MALUTPOST.WEDA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Tengah berencana melelang KM Faisayang. Kapal yang saat ini diparkir di pelabuhan Kota Weda itu proses pelelangannya menunggu penandatangan berkas oleh Bupati Edi Langkara. Hal itu disampaikan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemkab Halteng Saiful Samad yang dikonfirmasi, Rabu (6/1).

Saiful mengatakans saat ini Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Provinsi Maluku Utara sudah selesai menghitung nilai lelang. “Jadi tinggal menunggu Bupati Edi Langkara menandatangani berkas pelelangan,”ungkapnya. Kapal tersebut di masa peemrintahan Al Yasin Ali, KPKNL sudah pernah menghitung, dan nilai lelang yang ditetapkan saat itu Rp 1,2 miliar. Hanya saja secara aturan kita harus hitung ulang.

Diketahui KM Elisabet Mulia yang dikenal dengan KM Faisayang itu diadakan Pemkab Halteng melalui Pendapatan Anggaran Belanja Daerah (APBD) 2010 kurang lebih Rp 11,5 miliar. Saat ini kapal tersebut terparkir di pelabuhan Kota Weda dalam kondisi sudah berkarat. (mpf/met)

MALUTPOST.TERNATE – Tahun 2020 merupakan tahun terburuk bagi petani di Maluku Utara (Malut). Sepanjang tahun itu, Nilai Tukar Petani (NTP) Malut terseok di bawah angka 100.

Kondisi ini sudah terjadi sejak akhir 2018 hingga saat ini. Di Desember 2020 NTP sempat naik tipis 0,99 persen menjadi 97,52. Sedikit di atas November yang tercatat 96,56. “NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang di bayar petani (Ib). “NTP merupakan salahs satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/ daya beli petani di perdesaan,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Malut, Atas parlindungan Lubis.

Dia menjelaskan NTP juga menujukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. “Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani,” jelasnya.

Dia menambahkan secara nasional, NTP Desember 2020 sebesar 103,25, mengalami kenaikan 0,37 persen dibandingkan dengan November 102,86. Pada Desember 2020, terjadi kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Malut sebesar 0,66 persen, sedangkan pada tingkat nasional terjadi kenaikan IKRT sebesar 0,58 persen.

“Untuk Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Malut di Desember 2020 sebesar 99,23 atau mengalami kenaikan 1,57 persen dibanding NTUP November sebesar 97,70,” pungkasnya. (tr-02/onk)

Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan investasi Indonesia di tahun 2021 akan mengalami pemulihan dengan pertumbuhan hingga 6,4 persen. Realisasi investasi di 2021 diperkirakan mencapai Rp 858,5 triliun.“Sehingga investasi terhadap perekonomian Indonesia akan memberikan kontribusi sebesar 31,5 persen,” katanya dalam sebuah acara daring, Selasa (22/12).

Selain diharapkan tumbuhnya investasi Indonesia di 2021 usai terdampak Covid-19, Kementerian PPN/Bappenas juga berharap adanya peningkatan peran investasi domestik, yang diperkirakan nilai Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dari sektor industri pengolahan akan mencapai sekitar Rp 270 triliun.

Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, Selasa 22 Desember 2020. (foto: VOA/Anugrah)

Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, Selasa 22 Desember 2020. (foto: VOA/Anugrah)

“Tentunya ini sangat didukung oleh implementasi dari undang-undang cipta kerja serta iklim ketenagakerjaan yang lebih kondusif terhadap investor,” ungkap Amalia.

Lebih jauh Amalia menyampaikan rasa optimisnya bahwa sektor industri pada 2021 juga akan pulih. Dengan target pertumbuhan sekitar 5 persen, diperkirakan tenaga kerja yang bisa terserap di sektor industri pada 2021 akan mencapai 18,4 persen.

“Ini akan didorong oleh adanya promosi penggunaan produk dalam negeri termasuk penggunaan atau pengadaan barang dan jasa yang dilakukan pemerintah dan BUMN,” ungkapnya.

Dalam memulihkan sektor industri, ada beberapa strategi. Salah satunya akselerasi industri yang diarahkan untuk industrialisasi subtitusi impor seperti makanan, kimia, farmasi dan alat kesehatan.

“Pemulihan produktivitas dan pemasaran produk Industri Kecil Menengah (IKM) serta akan adanya beberapa kawasan industri yang akan beroperasi di 2021,” ujar Amalia.

Sektor pariwisata diprediksi akan kembali pulih dan menjadi momentum untuk menata kembali dan mempercepat penyiapan kawasan destinasi super prioritas. Namun, pemulihan sektor pariwisata akan berjalan secara bertahap.

Beberapa turis berlibur di Pantai Kuta, di tengah pandemi Covid-19 di Bali (foto: ilustrasi). Sektor pariwisata Indonesia diprediksi akan kembali pulih tahun depan.

Beberapa turis berlibur di Pantai Kuta, di tengah pandemi Covid-19 di Bali (foto: ilustrasi). Sektor pariwisata Indonesia diprediksi akan kembali pulih tahun depan.

“Belum bisa kembali dengan cepat karena memang adanya pergeseran preferensi atau daya beli masyarakat, serta juga pada tahap awal pada 2021 akan lebih didorong oleh upaya meningkatkan wisatawan lokal,” jelas Amalia.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa mengatakan dampak dari Covid-19 menyebabkan masih ada tekanan terhadap daya beli masyarakat, walaupun lebih moderat dibandingkan dengan tahun 2020. Untuk itu diperlukan pemetaan sektor yang paling parah, moderat, dan ringan akibat pandemi Covid-19.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas, Suharso Monoarfa, Selasa 22 Desember 2020. (Screenshot: VOA/Anugrah)

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas, Suharso Monoarfa, Selasa 22 Desember 2020. (Screenshot: VOA/Anugrah)

“Sektor ekonomi yang justru menjadi dominan pada keadaan seperti ini, misalnya seperti e-commerce, logistics, food delivery, teknologi, obat-obatan, streaming service, dan ekonomi kreatif,” ujarnya.

Masih kata Suharso, pada 2021 merupakan tahun pemulihan ekonomi dan reformasi sosial. Menata kembali dan memperkuat industri, pariwisata, dan investasi adalah tantangan pembangunan di tahun 2021.

“Kita akan bekerja dengan cara-cara yang lebih ekstra dari biasanya. Kita tidak bisa lagi bekerja yang konvensional tapi harus extraordinary,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Utama Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono mengungkapkan bahwa sektor yang paling tinggi terdampak karena pandemi Covid-19 adalah akomodasi dan makan minum di angka 92,47 persen.

“Pandemi Covid-19 ini memukul cukup berat terkait dengan dunia usaha. Kalau secara perekonomian 82,9 persen pendapatan dunia usaha menurun,” ungkapnya. [aa/em]

Indonesia mampu menjadi negara maju – Pada tahun 1967 silam, Indonesia pernah menjadi salah satu bangsa termiskin di Asia. Wajar saja, 97% dari pendahulu kita adalah buta huruf ketika Indonesia merengkuh kemerdekaan. Ya, kita pernah berkubang di lumpur yang menyedihkan.

Kira-kira separuh abad yang lalu, hanya bangsa Rwanda, Burundi dan Mali yang memiliki nasib lebih mengenaskan dari Indonesia. Sungguh sebuah ironi pada masa itu dimana negara yang memiliki sumber daya alam melimpah harus masuk ke daftar di atas. Alasannya tak lain karena ketidakstabilan dan kompleksnya situasi politik di Indonesia.

Indonesia Kini; 2020

“Kami menggoyang langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang bekerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Ir Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia

Nyatanya, frasa bangsa tempe, bangsa kuli, dan banhsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari cukup mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia kala itu. Seakan sebuah dongeng, kita mungkin tak akan percaya kalau Indonesia pernah memiliki nasib sekelam demikian.

Puluhan tahun berlalu, Indonesia telah bertransformasi menjadi negara yang begitu kontras dengan kesedihannya dulu. Ya, negara kita tak lagi muncul di papan klasemen negara termiskin. Baik di dunia, maupun di Asia.

Negara termiskin di dunia 2020

Dari urutan terbawah, saat ini kita telah sukses menyalip Filipina, Myanmar, bahkan India. Kita sukses menjadi negara papan tengah, dan tentunya memiliki peluang yang besar untuk lebih maju lagi di masa depan.

Negara dengan infrastruktur terbaik di Asia tenggara

Dari segi infrastruktur transportasi, nama kita bertengger di posisi yang cukup menggiurkan. Hal yang tentunya dapat memantik investor untuk menanamkan modalnya di kita.

Jangan lupakan pula aspek kompetitif. Dari negara urutan terbontot, kita sukses menanjak tangga hingga menjadi urutan ke-empat di Asia Tenggara dan nomor 45 di dunia. Ya, 50 besar dari ratusan negara di dunia ini!

Ketika bangsa ini menjalani kehidupan tahun 1960-an, kita disibukkan dengan urusan kelaparan, gizi buruk, polio, buta huruf, dan pembunuhan senegara.

Sekarang bangsa Indonesia disibukkan oleh perkara investasi, infrastruktur jalan tol, kereta peluru, MRT, pemerataan ekonomi, ekspor lobster, hutan, kualitas pendidikan, mobil listrik, korupsi anggaran, kedaulatan data, alutsista, demo buruh, demokrasi, dan debat agama.

Betul. Masalah semakin kompleks. Tapi coba perhatikan, levelnya sudah berbeda. Suka tidak suka, begitu jauh bangsa ini sudah berubah dalam enam puluh tahun.

Belajar dari Korea Selatan yang Mampu Berevolusi menjadi Raksasa

Korea Selatan berangkat dari negara miskin pada tahun 1965, sampai menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-sebelas di dunia pada tahun 1995. Dari sebuah negara yang bertahan dengan mengirimkan pekerja-pekerja kasar di tambang batu bara Jerman, hingga kini menjadi manufaktur teknologi kelas dunia. Berawal negara yang ibukotanya tidak mempunyai bentuk, menjadi salah satu kota metropolitan termodern di dunia.

Seoul, pernah disebut sebagai ‘neraka urban’. Sungai Han yang bercorak kecokelatan diapit oleh rumah-rumah berdinding tripleks kumuh. Warganya hidup di kemiskinan akut, pencemaran di mana-mana, dan angka kejahatan begitu tinggi. Di negara ini hanya terdapat 50 perusahaan aktif yang memperkerjakan tidak sampai seribu orang karyawan. Sisa penduduknya semua bekerja serabutan.

Di waktu musim dingin melanda Korea, mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Masyarakatnya berpendidikan rendah, oligarki dan mafia menguasai negeri, alamnya tidaklah mempunyai SDA yang bisa diandalkan, dan pemimpinnya tidak kompeten.

Dalam peringkat perekonomian dunia, Korea Selatan di masa sulitnya memiliki posisi papan tengah. Posisi yang sama yang dimiliki Indonesia saat ini. Bahkan secara kasat mata, tentunya kita tahu walau di posisi yang sama, kondisi kita sekarang jauh lebih menguntungkan ketimbang mereka.

Satu Generasi Adalah Kunci Perubahan

Korea telah mengubah nasibnya dalam satu generasi. Singapura mengubah nasibnya dalam satu generasi. China mengubah nasibnya dalam satu generasi. Selanjutnya, barangkali negara tetangga kita, Vietnam, yang akan mengubah nasibnya dalam satu generasi mendatang.

Lantas, apakah kita akan mengikuti jejak yang sama? Tidak perlu waktu lama. Untuk mengubah negeri Indonesia menjadi negara kaya atau menjadi negara miskin. Menjadi negara sejahtera atau menjadi negara gagal. Menjadi Macan Asia atau kembali menjadi Raksasa Tidur Asia Tenggara. Semua itu hanya perlu satu generasi.

Setiap generasi mempunyai tantangan masing-masing. Mengatakan bahwa “masalah Indonesia saat ini begitu berat sehingga tidak mungkin jadi negara maju” adalah satu penghinaan terhadap leluhur kita, yang telah membawa bangsa ini dari papan bawah menuju papan tengah, dari negara termiskin di Asia menjadi negara menengah.

Meskipun perjalanan tidak selalu lancar, Indonesia sudah pernah beranjak dari negara termiskin di Asia menjadi anggota G-20. Indonesia sudah pernah lolos kekacauan dari periode 1945, 1949, 1953, 1961, 1965, 1974, 1984, 1998, dan luput dari Balkanisasi.

Siapkah Generasi Z Membawa Indonesia Menjadi Negara Maju?

Angkatan terbaru dalam generasi dunia karir di Indonesia mulai diisi oleh generasi Z, penerus generasi Y atau yang kerap disebut milenial. Di masa depan, pos-pos strategis dalam lingkup organisasi swasta maupun pemerintah akan diisi oleh generasi pembaharu ini.

Seperti yang sebelumnya telah dipaparkan, sekarang adalah kesempatan generasi Z untuk menyetir kemana negara ini kan mengarah. Ke arah yang lebih baik sehingga bisa mengantarkan Indonesia agar mampu menjadi negara maju, atau justru sebaliknya?

Jawabannya; tergantung. Dan percayalah, ini akan sulit, jauh lebih sulit dari perjuangan generasi sebelumnya. Namun bukan berarti mustahil. Karena ingat, posisi kita saat ini bisa dibilang tidaklah buruk.

Terkecuali kalau generasi Z hanya bisa berkoar “Hidup saya susah. Birokrasi berbelit, pemerintah korup, dan rakyatnya tidak terdidik. Indonesia tidak akan maju!” seraya menyeruput kopi di Starbucks, kemudian memposkan keluh-kesahnya di Instagram, hanya gara-gara membaca berita politik.

Alasan mengapa inflasi dibutuhkan — Di Indonesia, pemahaman akan kata ‘inflasi’ masih seringkali mengalami miskonsepsi atau kesalahan penafsiran. Ketika mendengar inflasi, pikiran kita langsung mengarah pada stigma negatif yang merujuk kepada kondisi perekonomian yang memburuk.

Inflasi bukanlah hal yang mengerikan dalam perekonomian suatu negara. Secara keseluruhan, inflasi justru dibutuhkan agar kondisi ekonomi nasional mengalami kemajuan. Akan tetapi yang perlu digarisbawahi, tingkat inflasi yang dimaksud pun haruslah sesuai dan masih dalam kategori inflasi yang sehat.

Antara Harga (Consumer Price Index (CPI)) dan Inflasi yang Dibutuhkan di Indonesia

Sejak dulu, harga-harga barang maupun jasa di Indonesia memanglah mengalami peningkatan. Indikator ini yang kemungkinan besar dijadikan acuan untuk memberi cap buruk terhadap perekonomian negara, sehingga masyarakat awam menganggap inflasi di Indonesia tinggi dan sulit dikontrol.

Inflasi dan CPI di Indonesia dari Tahun ke Tahun

Mungkin ini akan cukup mengejutkan. Namun setelah menilik grafik inflasi Indonesia sampai tahun 2018 di atas, ternyata angka inflasi kita setiap tahunnya berada dalam tren menurun dan bahkan sedang menuju ke arah inflasi yang sehat. Dari mana indikatornya? Peraturan Menteri Keuangan telah menetapkan standar tersebut dan kemudian dijadikan acuan bagi Bank Indonesia dalam menjalankan tugas.

Bagaimana bisa tingkat CPI dan Inflasi di Indonesia saling bertolak belakang? Pada dasarnya ini adalah pola aritmatika sederhana. Inflasi adalah turunan pertama (first derivative) dari harga. Rumusnya seperti di bawah ini;

Rumus Inflasi

Sukseskah Indonesia Menciptakan Inflasi yang Dibutuhkan?

Grafik Inflasi per Tahun di Indonesia

Kalau melihat data historis, kita berhasil menurunkan persentase inflasi yang dari sebelumnya dua digit (tahun 2000-an), menjadi di bawah lima persen (tahun 2016-sekarang). Prestasi kita ini sering dijadikan contoh keberhasilan pengendalian inflasi, bahkan oleh banyak negara di lingkup internasional!

Pernah mendengar tentang perekonomian Indonesia yang digadang-gadang memiliki pertumbuhan yang signifikan? Secara kasat mata, mungkin banyak dari kita yang menganggap pernyataan tersebut tak lebih dari omong kosong belaka. Namun dari kacamata perekonomian, grafik sukses membuktikan hal tersebut. Dari segi kontrol terhadap inflasi, bisa dibilang, Indonesia berhasil menyabet keunggulan.

Bagaimana Pandangan Ekonomi dalam Menyikapi Kenaikan Harga?

Ekonomi Pembelian

Tak hanya pengusaha, seorang karyawan pun tentunya akan diuntungkan apabila barang dan jasa mengalami kenaikan. Alasannya pun cukup sederhana, kenaikan nilai sebuah barang dapat ditafsirkan sebagai potensi untuk mengembangkan usaha agar menjadi lebih besar, karena tentu saja omset akan ikut naik.

Kenaikan omset adalah peluang perusahaan untuk bisa mengambil langkah ekspansi, baik itu pembukaan pabrik baru maupun penambahan mesin produksi baru. Dampak positifnya bagi masyarakat non-pengusaha, berkembangnya dunia usaha dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan juga potensi kenaikan gaji.

Apabila semua pihak diuntungkan dari segi finansial, maka roda perekonomian akan berjalan dengan pesat. Pembelian akan terjadi dengan impulsif karena orang-orang memiliki daya. Semuanya akan bergerak pesat dalam putaran yang kencang. Selama pemangku kebijakan bisa mengendalikan putaran tersebut agar stabil dan tidak menabrak satu sama lain, maka perekonomian kita akan terus baik-baik saja, bahkan tak menutup kemungkinan mengantarkan negara ke perekonomian yang maju.

Alasan Mengapa Inflasi Dibutuhkan

Inflasi Sehat yang Dibutuhkan

Apabila tak ada inflasi, maka semuanya akan berjalan stagnan, atau bahkan mengalami kemunduran (deflasi). Tidak perlu berangan-angan untuk menikmati kondisi dimana semua harga pokok mengalami penurunan, namun pendapatan meningkat. Karena hal tersebut mustahil adanya.

Perekonomian diciptakan untuk menjaga stabilitas ketersediaan barang. Barang memiliki batas, namun keinginan manusia tak terbatas. Itulah sebabnya kontrol harga (yang merupakan indikator yang sering dikaitkan dengan inflasi) dibutuhkan untuk mencegah kelangkaan sebuah barang.

Jangan salah juga, justru, deflasi dapat berdampak lebih buruk ketimbang inflasi. Inflasi yang tinggi adalah penyakit, namun deflasi justru merupakan penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan. Bila deflasi terjadi, perekonomian akan stagnan, atau bahkan menurun. Gaji pekerja pun akan terdampak dari menurunnya omset para pengusaha. Kalau kondisi deflasi? Tidak ada yang mau beli barang hari ini. Masyarakat memilih untuk menunda konsumsi karena menunggu harga turun. Tunda dan terus tunda. Akibatnya, ekonomi lesu.

Indikator Inflasi Sehat yang Dibutuhkan

Inflasi Sehat yang Dibutuhkan

Kesimpulannya, inflasi itu memang bagus. Akan tetapi tidak sembarang inflasi. Semua orang tentunya menginginkan inflasi yang rendah dan stabil.

• Rendah

Standar rendah setiap negara memiliki hitungan ekonometriknya masing-masing, dan akan menunjukkan persentase yang berbeda-beda. Untuk Indonesia, angka inflasi yang sehat adalah 2–4% per tahun. Jadi tidak terlalu tinggi dan memberatkan, namun kenaikan harga tetap ada supaya hal-hal positif yang sebelumnya telah dijabarkan dapat terwujud. Ini tidak mudah dicapai dan setiap prosesnya patut disyukuri.

• Stabil

Stabil yang dimaksud di sini berarti tidak naik turun secara drastis. Naik atau turun sah-sah saja, tetapi harus perlahan dan sesuai perkiraan. Ini sangat penting agar masyarakat dan pengusaha bisa merencanakan keuangan dengan baik. Investor juga akan yakin dengan kekuatan ekonomi kita karena ada kepastian harga di dalam lingkup perekonomian negara.

Cara pelanggan mengambil keputusan pembelian selama pandemi — Beberapa waktu lalu, pemerintah pada akhirnya mengeluarkan sinyal resesi ekonomi yang merupakan dampak dari pandemi COVID-19. Situasi yang digadang-gadang dapat menggoyang urusan finansial ini tentunya sangat dihindari oleh banyak pihak. Sayangnya, semuanya sangat masuk akal untuk terjadi mengingat beberapa industri harus terhenti sementara di masa merebaknya wabah ini.

Sebagai pedagang—baik langsung maupun daring—kondisi mengerikan ini dapat menjadi tantangan tersendiri dalam mengelola perputaran arus modal. Bagai berada di tengah angin ribut, mereka yang mengandalkan pemasukan dari terjual atau tersewanya barang dan jasa harus tetap mempertahankan pijakan agar tak runtuh diterpa badai.

Selain tekad, strategi dan formula yang akurat harus diterapkan dalam bisnis. Hal ini tentunya tidak mudah. Dibutuhkan ilmu dan kemampuan analisis yang kuat untuk menerawang setiap celah potensial maupun tantangan di keadaan yang serba tidak pasti ini.

Analisis Keputusan Transaksi yang Diambil Oleh Pelanggan Selama Masa Pandemi

Analisis Keputusan Transaksi yang Diambil Oleh Pelanggan Selama Masa Pandemi

Tak semua strategi yang dianggap akurat akan cocok dengan beberapa bidang bisnis. Namun sebelum masuk ke inti strategi, para pelaku bisnis harus paham dengan pola berpikir pelanggan sebelum memulai sebuah transaksi, yang tentunya menjadi tiang pancang untuk memastikan keberlangsungan roda transaksi selama masa resesi perekonomian saat ini.

Di bawah ini, penulis akan merangkum beberapa cara pelanggan dalam mengambil keputusan pembelian selama pandemi.

1) Apa yang Menjadi Urgensi Saya untuk Bertransaksi?
Apa yang Menjadi Urgensi Pelanggan untuk Bertransaksi?

Ini adalah pemikiran dasar dari calon pelanggan. Sebelum mengambil keputusan pembelian, mereka akan cenderung menilai seberapa penting barang yang akan dibeli. Kemudian, apakah barang tersebut dapat memberikan dampak positif untuk jangka panjang? Atau hanya sekedar keinginan yang padahal bisa ditutupi dengan produk alternatif yang lebih murah?

Dengan mengetahui apa yang ada di dalam pikiran calon pelanggan di segmen pasar, pelaku bisnis dapat menentukan produk yang tepat untuk dapat mereka transaksikan.

2) Bagaimana Cara Saya Membayarnya?
Bagaimana Cara Pelanggan Membayarnya?

Terutama untuk produk sekunder dan tersier, calon pelanggan akan memikirkan metode pembayaran yang akan ia pakai untuk bertransaksi. Apakah lebih menguntungkan membayar kontan, atau justru mengandalkan layanan kredit atau cicilan? Alasan mengapa beberapa jenis pelanggan memikirkan hal ini yaitu karena tidak semua orang memiliki pendapatan yang stabil, tetap, dan berjangka panjang, terutama saat pasca pandemi kelak.

Bilamana pelaku bisnis dapat membaca sikap calon pelanggan dalam menentukan metode pembayaran, maka menentukan strategi promosi yang tepat sasaran pun dapat tersusun dengan mudah.

3) Apakah Ada Diskon?
Apakah Ada Diskon?

Pandemi ini bisa dibilang pedang bermata dua. Di satu sisi, perekonomian melesu. Namun di sisi lain, pembatasan sosial justru membuat banyak orang meminimalisir aktivitas di luar rumah. Alhasil, gawai pun menemani kegiatan sehari-hari banyak orang. Selanjutnya tinggal bagaimana tindakan dari pelaku usaha untuk memanfaatkan momentum ini.

Bisa dibilang, aplikasi ecommerce mendapatkan angka pengakses yang cukup melonjak belakangan ini. Karena banyak orang merasa bosan, mereka pun iseng membuka aplikasi maupun situs marketplace di gawai. Diskon merupakan sesuatu yang sangat difavoritkan semua orang. Dari celah ini, terdapat peluang dimana seseorang yang pada awalnya hanya iseng membuka marketplace, namun malah berakhir dengan membeli banyak barang. Sebabnya? Diskon.

Diskon ini sangat menentukan keputusan pelanggan dalam bertransaksi, bahkan di waktu yang singkat. Pelanggan yang pada awalnya tidak niat berbelanja bisa langsung memutuskan untuk checkout keranjang belanja mereka hanya karena melihat tulisan diskon.

4) Setelah Pandemi Selesai, Apakah Harga Barang Ini akan Naik, atau Justru Turun?
Setelah Pandemi Selesai, Apakah Harga Barang Ini akan Naik, atau Justru Turun?

Teknik ini merupakan yang paling penting. Harus kita akui, beberapa barang mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan selama pandemi ini, terutama alat-alat yang berhubungan dengan kesehatan. Melihat pola ini, banyak calon pelanggan yang memilih untuk menahan diri berbelanja karena takut harga barang yang akan dibeli nyatanya mengalami penurunan saat pandemi selesai.

Dari tantangan ini, muncul pula peluang besar agar pelaku bisnis dapat menguasai pasar. Permainan kata-kata sangat dibutuhkan di sini. Dengan deskripsi yang bisa disampaikan secara gamblang maupun tersirat, penjual harus bisa meyakinkan calon pelanggan agar berpikir bahwa harga barang pada saat ini adalah harga terbaik, dan membuat keputusan pembelian tentu sangat menguntungkan dirinya.

5) Apabila Terjadi Kerusakan, Apakah Proses Klaim akan Berbelit-belit?
Apabila Terjadi Kerusakan, Apakah Proses Klaim akan Berbelit-belit?

Mengingat keluar dari rumah masih merupakan hal yang harus diminimalisir, maka beberapa pelanggan memilih untuk mempertimbangkan kualitas barang atau jasa yang ingin dibeli. Apakah barang tersebut awet dan sesuai ekspektasi? Atau justru berkualitas rendah, dan proses klaim perlu membuat pelanggan harus keluar rumah untuk mengirim balik barang melalui ekspedisi?

Lagi-lagi, deskripsi produk adalah senjata utama. Ini tentang bagaimana penjual mampu membius pelanggan agar merasa yakin dengan kualitas yang ia beli. Akan tetapi, sekedar kata-kata saja tanpa pembuktian juga tidak etis. Di sinilah tugas dari pelaku usaha untuk memastikan kualitas produk yang ia pasarkan.


Pada akhirnya, kreativitas dan kemampuan analisis yang baik yang akan memenangkan proses berdagang seorang pengusaha di tengah wabah COVID-19 ini.

Dengan kreativitas, pelaku bisnis dapat dengan mudahnya menyusun inovasi yang sesuai dengan keinginan pelanggan dan calon pelanggan. Sementara kemampuan menganalisis adalah teknik paling baik untuk mengetahui bagaimana cara pelanggan mengambil keputusan pembelian selama pandemi.

MALUTPOST-TERNATE. Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Ternate masuk ke jaringan swalayan Alfamidi di Kota Ternate sejak 15 November. Tercatat ada 1 jenis produk.

Branch Manager Alfamidi Manado, Deni Firmanto mengatakan, apa yang mereka lakukan sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi daerah dengan mengerakkan UMKM. “Kita tidak hanya dukung dari segi investasi tapi UMKM juga. karena itu, kita dorong pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produknya di Alfamidi,” ujarnya.

Produk yang dipasarkan yaitu sirup yaitu sirup buah pala, abon ikan, lada putih, lada hitam, kopi rempah, kopi guraka, kacang kenari, bubur kenari, selai kenari, kenari gula merah, kenari krenyes, siput kenari, real choco (creamer). Menurut dia, dengan dipasarkan produk UMKM melalui Alfamidi, maka wisatawan yang ke Ternate bisa membeli oleh-oleh kas daerah di Alfamidi.

Dia menjelaskan sistem penjualan produk ini juga sudah pakai barcode dan berada posisi paling depan, sehingga mudah dilihat pengunjung Alfamidi. “Kita pakai baracode agar bisa transaksi di kasir seperti produk lainnya,” ungkapnya. Dia juga menuturkan produk UMKM termasuk produk UMKM termasuk produk baru yang masuk di Alfamidi, sehingga akan dievaluasi tiap bulan untuk melihat pasarnya. Dia optimistis sambutan pasarkan bagus, karena masyarakat lebih dipermudah untuk mendapat produk lokal. “Alfamidi juga yang kami jual,” pungkasnya (tr-02/onk)

Peliput : Suryani S. Tawari