PERINGATAN!

Terdapat beberapa gambar yang mungkin tidak nyaman dilihat oleh sebagian pembaca. Pembaca diharapkan bijak dalam menentukan bilamana ingin melanjutkan artikel ini.

Ada beberapa peristiwa di fenomenal di dunia yang belum dapat dijelaskan secara gamblang penyebabnya. Beberapa kejadian itu mungkin di luar nalar, namun tetap, semuanya memang benar-benar terjadi. Tentunya, profis sudah paham takaran panas yang dihasilkan kobaran api. Akan tetapi, pernahkah profis membayangkan ketika sekelebat api muncul keluar dari tubuh secara tiba-tiba, padahal tak ada sumber panas atau benda yang berpotensi terbakar di sekitar profis?

Fenomena ini dinamakan dengan SHC (Spontaneous Human Combustion), atau bilamana diterjemahkan ke Bahasa Indonesia artinya Pembakaran Tubuh Manusia secara Spontan. Pembakaran di sini bukanlah sesuatu yang sifatnya disengaja atau disebabkan objek apapun di sekitar profis, melainkan karena zat dan energi yang terkandung di dalam tubuh profis sendiri.

Sudah pasti, fenomena SHC sangat berbahaya bagi kelangsungan nyawa penderitanya. Karena dengan cepat, tubuh korban akan dilalap si jago merah hingga lenyap menjadi abu.

Kejadian ini pertama kali tercatat pada tahun 1663. Thomas Bartholin, seorang ahli anatomi dari Denmark mengumumkan temuannya tentang seorang wanita yang terbakar secara tiba-tiba di atas tempat tidurnya. Anehnya, matras jerami tempat ia berbaring sama sekali tidak gosong. Pada tahun 1673, fenomena ini mulai mendapat perhatian cukup besar ketika seorang berkebangsaan Perancis bernama Jonas Dupont mempublikasikan kasus-kasus SHC yang berhasil dikumpulkannya dalam sebuah buku yang berjudul “De Incendiis Corporis Humani Spontaneis” (Bahasa lain dari SHC).

Sekelompok orang mulai berspekulasi. Mereka yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi dengan hal-hal magis mulai menyangkut-pautkan peristiwa ini dengan fenomena gaib. Sementara mereka yang berasal dari kepolisian harus dipusingkan untuk mencari tahu alasan yang lebih logis karena mereka dituntut untuk berpikir lebih rasional, mengingat bisa jadi ini adalah pola kriminalitas. Para peneliti mengamini pola berpikir mereka. Semenjak saat itu, SHC sibuk diteliti untuk dicari tahu sebab kemunculannya.

Yang membuat SHC unik, temuan-temuan kasus selanjutnya membuat para peneliti semakin dibingungkan dengan pola fenomena ini. Pertama, benda di sekitar tubuh korban tidak akan ikut terbakar. Kedua, bagian kaki korban selalu utuh sekalipun sekujur tubuhnya telah berubah menjadi abu dan asap. Selain itu, di lokasi kejadian, umumnya juga ditemukan substansi seperti lemak menyelimuti langit-langit dan dinding. Biasanya lapisan lemak ini mencapai hingga satu meter di atas lantai. Objek-objek yang berada dalam area satu meter ini menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat panas, seperti cermin yang retak atau lilin yang meleleh.

Umumnya peristiwa ini terjadi ketika korban sedang berada di dalam rumahnya sendiri dan petugas yang tiba di lokasi biasanya mencium bau asap dan bau manis pada ruangan tempat insiden tersebut terjadi. Setiap peristiwa yang tercatat, tak pernah ada satupun kasus dimana korbannya berteriak atau meminta tolong saat terbakar. Anehnya lagi, mereka yang selamat dari fenomena ini menuturkan bahwa pada saat tubuh mereka terbakar, mereka tidak menyadarinya karena tak merasakan panas sedikitpun.

Beberapa Peristiwa SHC yang Tercatat

Beatrice Oczki

Beatrice adalah seorang janda berusia 51 tahun yang memenuhi semua kriteria ‘calon’ korban fenomena SHC. Beberapa tahun sebelumnya, Beatrice sempat mengalami kecelakaan yang membuat lutut kirinya patah. Karena ia juga mengidap diabetes, tulang tersebut tidak pernah sembuh seperti semula dan membuatnya harus menghabiskan waktu terus menerus di dalam rumah. Selain ruang geraknya yang sangat terbatas, kondisi ini juga membuat Beatrice menjadi seorang pecandu alkohol.

Suatu hari, anaknya, Frank, berpamitan untuk berlibur dan bermain ski dalam waktu yang cukup lama. Setelah melepas anaknya pergi, Beatrice masuk ke dalam rumah dan duduk-duduk di kursi kesayangannya. Atau setidaknya, itulah kegiatan terakhir Beatrice yang bisa diketahui. Keesokan harinya, mantan istri Frank, Shelley, mendatangi rumah keluarga Oczki untuk mengambil beberapa barangnya. Setelah menunggu cukup lama tanpa jawaban, Shelley mencoba untuk masuk secara paksa. Apalagi Shelley mencium bau asap dari dalam rumah.

Karena semakin curiga, ia lalu memanggil petugas pemadam kebakaran. Namun, apa yang mereka temukan sungguh mengejutkan. Di dalam ruang tengah, di lokasi Beatrice harusnya berada, terlihat ada bekas kursi yang terbakar dan dua potong kaki, salah satunya menggunakan penyangga seperti milik Beatrice.

Setelah diteliti, para petugas cukup yakin jika Beatrice tewas dan terbakar habis hingga menjadi abu dan hanya menyisakan bagian kaki saja. Anehnya, hanya tubuh Beatrice dan kursi yang menempel pada tubuhnya saja yang terbakar habis. Sisanya, ruangan tersebut utuh tanpa noda. Bahkan, perabot plastik dan koran yang terletak di dekat mayat Beatrice terlihat utuh.

Helen Conway

Upper Dabby, Pennsylvania, adalah wilayah sub-urban yang cukup tenang. Bangunan-bangunan di sana, rata-rata merupakan rumah batu yang sudah berdiri sejak 1900-an. Namun, pada 8 November 1964, sebuah insiden misterius merusak ketenangan kota ini. Helen Conway, seorang perempuan berusia 51 tahun, ditemukan terbakar habis di dalam kamarnya. Berdasarkan kesaksian saksi mata, api misterius itu membakar dan menghanguskan tubuh Helen begitu cepat hingga jadi abu.

Hari itu, Helen tengah berada di rumah bersama dua cucunya, sementara anak dan menantunya tengah melancong ke luar kota. Sekitar pukul 08.15 pagi, Helen memanggil cucunya, Stephanie, yang tengah menonton TV di lantai satu. Ia meminta cucunya untuk mengambilkan korek. Helen memang dikenal sebagai perokok berat. Sekitar pukul 08.30, Stephanie turun dan kembali menonton televisi. Pukul 08.42, tetangga Helen, Robert Meslin, yang saat itu hendak berangkat ke gereja melihat ada kobaran api dari jendela kamar Helen. Ia pun bergegas mengetuk pintu rumah Helen, dan dibukakan oleh Stephanie.

Karena suhu panas yang luar biasa di lantai dua, Robert mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Helen. Sekitar pukul 08.48, petugas kebakaran tiba di lokasi dan menemukan seluruh tubuh Helen, kecuali kakinya, sudah berubah jadi abu. Hal ini tentunya cukup aneh. Sebab, umumnya, untuk bisa berubah menjadi abu, tubuh manusia harus dibakar dengan suhu seribu derajat dalam waktu paling tidak sekitar tiga jam. Sementara, dalam kasus Helen, diperkirakan Helen masih hidup pada pukul 08.42, atau enam menit sebelum ditemukan hangus menjadi abu.

Bayangkan, enam menit! Api sepanas apa yang membakar tubuh Helen? Anehnya lagi, meskipun api tersebut sangat panas, tidak ada kerusakan berarti di rumah Helen. Satu-satunya yang ikut hancur terbakar adalah kursi yang diduduki oleh Helen, sementara perabotan lainnya utuh tanpa noda.

George Mott

George Mott adalah seorang petugas pemadam kebakaran yang sudah bekerja selama 30 tahun di pusat Kota New York. Ratusan insiden api yang mematikan berhasil ia lewati, kecuali satu.

Pada 26 Maret 1986, putra George, Kendal, mendatangi rumah ayahnya setelah deretan teleponnya tidak mendapat respon sehari sebelumnya. Sejak pensiun, George harus menjalani terapi oksigen di rumah karena masalah paru-paru dan saluran pernapasan. Ia juga menjadi seorang perokok berat dan pecandu alkohol.

Namun, George tidak pernah menjawab. Kendal lalu menemukan hal janggal di rumah ayahnya. Jendela-jendela berwarna kecokelatan dan di dalam rumah nampak asap tipis. Saat memasuki kamar ayahnya, ia menemukan Sang Ayah sudah berubah menjadi abu dan hanya menyisakan beberapa potong tulang dan tengkorak.

Seperti kasus-kasus sebelumnya, tempat tidur George pun menjadi satu-satunya benda yang rusak parah di ruangan itu. Meski tubuh Geoge habis, layaknya dikremasi, namun tempat tidurnya tidak benar-benar hancur. Tapi, ada sedikit perbedaan di sini. Televisi di kamar George bagian ujungnya meleleh. Namun, boks kayu di dekat George justru baik-baik saja, dan terapi oksigen masih menyala dari masker George yang utuh.

Tak Semua Korban SHC Meninggal

Bayangkan, betapa mengerikannya ketika profis melihat api yang tak jelas asal-usulnya tiba-tiba muncul dari dalam tubuh dan membakar diri profis sendiri. Ini pula yang terjadi pada beberapa peristiwa SHC di masa lalu.

Pada September 1985, seorang perempuan muda bernama Debbie Clark sedang berjalan kaki pulang ke rumahnya. Tiba-tiba, ia melihat lidah api berwarna biru yang sesekali terlihat muncul di tubuhnya. Debbie yang mulai menyadari situasi berbahaya ini segera memberitahu ibunya yang panik yang segera memadamkannya dengan air.

Hal yang serupa juga pernah terjadi pada tahun 1980 ketika Susan Motteshead yang sedang berada di dapurnya melihat dirinya tiba-tiba diselubungi oleh api. Namun api tersebut tiba-tiba lenyap sebelum sempat membakar tubuhnya lebih lanjut.

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, para saksi yang selamat menuturkan bahwa mereka tidak merasakan adanya rasa panas atau sakit. Kesaksian ini menambah kadar misteri fenomena ini. Apakah ini berarti para korban tewas tanpa merasakan rasa sakit?

Penyebabnya yang Masih Misteri

Walau penyebab SHC belum dapat ditemukan secara pasti, namun beberapa teori yang dipublikasikan dalam beberapa penelitian cukup masuk akal untuk menentukan sebab-sebab fenomena ini.

Salah seorang peneliti sel, Lawrence Afrin, memprediksi fenomena langka ini dipicu oleh kondisi Mast Cell Activation Syndrome (MCAS). Dalam kondisi ini, sel mast secara spontan akan melepaskan lebih dari 200 molekul inflamasi, termasuk zat norepinefrin. Pelepasan norepinefrin—atau zat turunan sel mast lainnya—dalam jumlah besar bisa mengaktifkan protein UCP-1 dalam jumlah yang besar pula. Protein inilah yang menyebabkan oksidasi adiposa yang dilepaskan sebagai panas.

Pelepasan norepinefrin yang tiba-tiba bisa menyebabkan pembentukan panas dalam tubuh hingga lebih dari 90 derajat celcius. Dengan kebiasaan mengonsumsi alkohol, bukan tak mungkin pelepasan suhu yang tinggi ini dapat memantik munculnya api dari dalam tubuh korban. Apalagi bilamana penderitanya memiliki kandungan lemak yang tinggi di tubuhnya, tentunya hal ini dapat membuat api tersulut dengan baik.

Kendati demikian, hingga detik ini belum ada satu alasan ilmiah yang dipatenkan sebagai penyebab fenomena Spontaneous Human Combustion ini.