Siapa sangka kalau negara kecil yang pernah menjajah kita itu memiliki keterampilan agraria yang lebih hebat dibanding dengan Indonesia? Pertanian modern Belanda-lah yang membuat kemampuan mereka menjadi raksasa kedua dalam pengekspor hasil tani. Dan ini bukan hanya di Eropa, melainkan seluruh dunia. Mengalahkan ratusan negara lain yang lahannya lebih luas dan tanahnya lebih subur. Bahkan, ekspor hasil pertanian Belanda mencapai nilai perkiraan 94,5 miliar Euro (1 Euro = 16 ribu rupiah) pada 2019.

Pemerintah Belanda beberapa puluh tahun silam telah paham. Lahan di negara mereka kecil, letak geografis tak bisa membuat mereka produktif di sisi pemenuhan pangan di sepanjang tahun, serta penduduk mereka tidaklah sebanyak negara lain. Kelemahan itulah yang mendorong hasrat mereka untuk memodernisasi pertanian, sehingga aktivitas agraria tak melulu mengandalkan bantuan alam secara natural.

Universitas Wageningen, Pengusung Pertanian Modern Belanda

Universitas Wageningen di Belanda
Universitas Wageningen di Belanda

Bersama Universitas Wageningen, pemerintah Belanda bersinergi untuk mempelajari pertanian dengan ilmu sains. Riset dan penelitian yang mereka lakukan juga tak tanggung-tanggung. Tak heran, banyaknya uang yang pada tahap awal digelontorkan kini terbayar lunas dengan eksisnya nama Belanda di pasar pertanian.

Di Eropa, terdapat sebuah program yang bernama subsidi pertanian. Kerennya, Belanda adalah negara dengan status penerima subsidi terendah. Dari 59 miliar Euro anggaran pertanian Uni Eropa, Belanda hanya menerima sekitar 800 juta Euro. Dan dana tersebut, hampir seluruhnya dialokasikan untuk mendanai proyek menakjubkan yang ditelurkan oleh Universitas Wageningen.

Infografik Subsidi Pertanian Belanda
Infografik Subsidi Pertanian Belanda

Pemerintah Belanda juga menerapkan sistem yang unik bagi individu petani yang menerima subsidi tersebut. Setelah menerima dana, lahan milik petani akan dicek dan diteliti lebih dulu oleh pemerintah Belanda bersama ilmuwan dari Universitas Wageningen. Kemudian, pihak ilmuwan akan mengeluarkan rekomendasi tanaman yang paling ideal ditanam di lahan tersebut. Hal itu tentunya dapat membuat kegiatan pertanian lebih ekonomis dan tepat sasaran.

Dalam programnya, Universitas Wageningen akan meneliti berapa banyak air yang dibutuhkan satu jenis tanaman. Setelahnya, mereka akan membuat formulasi khusus yang dapat membuat kegiatan pertanian menjadi lebih hemat, produktif, dan menekan angka gagal panen. Salah satunya, tanaman tomat.

Budidaya Tomat dalam Ruangan di Belanda
Budidaya Tomat dalam Ruangan di Belanda

Menanam satu kilo tomat di lahan terbuka membutuhkan 60 liter air. Sementara dengan bantuan pertanian modern Belanda, hanya 15 liter air yang dibutuhkan.

Kombinasi Otak dan Teknologi yang Merupakan Kunci Keberhasilan Pertanian Modern di Belanda

Drone dan Tablet untuk Mengawasi Lahan Pertanian di Belanda
Drone dan Tablet untuk Mengawasi Lahan Pertanian di Belanda

Dengan bantuan komputer dan robot, segala sesuatu yang mustahil menjadi mungkin di tangan Belanda. Upaya pemanfaatan potensi pertanian juga dapat berjalan dengan presisi yang optimal. Mereka mampu menentukan dengan tepat di mana, bagaimana dan efisiensi suatu tanaman dapat tumbuh secara maksimal.

Salah satunya pemanfaatan lampu LED dan penghangat ruangan. Pertanian modern di Belanda mengusung konsep pertanian di dalam ruangan. Dengan bantuan cahaya LED yang dimodifikasi agar serupa dengan cahaya matahari, serta penghangat ruangan yang intensitasnya sesuai dengan suhu sinar ultraviolet, maka produktivitas pertanian dapat berjalan sepanjang waktu. Sekalipun pada saat musim dingin.

Selain itu, adapula konsep pertanian vertikal. Dimana tanaman dibuat dengan konsep hidroponik dan disusun secara vertikal. Susunan ini tentunya akan menghemat ruang penanaman, dan sudah pasti dapat meningkatkan hasil dari kegiatan pertanian itu sendiri.

Perkenalkan, Greenbot. Traktor robot yang bukanlah merupakan benda asing lagi bagi petani Belanda. Robot akan mengikuti jalurnya pada rute yang telah diprogram. Robot jenius ini juga akan berhenti secara otomatis jika dihalangi oleh hambatan, dan petani pengelolanya akan diinformasikan melalui pesan teks.

Tak hanya pembajakan lahan, robot-robot lain pun turut berkontribusi dalam pengelolaan sistem pengairan, hingga proses pemetikan saat musim panen telah tiba.

Dan atas seluruh bantuan teknologi yang dikombinasikan dengan otak yang tak lelah mencari inovasi, pertanian di Belanda dapat menjadi besar dan seteratur itu.

Pertanian Terorganisir yang Memikirkan Pula Tentang Keseimbangan Alam

Kawasan Pertanian di Utara Belanda
Kawasan Pertanian di Utara Belanda

Banyak wilayah di Belanda yang berada di dataran rendah. Selain itu, dua sungai besar di Eropa, sungai Meuse dan Rhine, bermuara di kawasan Belanda. Praktis, negara kincir angin ini memiliki potensi diserang banjir dengan frekuensi yang lumayan bilamana terjadi hujan lebat maupun salju di negara dataran tinggi, seperti Jerman dan Belgia.

Pemerintah Belanda yang menyadari celah ini telah melakukan antisipasi sejak tiga puluh tahun silam. Selain pembangunan tata wilayah yang dimodifikasi sedemikian rupa agar tidak terlalu merusak alam, mereka juga membuat agar tanah tetap cocok untuk dihuni dan dijadikan lahan produktif oleh penduduknya.

Di musim dingin, lahan-lahan pertanian yang kosong dijadikan sebagai kawasan banjir kanal agar air dapat mengalir dan tertampung dengan baik. Dengan metode dan sikap kooperatif dari para petani yang rela lahannya dijadikan aliran air di musim dingin, Belanda tak perlu lagi repot-repot membangun tanggul raksasa untuk mengatasi potensi banjir.

Selain itu, pemisahan wilayah pertanian dan perkotaan juga dilakukan secara terukur. Kawasan pertanian pun memiliki lahan khusus untuk beberapa habitat asli seperti burung air untuk dapat tetap merasakan kehidupan yang identik dengan spesies aslinya. Bahkan, di beberapa provinsi, dibuat pula cagar alam dan suaka margasatwa yang jauh dari pemukiman manusia agar kesejahteraan hewan dapat terwujudkan.

Dilirik oleh China

Alumni Mahasiswa/i dari Negeri Tirai Bambu di Belanda
Alumni Mahasiswa/i dari Negeri Tirai Bambu di Belanda

China diketahui merupakan salah satu negara yang cukup gemar mengirimkan mahasiswanya untuk menuntut ilmu ke Belanda. Mengingat besarnya populasi di China, pemerintah China merangsang pemuda-pemudi mereka untuk belajar di Universitas Wageningen. Dengan cara ini, China berharap mendapatkan pengetahuan tentang produksi massal barang-barang pertanian dan teknologi pertanian.

Tak hanya pemuda-pemudi China, orang-orang pemerintahan di China pun demikian. Mereka terus menjaga hubungan baik dengan Belanda dengan cara melakukan kunjungan rutin dengan harapan mendapat inspirasi mengenai pertanian modern di Belanda. Dengan cara ini, China optimis dapat mencukupi kebutuhan pangan warga mereka yang menyentuh angka miliaran.


Jujur, akuilah bilamana industri agraria Indonesia kalah dari Belanda, telak. Negara kita dikenal sebagai negara agraris, namun impor bahan makanan masih saja diberlakukan di sini. Sementara Belanda, lahannya kecil dan penduduknya jauh lebih sedikit, tetapi sanggup untuk merajai pasar pertanian internasional.

Namun bukan berarti kita pun tidak bisa. Selama ada kemauan dan niat yang tinggi dalam pengembangan teknologi dan sumber daya manusia, bukan tak mungkin di masa depan Indonesia akan menyabet predikat yang sama.

Di sisi lain, pengembangan teknologi di bidang pertanian jugalah hal yang mulia. Karena bilamana sebagian besar negara di dunia mampu mengimplementasikan sistem modern ini, maka niscayalah. Kelaparan akan sirna dari atas bumi manusia.