Gereja-gereja di Poso, Sulawesi Tengah, mengadakan kebaktian Natal 25 Desember 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pemantauan VOA di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Jemaat Elim Maliwuko, Kecamatan Lage, menunjukkan protokol jaga jarak membuat setiap bangku panjang di dalam gereja hanya digunakan untuk dua orang. Selama pelaksanaan kebaktian, umat diwajibkan mengenakan masker.Pendeta Victor Effendy Tehusiranna, mengatakan kepada VOA, jemaat tetap antusias mengikuti kebaktian Natal 25 Desember 2020 meski masih dalam situasi pandemi Covid-19.

Pihak gereja memberlakukan aturan 3M (mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker) selama pelaksanaan kebaktian. Kegiatan kebaktian juga disiarkan melalui internet dan pengeras suara sehingga para lanjut usia (lansia) dan anak-anak dapat mengikuti dari rumah.

Jemaat berpose dengan tiga personel TNI dari Batalyon 714/ Sintuwu Maroso yang melakukan pengamanan di Gereja GKST Jemaat Elim Maliwuko. Jumat (25/12/2020). (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Jemaat berpose dengan tiga personel TNI dari Batalyon 714/ Sintuwu Maroso yang melakukan pengamanan di Gereja GKST Jemaat Elim Maliwuko. Jumat (25/12/2020). (Foto: VOA/Yoanes Litha)

“Yah pada prinsipnya kita ikuti pemerintah, jadi anak-anak belum boleh. Jadi kita batasi anak sekolah minggu dan remaja hanya melalui virtual dan pengeras suara, lansia juga kita batasi,” kata Pendeta Viktor seusai memimpin kebaktian pada Jumat (25/12) pagi.

Menurutnya gereja ikut berpartisipasi mengkampanyekan protokol kesehatan sesuai arahan pemerintah.

Sumijo Toripalu, salah seorang jemaat, mengaku senang tahun ini dapat mengikuti kebaktian Natal di tengah pandemi. Dia hadir di gereja dengan mematuhi seluruh aturan protokol kesehatan. Kepada VOA, pria berusia 55 tahun itu berharap pada tahun 2021, pandemi akan berakhir.

“Dan kita berharap tahun 2021, Covid bisa diatasi apalagi informasi ini sudah mau ada vaksin” Harap Sumijo.

Yopy Hari, salah seorang jemaat GSKT Immanuel Desa Sintuwulemba mengungkapkan, dengan hanya 34 keluarga yang menjadi jemaat gereja itu, pelaksanaan kebaktian dapat dilakukan satu kali. Setiap orang yang hendak memasuki gedung gereja harus menjalani pemeriksaan suhu tubuh dan mengikuti ketentuan protokol kesehatan.

“Dengan syarat, misalkan jika ada yang memiliki penyakit flu atau batuk atau kurang sehat dalam bahasa kita, itu sebaiknya tidak datang beribadah, nanti dilayani di rumah masing-masing” kata Yopy.

Secara umum situasi pelaksanaan kebaktian Natal di Poso berlangsung lancar dan aman. Aparat keamanan TNI POLRI terlihat berjaga-jaga dengan persenjataan lengkap di luar gereja ketika kegiatan kebaktian berlangsung. [yl/ab]

ementerian Agama hari Senin (30/11) merilis panduan ibadah Natal saat perebakan pandemi virus corona. Menteri Agama Fachrul Razi dalam keterangan pers di Jakarta mengatakan penerapan panduan ini diharapkan akan meminimalisir risiko akibat terjadinya kerumunan warga tanpa mengesampingkan aspek spiritualitas umat dalam menjalankan ibadah Natal. “Rumah ibadah harus menjadi contoh terbaik dalam upaya pencegahan persebaran Covid-19,” tegasnya.Lebih jauh Fachrul Razi mengatakan pelaksanaan kegiatan keagamaan inti dan perayaan Natal di rumah ibadah dilakukan berdasarkan situasi riil di lingkungan rumah ibadah itu, bukan berdasarkan status zona di daerah di mana rumah ibadah berada.

“Meski daerah tersebut berstatus zona kuning, namun bila di lingkungan rumah ibada tersebut terdapat kasus penularan COVID-19, maka rumah ibadah dimaksud tidak dibenarkan menyelenggarakan ibadah berjemaah/ kolektif,” tambahnya.

Berikut ini rincian Surat Edaran No.23/Tahun 2020 yang dikeluarkan Kementerian Agama:

1. Ibadah dan perayaan Natal hendaknya dilaksanakan secara sederhana dan tidak berlebih-lebihan, serta lebih menekankan persekutuan di tengah-tengah keluarga;

2. Ibadah dan perayaan Natal selain diselenggarakan secara berjemaah/kolektif di rumah ibadah, juga disiarkan secara daring dengan tata ibadah yang telah disiapkan oleh para Pengurus dan Pengelola Rumah Ibadah;

3. Jumlah umat yang dapat mengikuti kegiatan lbadah dan Perayaan Natal secara berjemaah/kolektif tidak melebihi 50% dari kapasitas rumah ibadah;

4. Kewajiban Pengurus dan Pengelola Rumah Ibadah:

o Menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah;

o Melakukan pembersihan dan disinfeksi secara berkala di area rumah ibadah;

o Membatasi pintu/jalur keluar masuk rumah ibadah guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan;

o Menyediakan fasilitas cuci tangan/sabun/hand sanitizer di pintu masuk dan pintu keluar rumah ibadah;

o Menyediakan alat pengecekan suhu di pintu masuk bagi seluruh pengguna rumah ibadah. Jika ditemukan pengguna rumah ibadah dengan suhu >37,5″C (2 kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan memasuki rumah ibadah;

o Menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus di lantai/kursi, minimal jarak 1 meter;

o Melakukan pengaturan jumlah jemaat/umat/penggguna mmah ibadah yang berkumpul dalam waktu bersamaan, untuk memudahkan pembatasan jaga jarak;

o Mempersingkat waktu pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi penghayatan akan nilai-nilai Natal;

o Memasang imbauan penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah pada tempat-tempat yang mudah terlihat;

o Memberlakukan penerapan protokol kesehatan secara khusus bagi jemaat/umat tamu yang datang dari luar kota (dapat memperlihatkan hasil test PCR atau Rapid Test yang masih berlaku).

5. Kewajiban umat yang akan mengikuti kegiatan Ibadah dan Perayaan Natal secara berjemaah/kolektif:

o Jemaat/umat dalam kondisi sehat;

o Menggunakan masker/masker wajah sejak keluar rumah dan selama berada di area rumah ibadah;

o Menjaga kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer;

o Menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan;

o Menjaga jarak antar jemaat/umat minimal 1 (satu) meter;

o Menghindari berdiam lama di rumah ibadah atau berkumpul di area rumah ibadah, selain untuk kepentingan ibadah yang wajib;

o Bagi anak-anak dan jemaat/umat lanjut usia yang rentan tertular penyakit serta orang dengan sakit bawaan yang beresiko tinggi terhadap Covid-19 agar mengikuti ibadah secara daring di rumah masing-masing dengan tata ibadah yang telah disiapkan oleh para Pengurus dan Pengelola Rumah Ibadah;

o Ikut peduli terhadap penerapan pelaksanaan protokol kesehatan di rumah ibadah sesuai dengan ketentuan.

Hal-hal yang belum diatur dalam panduan ini, menurut Menteri Agama Fachrul Razi, dapat diatur secara khusus melalui imbauan para pimpinan Gereja Aras Nasional dan pimpinan Gereja Katholik Indonesia. [em/es]