MALUTPOST.TERNATE Komisi III DPRD Kota Ternate meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, agar aktif melakukan kegiatan monitoring ke sejumlah kawasan yang rawan terjadi bencana longsor. Hal ini disampaikan oleh wakil ketua komisi III H. Fachri Bachdar.

Sebelumnya, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Malut, telah melakukan pemetaan potensi terjadinya longsor. Pemetaan IAGI itu ditemukan potensi bencana longsor di beberapa Kecamatan yang ada di Kota Ternate. Potensi longsor ini akibat terjadinya hujan dengan intensitas tinggi.

Fahri mengatakan, dengan adanya curah hujan yang tinggi, potensi longsor pasti mengancam. Sehingga membutuhkan tindakan monitoring dan sosialisasi intens. Sosialisasi ini difokuskan pada warga di Kelurahan yang masuk dalam zona rawan. “Agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Serta sudah ada kewaspadaan dari masyarakat sekitar. Dan itu harus dilakukan oleh BPBD,” katanya (mg-03/yun)

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsdya TNI Bagus Puruhito mengatakan kapal milik TNI Angkatan Laut KRI Rigel telah menemukan sinyal darurat yang diyakini merupakan black box atau kotak hitam yang berisi data penerbangan elektronik pesawat Sriwijaya Air SJ182. Menurutnya, benda tersebut berada di sekitar di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu. Kata dia, tim akan melakukan pencarian kotak hitam itu pada Senin (11/1). Meski yang utama adalah mencari dan mengevakuasi korban dengan pengamatan permukaan, air ataupun melalui udara.“Namun untuk kepastiannya harus kita cari. Dan daerah itu memang ada di daerah lokasi jatuhnya pesawat,” jelas Bagus Puruhito kepada wartawan di Posko Utama JICT 2 Jakarta, Minggu (10/1/2021) malam.

Temuan Tim SAR gabungan yang baru diturunkan dari kapal TNI pada Minggu (10/1/2021) pagi. (Foto: VOA/Sasmito)

Temuan Tim SAR gabungan yang baru diturunkan dari kapal TNI pada Minggu (10/1/2021) pagi. (Foto: VOA/Sasmito)

Bagus Puruhito menambahkan tim gabungan telah menemukan 10 kantong serpihan pesawat dan belasan bagian besar pesawat, serta 10 kantong yang berisi bagian tubuh korban dan pakaian. Bagian tubuh dan properti korban seperti baju nantinya akan diserahkan dan diidentifikasi Tim DVI Polri untuk mengetahui identitas korban. Sedangkan untuk bagian pesawat akan diserahkan ke KNKT untuk diselidiki.

Keluarga Diminta Bantu Percepat Proses Identifikasi

Juru bicara Polda Metro Jaya Yusri Yunus berharap keluarga korban dapat mendatangi Tim DVI Polri untuk mempercepat proses identifikasi.

“Kami mengharapkan saudara terdekat datang ke posko. Misal bapaknya untuk tes DNA guna memastikan body part tersebut punya siapa. Juga membawa rekam jejak kesehatan, misalnya pernah berobat gigi atau ada tato di mana,” jelas Yusri Yunus di Posko Utama JICT 2, Minggu (10/1) pagi.

Yusri menambahkan posko DVI di JICT 2 berfungsi untuk mengidentifikasi awal barang atau bagian tubuh korban yang ditemukan. Setelah dipilah akan dimasukkan ke dalam kantong untuk dikirimkan ke tim DVI di RS Kramat Jati Polri.

Keluarga Berharap Temukan Korban

Srie Rahayu, warga Bekasi berharap dapat menemukan lima anggota keluarganya yang menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182. Menurutnya, sepupunya yang bernama Rizki Wahyudi merupakan PNS Taman Nasional Gunung Palung. Ia hendak membawa istri, anak, ibu dan keponakannya pindah dari Bangka ke Kalimantan Barat.

“Kita ikhlas, mungkin takdir begitu. Tapi setidaknya, kita bisa melihat ada jasad atau tanda kalau mereka memang sudah tidak ada atau meninggal,” jelas Srie Rahayu kepada VOA, Minggu (10/1).

Penumpang pesawat Rizki Wahyudi Sriwijaya Air SJ182 bersama istrinya. (Foto: dokumentasi Srie Rahayu)

Penumpang pesawat Rizki Wahyudi Sriwijaya Air SJ182 bersama istrinya. (Foto: dokumentasi Srie Rahayu)

Srie Rahayu menuturkan mengetahui informasi jatuhnya pesawat dari berita. Ia kemudian mengecek informasi tersebut ke bandara pada Sabtu (9/1) malam hingga kemudian mengetahui keluarganya terbang menggunakan pesawat Sriwijaya Air.

Menurutnya, Rizki bersama keluarga sebenarnya bisa terbang secara langsung dari Pangkalpinang, Bangka ke Ketapang, Kalimantan Barat. Namun, mereka memilih transit ke Jakarta terlebih dahulu karena biaya rapid test di Bangka mahal yakni sekitar Rp 2juta dibandingkan di Jakarta sekitar Rp900 ribu. [sm/em]