Jumlah korban tewas akibat tanah longsor di wilayah timur Indonesia telah meningkat menjadi 126 sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang, menurut keterangan sejumlah pejabat, Rabu (7/4), sebagaimana dikutip kantor berita Associated Press. Sementara itu, hujan terus mengguyur wilayah itu sehingga menghambat upaya pencarian.

Kabupaten Flores Timur di pulau Adonara, sejauh ini, mencatat jumlah korban tewas tertinggi dengan 67 mayat ditemukan sementara enam orang lainnya masih dinyatakan hilang. Puluhan orang tewas akibat terendam banjir lumpur dari bukit-bukit sekitarnya Minggu pagi, saat mereka masih terlelap tidur. Beberapa lainnya tersapu banjir bandang setelah hujan semalaman menyebabkan sungai-sungai meluap.

Banjir bandang di Lembata, Flores Timur, puluhan orang hilang, lebih dari 70 orang tewas, 5 April 2021. (Foto: dok).

Banjir bandang di Lembata, Flores Timur, puluhan orang hilang, lebih dari 70 orang tewas, 5 April 2021. (Foto: dok).

Di pulau Lembata di dekatnya, hujan lebat yang dipicu oleh Topan Tropis Seroja membuat lava yang membeku dari letusan gunung berapi November lalu jatuh menenggelamkan belasan desa di dekatnya. Sedikitnya 28 tewas dan 44 lainnya belum ditemukan di pulau itu, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Ratusan polisi, tentara, dan warga setempat menggali puing-puing dengan tangan kosong, sekop, dan cangkul untuk mencari mereka yang terkubur. Pada hari Selasa, banyak orang meratap ketika mereka menyaksikan tim penyelamat mengeluarkan sesosok tubuh berlumur lumpur, meletakkannya di atas tandu bambu dan membawanya untuk dimakamkan.

Secara keseluruhan, tanah longsor dan banjir telah menewaskan sedikitnya 126 orang di beberapa pulau di Indonesia serta 27 orang di negara tetangga, Timor Leste. Ribuan rumah rusak dan ribuan orang mengungsi akibat cuaca buruk yang diperkirakan akan berlanjut hingga setidaknya Jumat saat badai bergerak ke selatan menuju Australia.

Upaya penyelamatan terhambat oleh hujan dan keterpencilan daerah-daerah yang dilanda bencana, di mana jalan-jalan dan jembatan-jembatan rusak di banyak tempat.

Tim penyelamat dengan sejumlah ekskavator dan berton-ton makanan dan obat-obatan dikerahkan dari Makassar, tetapi terhalang oleh kurangnya transportasi laut. Kepala BNPB Doni Monardo meminta sektor swasta mendukung upaya pengiriman bantuan.

Tiga helikopter mulai mencapai daerah-daerah terpencil di pulau-pulau itu pada hari Selasa, dan Presiden Joko Widodo mengadakan rapat Kabinet di Jakarta untuk mempercepat operasi tersebut.

Juru bicara BNPB Raditya Jati mengatakan tiga helikopter lagi dengan persediaan bantuan dan personel penyelamat tiba Rabu, dan sebuah kapal rumah sakit yang membawa lebih banyak barang diharapkan tiba pada Jumat untuk membantu klinik-klinik kesehatan yang kewalahan menangani korban. [ab/uh]

Kota Kupang masih gelap-gulita hingga Senin (5/4) malam karena angin kencang, yang dipicu siklon tropis Seroja, merobohkan jaringan kabel listrik di Ibu Kota Provinsi NTT itu. Pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang terbatas juga mengakibatkan warga tidak bisa menyalakan genset.

“Listrik sampai sekarang betul-betul belum bisa diharapkan karena semua kabel baik dari rumah maupun kabel-kabel utama itu semua putus. Dan kabel utama itu banyak yang sampai di tanah. Tiang-tiangnya miring, roboh,” kata Arifin, seorang warga Kota Kupang kepada VOA.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus melakukan pemulihan kelistrikan terdampak badai siklon tropis Seroja di NTT. Hingga Senin (5/4) pukul 24.00 WITA, PLN telah berhasil memulihkan 359 gardu listrik yang sebelumnya terdampak badai. (Foto: Courtesy/PT PLN

 

Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus melakukan pemulihan kelistrikan terdampak badai siklon tropis Seroja di NTT. Hingga Senin (5/4) pukul 24.00 WITA, PLN telah berhasil memulihkan 359 gardu listrik yang sebelumnya terdampak badai. (Foto: Courtesy/PT PLN

Pria berusia 53 tahun itu mengatakan warga juga kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) untuk menyalahkan genset karena seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kota itu tidak beroperasi. Pasar-pasar dan toko-toko yang tutup juga menyebabkan warga kesulitan mendapatkan kebutuhan sehari-hari.

Selain merobohkan jaringan kabel listrik, Arifin mengatakan, angin kencang juga menumbangkan pohon-pohon dan merusak rumah-rumah. Banyak rumah yang kehilangan bagian atap karena terbawa angin.

Siklon Seroja

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melaporkan dua bibit siklon tropis yang berpotensi membawa curah hujan lebat dan angin kencang di wilayah NTT pada 3 – 9 April 2021.

Koordinator Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agie Wandala Putra, menjelaskan pada Senin (5/4) pagi, siklon tropis Seroja yang berkecepatan hingga 75 kilometer per jam, bergerak meninggalkan wilayah NTT.

“Seperti kita catat tadi bahwa siklon tropis Seroja semakin meninggalkan Indonesia. Namun ke depan kita tetap perlu mewaspadai akan dampak tidak langsungnya karena BMKG memprediksi potensi hujan lebat akibat siklon tropis Seroja ini bisa muncul di beberapa kawasan akibat dampak tidak langsung,” ujar Agie.

Agie mengatakan hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi hingga di atas tiga meter akibat dampak tidak langsung siklon tropis Seroja berpeluang terjadi di NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali dan Pulau Jawa.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, menginformasikan hingga pukul 14.00 WIB, Selasa( 6/4) terdapat 10 kabupaten dan satu kota di Nusa Tenggara Timur yang terdampak siklon tropis Seroja, yaitu Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Malaka Tengah, Lembata, Ngada, Alor, Sumba Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Ende dan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

“Dari 11 kabupaten dan kota yang terdampak ini hasil dari pendataan kami saat ini adalah 84 jiwa meninggal dunia. Jadi kesepakatan kemarin adalah yang dinyatakan sudah meninggal dunia yang telah ditemukan jenazahnya dan telah diverifikasi. sekali lagi ini data sangat dinamis dan akan selalu kami update,” papar Raditya Jati dalam konferensi pers secara daring, Selasa (6/4).

Perincian korban meninggal, yaitu 49 meninggal di Kabupaten Flores Timur, 16 di Kabupaten Lembata, satu di Kabupaten Ende, 2 di Kabupaten Malaka, satu di Kota Kupang dan 15 di Kabupaten Alor.

Data BNPB mengenai dampak siklon tropis Seroja di NTT. (Foto: Courtesy/BNPB)

 

Data BNPB mengenai dampak siklon tropis Seroja di NTT. (Foto: Courtesy/BNPB)

Bantuan untuk Anak

Save the Children Indonesia dalam siaran pers yang diterima VOA mengatakan penanganan dampak bencana cuaca ekstrem di NTT perlu berfokus pada kelompok rentan termasuk, anak-anak yang terpaksa tetap bertahan di rumah mereka yang rusak karena sulit mendapat tempat yang lebih aman.

Dewi Sri Sumanah, Media and Brand Manager Save the Children Indonesia, mengatakan bantuan kebutuhan dasar untuk anak-anak penyintas bencana di provinsi itu harus disegerakan agar mereka tidak menjadi korban karena sakit dan hal-hal lainnya.

Untuk tahap awal, Save the Children Indonesia akan mendistribusikan 100 paket perlengkapan hunian, 100 paket kebersihan, dan 250 selimut. Selain bantuan non-pangan, Save the Children Indonesia juga memberikan layanan dukungan psikososial untuk anak-anak yang terdampak. [yl/ft]

VOA — Pemerintah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menyatakan setidaknya 20 meninggal dunia akibat peristiwa banjir bandang yang melanda 14 desa di kecamatan Ile Ape dan kecamatan Ile Ape Timur, Minggu, 4 April 2021.

Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday kepada VOA, Senin (5/4), mengatakan banjir bandang itu terjadi sekitar pukul 03.00 WITA di saat warga umumnya sudah tertidur di rumah mereka.

“Jadi batu-batu yang ada di gunung itu terbawa semua sampai ke kampung-kampung dan ke pantai. Jadi rumah-rumah warga yang terkena banjir, batu-batu, pohon yang tumbang itu terbawa semua ke pantai, ke laut termasuk orang-orangnya. Nah banyak penduduk yang diperkirakan tertimbun di material longsoran dan banyak juga yang kemungkinan hanyut ke laut,” jelas Thomas Ola Langoday ketika dihubungi dari Palu.

Rumah-rumah yang rusak terlihat di daerah yang terkena banjir bandang setelah hujan lebat di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 4 April 2021. (Foto: Antara/Dok BPBD Flores Timur via REUTERS)

 

Rumah-rumah yang rusak terlihat di daerah yang terkena banjir bandang setelah hujan lebat di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 4 April 2021. (Foto: Antara/Dok BPBD Flores Timur via REUTERS)

Menurutnya, hingga saat ini masih ada 68 warga yang hilang dan masih dalam pencarian. Dijelaskannya cuaca buruk menyulitkan upaya pencarian warga yang terseret ke laut dalam banjir bandang itu. “Sampai siang hari ini masih dilakukan pencarian tetapi ombak besar sekali, jadi kita tidak bisa mencari di laut. Ketinggian ombak bisa dua meter,” kata Thomas.

Untuk warga yang luka-luka akibat banjir bandang sudah dirawat tiga puskesmas dan satu rumah sakit. 40 orang dirawat di puskesmas Lewoleba, enam orang di puskesmas Waikupang, dan 40 lainnya lagi di rawat di sejumlah rumah sakit.

Thomas menjelaskan jumlah pengungsi saat ini yang terdata berjumlah sekitar 332 jiwa, mereka sangat membutuhkan makanan, pakaian, obat-obatan, bantuan medis, pembalut, masker dan air minum.

Selain Kabupaten Lembata, BNPB dalam siaran pers hari, Senin (5/4), melaporkan bencana banjir juga terjadi di Kabupaten Sumba Timur, NTT pada Minggu (4/4), pukul 10.00 WITA. Meluapnya sungai akibat hujan intensitas tinggi selama beberapa hari ini telah merendam empat kecamatan, yaitu Kecamatan Kambera, Pandawai, Karera dan Wulawujelu.

BPBD Kabupaten Sumba Timur menginformasikan sebanyak 54 kepala keluarga (KK) atau 165 jiwa mengungsi, sedangkan 109 KK atau 475 KK terdampak.

Sementara angin kencang, longsor, banjir rob dan gelombang pasang di Kota Kupang, NTT, menimbulkan dampak pada 743 KK atau 2.190 warga. Sedikitnya 10 rumah warga mengalami rusak sedang dan 15 titik akses jalan tertutup pohon tumbang.

BPBD Kota Kupang bersama dinas terkait lain telah melakukan upaya penanganan darurat di lokasi bencana.

BNPB juga menerima laporan terjadinya bencana di Kabupaten Malaka Tengah dan Ngada. Angin kencang terjadi di dua kecamatan di Kabupaten Ngada. Desa terdampak, yaitu di Kelurahan Kisantara, Lebijaga, Bajawa, Tanalodu (Kecamatan Bajawa) dan Kelurahan (Riung).

Warga melihat kerusakan di desa yang dilanda banjir bandang di Flores Timur, Minggu, 4 April 2021. (Foto: AP)

 

Warga melihat kerusakan di desa yang dilanda banjir bandang di Flores Timur, Minggu, 4 April 2021. (Foto: AP)

Dampak dari insiden angin kencang terdiri enam KK terdampak dan satu luka berat. Sedangkan kerugian berupa rumah rusak sedang dua unit dan rusak berat empat unit, gedung pengadilan rusak sedang satu unit, kapal tenggelam satu unit dan enam titik ruas jalan tertutup pohon tumbang.

Raditya Jati Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam siaran pers secara daring, Senin (5/4) sore, melaporkan jumlah korban tewas dampak bencana di NTT telah mencapai 68 orang. Sebanyak 44 korban meninggal berada di Kabupaten Flores Timur, 11 di Kabupaten Lembata, dua di Kabupaten Ende dan 11 korban meninggal di Kabupaten Alor. [yl/em]

Banjir bandang yang menerjang dua desa di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (4/4) pukul 01.00 WIT, mengakibatkan 23 orang tewas, sembilan orang luka-luka dan dua orang masih dalam pencarian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur melaporkan banjir bandang itu dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam situs webnya, Minggu (4/4), melaporkan peristiwa naas itu berdampak pada 49 kepala keluarga (KK) di Desa Lamanele di Kecamatan Ile Boleng dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur.

Menurut laporan BPBD Flores Timur, banjir bandang tersebut juga mengakibatkan rumah warga sekitar hanyut terbawa banjir, jembatan putus dan puluhan rumah di Desa Lamanele, tertimbun lumpur. BPBD mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi kendala di lapangan, yaitu sulitnya menjangkau Pulau Adora karena akses satu-satunya adalah melalui penyeberangan laut. Padahal otoritas setempat melarang kegiatan pelayaran saat ini karena faktor cuaca, yaitu hujan, angin dan gelombang yang tinggi.

Sementara itu, BMKG memprediksi dalam sepekan ke depan potensi hujan sangat lebat terjadi di wilayah Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan NTT. Potensi angin kencang juga diprediksi terjadi di wilayah Lampung, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, NTT dan Sulawesi Selatan. [ah]

MALUTPOST.TERNATE – Wilayah Maluku Utara diapit oleh tiga lempeng tektonik yakni Eurasia, Pasifik dan Australia. Membuat gempa bumi mudah saja terjadi. Badan meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Geofisika pun sudah mengeluarkan pemodelan ancaman gempa, dengan kekuatan 8,1 Skala Richter (SR) dan ancaman tsunami mencapai 8 meter.

Hal ini disampaikan oleh kepala BMKG stasiun Geofisika Andri Wijaya Bidang. Menurutnya pentingnya melakukan mitigasi terhadap masyarakat tentang kebencanaan. Sebab di wilayah Maluku Utara sangat rentan. Dari hasil pemodelan ini pun BMKG sudah mengadakan pertemuan, dengan megundang semua stakeholder yang terlibat. Mulai dari pemerintah dan DPRD untuk membahas langkah mitigasi.

Andri menambahkan, untuk Kota Ternate ada empat Kelurahan terdiri dari Kastela, Jambula, Sasa dan Gambesi juga sangat beresiko apabila terjadi gempa, dengan hasil pemodelan 1,8 SR, sebab akan menimbulkan gelombang tsunami mencapai 8 meter.

Menurutnya, hal ini perlu disampaikan, sebab di Kelurahan Kastela dan Jambula terdapat aset pemerintah yakni PLTU dan Pertamina. Menurutnya, ini menjadi ancaman dan harus ada langkah mitigasi. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah yakni perlu adanya regulasi atau peraturan Wali Kota tentang gempa dan tsunami, menyediakan jalur evakuasi tsunami, papan informasi, melakukan sosialisasi dan edukasi di tingkat sekolah maupun masyarakat, menyangkut dengan bencana tsunami. Yang paling penting adalah penyediaan Tsunami Early Warning Sistem (TEWS).

“Perlu adanya alat pendeteksi dini terkait dengan ancaman tsunami,” sebutnya.

Sementara menanggapi hal tersebut, anggota DPRD komisi III Junaidi A. Baharudin mengatakan, ada enam jenis bencana yang rentan terjadi di Kota Ternate meliputi tsunami, banjir, longsor, gunung meletus, dan gempa bumi. Menurutnya, pemerintah daerah harus melihat ancaman ini secara serius agar bisa di bentuk sebuah regulasi. Sebab sebagai negara kepulauan dans esuai hasil riset BMKG, menunjukkan adanya potensi gempa dan tsunami, tugas pemerintah yakni melakukan pencegahan.

“Cara mendeteksi secara dini, serta melakukan rekayasa ketika bencana itu terjadi,” terangnya.

Junaidi menambahkan, deteksi dini yang diamksud yakni dengan menyiapkan sejumlah penunjuk arah atau jalur evakuasi, dan sirine yang ditempatkan kedalam laut pantai yang dihubungkan langsung dengan alat yang berada di BPBD maupun BMKG secara otomatis agar bisa memberikan kode. Serta rekayasa yang di maksud sejauh mana pemerintah menyiapkan sarana dan prasarana yang bisa membantu masyarakat ketika bencana itu terjadi seperti talud sehingga mampu menahan terjangan air laut. Menurutnya langkah mitigasi kepada masyarakat harus lebih ditingkatkan.

Baik itu berupa sosialisasi sehingga terciptanya masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Jalur evakuasi juga perlu adanya perbaikan mulai dari Kecamatan Ternate Selatan, dan Barat. Titik kumpulnya harus diperjelas sehingga memudahkan masyarakat.

“Hal ini agar perlu dperhatikan, agar masyarakat bisa melindungi diri ketika terjadi gempa,” tutupnya. (mg-03/yun)

Tanah longsor terjadi di lokasi tambang ilegal di Desa Burangga, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Rabu (24/2). Bencana tersebut menewaskan tiga penambang. Lima penambang lainnya masih dalam pencarian dan 15 penambang lainnya dilaporkan selamat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam ketarangan di situs webnya, Kamis (25/2), menyebutkan tanah longsor terjadi pada Rabu (24/2), pukul 18.30 WITA. Longsor dipicu salah satunya oleh intensitas hujan tinggi dan struktur tanah yang labil di lokasi penambangan. Hujan mengguyur desa tersebut sejak pukul 17.00 WITA dan sekitar pukul 17.30 WITA longsor mulai terjadi karena air dari talang mengalir menuju lubang galian. Saat kejadian ada sekitar 100 orang yang sedang melakukan penambangan di lokasi itu.

Penambang emas ilegal tersebut tertimbun tanah tumpukan material yang berada pada sudut galian yang terjal dengan ketinggian material mencapai sekitar 20 meter. Diperkirakan sekitar 30 orang tidak bisa menghindar dan terjatuh saat akan menyelamatkan diri. Hingga malam tadi belum dapat dievakuasi karena galian lubang yang cukup dalam.

BPBD Kabupaten Parigi Moutong telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulteng, Basarnas, TNI, Polri, Dinas Sosial Provinsi Sulteng, PMI Kabupaten Parigi Moutong dan aparat desa setempat untuk melakukan evakuasi dan pendataan. Alat berat dikerahkan untuk mempercepat proses evakuasi. [ah/ft]

BPBD Belum Pastikan Kerugian. Warning Warga Di Pesisir

MALUTPOST.TERNATE – Sebanyak lima kelurahan di Kota Ternate, mengalami kerusakan akibat peristiwa Gelombang besar yang menghantam pesisir Kota Ternate, Sabtu akhir pekan kemarin. Kelima kelurahan itu adalah, Kelurahan Bido Kecamatan Pulang Batang Dua, Kelurahan Loto dan Sulamadaha Kecamatan Ternate barat, Kelurahan Dufa Dufa Kecamatan Ternate Utara dan Kelurahan Togolobe di Kecamatan Pulau Hiri. Kelima kelurahan ini, rata-rata mengalami dampak abrasi. Akibatnya, talud penahan ombak patah karena terhantam ombak. Di Batang Dua, dilaporkan tiga rumah rusak, namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Karena pemilik rumah memilih cepat mengungsi ke daerah yang aman.

Tim Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Ternate turun langsung memantau lokasi terdampak abrasi tersebut. Hanya saja, karena kendala cuaca, pihaknya belum mampu memastikan detail kerusakan terjadi. “Belum ada laporan korban jiwa. Hanya di Batang Dua, tiga rumah sengaja ditinggalkan pemiliknya, guna menghindari hantaman ombak. Tapi rumahnya tidak rusak, mereka hanya mencari tempat yang lebih aman,” aku Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate M. Arif Gani.

Di Sulamadaha danLoto juga di laporkan adanya kerusakan talud. Bahkan pusat wisata Sulamdaha, yang baru diresmikan mantan Wali Kota Burhan Abdurrahman, saat ini terbengkalai. Sebagian Gazebo yang di bangun tepat di atas talud dicabut petugas dibantu warga untuk diamankan. Sementara beberapa ruas Talud hancur. Bahkan ombak menembus ke lantai pafing dan memporak porandakan kawasan sekitar. Selain lokasi utama, akses ke teluk juga putus. Menurut warga setempat, peristiwa tinggi gelombang seperti ini sangat langkah. Terakhir terjadi sekitar 20 tahun lalu.

Sedangkan di kelurahan Dufa dufa dan kelurahan Togolobe di pulau Hiri, tidak mengalami kerusakan yang signifikan. Hanya saja material yang terdapat di pantai seperti bebatuan kecil hingga sedang ikut terbawa arus ombak hingga ke dermaga dan pemukiman warga yang berada dekat dengan pantai. Di kelurahan Tafure pun demikian. Akibat ombak besar, menghantam bebatuan hingga berhamburan di jalan raya. Di titik ini cukup parah dan membuat warga di sejumlah kelurahan merasa kesulitan. Karena jalan tersebut merupakan satu-satunya jalur menuju kelurahan Tafure, Tabam, Tarau dan sejumlah kelurahan di bagian selatan menuju Ternate Barat.

“Kerugiannya kami belum pastikan. Karena terkendala cuaca. Tim belum bisa turun ke lokasi melakukan pendataan,” aku Arif.

Sembari mengatakan, jika kondisinya sudah normal. Maka pihaknya segera melengkapi data untuk disusulkan pembangunan kembali dasilitas yang rusak. Sebab ini kategori bencana alam yang pos anggarannya tersedia pada dana tak terduga. “Kita punya pos DTT senilai Rp10 miliar tahun ini. Yang sekarang juga digunakan untuk penanganan bencana non alam. Itu juga bisa di antisipasi untuk penanganan dampak bencana alam yang terjadi sekarang,” tukasnya. Sembari mengatakan, tinggi gelombang dan angin kencang di awal tahun ini merupakan badai La Nina. Sebagai mana diketahui, badai La Nina terdiri dari curah hujan, tinggi gelombang dan angin kencang yang di prediksi puncaknya pada bulan Maret hingga April mendatang.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Rizal Marsaoly menyampaikan, kerusakan yang terjadi di pusat wisata Sulamadaha kategori force majeure. Karena pembangunan fasilitas Sulamadaha sudah disertai perencanaan yang matang. Namun diluar dugaan terjadi tinggi gelombang mencapai 3 sampai 4 meter di saat air pasang. Menurutnya, tidak masalah. Karena semua gazebo masih aman. Sekitar tiga unit yang terdampak, tapi cepat diamankan ke lokasi yang aman. “Setelah kejadian ini, warga mengaku peristiwa seperti ini pernah terjadi tapi 20 tahun lalu. Ini kejadian diluar dugaan. Kami sudah antisipasi. Akan segera dilakukan perbaikan setelah cuaca ini kembali stabil,” tukasnya. (udy/mg-03/yun)

Sebuah tanggul jebol sehingga mengakibatkan beberapa desa di wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (21/2), terendam banjir dan lima rumah hanyut.

Dalam rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir tersebut terjadi mulai pukul 01.00 WIB, Minggu (21/2), dan menerjang Desa Sukaurip, Karangsegar, Bantasari dan Sumber Urip. Petugas BPBD Kabupaten Bekasi melaporkan tinggi muka air antara 100 hingga 250 cm.

Sementara itu, berdasarkan pantauan Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB, banjir juga terjadi di Kabupaten Karawang pada Sabtu (20/2), pukul 22.00 WIB akibat hujan intensitas tinggi dan luapan Sungai Citarum. Sebanyak 34 desa di 15 kecamatan terdampak banjir.

Warga terdampak mencapai 9.331 kelapa keluarga (KK) atau 28.329 jiwa, sedangkan 1.075 KK atau 4.184 jiwa mengungsi.

Banjir mengakibatkan 8.539 unit rumah terendam dan sejumlah infrastruktur terdampak. Petugas di lapangan masih terus melakukan pendataan lanjutan.

Merespons banjir tersebut, BPBD Kabupaten Karawang bersama TNI, Polri dan organisais perangkat daerah terkait serta sukarelawan membantu evakuasi warga di lokasi terdampak. BPBD juga mengoperasikan dapur umum untuk penyedian kebutuhan nutrisi warga terdampak.

Pemerintah Kabupaten Karawang sebelumnya telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir terhitung 8 Februari hingga 21 Februari 2021. Dengan kondisi saat ini, pemerintah daerah akan memperpanjang hingga 14 hari ke depan.

Kondisi terakhir terpantau banjir masih menggenangi rumah-rumah warga. Penerangan listrik PLN dan suplai air dari PDM di Kabupaten Karawang masih dalam kondisi padam. Selain itu, jumlah masyarakat terdampak, pengungsi dan pelayanan dapur umum yang dikelola secara mandiri oleh warga belum terdata semua. [ah]

MALUT POST – TERNATE. Bencana banjir yang melanda Halmahera Utara (Halut) mendapat berbagai perhatian berupa bantuan. Kali ini giriran KNPI Provinsi Maluku bekerja sama dengan Komunitas Jarod, menyalurkan bantuan pada Sabtu akhir pekan kemarin. Bantuan disalurkan secara langsung di desa Bailengit, Kecamatan Kao Barat, Kabupaten Halmahera Utara yang juga terdampak bencana banjir.

Bantuan yang diberikan oleh DPD KNPI Malut Dan komunitas Jarod tersebut, diterima langsung Kepala Desa Bailengit, Esra Biu. Desa Bailengit seperti diketahui terendam banjir pada Sabtu 17 Januari lalu. Kepala Desa Bailengit menyebut, banjir dimulai dari pukul 6.30 WIT sampai pukul 01.30 dini hari. “Saat kejadian, banjir terjadi setinggi pinggang orang dewasa,” ujurnya.

Koordinator penyaluran bantuan Muhammad Sarafudin mengatakan, bantuan yang digalang bersama KNPI Maluku Utara ini adalah upaya untuk mengurangi duka para korban bencana banjir. Selain itu, sekaligus kepingan KNPI agar merasakan langsung duka para saudara-saudara di Halut.

Muhammad Sarafuddin juga adalah Wakil Sekretaris Bidang pertambangan KNPI ini menambahkan, kegiatan kemanusiaan ini akan terus berlangsung dengan program-program positif KNPI Malut lainnya.

“Ini sudah yang kesekian kalinya DPD KNPI Malut dan komunitas Jarod menyalurkan bantuan kemanusiaan. Ini bagian dari upaya untuk mengurangi duka mereka para korban banjir. Semoga bantuan yang kami berikan ini bisa membantu, setidaknya mengurangi beban mereka,” kata Apul, sapaan akrabnya. (mg-03/yun)

MALUTPOST.TOBELO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Utara diminta tidak melupakan warga yang juga korban banjir di wilayah Kecamatan Kao Barat. “Hampir setiap saat kami mendengar ada bantuan tersalur disana (Galela Barat) dan didatangi Menteri. Padahal banjir terparah beberapa waktu lalu itu adalah Kao Barat dengan Ketinggian air hingga 1,5 meter yang merendam pemukiman penduduk,” ucap Marlon Warga Kao Barat kepada Malut Post, Minggu (31/1).

Marlon mengatak, pihaknya menyadari kurangnya perhatian pasca bencana banjir oleh pemerintah dan pihak-pihak lain karena faktor akses jalan darurat menuju Kao Barat yang sulit dilewati. “Mungkin karena medan jalan yang sulit diakses menuju Kao Barat atau seperti kami tidak tahy. Yang jelas bencana ini Masyarakat Kao Barat, khususnya yang terdampak banjir, yakni Desa Pitago, Bailengit Soamaetek, Parseba Desa Tuguis dan Dusun Mekar Sari,” ungkapnya.

Menurutnya, warga korban banjir Kao Barat sangat kecewa, karena tercatat kunjungan dua Menteri ke Halut “Dari Menteri sosial (Mensos) Tri Rismaharini atau Risma, dan juga Wamen PUPR John Wempi Wetipo mereka tiba ke Halut hanya sampai di Desa Roko Galela barat, Sementara Kao Barat yang dilanda bencana banjir paling parah tak pernah didatangi. Atau mungkin Pemda yang minta mereka untuk tidak datang kami sendiri bingung,” ucapnya dengan kesal.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Halut, Abner Manery dikonfirmasi mengatakan korban banjir Kao Barat itu dari awal Pemda sudah turun meninjau sekaligus menyalurkan bantuan. “Untuk Kao Barat mereka sudah kembali ke rumah. Soal penanganan untuk normalisasi lanjutan sungai dipikirkan ke depan oleh Pemerintah Daerah,” tandasnya. (rid/met)