Antara Sumatera Timur dan Aceh — Bagi beberapa orang, konotasi negatif mengenai Aceh telah melekat. Masifnya isu separatisme mengenai daerah di ujung barat Nusantara tersebut membuat banyak asumsi yang timbul akan kesetiaannya terhadap Indonesia. Sayangnya semua itu salah.

Tujuh puluh tahunan silam, Aceh pernah menjadi benteng bagi keutuhan republik. Ketika nafas terakhir federasi Sumatera mencari dukungan dari enam belas bangsa di sana, Aceh dan Nias adalah dua bangsa yang secara tegas menunjukkan penolakan.

Terlahirnya Konsep Negara Sumatera Timur

Pada masa itu, Sumatera terbagi menjadi dua golongan, pro-republik dan pro-feodal. Pemikiran ini berasal dari Tanah Deli. Kaum pro-republik terpicu oleh semangat nasionalisme yang gencar bergelora di nusantara. Sementara kaum pro-feodal berisi para pendukung dari bangsawan Sumatera (terutama Melayu) yang tak ingin kehilangan kekuasaan mereka atas kerajaan di Sumatera.

Dalam memperjuangkan kepentingan politik itu, kaum pro-feodal menggalang dukungan dari masyarakat non-pribumi. Mereka membuka jalur kemudahan kepada para pekerja India, saudagar Tionghoa, dan kaum kolonial Belanda. Bahkan Belanda amat senang dengan niatan para sultan membentuk negara pro-Belanda ini dan menjadi sponsor di balik gerakan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kaum pro-republik justru semakin menguat. Menguatnya dukungan masyarakat ke kaum pro-republik pun membuat pro-feodal berusaha berkompromi dan mencari jalan keluar. Alhasil, tercetuslah konsep federasi Sumatera, dimana agar negara Sumatera menjadi negara federasi di dalam Indonesia. Dengan konsep ini, Sultan Melayu diharapkan memiliki integritasnya tersendiri sekalipun Indonesia telah berdiri kokoh.

Daud Bereuh, Pahlawan Keutuhan Indonesia dari Sumatera yang Jarang Dibahas

Daud Bereuh, tokoh Aceh yang Menolak Negara Sumatera Timur

Tengku Mansoer, bangsawan Melayu Sumatera Timur yang berperan menggawangi inisiasi ini berniat menyelenggarakan Muktamar Sumatera sebagai momentum deklarasi federasi Sumatera. Ia mengundang enam belas bangsa besar di Sumatera, termasuk Daud Bereuh yang saat itu memimpin Aceh.

Sungguh bijaksana Daud Bereuh yang menolak undangan tersebut, bahkan mengecamnya. Daud juga menyebutkan bahwa konsep federasi hanyalah rekaan Belanda untuk menancapkan tentakelnya di nusantara. Lewat suratnya, Daud Beureueh menyatakan dengan tegas;

Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada, sebab itu kita tidak bermaksud untuk membentuk suatu Aceh Raya dan lain-lain karena kita di sini adalah Republiken. Sebab itu juga, undangan dari wali negara Sumatera Timur itu kita pandang sebagai tidak ada saja, dan karena itulah tidak kita balas.

Di Aceh tidak terdapat salah paham sebagaimana diterangkan oleh Belanda itu, bahkan kita mengerti betul apa yang dimaksud oleh Belanda itu dengan Muktamar Sumateranya. Maksud Belanda ialah hendak mendiktekan kepada dr. Mansoer supaya menjalankan politik devide et impera-nya lagi. Sebab itu kita menolak adanya Muktamar Sumatera tersebut dan kita sendiri telah siap menanti segala kemungkinan yang bakal timbul dari sikap penolakan kita itu.

Kita yakin bahwa mereka yang menerima baik undangan dr. Mansoer tersebut, bukanlah orang Republiken. Tetapi mereka itu adalah kaki tangan dan budak kolonialisme Belanda yang selama ini sudah diberi makan roti.

Kesetiaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah RI di Jakarta bukan dibuat-buat serta diada-adakan, tetapi kesetiaan yang tulus dan ikhlas yang keluar dari lubuk hati nurani dengan perhitungan dan perkiraan yang pasti. Rakyat Aceh tahu pasti bahwa kemerdekaan secara terpisah-pisah, daerah perdaerah, negara pernegara, tidak akan menguntungkan dan tidak akan membawa kepada kemerdekaan yang abadi.

Alasan Aceh Menolak Federasi Sumatera

Selain melihat ini sebagai akal-akalan Belanda, Aceh juga menunjukkan loyalitas untuk republik tatkala beberapa bangsa Sumatera lain masih ragu-ragu. Selain itu bangsa Aceh tidak pernah menganggap Sumatera sebagai satu kesatuan hingga didambakan adanya federalisme khusus Sumatera

Bagi orang Aceh, bangsa-bangsa Sumatera, seperti Lampung, Minang, maupun Palembang itu setara dengan bangsa-bangsa non-Sumatera. Tidak pernah ada ikatan khusus antara (misalnya) Aceh dan Palembang hanya karena keduanya sama-sama berasal dari Sumatera. Dari sini bangsa Aceh memandang federasi Sumatera adalah ide yang mengada-ada.

Sepemahaman dengan Aceh, Nias Menolak Pula Usulan Tersebut

Penolakan Nias akan Negara Sumatera Timur

Ternyata tak hanya Aceh. Dari enam belas bangsa di Sumatera kala itu, Nias pun menyatakan ketidaksetujuannya dengan wacana tersebut. Hal itu diungkapkan pemimpin Nias ketika utusan Tengku Mansoer datang ke Gunungsitoli.

Muktamar Sumatera itu sendiri sebenarnya tidak sukses. Sebagian besar tokoh undangan yang menyanggupi hadir sejatinya bukan para tokoh yang memiliki pengaruh besar di suku masing-masing. Sehingga Muktamar Sumatera ditutup dengan hasil yang sangat tidak memuaskan.

Berakhirnya Mimpi Federasi Sumatera Timur

Kemenangan pro-republik akhirnya menjadi pemenang antara pemikiran Sumatera Timur dan Aceh. Seiring berjalannya waktu, tokoh-tokoh penting setiap bangsa di Sumatera mulai berganti haluan menjadi pro-republik. Mayoritas tokoh Sumatera pada saat itu menyadari bahwa primordialisme bukanlah kunci dari keberhasilan kemerdekaan.

Selain itu, kekuatan pihak pro-republik terlampau besar untuk dihadapi kaum pro-feodal, baik dari aspek militer maupun dari aspek diplomasi internasional. Mimpi Negara Sumatera Timur luluh beberapa bulan kemudian, tatkala Negara Kesatuan Republik Indonesia diakui Belanda pada 27 December 1949. Hingga kemudian, entitas itu bubar pada tanggal 15 Agustus 1950.

Siapa sangka kalau negara kecil yang pernah menjajah kita itu memiliki keterampilan agraria yang lebih hebat dibanding dengan Indonesia? Pertanian modern Belanda-lah yang membuat kemampuan mereka menjadi raksasa kedua dalam pengekspor hasil tani. Dan ini bukan hanya di Eropa, melainkan seluruh dunia. Mengalahkan ratusan negara lain yang lahannya lebih luas dan tanahnya lebih subur. Bahkan, ekspor hasil pertanian Belanda mencapai nilai perkiraan 94,5 miliar Euro (1 Euro = 16 ribu rupiah) pada 2019.

Pemerintah Belanda beberapa puluh tahun silam telah paham. Lahan di negara mereka kecil, letak geografis tak bisa membuat mereka produktif di sisi pemenuhan pangan di sepanjang tahun, serta penduduk mereka tidaklah sebanyak negara lain. Kelemahan itulah yang mendorong hasrat mereka untuk memodernisasi pertanian, sehingga aktivitas agraria tak melulu mengandalkan bantuan alam secara natural.

Universitas Wageningen, Pengusung Pertanian Modern Belanda

Universitas Wageningen di Belanda
Universitas Wageningen di Belanda

Bersama Universitas Wageningen, pemerintah Belanda bersinergi untuk mempelajari pertanian dengan ilmu sains. Riset dan penelitian yang mereka lakukan juga tak tanggung-tanggung. Tak heran, banyaknya uang yang pada tahap awal digelontorkan kini terbayar lunas dengan eksisnya nama Belanda di pasar pertanian.

Di Eropa, terdapat sebuah program yang bernama subsidi pertanian. Kerennya, Belanda adalah negara dengan status penerima subsidi terendah. Dari 59 miliar Euro anggaran pertanian Uni Eropa, Belanda hanya menerima sekitar 800 juta Euro. Dan dana tersebut, hampir seluruhnya dialokasikan untuk mendanai proyek menakjubkan yang ditelurkan oleh Universitas Wageningen.

Infografik Subsidi Pertanian Belanda
Infografik Subsidi Pertanian Belanda

Pemerintah Belanda juga menerapkan sistem yang unik bagi individu petani yang menerima subsidi tersebut. Setelah menerima dana, lahan milik petani akan dicek dan diteliti lebih dulu oleh pemerintah Belanda bersama ilmuwan dari Universitas Wageningen. Kemudian, pihak ilmuwan akan mengeluarkan rekomendasi tanaman yang paling ideal ditanam di lahan tersebut. Hal itu tentunya dapat membuat kegiatan pertanian lebih ekonomis dan tepat sasaran.

Dalam programnya, Universitas Wageningen akan meneliti berapa banyak air yang dibutuhkan satu jenis tanaman. Setelahnya, mereka akan membuat formulasi khusus yang dapat membuat kegiatan pertanian menjadi lebih hemat, produktif, dan menekan angka gagal panen. Salah satunya, tanaman tomat.

Budidaya Tomat dalam Ruangan di Belanda
Budidaya Tomat dalam Ruangan di Belanda

Menanam satu kilo tomat di lahan terbuka membutuhkan 60 liter air. Sementara dengan bantuan pertanian modern Belanda, hanya 15 liter air yang dibutuhkan.

Kombinasi Otak dan Teknologi yang Merupakan Kunci Keberhasilan Pertanian Modern di Belanda

Drone dan Tablet untuk Mengawasi Lahan Pertanian di Belanda
Drone dan Tablet untuk Mengawasi Lahan Pertanian di Belanda

Dengan bantuan komputer dan robot, segala sesuatu yang mustahil menjadi mungkin di tangan Belanda. Upaya pemanfaatan potensi pertanian juga dapat berjalan dengan presisi yang optimal. Mereka mampu menentukan dengan tepat di mana, bagaimana dan efisiensi suatu tanaman dapat tumbuh secara maksimal.

Salah satunya pemanfaatan lampu LED dan penghangat ruangan. Pertanian modern di Belanda mengusung konsep pertanian di dalam ruangan. Dengan bantuan cahaya LED yang dimodifikasi agar serupa dengan cahaya matahari, serta penghangat ruangan yang intensitasnya sesuai dengan suhu sinar ultraviolet, maka produktivitas pertanian dapat berjalan sepanjang waktu. Sekalipun pada saat musim dingin.

Selain itu, adapula konsep pertanian vertikal. Dimana tanaman dibuat dengan konsep hidroponik dan disusun secara vertikal. Susunan ini tentunya akan menghemat ruang penanaman, dan sudah pasti dapat meningkatkan hasil dari kegiatan pertanian itu sendiri.

Perkenalkan, Greenbot. Traktor robot yang bukanlah merupakan benda asing lagi bagi petani Belanda. Robot akan mengikuti jalurnya pada rute yang telah diprogram. Robot jenius ini juga akan berhenti secara otomatis jika dihalangi oleh hambatan, dan petani pengelolanya akan diinformasikan melalui pesan teks.

Tak hanya pembajakan lahan, robot-robot lain pun turut berkontribusi dalam pengelolaan sistem pengairan, hingga proses pemetikan saat musim panen telah tiba.

Dan atas seluruh bantuan teknologi yang dikombinasikan dengan otak yang tak lelah mencari inovasi, pertanian di Belanda dapat menjadi besar dan seteratur itu.

Pertanian Terorganisir yang Memikirkan Pula Tentang Keseimbangan Alam

Kawasan Pertanian di Utara Belanda
Kawasan Pertanian di Utara Belanda

Banyak wilayah di Belanda yang berada di dataran rendah. Selain itu, dua sungai besar di Eropa, sungai Meuse dan Rhine, bermuara di kawasan Belanda. Praktis, negara kincir angin ini memiliki potensi diserang banjir dengan frekuensi yang lumayan bilamana terjadi hujan lebat maupun salju di negara dataran tinggi, seperti Jerman dan Belgia.

Pemerintah Belanda yang menyadari celah ini telah melakukan antisipasi sejak tiga puluh tahun silam. Selain pembangunan tata wilayah yang dimodifikasi sedemikian rupa agar tidak terlalu merusak alam, mereka juga membuat agar tanah tetap cocok untuk dihuni dan dijadikan lahan produktif oleh penduduknya.

Di musim dingin, lahan-lahan pertanian yang kosong dijadikan sebagai kawasan banjir kanal agar air dapat mengalir dan tertampung dengan baik. Dengan metode dan sikap kooperatif dari para petani yang rela lahannya dijadikan aliran air di musim dingin, Belanda tak perlu lagi repot-repot membangun tanggul raksasa untuk mengatasi potensi banjir.

Selain itu, pemisahan wilayah pertanian dan perkotaan juga dilakukan secara terukur. Kawasan pertanian pun memiliki lahan khusus untuk beberapa habitat asli seperti burung air untuk dapat tetap merasakan kehidupan yang identik dengan spesies aslinya. Bahkan, di beberapa provinsi, dibuat pula cagar alam dan suaka margasatwa yang jauh dari pemukiman manusia agar kesejahteraan hewan dapat terwujudkan.

Dilirik oleh China

Alumni Mahasiswa/i dari Negeri Tirai Bambu di Belanda
Alumni Mahasiswa/i dari Negeri Tirai Bambu di Belanda

China diketahui merupakan salah satu negara yang cukup gemar mengirimkan mahasiswanya untuk menuntut ilmu ke Belanda. Mengingat besarnya populasi di China, pemerintah China merangsang pemuda-pemudi mereka untuk belajar di Universitas Wageningen. Dengan cara ini, China berharap mendapatkan pengetahuan tentang produksi massal barang-barang pertanian dan teknologi pertanian.

Tak hanya pemuda-pemudi China, orang-orang pemerintahan di China pun demikian. Mereka terus menjaga hubungan baik dengan Belanda dengan cara melakukan kunjungan rutin dengan harapan mendapat inspirasi mengenai pertanian modern di Belanda. Dengan cara ini, China optimis dapat mencukupi kebutuhan pangan warga mereka yang menyentuh angka miliaran.


Jujur, akuilah bilamana industri agraria Indonesia kalah dari Belanda, telak. Negara kita dikenal sebagai negara agraris, namun impor bahan makanan masih saja diberlakukan di sini. Sementara Belanda, lahannya kecil dan penduduknya jauh lebih sedikit, tetapi sanggup untuk merajai pasar pertanian internasional.

Namun bukan berarti kita pun tidak bisa. Selama ada kemauan dan niat yang tinggi dalam pengembangan teknologi dan sumber daya manusia, bukan tak mungkin di masa depan Indonesia akan menyabet predikat yang sama.

Di sisi lain, pengembangan teknologi di bidang pertanian jugalah hal yang mulia. Karena bilamana sebagian besar negara di dunia mampu mengimplementasikan sistem modern ini, maka niscayalah. Kelaparan akan sirna dari atas bumi manusia.