Ketika kamera-kamera televisi merekam dan menayangkan peristiwa bersejarah pelantikan Presiden AS, ratusan juta mata penonton mengamati pakaian yang dikenakan oleh para pemimpin Amerika.

Presiden Joe Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris beserta keluarganya umumnya memakai pakaian dari perancang busana dalam negeri.

Didiet Maulana dengan busana rancangannya. (Foto courtesy: Didiet Maulana)

Didiet Maulana dengan busana rancangannya. (Foto courtesy: Didiet Maulana)

Peristiwa dan pemandangan glamour di AS ini tidak luput dari perhatian perancang busana Indonesia Didiet Maulana.

“Kapasitas seorang politisi memang sudah dipikirkan secara matang. Jadi, tidak hanya pemikiran, mindset dan kharisma, tetapi secara visual juga merupakan pernyataan politik,” kata Didiet Maulana.

Termasuk pernyataan politik terkait sektor busana dalam negeri.

“Ketika dilihat orang nomor satu di sana dan timnya mendukung merek lokal, maka sudah pasti akan timbul geliat semangat baru untuk para pelaku industri fashion, apakah itu untuk merek lokal yang sudah dikenal maupun merek-merek baru,” jelasnya.

Perancang Busana Rinda Salmun (Foto: VOA/ Made Yoni).

Perancang Busana Rinda Salmun (Foto: VOA/ Made Yoni).

Perancang busana muda Indonesia Rinda Salmun mengatakan dukungan bagi perancang muda dan merek baru oleh pemimpin politik merupakan suatu kebanggaan.

“Sebagai perancang, saya sangat menghargai, melihat merek-merek baru dan merek yang independen ditampilkan, seperti Christopher John Rogers dipakai oleh Kamala Harris. Kemudian Jill Biden juga memakai rancangan Markarian, yang merupakan merek independen, di mana perancangnya sendiri terlibat menyelesaikan jaket dan bajunya,” komentar Rinda.

Mantan Ibu Negara Michelle Obama mengenakan pakaian dari perancang kulit hitam Sergio Hudson. Pilihan Obama ini dianggap sebagai penghormatan pada kelompok kulit hitam dan minoritas AS lainnya.

Mantan Presiden AS Barack Obama (kiri) dan Michelle Obama tiba di Gedung Capitol, Washington, D.C., untuk menghadiri upacara pelantikan Presiden terpilih Joe Biden menjadi Presiden ke-46 Amerika Serikat, 20 Januari 2021.

Mantan Presiden AS Barack Obama (kiri) dan Michelle Obama tiba di Gedung Capitol, Washington, D.C., untuk menghadiri upacara pelantikan Presiden terpilih Joe Biden menjadi Presiden ke-46 Amerika Serikat, 20 Januari 2021.

Stacy Stube, perancang busana independen Amerika keturunan Indonesia, di Baltimore, Maryland, mengamati apa yang disebutnya “percakapan busana” lewat penampilan penyair muda kulit hitam Amanda Gorman, yang memakai pakaian berwarna kuning.

Perancang Busana Stacy Stube mengenakan busana karyanya. (Foto: Stacy Stube)

Perancang Busana Stacy Stube mengenakan busana karyanya. (Foto: Stacy Stube)

“Saya kira fashion bukan hanya mengenai bagaimana seseorang tampil dengan pakaian tapi juga apa yang kita katakan ‘percakapan busana’,” jelasnya. Gorman mengakui konflik, tantangan yang terjadi di lingkungan sekitar, juga dalam lingkup dunia, tapi ia juga berbicara mengenai pemimpin, pemimpin individu, diri sendiri dan bagaimana kita tampil di dunia.

“Menyaksikan anak muda melakukan ini, memberi banyak harapan bagi generasi berikutnya dan kepemimpinan AS berikutnya,” imbuhnya.

Stacy juga mengatakan pilihan busana pemimpin politik akan mengilhami perancang untuk menciptakan karya yang berarti.

“Menciptakan gelombang baru dalam industri, perusahaan-perusahaan baru, yang lebih kecil, akan membuat produk lebih sedikit, dan membuat busana yang lebih eksklusif. Mereka kemudian akan membuat busana yang berarti,” lanjut Stacy.

Wakil Presiden AS Kamala Harris bersama suaminya, Doug Emhoff dan keluarga mereka berjalan menyusuri Pennsylvania Avenue menuju gerbang utara Gedung Putih di Washington, D.C., 20 Januari 2021. (Foto: dok).

Wakil Presiden AS Kamala Harris bersama suaminya, Doug Emhoff dan keluarga mereka berjalan menyusuri Pennsylvania Avenue menuju gerbang utara Gedung Putih di Washington, D.C., 20 Januari 2021. (Foto: dok).

Busana sebagai pernyataan politik juga secara visual tampak pada warna pakaian. Warna ungu yang dipakai Wakil Presiden Kamala Harris adalah warna yang dihasilkan dari campuran Merah dan Biru. Ini mencerminkan harapan dan keinginan pemimpin yang baru untuk persatuan bagi Partai Demokrat dan Partai Republik.

Perancang Didiet Maulana dan Rinda Salmun mengatakan pemilihan busana termasuk pada warna dalam pelantikan dan peristiwa politik penting di Indonesia juga tidak jauh berbeda dengan di AS, meskipun umumnya para politisi cenderung mengenakan busana nasional. [my/ka]

Tahun 2020 yang penuh tantangan dan permasalahan yang ada menjadi inspirasi sebuah film bertema fashion, yang bertajuk “2020: The Year of Hope,” atau tahun harapan, karya fotografer fashion, sekaligus sutradara Indonesia, Reinhardt Kenneth, di Los Angeles California. Ini merupakan film perdana arahan pria berusia 23 tahun ini.

Reinhardt Kenneth, fotografer fesyen asal indonesia di Los Angeles (dok: Reinhardt Kenneth)

Reinhardt Kenneth, fotografer fesyen asal indonesia di Los Angeles (dok: Reinhardt Kenneth)

“Film ini mengandung pesan untuk menemukan harapan, melalui persatuan, di masa-masa yang sulit. Menurutku seni adalah bahasa yang universal. Orang-orang di Indonesia, Amerika, Tiongkok, Eropa atau dimana pun, mungkin tidak mengerti bahasa yang sama. Namun, kita bisa merasakannya. Saya harap pesan ini bisa tersampaikan ke seluruh dunia,” papar Reinhardt Kenneth kepada VOA Indonesia belum ini.

Mengambil latar belakang sebuah pesta akhir zaman, film berdurasi hampir 5 menit ini, menampilkan tujuh model, yang antara lain terdiri dari aktris Jessica Belkin, yang terkenal lewat serial televisi “Pretty Little liars” dan “American Horror Story,” produser musik, Yasmeen “YAS” Al-Mazeedi yang pernah bekerja sama dengan artis papan atas Selena Gomez, John Legend, dan Kanye West, serta sutradara, sekaligus model dan penyanyi asal Indonesia, Cheverly Amalia.

Kolaborasi Antar Benua

Untuk film “2020: The Year of Hope,” Reinhardt Kenneth berkolaborasi dengan sang ibu, yaitu desainer Diana Putri untuk Diana Couture di Surabaya. Nama Diana Putri sudah tidak asing lagi di kancah internasional. Ia sudah sering merancang busana, bahkan masker, untuk artis-artis papan atas, seperti penyanyi Ariana Grande dan Lady Gaga.

Desainer Indonesia Diana Putri untuk Diana Couture (dok: Diana Putri)

Desainer Indonesia Diana Putri untuk Diana Couture (dok: Diana Putri)

Mengingat tengah berada di masa pandemi, kolaborasi untuk film ini dilakukan secara jarak jauh. Khusus untuk film “2020: The Year of Hope” ini, Diana menampilkan koleksi pakaian dengan model bodysuit, yang berpadu kontras dengan ekor kain panjang dan dipadukan dengan masker, dengan hiasan kristal dan paku-paku metalik.

“Saya itu tetap menggunakan unsur-unsur couture (red.adibusana), tapi in a more of edgy dan vibe-nya itu, kayak end of the world vibe. Baju pesta, dimana mereka siap berjuang untuk hidup mereka. Jadi tidak terlalu elegan, tapi lebih terlihat berani. Mereka itu menunjukkan dua sisi dari seorang Diana Couture women, (yaitu) strong, yet elegant,” jelas Diana Putri melalui wawancara dengan VOA belum lama ini.

Produser dan musisi AS, Yasmeen "YAS" Al-Mazeedi mengenakan busana Diana Couture (dok: Reinhardt Kenneth)

Produser dan musisi AS, Yasmeen “YAS” Al-Mazeedi mengenakan busana Diana Couture (dok: Reinhardt Kenneth)

Dengan penuh kejujuran, masing-masing model yang mengenakan pakaian adibusana yang megah ini, menuangkan berbagai tragedi dan isu yang mencuat di tahun 2020, terkait dengan COVID-19, rasisme, xenofobia, gerakan Black Lives Matter dan kekerasan terhadap warga kulit hitam, serta masih banyak lagi.

Mereka mewakili berbagai perjuangan dan rasa putus asa terhadap dunia yang walau tengah dipenuhi kekacauan, namun, masih menampilkan secercah harapan.

Angkat Tema Bhineka Tunggal Ika

Salah satu pesan yang juga diangkat lewat film ini adalah semboyan bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu, sebagai fokus utama.

Inilah ide awal dari Diana dan Reinhardt untuk menampilkan tujuh model, yang memiliki latar belakang yang berbeda, dengan cerita yang berbeda-beda pula. Desainer Diana Putri menekankan, bahwa ia melihat banyak sekali kejadian di tahun 2020 yang merupakan akibat dari perpecahan dan kebencian.

“Maka dari itu sudah sepantasnya ada makna persatuan seperti yang kita punya itu, Bhineka Tunggal Ika. Jadi maka dari itu, diversity itu sangat dijunjung tinggi,” tambah Diana.

Model, sineas, sekaligus penyanyi, Cheverly Amalia memakai busana karya desainer Diana Putri (dok: Reinhardt Kenneth)

Model, sineas, sekaligus penyanyi, Cheverly Amalia memakai busana karya desainer Diana Putri (dok: Reinhardt Kenneth)

Cheverly Amalia yang menjadi salah satu model dalam film ini, menyambut baik ide tersebut. Menurutnya, “tanpa ada cinta diantara sesama manusia, bumi pasti akan hancur.”

“Sebenarnya, maknanya itu adalah tentang cinta. Memberi rasa cinta dan kesatuan. Pada intinya, kalau aku melihatnya sebagai cara untuk memberikan cinta kepada dunia, agar kita enggak usah ada perang,” tambahnya kepada VOA.

Syuting di Bangunan Ikonik

Dengan tema pesta dansa di akhir zaman, film 2020: The Year of Hope ini mengambil lokasi syuting di Millenium Biltmore, di Los Angeles.

Cole Woods, monter dan wirausaha bidang fashion mengenakan busana Diana Couture (dok: Reinhardt Kenneth)

Cole Woods, monter dan wirausaha bidang fashion mengenakan busana Diana Couture (dok: Reinhardt Kenneth)

Ini merupakan sebuah bangunan ikonik, yang telah menjadi saksi sejarah penggarapan berbagai film Hollywood, antara lain “A Star is Born” versi baru dan yang terdahulu, “the Bodyguard,” dan “Charlie’s Angels,” juga klip video musik dari penyanyi John Legend dan Taylor Swift.

Dalam kurun waktu tiga bulan, Reinhardt beserta sekitar 40 kru-nya berhasil menyelesaikan film ini, yang lalu ditayangkan secara virtual untuk pertama kalinya di ajang Thailand Fashion Week, November lalu.

“Persiapan untuk buat bajunya untuk Diana Couture, lalu (pengiriman ke Amerika) itu (kurang dari dua minggu),” kata Reinhardt.

Protokol Kesehatan Nomor Satu

Bekerja di tengah pandemi COVID-19 membuat Reinhardt dan tim menjadi ekstra hati-hati. Satu hal penting yang Reinhardt tekankan adalah keselamatan dari para krunya.

Seluruh proses syuting film “2020: The Year of Hope” ini dilakukan sesuai dengan peraturan pemerintah setempat dan mengikuti protokol kesehatan, seperti pengecekan suhu tubuh para kru, penggunaan masker dan face shield atau pelindung wajah.

“Aku tahu proyek aku itu selalu timnya gede ya, enggak mungkin timnya cuman kayak 5 orang. Apalagi buat fashion film dan aku sebelumnya belum pernah direct anything,” kata Reinhardt.

Berkarya Sambil Bersuara

Mengawali karirnya sebagai fotografer fashion di usianya yang pada waktu itu baru 14 tahun, Reinhardt selalu berusaha untuk tidak hanya menghasilkan sebuah karya seni, namun juga sebuah karya yang bisa menjadi wadah untuk bersuara, sekaligus berdampak baik bagi banyak orang.

Beberapa waktu lalu, karya-karya fotonya yang mengangkat isu xenofobia di tengah pandemi COVID-19, berhasil menjadi sorotan media lokal di Amerika, bahkan mengundang komentar publik.

Foto bertajuk #HateisnotaVirus karya fotografer Indonesia, Reinhardt Kenneth di Los Angeles (dok: Reinhardt Kenneth)

Foto bertajuk #HateisnotaVirus karya fotografer Indonesia, Reinhardt Kenneth di Los Angeles (dok: Reinhardt Kenneth)

Kini, melalui film “2020: The Year of Hope,” Reinhardt berharap orang-orang yang menonton bisa bersikap lebih baik dan merasa punya harapan.

“Saya ingin orang-orang yang menonton film ini bisa bersikap lebih baik dan merasa lebih punya harapan. Kalau kita bisa bersatu, kita bisa mengesampingkan perbedaan masing-masing, seperti warna kulit, agama, gender, dan sebagainya,” kata Reinhardt.

“Kita semua memiliki ras yang berbeda dan saya tidak mengatakan bahwa, kita semua memiliki kesempatan yang sama. Tidak. Disitulah masalahnya. Diskriminasi itu nyata. Latar belakang kita telah berdampak kepada kehidupan kita. Tapi kita harus belajar, bahwa kalau bisa bersatu, disitulah harapan yang sejati akan terlihat, karena kita akan bekerja sama untuk membantu memecahkan masalah masing-masing,” ujarnya.

Lewat film “2020: The Year of Hope” ini, Reinhardt Kenneth, Diana Putri, beserta tim-nya tidak hanya ingin menghasilkan sekadar film yang mengedepankan dunia fashion, tetapi juga mengangkat cerita yang penuh makna mengenai persatuan, yang bisa mendatangkan harapan. [di]