Di seluruh dunia, perayaan Natal umat Kristen kali ini sungguh berbeda dengan yang biasanya karena berbagai pembatasan dan protokol kesehatan terkait pandemi COVID-19. Demikian pula perayaan di berbagai gereja di Amerika, termasuk di gereja-gereja diaspora Indonesia di Washington, D.C., dan sekitarnya. Namun, panitia Natal diaspora Indonesia mengatakan, hikmah dari berbagai pembatasan kali ini adalah semakin luasnya partisipasi umat karena semuanya dilakukan secara virtual sehingga tidak lagi dibatasi oleh kapasitas ruangan.

Natal adalah peristiwa yang ditunggu-tunggu oleh umat Kristen, terutama diaspora Indonesia yang bermukim di Washington, D.C. dan sekitarnya, ketika mereka bisa bersekutu dalam doa dan pujian, mendapat siraman rohani, bersilaturahmi dalam suka cita sambil berbagi santapan jasmani terdiri dari berbagai jenis makanan khas tanah air.

Namun, tahun ini kesempatan yang ditunggu-tunggu itu sebagian besar terjadi hanya secara virtual, seperti diutarakan oleh Tony Kansil yang telah tinggal di Maryland sejak tahun 1995 dan sekarang dipercaya menjadi ketua Perhimpunan Masyarakat Kristiani Indonesia (PMKI) di Washington D.C. dan sekitarnya.

Tony mengatakan, PMKI, yang beranggotakan sembilan gereja dari tujuh denominasi, termasuk Katolik, dan anggota sekitar 600 orang, selama ini selalu mengadakan perayaan Paskah dan Natal bersama di Wisma Indonesia. “Natal tahun ini sangat berbeda karena pandemi, sehingga seluruh acara yang ditunggu-tunggu itu hanya dilaksanakan secara daring,” ujar Tony, yang menambahkan bahwa tim kerja untuk Natal kali ini dimotori oleh kaum muda “yang lebih energik.”

“Tim kerja yang kami pilih itu dari yang masih muda dengan Tetty Schoe sebagai ketuanya dan dia cukup energik untuk memimpin tim kerja dan tim kerja lebih senang karena kalau kita seperti Natal biasa kita harus mempersiapkan konsumsi untuk sekian ratus orang, mempersiapkan ruangan di Wisma Indonesia.”

Tony Kansil menambahkan, karena pandemi saat ini, panitia Natal justru hanya perlu mempersiapkan medianya tanpa harus mempertimbangkan kapasitas ruangan, keamanan, konsumsi dan lain sebagainya. Dan, yang lebih penting, katanya, karena tidak dibatasi oleh kapasitas ruangan partisipan bisa jauh lebih banyak.

“Jadi kalau pakai ruang di Wisma Indonesia itu untuk 300 orang sudah penuh sekali, tapi yang kemarin tanggal 26 Desember itu lewat YouTube ada sampai 645 orang yang hadir (secara daring, red).”

Selain jumlah partisipan yang lebih banyak, kelebihan dari perayaan Natal secara online ini juga bisa melibatkan semua gereja anggota PMKI untuk berpartisipasi dengan penyampaian doa, renungan, maupun pujian, misalnya persembahan pujian dari koor KKI-DC.

Komunitas berbagai agama juga mengirimkan ucapan selamat Natal, termasuk dari agama Islam, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Imam Muhamad Bashar Arafat, pendiri dan presiden Civilization Exchange and Cooperation Foundation (CECF) juga memberikan sambutannya.

Dari kalangan pejabat, yang ikut memberikan sambutan dalam acara daring ini termasuk Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan, Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar dan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Muhammad Lutfi, yang dalam sambutannya di antaranya mengajak masyarakat Indonesia agar tetap menjaga kerukunan dan kebersamaan.

“Sekali lagi saya meminta kepada Bapak dan Ibu untuk tetap menjaga kebersamaan kita, memelihara persaudaraan kita, saling menyayangi di antara kita sebagaimana nilai-nilai utama daripada agama Kristiani,” pesan Lutfi.

Duta Besar Lutfi juga mengingatkan perlunya menyambut Natal dengan sukacita bersama-sama keluarga dalam kepedulian berbangsa dan bernegara.

Dalam kaitan itu, Tony Kansil mengatakan bahwa panitia Natal kali ini melakukan bakti sosial dengan menyediakan bingkisan bagi keluarga-keluarga yang memerlukan, seperti dilaporkan oleh Tetty Schoe selaku ketua Panitia Natal PMKI kali ini.

“Kami juga memanfaatkan momen Natal ini untuk berbagi kasih kepada sesama yang membutuhkan baik yang ada di Amerika ataupun di Indonesia,” ujar Tetty.

Tetty mengatakan bahwa sebagai bagian perayaan Natal PMKI, pada tanggal 5 Desember lalu panitia bersama dengan Indonesian American Association dan Montgomery County dan sebuah Indonesian grocery (sejenis minimarket) menyelenggarakan pendistribusian bahan makanan kepada 150 kepala keluarga yang terkena dampak dari pandemi. Panitia juga menggalang dana untuk membantu sebuah gereja, sebuah panti asuhan dan sebuah sekolah di Papua.

Ditanya mengapa sumbangan diarahkan ke Papua dan bukan daerah lainnya, Tony Kansil mengatakan bahwa memang ada beberapa opsi, tetapi pilihan akhirnya dijatuhkan ke Papua karena sekarang pun pemerintah Indonesia juga sedang fokus ke sana. “Kami ikut saja ke Papua walaupun ada banyak kemungkinan daerah lain tapi Papua yang paling memerlukan,” tambahnya.

Gagasan mengirim sumbangan ke Papua itu mendapat sambutan dan dukungan penuh dari persekutuan Keluarga Katolik Indonesia di Washington, D.C. (KKI-DC) yang para anggotanya tersebar di ibu kota Amerika Washington, Maryland, dan Virginia, seperti diungkapkan oleh ketuanya kepada VOA.

Damasus Laij, yang menjabat ketua KKI-DC sejak delapan bulan lalu mengatakan bahwa warga Katolik kini bekerja sama dengan masyarakat Kristen di Washington, D.C. dan sekitarnya untuk membantu masyarakat Papua yang sangat membutuhkan.

“Seperti kita tahu, mereka sangat terbelakang dalam pembangunan, tapi Puji Tuhan, tiga tahun terakhir mendapat perhatian besar dari pemerintah Indonesia dan mereka bertumbuh. Namun, mereka tetap sangat membutuhkan bantuan karena infrastruktur yang kami ketahui adalah mereka sangat sulit dijangkau mengingat kondisi geofrafis mereka,” tuturnya.

Damasus berharap bahwa ke depan bisa dijalin kerja sama lebih baik lagi sehingga “karya-karya pengajaran Tuhan akan kasih itu bisa benar-benar diterapkan dan bisa menjangkau lebih banyak orang lagi,” pungkasnya. [lt/ab]