MALUTPOST-TIDORE. Aktivitas belajar mengajar di Kota Tidore Kepulauan yang mulai dibuka kembali ditengah pandemi covid-19 disesuaikan dengan Standar Operasional (SOP) dan Prokes di sekolah. Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Pendidikan, Ismail Dokumalamo Senin (23/11).

Dikatakan Ismail, SOP yang diterapkan sesuai dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan melakukan sosialisasi-sosialisasi di semua sekolah setelah pemberlakuan masa transisi menuju kenormalan baru. Dia mengatakan, imbauan Kemendikbud tidak bersifat wajib. “Jadi imbauan 2021 mulai tatap muka itu sementara disosialisasikan. Semua tergantung kesepakatan bersama antara sekolah, yayasan serta pihak orang tua,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya masih menunggu hasil kesepakatan dari tiga pihak terkait. “Jadi kalau orang tua tidak sepakat maka tidak bisa dipaksakan karena ini sifatnya tidak memaksa. Intinya sosialisasi yang sementara dilakukan tergantung kesepakatan,” tegasnya.

Aktifitas belajar mengajar yang mulai dibuka kembali juga mendapat tanggapan serius dari Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes), dr. Abdullah Maradjabessy. Dia menjelaskan, status sekolah dalam metode pembelajaran sesuai SOP, dikembalikan ke Dinas Pendidikan dan kesepakatan orangtua. “Nanti kita lihat, apakah orangtua bersedia atau tidak dengan pemberlakuan tatap muka secara normal di 2021,” ungkap Abdullah.

Sebab kata Abdullah, untuk saat ini, Tikep sudah memasuki status dengan zona orange. “Artinya masih berstatus waspada untuk covid-19, Jadi jangan mengira status covid-19 sudah menurun,” tegasnya.

Sehingga dalam kesempatan ini, ia menghimbau agar aktivitas belajar mengajar tetap mengikuti Protokol Kesehatan (Prokes) di sekolah. “Yang paling penting siapkan hingga cuci tangan untuk anak. Protokol Kesehatan sangat penting dipatuhi,” imbaunya menutup. (mg-06/aji)

Untuk memastikan keamanan dan keampuhan vaksin COVID-19 yang dikembangkan berbagai perusahaan farmasi di dunia dan sebelum mendapat izin resmi dari regulator yang berwenang, uji klinis tahap tiga sekaligus terakhir vaksin tersebut perlu melibatkan responden dalam jumlah besar. Ribuan orang di berbagai negara menjadi sukarelawan yang berpartisipasi dalam uji tersebut.

Dua partisipan, masing-masing seorang di Bandung, Indonesia, dan seorang lagi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, berbagi pengalaman mereka sebagai sukarelawan. Apa yang mereka harapkan seusai menjadi partisipan uji klinis ini?

Bermula dari SMS yang diterimanya, Herny Mulyani kemudian memutuskan untuk berpartisipasi dalam uji klinis tahap ketiga vaksin COVID-19. Perempuan yang berprofesi sebagai event manager di sebuah perusahaan berkedudukan di Abu Dhabi itu menduga departemen kesehatan setempat mengiriminya SMS tersebut berdasarkan data base rumah sakit yang pernah dikunjunginya.

SMS itu memberitahu tentang pelaksanaan uji vaksin tahap ketiga dan menyertakan tautan registrasi apabila ia berminat bergabung sebagai partisipan uji itu. Mengaku sebagai seorang risk taker, ia malah mengajak suaminya untuk bersama-sama mendaftarkan diri sebagai sukarelawan. Motivasinya?

Herny Mulyani, sukarelawan uji klinis fase tiga vaksin COVID-19 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (Foto: dokumentasi pribadi/Herny Mulyani)

Herny Mulyani, sukarelawan uji klinis fase tiga vaksin COVID-19 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. (Foto: dokumentasi pribadi/Herny Mulyani)

“Aku nggak tahu bakal dapat benefit A B C D E. Yang terbersit dalam pikiran, aku ingin mendapatkan vaksin, ini saja,” jelas Herny.

Setelah melalui proses pendaftaran hingga cek kesehatan yang berlangsung dalam satu hari saja, Herny dan suaminya dinyatakan diterima sebagai volunteer.

Lain lagi kisah Adil Maulana, penyiar radio Klite di Bandung. Awalnya ia ragu-ragu ketika diajak istrinya, yang lebih dulu mendapat informasi mengenai kesempatan menjadi sukarelawan dalam uji klinis vaksin COVID-19, untuk bersama-sama mendaftarkan diri. “Dia sudah tahu informasinya lebih dulu, kemudian saya diajak. Saya pikir-pikir, nggak ada salahnya juga,” jelas Adil.

Lucunya, lanjut Adil, setelah keduanya mendaftarkan diri, justru sang istri yang tidak dipanggil menjadi sukarelawan. “Ada juga dorongan buat saya, motivasi saya. Kalaupun ternyata saya betul menerima vaksinnya dan saya kuat, berarti (vaksin) Sinovac memang cocok untuk orang Asia, atau untuk anak Bandunglah istilahnya. Saya bisa memberi gambaran buat yang mungkin nanti divaksin, bahwa tidak akan ada masalah,” imbuhnya.

Kedua sukarelawan ini sama-sama mengikuti uji klinis untuk vaksin yang dibuat oleh perusahaan farmasi China. Di Abu Dhabi, Herny mengikuti uji klinis untuk vaksin buatan Sinopharm, sedangkan Adil untuk Sinovac. Meskipun demikian, keduanya tidak tahu apakah suntikan yang mereka terima adalah vaksin yang dikembangkan kedua perusahaan itu ataukah plasebo.Karena tidak tahu persis itulah, mereka tetap menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan, seperti menerapkan social distancing dan mengenakan masker.

“Kewajibannya sama, kita tetap harus melakukan protokol kesehatan, social distancing, tetap harus memakai masker. Tetap lho, nggak mentang-mentang karena saya volunteer, saya boleh berbuat apa-apa, nggak,” jelasnya.

Kondisi mereka dipantau setiap satu atau dua hari sekali, dan setiap periode tertentu mereka menjalani pemeriksaan kesehatan.

Apa saja yang mereka alami selama mendapat suntikan-suntikan itu?

Herny mengaku merasakan gejala yang biasa dialami sewaktu diimunisasi yang kemudian hilang sendiri dalam tiga hari kemudian tanpa minum obat.

Adil Maulana bersama Wali Kota Bandung Yana Mulyana yang pernah menjadi pasien COVID-19. (Foto: pribadi)

Adil Maulana bersama Wali Kota Bandung Yana Mulyana yang pernah menjadi pasien COVID-19. (Foto: pribadi)

Begitupun Adil yang sempat merasakan ada yang berbeda seusai suntikan dosis kedua, dibandingkan dengan pengalamannya setelah suntikan pertama.

“Ada nyeri otot, kemudian ada agak lemas. Tapi kebetulan keluhan-keluhan itu tidak lama, semua normal kembali. Kurang lebih hampir empat hari,” jelasnya.

Meskipun tidak ada pembatasan yang ia rasakan, setelah tes ke-dua itu Adil diharuskan untuk meminta izin dulu ke dokter apabila ia harus bepergian keluar kota. Ia juga harus melaporkan tujuan, berapa lama bepergian serta keluhan yang mungkin ia alami selama itu.

Bagi Herny, menjadi sukarelawan mendatangkan hal yang tidak diduga-duganya. Ia bebas bepergian di antara tujuh emirat yang tergabung dalam Uni Emirat Arab tanpa menjalani tes COVID wajib. Asal tahu saja, warga nonsukarelawan akan terkena denda yang banyak apabila tidak melakukan tes wajib itu setiap keluar masuk suatu negara.

Beberapa peralatan kesehatan (hadiah) untuk sukarelawan. (Foto: dokumen pribadi/Herny Mulyani)

Beberapa peralatan kesehatan (hadiah) untuk sukarelawan. (Foto: dokumen pribadi/Herny Mulyani)

“Bahkan kalau lewat darat dari Dubai, ada jalur khusus untuk volunteer, red mark, lurus jadi tidak usah mengantre, tinggal memperlihatkan aplikasi saya yang ada tulisan nama, data dan status saya sebagai volunteer. Alhamdulillah saya tidak pernah kesusahan untuk ikut tes-tes itu,” tambah Herny.

Sejumlah alat kesehatan, serta voucher belanja di supermarket yang ia terima juga dianggapnya sebagai rezeki tidak terduga.

Serupa tapi tak sama bagi Adil. Meski tidak menerima kemudahan seperti sukarelawan di Abu Dhabi, Adil menerima uang saku sebagai pengganti ongkos transportasi sewaktu pemeriksaan kesehatan serta asuransi kesehatan selama menjadi sukarelawan.

Lantas setelah menjadi sukarelawan, apa yang mereka harapkan dari vaksin-vaksin yang diujicobakan di negara masing-masing?

Herny berharap vaksin produksi Sinopharm itu efektif. Ia telah mulai beraktivitas di luar rumah sejak Agustus lalu dan hingga kini ia bersyukur karena kondisi ia dan suaminya baik-baik saja. Selain itu, berdasarkan kabar yang ia terima, dari 31 ribu sukarelawan di Abu Dhabi dan Dubai di Uni Emirat Arab, hanya satu yang positif terjangkit virus corona.

Sementara itu, mengingat banyak di antara kasus meninggal adalah tenaga medis, Adil berharap apabila vaksin yang diujicobakan itu terbukti aman, maka, “Para tenaga medis dulu mungkin ya, yang didahulukan mendapatkan vaksinnya. Dan juga mungkin orang yang lebih tua.” [uh/ka/ab]

Pihak Sekolah Perketat Penerapan Prokes

MALUT POST – TERNATE. Setelah sembilan bulan siswa-siswi menjalani kegiatan belajar di rumah dengan sistem online. Mulai Senin Kemarin, Siswa tingkat TK, SD dan SMP telah menjalani kegiatan belajar tatap muka di masing-masing sekolah.

Pantauan koran ini di beberapa sekolah, para orang tua antusias mengantarkan anak-anak mereka. Bahkan sebagian orang tua rela datang lebih awal menunggu di depan sekolah, untuk menjemput anaknya, setelah jam belajar selesai. Tidak hanya orang tua, para siswa juga terlihat semangat dan ceria, mengawali masuk kelas perdana ini. Begitu juga para guru di setiap sekolah.

Mereka menjemput siswa di depan sekolah. “Menodong” siswa dengan alat pengukur suhu tubuh. Menariknya, umumnya digital infrared harus ditembakkan ke bagian kepala. Namun para guru memilih di bagian tangan siswa. Dengan alasan, tidak membuat siswa kaget, lantaran bentuknya seperti senjata. Setelah mengukur suhu tubuh, siswa lalu diberi cairan hand sanitizer barulah dipersilakan masuk kelas.

Setiap siswa yang datang tidak ada yang tidak pakai masker, bahkan apel sebelum mengawali belajar tidak lagi diterapkan. Siswa juga tidak diberikan waktu berinteraksi setelah jam belajar.

Begitu kegiatan belajar selesai, siswa langsung diantar ke depan sekolah, untuk diserahkan ke orang tua yang telah menunggu. Kendati begitu, ada sebagian sekolah yang belum melaksanakan kegiatan belajar tatap muka. Salah satunya SMP Negeri 2 kota Ternate.

Sekretaris Diknas Kota Ternate Mahmud J. Abdurahman mengangakan, hari pertama pelaksanaan belajar tatap muka berjalan lancar. Rata-rata sekolah telah melaksanakan kegiatan balajar tatap muka, dengan sestem penerapan protokol kesehatanyang ketat. Selain itu, setiap orangtua siswa diberikan surat pernyataan bersedia dan tidak bersedia anaknya melaksanakan kegiatan belajar tatap muka.

“Meski disediakan surat pernyataan tidak setuju. Namun belum ada orang tua yang menyampaikan surat pernyataan tidak setuju. Artinya banyak orang tua menyetujui kagiatan belajar tatap muka,” akunya. Kendati begitu, dirinya mengingatkan kepada sekolah agar menerapkan protokol kesehatan diperketat. Dia mengaku, jumlah siswa juga dikurangi di setiap ruang belajar. Dimana standar satu kelas 32 siswa, di bagi dua. Sehingga ada jarak tempat duduk setiap siswa. “Para guru di sekolah sudah paham benar sistem protokol kesehatan. Hasil penentuan dihari pertama alhamdulillah jalan lancar dan semua sekolah jalankan protokol kesehatan,” akunya.

Meski kegiatan belajar tatap muka ini telah dilaksanakan. Namun sewaktu-waktu bisa berubah. Tergantung dari status Covid-19 di Kota Ternate. “Kita sekarang sudah kuning, sehingga bisa tatap muka. Kita berdoa agar tidak naik ke orang lagi, karena Ternate saat ini aksesnya sangat terbuka. Jika status risikonya naik, maka tetap dihentikan kegiatan belajar tatap muka,” akunya.

Terpisah, akademisi Unkhair, DR. Syahril Muhammad menilai, sudah seharusnya proses belajar dilaksanakan tatap muka. Menurut Ketua Pendidikan Profesi Guru (PPG) Unkhair itu, pembelajaran online salama ini dinilai gagal. Gagal yang dimaksud. lanjut Syahril, dilihat dari banyak faktor. “Seperti orang tua yang aktivitasnya menjual ikan dipasar, mereka yang punya kesibukan lain. Orang tua punya keterbatasan ekonomi, lalu sibuk mencari nafkah di luar rumah. Mereka tidak mungkin mendampingi anak-anaknya,” sebutnya. (udy/mg-05/yun)