkan dengan berbagai standar dan dipaksa menuruti ego orang tuanya demi gengsi semata.

Ketika si anak menolak keinginan tersebut karena ia memiliki impian lain, lantas sang orang tua akan mengeluarkan jurus sakti; mengomeli, mulai selembut sindiran, hingga caci maki berbalut bentakan. Tak lupa embel-embel “kami sudah mengurus kamu dari kecil” dikeluarkan. Dan pada tahap terakhir, melabeli anak dengan gelar “durhaka”. Ketika dikritik, tamengnya pasti satu; “sebagai orang tua, kami hanya mau yang terbaik untuk anak“. Padahal nyatanya, yang baik bagi orang tua bukan berarti baik bagi si anak, bukan?

Mari merenung sejenak. Apakah pembentukan akan sesuai yang diinginkan seorang manusia kepada manusia lain secara paksa bukan bagian dari pelanggaran HAM? Setiap individu yang dewasa, berhak menentukan tujuan hidupnya sendiri. Dan sekali lagi, standar baik dan buruk setiap manusia berbeda.

Anak Sebagai “Mesin Pahala” Orang Tua

anak menyalim ibu orang tua anak tidak minta dilahirkan

Beberapa anak yang masuk ke pesantren mengeluh karena tak dapat mengikuti pelajaran agama dengan dosis tinggi. Belum lagi, pola hidup yang harus begitu disiplin. Hal ini tentu sangat menyiksa individu yang memiliki kepribadian fleksibel. Anak-anak tersebut sempat menolak, tapi apa daya, mereka dipaksa. Daripada tak mengenyam bangku pendidikan karena orang tuanya tak mau membiayai pilihan pendidikan lain?

Saat dipertanyakan alasannya, orang tua tersebut pasti akan berkelit, “Saya mau ilmu agama yang terbaik untuk anak saya. Karena ketika saya membiarkan ia menjadi pendosa, maka saya pun akan berdosa.” Lantas apakah merampas hak untuk bahagia anak sendiri bukanlah sebuah dosa?

Hal serupa juga mungkin terjadi pada ranah institusi pendidikan lain. Si anak memiliki kecerdasan kinestetik, di mana otaknya dominan pada aktivitas keolahragaan, tapi orang tuanya memaksa agar anaknya masuk ilmu kedokteran. Beberapa di antara individu tersebut mungkin sukses melalui semua tempaan itu. Tapi kembali, tak semua. Mari kita berempati karena tak semua jiwa memiliki nyali dan mental yang kuat dalam menghadapi rutinitas yang tak ia sukai. Karena ujung-ujungnya bisa ditebak; putus sekolah, kabur, berbuat kriminal, atau skenario terburuknya, depresi hingga berakhir bunuh diri.

Anak Tetangga Sudah Pada Nikah, Tuh! Kamu Mau Nikah Kapan? Mama Mau Gendong Cucu!

Kalau ini, biasanya kaum hawa yang paling sering kena getahnya. Wajar, budaya patriarki yang ekstrem masih berkembang di negara ini. Biasanya kaum hawa juga ditakut-takuti dengan ungkapan “Kamu mau jadi perawan tua?” dan sebagainya. Alih-alih membuat semua pihak bahagia, hal ini malah menjadi buah simalakama bagi sang anak itu sendiri. Bilamana tak menurut, ia akan dicap pemberontak. Bilamana menurut, aksesnya untuk mengejar mimpi akan tersekat kehidupan rumah tangga.

Akhirnya, kehidupan pernikahan sang anak menjadi tidak harmonis. Perceraian pun terjadi, dan berimplikasi pada generasi keturunannya yang berikutnya.

And the Big One, KEMISKINAN STRUKTURAL

Banyak sekali orang tua yang bersikeras untuk memiliki anak. Padahal, ekonominya belum mampu untuk membesarkan anaknya tersebut dengan fasilitas yang layak. Biasanya mereka akan bersembunyi di balik kata “mengajari anak hidup dari nol alias miskin agar dia tidak jadi sosok yang sombong”. Alhasil, si anak hidup dalam kondisi yang dihasilkan oleh ego orang tuanya. Mau melawan? Takut dikira durhaka. Mau mengkritik atau mengeluh? Takut dikira tidak bersyukur.


meme kemiskinan struktural anak tidak minta dilahirkan

Kembali ke inti topik, mengapa jargonanak tidak minta dilahirkan” semakin populer? Kembali ke sebab dan akibatnya. Api tak serta merta muncul tanpa ada sesuatu yang memantik. Beberapa “pemantik” tersebut telah dipaparkan. Namun yakinlah, ini hanya setitik dari ribuan kasus yang berbeda.

Terlepas dari kesalahan logika istilah ini, pesan dari pernyataan tersebut tetaplah sangat bagus. Yaitu ajakan untuk menjadi orang tua yang baik, supaya anak merasakan indahnya dunia karena terlahir dari orang tua yang selalu memberi pola asuh yang baik dan benar, serta mendukung keinginan dan menerima atau menghargai segala kekurangan mereka.

Jangan membuat mereka menyesali keberadaan mereka, sambil mengeluh:Tahu begini, untuk apa saya lahir?

Rekam Jejak Mona Fandey — Mona Fandey namanya. Penyanyi dari Negeri Jiran ini adalah salah seorang pelaku dalam peristiwa kriminal yang cukup santer di Malaysia pada tahun 90-an silam.

Mona bisa dibilang ambisius dalam mengejar popularitasnya. Namun sayang, karir wanita kelahiran 1956 ini ternyata tak semulus yang ia kira. Meskipun mulai dikenal, namun namanya sempat redup karena kalah bersaing dengan penyanyi lokal lainnya.

Segala upaya ia lakukan untuk mengejar mimpinya menjadi orang terkenal. Bahkan, beberapa sumber media lokal pada masa itu mengatakan bahwa pernikahannya dengan Mohamad Nor Affandi Abdul Rahman—yang di masa itu merupakan pengusaha kaya—adalah salah satu caranya agar mendapat suntikan dana guna melambungkan karirnya.

Tak disangka, Mona Fandey malah memilih untuk banting setir. Melepas statusnya sebagai penyanyi, ia justru tak lagi mengadu nasib di dunia hiburan. Siapa yang mengira kalau pada akhirnya wanita ini memilih untuk menjadi dukun?

Karir Cemerlang di Dunia Perdukunan

Setelah merintis karir sebagai paranormal, justru namanya melejit. Tak hanya popularitas, pundi-pundi uang pun berhasil ia kumpulkan dari praktik pseudo-science yang kala itu masih tertanam kuat di kalangan rakyat Malaysia.

Seiring berjalannya waktu dimana karirnya semakin moncer, datanglah salah seorang klien yang merupakan politisi ternama. Mazlan Idris namanya. Permintaannya sudah bisa ditebak, tak jauh dari kelancaran agar menang dalam kontestasi politik dan kekuasaan.

Merasa telah menjadi dukun dengan rekam jejak yang baik dan jam terbang yang tinggi, tentu saja Mona Fandey tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Biaya yang ia patok untuk klien istimewanya itu sangatlah besar. Mona Fandey meminta Mazlan Idris untuk membawa tanda jadi berupa uang sejumlah RM 300.000. beberapa sumber bahkan mengatakan bahwa politisi itu juga membawa sertifikat tanah sebagai jaminan.

Pembunuhan Mazlan Idris

Sebagai seseorang yang berkonsultasi dengan hal yang dianggap tabu, tentu saja Mazlan Idris merahasiakan kunjungan tersebut ke seluruh anggota keluarga maupun teman-temannya. Kemudian sampailah dimana tanggal kunjungannya tiba.

Mazlan yang saat itu sendirian ke tempat praktik dukun langsung disambut oleh Mona dengan antusias. Kemudian, Mona membawa Mazlan di ruang ritual yang sudah didesain agar memberikan kesan klenik. Di ruangan itu, terdapat pula seorang bernama Juraimi yang merupakan asisten Mona.

Ritual dimulai. Mazlan diinstruksikan untuk berbaring dan memejamkan mata seiring dengan mantra-mantra yang dibacakan oleh Mona. Bukannya diberkati, Mazlan malah harus mati dipenggal di tangan dukun yang ia percayai.

Juraimi sempat kaget. Namun akhirnya ia paham kalau bosnya yang ternyata telah merencanakan semua ini. Masuklah suami Mona ke area pembantaian. Bukannya terkejut karena melihat sesosok mayat dengan kepala yang dipenggal, namun ia malah membantu istri dan karyawannya memutilasi jenazah mayat tersebut. Total bagian yang dimutilasi yaitu sebanyak 18 potongan, dan semuanya dikubur di gudang rumah mereka.

Apa yang terjadi setelahnya? Tentu saja mereka langsung merongrong harta yang dibawa oleh politisi malang itu. Hasil jarahan mereka bagi tiga. Juraimi mendapat uang bagiannya. Dan Mona bersama suami langsung membeli mobil baru serta barang-barang mewah lainnya.

Kejahatan Mereka “Hampir” Sempurna, Sampai Akhirnya…

Beberapa hari kemudian, polisi mendapat laporan kehilangan dari keluarga mendiang. Setelah pengembangan kasus yang cukup rumit, aparat berwajib sempat hampir putus asa mengingat tak ada satupun jejak yang mengarah guna kebutuhan investigasi kasus orang hilang tersebut.

Waktu berselang, sekelompok polisi melakukan operasi penggrebekan terhadap sebuah tempat yang mana di dalamnya diyakini sedang ada pesta narkoba. Sungguh sebuah kebetulan, ada Juraimi di sana. Karena efek dari narkotika dan miras, ia pun teler dan berbicara melantur saat diseret aparat. Di tengah kicauannya, ia malah menyebutkan bahwa dirinya pernah membunuh salah seorang politisi bernama Mazlan Idris.

Mendengar keterangan itu, polisi pun kembali mengembangkan kasus yang padahal hampir saja ditutup. Setelah penelusuran dan interogasi yang ketat terhadap Juraimi, akhirnya polisi berhasil mengungkap kasus pembunuhan yang keji ini dan menemukan lokasi dimana jasad Mazlan berada.

Akhir Hidup Mona Fandey

Dua tahun setelah kasus pembunuhan tersebut, pada 1995 akhirnya pengadilan mengetuk palu agar ketiga pelaku dihukum mati. Beberapa kali banding diajukan, namun semuanya ditolak mentah-mentah oleh hakim yang mengadili kasus fenomenal ini.

Pada 2 November 2001, usia Mona Fandey yang saat itu telah berada di angka 45 pun harus ditutup. Jenis hukuman mati yang ia dapatkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya adalah hukum gantung.

Mengapa Berita Hoax Semakin Mudah Tersebar ? – Milyaran pertukaran informasi terjadi setiap harinya di lalu lintas internet. Seseorang di titik paling timur dapat bertukar kabar dengan individu lain di titik paling barat dalam hitungan detik.

Digitalisasi telah mengubah pola komunikasi manusia di bumi. Terutama semenjak pandemi ini, pertukaran informasi secara daring semakin marak dan masif improvisasinya oleh para penggiat digital.

Globalisasi bisa dibilang adalah pedang bermata dua. Di satu sisi mampu menghapus sekat dan penghambat akibat jarak, namun di sisi lain dapat menciptakan konflik antar sesama akibat misinformasi. Misinformasi ini kebanyakan timbul akibat berita hoax.

Secara umum, berita hoax terbagi menjadi beberapa kategori. Konten bernuansa satire atau parodi, konten menyesatkan, konten tiruan, konten palsu, konten yang salah, dan konten yang dimanipulasi. Semua jenis dari hoax di atas dapat kita temui di internet setiap harinya.

Mereka yang Paling Rentan Termakan Berita Hoax

Orang Marah-marah Karena Hoax

Meskipun berita-berita hoax di atas kerap ditemui di internet, namun sudah banyak pula warganet yang dapat membedakan mana konten asli dan hoax. Apalagi mereka yang sedari kecil telah terpapar dengan pengetahuan akan internet, pastinya kemampuan untuk mengidentifikasi parameter keakuratan sebuah berita sudahlah bukan hal yang sulit.

Akan tetapi, tak dapat dipungkiri kalau angka dari mereka yang belum memiliki kemampuan tersebut masihlah tinggi. Mereka yang masuk dalam kategori ini biasanya adalah orang-orang dari lingkungan dengan tingkat edukasi rendah, lingkungan terpencil, atau orang-orang dengan usia lanjut.

Jangan salah, meskipun rasionya rendah, namun justru ini cukup berbahaya. Hoax bagaikan sebuah virus. Sekali dipercaya satu individu, maka individu tersebut akan menyebarkan ke orang lain. Begitu terus, hingga jumlahnya semakin banyak. Ketika jumlahnya tinggi, tak menutup kemungkinan bilamana orang yang tadinya tidak percaya berbalik menjadi percaya. Apalagi, terutama di Indonesia, kita hidup di lingkungan dimana mereka yang berjumlah lebih banyak cenderung lebih dijadikan acuan benar atau tidaknya sebuah informasi.

Kapan Pertama Kalinya Berita Hoax Muncul?

Tak ada yang dapat memastikan kapan pertama kalinya berita hoax muncul. Namun yang pasti sudah ada dari zaman dulu. Bedanya, zaman dulu penyebaran informasi tidak semasif saat ini.

Orang-orang di masa lampau cenderung menjadikan media cetak sebagai acuan informasi mereka. Dimana tentunya, media cetak yang dikelola oleh sebuah organisasi perusahaan pastinya adalah sarana informasi yang memiliki kredibilitas tinggi.

Belakangan Ini, Mengapa Berita Hoax Semakin Mudah Tersebar?

Internet. Di zaman dulu, internet belumlah muncul. Beda halnya dengan sekarang dimana seseorang bisa mengakses informasi melalui internet hanya dengan jari dalam hitungan detik. Belum lagi tren media sosial, media pemberitaan “pesanan” pihak tertentu, hingga forum-forum diskusi yang cenderung memiliki moderasi yang kurang ketat.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Bahkan di negara sekelas Amerika Serikat sekalipun, mereka menghadapi maraknya kampanye hitam pada saat Pemilu kemarin yang dikemas dalam kemasan hoax. Sebuah bukti dimana sekalipun angka mereka yang dapat menangkal hoax telah tinggi, namun bukan berarti hoax dapat dihindari.

Di kala pandemi ini, orang-orang cenderung menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Sosialisasi secara langsung mau tak mau dicekal guna meminimalisir penyebaran COVID-19 yang sedang mewabah. Orang-orang mau tak mau lari ke internet. Ada yang memaksimalkan untuk bertukar kabar, koordinasi saat bekerja, hingga sekedar mencari hiburan.

Masifnya penggunaan internet ini pula yang secara statistik mempengaruhi melonjaknya peristiwa persebaran hoax. Jadi, semua menjadi masuk akal untuk memahami mengapa berita hoax semakin mudah tersebar belakangan ini.

Melawan Hoax, Menyelamatkan Masyarakat

Ya, subjudul di atas tidaklah dibuat-buat. Hoax tak seremeh yang kita pikirkan. Hoax dapat mengeskalasi terjadi konflik, yang tadinya berawal dari individu ke individu, sampai berubah menjadi kelompok ke kelompok. Potensi kericuhan akibat hoax bukanlah hal yang mungkin.

Kita bisa melawan hoax dengan beragam cara. Namun poin fokus yang paling perlu diberi marka yaitu dengan cara mengedukasi diri sendiri terlebih dahulu. Sebelum membaca sebuah informasi yang beredar, pastikan terlebih dahulu bahwa informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Caranya? Dengan meriset kata kunci berita yang tersebar menggunakan mesin pencari, menganalisis dan mengedepankan logika dalam menentukan untuk percaya atau tidak terhadap sebuah informasi, hingga yang paling sederhana, tak perlu menyebarluaskan informasi yang kita sendiri pun masih ragu akan kebenarannya.

Prostitusi Virtual Secara Daring — Aella namanya. Beliau adalah salah seorang konten kreator dari belahan bumi bagian barat sana. Melalui kanal OnlyFans, wanita yang memiliki pengikut sebanyak kurang lebih 3,200 itu mampu mengumpulkan pundi dollar hingga 100,000, atau bilamana dirupiahkan sebesar kurang lebih 1,4 miliar.

Tak dapat ditampik. Nominal yang luar biasa fantastis itu mampu membuat mata siapa saja menghijau. Tak perlu keluar rumah, tak perlu memeras otak. Ambil kamera, lepas busana, dan rekening pun terisi dana. Dari sini, jawaban sederhana pun terungkap. Uang instan dan kemudahan adalah alasan mengapa fenomena ini semakin digandrungi kaum hawa. Tak hanya di barat sana. Profesi konten kreator pornografi juga mulai mencuat di belahan bumi Asia.

Tak terkecuali Indonesia. Asumsi.co, salah satu portal berita di Indonesia pernah mewawancarai seorang konten kreator yang kini telah menetap di Singapura. Dalam sesi wawancara yang dikemas dalam panggilan video jarak jauh tersebut, sang narasumber membeberkan bahwa ia mampu menghasilkan 50 hingga 300 juta per bulannya.

Selain OnlyFans, masih ada lagi beberapa kanal lain yang dipakai untuk bisnis ini. Seiring berjalannya waktu, praktik ini pun tak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan salah satu media sosial berlogo burung biru juga turut dijadikan portal transaksi. Transaksi yang dilakukan juga beragam. Ada penjualan konten pornografi, hingga layanan panggilan video seks atau yang sering disebut sebagai VCS.

Digitalisasi Adalah Penyebabnya?

Ilustrasi Video Call

Semenjak kemunculan internet, sekat lintas dunia seakan sirna. Seseorang yang berada di titik tertimur dan terbarat sekalipun dapat bertukar kabar dalam hitungan detik. Informasi dapat tersebar luas dalam hitungan detik. Teks, gambar, video, dan suara.

Semuanya seakan melayang di dunia maya. Dapat dipublikasikan ke khalayak luas secara instan, serta bersifat abadi. Sekali diunggah, video, foto, dan konten berformat lainnya tak akan pernah bisa dihapus. Termasuk konten seksual itu sendiri.

Dari sini, para konten kreator ini seharusnya sadar akan risiko yang bisa saja mereka temui. Apalagi, beberapa konten seksual mengekspos wajah mereka secara gamblang. Entah apa yang mendorong mereka untuk siap menerima risiko itu, namun uang pun seharusnya tidaklah sepadan.

Feminisme yang Kebablasan

Ilustrasi Feminisme

Perempuan bukanlah objek yang bisa dikontrol. Perempuan memiliki hak dan konsesi penuh atas tubuhnya. Ya, setuju, sangat setuju. Namun sayangnya, pertanyaan di atas dapat menjadi berbahaya bilamana salah diinterpretasikan.

Gerakan feminis yang disusupi oleh liberalisme dan revolusi seksual menciptakan sebuah kondisi dimana sanksi sosial terhadap pelaku komersialisasi dan objektifikasi tubuh perempuan menjadi rendah. Sebuah hal yang justru menjadi bumerang akan cita-cita feminisme itu sendiri.

Apakah ada perempuan yang bercita-cita mengkomersilkan tubuh mereka walau secara visual digital, untuk memancing birahi orang banyak demi uang? Lalu untuk apa makna pendidikan? Mau dikemanakan nilai kemanusiaan dan moral?

Mirisnya, ketika pernyataan di atas dilontarkan, maka penanya akan dilabeli polisi moral.


Ada yang membuat manusia berbeda dengan binatang; akal budi. Kita tak selayaknya binatang yang bebas melakukan apapun demi ambisi, tanpa memikirkan aspek risiko. Ya, kita memiliki hak. Namun yang perlu digarisbawahi, hak kita tak boleh menyinggung batas garis hak orang lain.

Apakah dengan berjalannya praktik ini, ada yang dirugikan? Entahlah. Namun tak dapat disangkal, banyak sekali pernikahan yang kandas akibat seksualitas orang ketiga. Tak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun begitu pula. Mungkin, beberapa orang berpikir bahwa pihak pria yang salah karena membeli layanan prostitusi daring ini. Akan tetapi, it takes two to tango, bukan?

Maraknya prostitusi virtual secara daring bukanlah kesalahan teknologi. Ini murni karena pudarnya moral. Bergesernya keutuhan nilai manusia. Kebebasan yang kebablasan. Sementara teknologi adalah medianya.

Kristen Gray Gentrifikasi Bali — Tak dapat dipungkiri bahwa media sosial adalah pedang bermata dua. Beragam hal baik maupun buruk dapat diakses oleh siapapun di sana. Bahkan di era digital ini, banyak sekali kasus dan berita yang terendus dari sana.

Di awal tahun 2021 ini, jagat Twitter diramaikan oleh cuitan pengguna yang diketahui merupakan warga negara Amerika Serikat. Cuitan yang kini telah dihapus oleh penulisnya itu cukuplah kontroversial karena menyangkut urusan kenegaraan. Selain itu, kasus ini juga menciptakan banyak opini dari berbagai kalangan, karena disangkutpautkan dengan tensi rasisme dan menjadi perhatian internasional pula.

Kronologi Viralnya Cuitan Kristen Gray di Twitter

Kristen Gray namanya. Melalui akunnya yang bernama @kristentootie, wanita berumur 20-an itu mengisahkan tentang kisah hidupnya di Bali. Cerita ia awali dengan penjabaran tentang nasibnya saat di Amerika Serikat, dimana hidupnya terasa berkekurangan. Sepanjang 2019, wanita itu curhat kalau mendapatkan pekerjaan di Amerika sangatlah sulit.

Cuitan Kristen Gray

Tak tahan dengan kondisi itu, akhirnya ia dan kekasihnya yang juga seorang wanita memutuskan membeli tiket penerbangan ke Bali untuk satu kali jalan. Poin pertama yang dipermasalahkan pun muncul. Kristen Gray dan kekasihnya mengurus izin visa untuk berlibur. Namun hanya membeli tiket sekali jalan (bukan pulang-pergi selayaknya orang berlibur).

Cuitan Kristen Gray

Sesampainya di Bali, wanita itu mencoba peruntungan di bidang yang ia kuasai; desain grafis. Ia bercerita bahwa usahanya bisa dibilang penuh perjuangan. Namun dengan kerja kerasnya, ia pun berhasil mencapai stabilitas finansial di Pulau Dewata.

Cuitan Kristen Gray

Kristen Gray begitu puas dengan kehidupan barunya di Indonesia. Ia merasa banyak kebahagiaan yang dapat ditemukan di Bali. Salah satunya keamanan, biaya hidup yang sangat terjangkau sekalipun untuk bermewah-mewah, serta komunitas kulit hitam dan LGBT yang ia rasa begitu pas dengan mimpinya.

Merebaknya pandemi di Indonesia membuat wanita itu harus menetap lebih lama. Hingga menimbulkan asumsi bahwa visa kunjungannya telah kadaluwarsa. Di utas itu pula, Kristen Gray menjual buku yang berisi tips yang memiliki narasi ajakan agar banyak WNA yang pindah dan memulai hidup di Bali.

Muncullah masalah utamanya. Salah seorang warganet yang membeli buku tersebut membeberkan bahwa Kristen Gray memaparkan secara gamblang tentang tips untuk mengakali visa kunjungan ke Indonesia. Hal yang tentunya sangat bertentangan dengan prinsip negara kita yang mengacu pada hukum.

Digorengnya Isu Rasisme Terhadap Kulit Hitam dan LGBT

Cuitan Pendukung Kristen Gray

Bisa ditebak, warganet Indonesia pun mengeluarkan jurus ketikan pedasnya. Mulai dari kritik yang santun hingga hujatan mulai memenuhi beranda akun sosial media Kristen Gray. Opini pun terpecah. Ada yang fokus terhadap kesalahan yang Kristen Gray lakukan, ada yang hanya sekedar melontarkan ledekan rasis dan orientasi seksualnya, bahkan ada juga yang mendukungnya.

Merasa diserang, Kristen Gray dan beberapa warganet lain yang kebanyakan berasal dari luar negeri pun melakukan pembelaan. Lucunya, pembelaan yang dilakukan pun bukannya fokus pada inti konflik.

Kristen Gray malah playing victim (memainkan narasi kalau seakan-akan ia adalah korban) seolah hujatan yang ia dapat tak lain karena dirinya berkulit hitam dan LGBT. Yang menyedihkan, para pendukungnya juga menyebut kalau masyarakat kita terbelakang, tidak berpikiran terbuka, dan dengki dengan kehidupan orang lain. Padahal, Kristen Gray sendiri melanggar hukum.

Fenomena Ini Sejatinya Telah Berjalan Cukup Lama

Konten YouTube Mencari Uang di Bali

Ketika mengetik kata kunci mengenai mencari uang di Bali, YouTube akan menampilkan banyak konten yang dibuat oleh para WNA di sana. Video yang tampil juga telah diunggah cukup lama oleh kreatornya. Hal ini tentu menjadi bukti kalau praktik serupa tentu sudah menjamur cukup lama di Bali.

Akankah Gentrifikasi Terjadi di Bali Kelak?

Kasus Kristen Gray dan banyak warga asing ilegal lainnya seharusnya cukup kuat untuk menjadi alarm bagi Ditjen Imigrasi. Tak dapat disangkal, mungkin hal ini akan tetap terpendam kalau kasus ini tidak viral. Entah sudah berapa banyak kerugian dari pajak yang dialami negara oleh maraknya praktik yang berjalan sejak lama ini.

Di sisi lain, mencuatnya pemberitaan Kristen Gray di media sosial juga harus diperhatikan agar pihak terkait mengambil tindakan preventif guna mencegah gentrifikasi di Bali. Karena bilamana ini terjadi, akan sangat berdampak pada penduduk lokal yang mayoritas penghasilannya tidak sebesar WNA yang menetap di sana.

Secara sederhana, gentrifikasi adalah kondisi dimana nilai (harga) sebidang tanah di sebuah wilayah yang mengalami kenaikan yang signifikan dan timpang dengan penghasilan masyarakat di sana. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pendatang yang memiliki uang lebih banyak dari segi kurs yang memutuskan untuk menetap di wilayah itu.

Ya, Kristen Gray menampar segenap Indonesia dan memperingatkan kita bahwa peluang terjadinya gentrifikasi di Bali sangatlah besar bilamana pemerintah beserta jajaran terkait tidak ambil langkah tegas.

Cardboard Collectors, Sisi Buruk Negara Singapura — Pagi menyingsing di daratan Singapura. Jarum jam baru menunjukkan angka 5. Namun beberapa lansia nampak telah keluar dari suaka masing-masing seraya mendorong troli barang. Para lansia tersebut bukanlah ingin berbelanja, melainkan memulung kardus guna menyambung hidup. Mereka disebut mendapat label sebagai cardboard collectors.

Infografik Cardboard Collectors
Infografik Cardboard Collectors

Dari pagi buta hingga malam tiba, mereka mampu mengumpulkan hingga 300-400 kg kardus. Per kilogram kardusnya, mereka dibayar sebesar $ 0,04 atau Rp 425. Jika bekerja sepanjang bulan tanpa libur, penghasilan mereka di kisaran $ 900 – $ 1200. Angka yang cukup menggiurkan, bukan? Sayangnya, ini Singapura, bukan Indonesia. Dimana biaya hidup berkali lipat dari negara tercinta kita.

Penghasilan itupun harus dipotong lagi dengan biaya operasional mereka. Mereka biasanya menyewa van untuk mengangkut hasil buruan. Dengan menyewa van, mereka harus membayar biaya sewa, supir, dan bensin. Seringkali penghasilan mereka justru lebih kecil dibanding biaya operasional. Begitu miris.

Pembayaran cardboard collectors

Dimana Keluarga Mereka?

Ada dua faktor yang menyebabkan angka para pekerja lansia ini menjamur di Singapura. Pertama tren tidak menikah lebih tinggi dibanding negara lain. Hal ini menyebabkan ketika usia memasuki senja, mereka tak lain sebatang kara. Yang sialnya, tak semua lansia mendapatkan bantuan pokok dari pemerintah. Sementara di sisi lain, biaya hidup terus merangkak naik seiring majunya industri di Negara Singa itu.

Kedua, karena di sana sendiri orangtua bukanlah pertanggungjawaban wajib seorang anak. Memang, pekerjaan di sana notabene memiliki gaji yang mentereng. Namun ongkos hidup pun sama. Anak-anak mereka yang bekerja hanya mampu menghidupi diri dan keluarganya masing-masing. Itulah yang membuat para orangtua terlantar.

Mendapatkan Bantuan dari LSM

Ada beberapa lansia yang meskipun telah mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun tetap menggeluti profesi ini. Namun ada juga yang tak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Akan tetapi, mereka semua dilindungi oleh sebuah LSM bernama HPHP (Happy People Helping People), dimana LSM tersebut menjamin kebutuhan dasar mereka untuk terus hidup .

Jadi sekalipun penghasilan mereka sedang menurun (karena stok kardus tidak selalu banyak), mereka tetap bisa makan dengan layak.


Belajar dari profesi cardboard collectors, sisi buruk bahkan dimiliki negara Singapura sekalipun dalam lingkup masyarakatnya. Itulah pentingnya mensyukuri anugerah dengan terlahir sebagai warga Indonesia.

Negara Paling Islami di Dunia — Setiap jam-jam salat, merdunya kumandang adzan tak pernah absen menggema di telinga kita. Masjid-masjid sahut menyahut, berusaha memanggil setiap umat Muslim di sekitarnya untuk menuntaskan kewajiban mereka. Apalagi kalau bukan ibadah. Wujud syukur dari seorang insan kepada Penciptanya.

Kondisi yang sama dapat ditemui pula di negara-negara lain, terutama yang penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam. Bahkan, beberapa negara yang Islam bukanlah agama mayoritasnya pun mengizinkan praktik ini diberlakukan. Toleransi, sebuah kondisi indah dimana sesama umat saling menerima diversitas beragama.

Di balik kebiasaan ini, fakta mencengangkan justru menampar banyak umat Islam di dunia. Ketika banyak negara Timur Tengah yang berusaha menjadi seislami mungkin, ternyata harus kalah bilamana dikomparasikan dengan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an itu sendiri.

Negara manakah yang paling taat terhadap inti dari keislaman? Iakah, Arab Saudi? Palestina? Yaman? Suriah? Bukan, negara ini berada tenggara peta Dunia. Negara yang ternyata mayoritas penduduknya bukanlah orang Islam. Dan yang lebih menjadi pecut teguran, lima besar tertingginya bukanlah negara dengan mayoritas penduduk Islam.

Selandia Baru, Negara Paling Islami di Dunia

Pada tahun 2019 silam, cendikiawan Muslim dari seluruh dunia—termasuk Indonesia—menyusun sebuah data yang menampilkan hasil di luar prediksi. Negara paling Islami dalam tata kelola dan masyarakatnya yaitu Selandia Baru. Diikuti oleh Swedia, Islandia, Belanda, dan Swiss. Negara-negara Islam sendiri malah kurang Islami tata pemerintahan dan masyarakatnya.

Indeks Negara Paling Islami di Dunia
Indeks Negara Paling Islami di Dunia

Peringkat ini tidak menghitung ibadah personal seperti salat, berpuasa, haji. Aspek penghitungan diukur berdasarkan faktor-faktor masyarakat dan pemerintahan Islami sesuai Al Qur’an dan Hadits. Faktor yang dimasukkan ada 46, dipisah dalam empat kategori, mulai dari ekonomi, hukum dan pemerintah, kemanusiaan dan hak asasi, serta hubungan internasional.

Sudahkah Keislaman Tercermin dari Negara-negara yang Mengaku Islam?

Ini Emirat Arab adalah negara Islam pertama yang menduduki posisi paling tinggi dalam indeks tersebut. Sayangnya, peringkatnya cukup bontot, ke-44 dari 151. Kita pun demikian, peringkat 61. Sebagai negara dengan penduduk Muslim yang sangat tinggi, hal ini adalah sebuah pukulan telak agar kita lebih menginstropeksi diri.

Mengapa yang unggul justru adalah negara-negara yang penduduk mayoritasnya bukan Islam? Karena nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Islam yang terutama adalah nilai kemanusiaan. Rendahnya kepastian hukum, korupsi yang tinggi, sampai kebijakan ekonomi yang tidak konsisten, adalah alasan mengapa kita tak cukup Islami dari ketentuan yang tertera pada Al-Qur’an dan Hadits itu sendiri.

Sudahkah masyarakat dan pemerintah kita bersinergi dalam membangun kedisplinan, keadilan, dan kejujuran? Ah, mungkin teramat jauh. Tak perlu berangan-angan tinggi, barang yang tergeletak saja masih sering raib bilamana diletakkan sembarangan. Parahnya, kita malah menyalahkan pemilik barang dengan dalih “siapa suruh ditaruh sembarangan?”

Jepang, contohnya. Negara yang menduduki peringkat ke-16 pada indeks tersebut. Di Jepang, kalau pergi ke foodcourt misalnya, tas berisi barang berharga bisa ditinggal begitu saja di meja saat kita ke counter atau toilet. Dijamin tidak hilang. Islam mengajarkan kejujuran dan melarang keras praktik pencurian, bukan?

Soal lain-lain, misalnya suap. Islam mengajarkan bahwa baik yang disuap maupun yang menyuap itu dikutuk oleh Allah. Tapi berapa banyak diantara kita yang menyuap saat ada masalah birokrasi? Berapa yang kita bayar saat buat KTP yang mestinya gratis? Berapa yang kita bayar saat melanggar lalu lintas agar prosesnya dipercepat?

Kemudian, masalah pendidikan. Kualitas otak anak-anak di negara muslim secara rata-rata tak mampu unggul dalam kancah internasional. Padahal ayat pertama yang turun bisa ditafsirkan agar kita selalu belajar. Perintah untuk membaca, Iqra. Mirisnya, dalih bahwa ilmu agama lebih penting dibanding ilmu pengetahuan seringkali dijadikan tameng untuk mengelak.

Hal-hal di atas barulah beberapa aspek. Masih teramat banyak aspek lainnya yang dijadikan indikator penilaian.

Disease X pandemi baru – Pandemi COVID-19 telah memasuki usianya yang pertama. Meskipun perekonomian dan banyak aspek lain telah terhempas jatuh akibat dilibas penyakit yang mewabah ini, namun badai masih belum berakhir.

Beberapa entitas mengklaim kalau mereka telah sukses menciptakan vaksin yang digadang-gadang mampu menanggulangi pandemi. Akan tetapi, masalah seakan tak cukup sampai di situ. Keefektifan vaksin masih dipertanyakan. Malah, masih banyak pihak yang menggoreng skenario pada proses distribusi vaksin untuk kepentingan pribadi.

Memasuki tahun 2021, bumi dikejutkan oleh temuan yang baru-baru ini dipublikasikan oleh ilmuwan dunia. “Disease x“, atau “penyakit x” seakan melukiskan gambaran mimpi buruk baru bagi dunia.

Apa Itu Disease x?

Apa itu Disease X?
Apa itu Disease X?

CNN, salah satu media raksasa yang terkenal di kancah internasional baru saja mempublikasikan film dokumenter yang membahas fenomena ini. Liputan diambil pada sebuah negara di bilangan Afrika Tengah. Negara berbentuk Republik Demokratik bernama Kongo.

Video diawali dengan gambaran hewan liar yang sengaja ditangkap, kemudian diperjualbelikan di pasar lokal. Sebuah hal yang nampaknya tidak asing bagi kita belakangan ini, dimana pada awal-awal pandemi COVID-19, hal serupa juga kita dapat di Tiongkok Daratan.

Kemudian berlanjut dimana beberapa jurnalis CNN beserta tim medis dan warga lokal yang menyusuri aliran sungai di sana, untuk mencapai desa yang dimana pada tempat itu terdapat beberapa pasien terindikasi Ebola dengan gejala aneh. Istilah Disease x mulai dikutip di sini. Penggunaan diksi tersebut dipakai dengan alasan bahwa bisa saja penyakit yang diderita pasien di sana adalah bentuk mutasi virus Ebola yang pernah mewabah di Afrika beberapa waktu silam.

Disease x Bukan Nama Penyakit Baru

Secara harfiah, disease x adalah sebutan untuk sebuah penyakit yang dianggap potensial untuk menciptakan sebuah pandemi baru yang mengglobal. Sebelum dideteksi pada akhir 2019 lalu, COVID-19 adalah disease x. Begitu pula dengan SARS, MERS, dan berbagai pandemi lainnya yang pernah terjadi dalam sejarah eksistensi manusia. Jadi, Disease x atau penyakit x bukanlah nama dari sebuah penyakit yang spesifik merujuk ke gejala tertentu.

Sayangnya, Istana FM menemukan beberapa artikel yang mengutip istilah ini dengan deskripsi yang mampu menciptakan misinterpretasi definisi bagi pembaca. Padahal, kesalahan pemahaman ini dapat berdampak besar karena mendorong kemunculan penyebaran berita hoax.

Terdeteksinya Disease X: Tamparan dan Refleksi bagi Manusia

Deforestasi
Deforestasi

Dalam peliputan yang dilakukan oleh CNN, dikutip bahwa Ebola pada awal-awal terdeteksi di wilayah yang mengalami deforestasi. Deforestasi atau penggundulan hutan cukup marak belakangan ini. Tak perlu jauh-jauh mengeksplor belahan bumi lain, di Indonesia, bahkan Maluku Utara sendiri pun, fenomena serupa telah marak.

Selanjutnya bergerak di pandemi yang saat ini kita hadapi, COVID-19. Meskipun belum seutuhnya valid, namun dugaan awal mula penyebaran virus yang berasal dari hewan liar dan menular ke manusia telah menjadi premis yang cukup kuat. Hewan liar yang menjadi pembawa awal virus juga dikenal tinggal di iklim yang lembab, yang identik dengan hutan.

Berkaca dari dua fenomena di atas, runtuhnya separator antara kehidupan hewan liar dan manusia sebagian besar disebabkan oleh hilangnya habitat hewan itu sendiri. Penyebabnya tak lain yaitu eksploitasi besar-besaran oleh manusia. Salah satu yang paling kontras, yaitu hutan.

Hutan-hutan digunduli untuk kepentingan kita, tanpa memikirkan nasib mahkluk hidup yang berkeriapan di dalamnya. Parahnya lagi, orientasi dari penggundulan tersebut juga bersifat tersier. Alih-alih pemanfaatan untuk hal yang memiliki urgensi tinggi, pengambilalihan lahan hutan malah dipakai untuk urusan bisnis.

Jika Indonesia Menjadi Zona Awal Munculnya Wabah Baru
Pedagang hewan liar di pasar lokal
Pedagang Hewan Liar di Pasar Lokal

Per tahun 2020 kemarin, Kalimantan yang dilabeli sebagai salah satu paru-paru dunia telah kehilangan lebih dari enam puluh persen lahan hijaunya. Deforestasi yang cukup brutal membuat banyak dari penghuni alami habitat pada hutan-hutan di sana kehilangan tempat tinggal mereka. Hasilnya, hewan-hewan yang kehilangan tempat itu pun mencari lapak baru. Memasuki lahan pemukiman, berkontak erat dengan manusia, serta berpotensi menularkan disease x yang bisa saja mereka bawa.

Jika hal itu terjadi, mungkinlah baru mata kita terbuka. Namun, harus seperti itukah kencangnya tamparan agar mata kita terbuka?

Meminta Maaf Kepada Bumi

Bukan bumi yang telah melewati fase sulit. Bukan hewan dan tumbuhan juga. Melainkan kita, manusia. Sayangnya, nasib buruk yang sampai saat ini masih kita emban adalah tuaian dari apa yang kita tanamkan.

Kutipan-kutipan yang dijabarkan sebelumnya baru mengulik satu aspek. Padahal, masih banyak aspek lain yang berpotensi membawa kita lebih dekat dengan disease x yang dapat menciptakan pandemi baru. Seperti mencairnya es di kutub yang diduga menimbun banyaknya spesimen virus sejak jutaan tahun silam, dan lain-lain.

Sudah selayaknya kita meminta maaf kepada bumi. Tak perlu bertanya bagaimana, karena sebagai manusia, seharusnya kita sudah tahu etika menghargai alam semesta.

Kemana orang Singapura berlibur? – Memiliki kawasan seluas 719 kilometer persegi, Singapura hanya sedikit lebih luas dari Jakarta (661 kilometer persegi). Kondisi ini membuat wilayah di Singapura cukup padat, sehingga masyarakat “Kota Singa” itu memiliki keterbatasan akses untuk hiburan.

Memang, terdapat beberapa tempat wisata kelas dunia di sana. Akan tetapi, jumlah yang terbatas tentunya membuat masyarakat Singapura cenderung mencari alternatif berlibur di luar negaranya.

Uniknya, kebiasaan berlibur orang Singapura ke luar negeri membentuk fenomena yang cukup menarik untuk diulas. Situasi tersebut membentuk segmen tersendiri yang seakan menjadi ciri khas setiap kategori dalam menentukan lokasi berlibur mereka.

1) Golongan Konglomerat dengan Umur 30 Tahun Keatas

Jamie Chua, konglomerat Singapura saat berlibur ke Jaipur, India
Jamie Chua, konglomerat Singapura saat berlibur ke Jaipur, India

Orang-orang ini akan memilih untuk berlibur ke negara-negara yang justru aneh di telinga para pelancong negara lain. India, Mesir, Switzerland, dan Afrika Selatan adalah favorit mereka.

Mengapa mereka memiliki destinasi ini? Mengapa tidak keliling Eropa atau Amerika? Jawabannya, karena mereka sudah bolak-balik ke sana saat kunjungan bisnis. Alhasil, lokasi mainstream tidak masuk ke bucket list mereka lagi.

2) Golongan Konglomerat dengan Umur 30 Tahun Kebawah

Para anak muda tajir ini lebih memilih menghabiskan waktunya untuk belanja baju di Paris, make-up di Amerika, dan berpesta di Beach Club Bali. Bali jadi destinasi favorit anak muda Singapura, karena selain pantainya yang indah, Bali juga memiliki wisata kuliner yang lezat bagi mereka.

Masakan Singapura tidak memiliki rasa yang sekuat masakan Indonesia, sehingga mereka cinta sekali dengan makanan Indonesia. Anak muda tajir melintir Singapura juga tidak pernah ketinggalan konser bergengsi macam Coachella.

3) Golongan Menengah dengan Umur 30 Tahun Keatas

Penjual di Jepang yang Melayani Turis Singapura yang Berlibur
Penjual di Jepang yang melayani turis Singapura yang berlibur

Mereka akan memilih untuk liburan di sekitar Asia Timur seperti beberapa kota di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan RRT. Agendanya biasanya berburu kuliner. Golongan ini memilih destinasi tersebut karena cenderung lebih terjangkau.

4) Golongan Menengah dengan Umur 30 Tahun Kebawah

Destinasi berlibur orang Singapura golongan bawah dengan umur di bawah 30 tahun
Destinasi berlibur orang Singapura golongan bawah dengan umur di bawah 30 tahun

Kalau anak mudanya, tentu saja lebih memilih ke tempat-tempat rekreasi seperti Disneyland Jepang dan Hongkong, atau Everland Korea Selatan. Ada juga yang sekedar berbelanja di Taiwan, bahkan main judi di Macau.

5) Golongan Bawah Semua Umur

Batam, destinasi berlibur favorit masyarakat Singapura golongan bawah
Batam, destinasi berlibur favorit masyarakat Singapura golongan bawah

Khusus golongan ini, tidak ada diferensiasi umur. Ya, seperti gambar di atas, Batam adalah destinasi utama para pelancong dengan golongan ini dalam menghabiskan waktu berlibur.

Ada beberapa alasan mengapa Batam menjadi destinasi favorit. Namun yang paling utama adalah karena jaraknya yang dekat, akses dan harga di sana juga bisa dibilang cukup murah bila dibandingkan dengan perekonomian masyarakat Singapura golongan bawah sekalipun.


Jadi, sudah tahu kan kemana orang Singapura berlibur?