MALUT-POST-TERNATE Sebagai Kota yang berpotensi terjadi bencana, pemerintah dituntut untuk selalu memperbarui peta kebencanaan. Bencana memang hampir menjadi langganan di beberapa titik, terutama di kawasan Ternate Pulau. Seperti gempa, banjir, gunung meletus, longsor, kebakaran dan bajir rob. Hal ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah Kota, terutama harus meng-update peta kebencanaan yang sudah kadaluwarsa. Peta kebencanaan yang dimiliki Pemkot saat ini sudah tidak layak pakai, karena peta tersebut terakhir diperbaruhi pada tahun 2012.

“Kawasan pemukiman penduduk di Kota Ternate terus mengalami peningkatan setiap tahunya. Karena itu, pemerintah juga harus intens memperbaruhi peta kebencanaan,” kata ketua Ikatan Ahli Geologi Indenesia IAGI (Malut) Abdul Kadir D. Arief.

Abdul Kadir menerangkan, Pemerintah Kota Ternate sudah saatnya melakukan pembaruan, titik-titik mana saja yang paling rawan terjadi bencana. Hal ini dimaksudkan agar menjadi pengetahuan dan informasi dini bagi warga setempat. Agar sebelum terjadi bencana, sudah ada langkah antisipasi dari warga untuk menyelamatkan diri. Abdul Kadir mengakhawatirkan, jangan sampai sudah ada bencana baru muncul kesadaran pemerintah, bahwa peta rawan bencana sudah tidak layak digunakan. Ini sangat fatal. Ia mengatakan, IAGI siap dilakukan sharing data potensi bencana, jika diperlukan pemerintah. Namun, sampai saat ini, tidak ada langkah peemrintah melalui instansi teknis yakni BPBD untuk membicarakan titik-titik bencana.

“Data yang IAGI sudah buat pun demi kepentingan bersama warga Kota Ternate, yang memiliki bebrapa kerawanan terhadap bencana alam,” terangnya. (tr-03/yun)

By Romario