Kristen Gray Gentrifikasi Bali — Tak dapat dipungkiri bahwa media sosial adalah pedang bermata dua. Beragam hal baik maupun buruk dapat diakses oleh siapapun di sana. Bahkan di era digital ini, banyak sekali kasus dan berita yang terendus dari sana.

Di awal tahun 2021 ini, jagat Twitter diramaikan oleh cuitan pengguna yang diketahui merupakan warga negara Amerika Serikat. Cuitan yang kini telah dihapus oleh penulisnya itu cukuplah kontroversial karena menyangkut urusan kenegaraan. Selain itu, kasus ini juga menciptakan banyak opini dari berbagai kalangan, karena disangkutpautkan dengan tensi rasisme dan menjadi perhatian internasional pula.

Kronologi Viralnya Cuitan Kristen Gray di Twitter

Kristen Gray namanya. Melalui akunnya yang bernama @kristentootie, wanita berumur 20-an itu mengisahkan tentang kisah hidupnya di Bali. Cerita ia awali dengan penjabaran tentang nasibnya saat di Amerika Serikat, dimana hidupnya terasa berkekurangan. Sepanjang 2019, wanita itu curhat kalau mendapatkan pekerjaan di Amerika sangatlah sulit.

Cuitan Kristen Gray

Tak tahan dengan kondisi itu, akhirnya ia dan kekasihnya yang juga seorang wanita memutuskan membeli tiket penerbangan ke Bali untuk satu kali jalan. Poin pertama yang dipermasalahkan pun muncul. Kristen Gray dan kekasihnya mengurus izin visa untuk berlibur. Namun hanya membeli tiket sekali jalan (bukan pulang-pergi selayaknya orang berlibur).

Cuitan Kristen Gray

Sesampainya di Bali, wanita itu mencoba peruntungan di bidang yang ia kuasai; desain grafis. Ia bercerita bahwa usahanya bisa dibilang penuh perjuangan. Namun dengan kerja kerasnya, ia pun berhasil mencapai stabilitas finansial di Pulau Dewata.

Cuitan Kristen Gray

Kristen Gray begitu puas dengan kehidupan barunya di Indonesia. Ia merasa banyak kebahagiaan yang dapat ditemukan di Bali. Salah satunya keamanan, biaya hidup yang sangat terjangkau sekalipun untuk bermewah-mewah, serta komunitas kulit hitam dan LGBT yang ia rasa begitu pas dengan mimpinya.

Merebaknya pandemi di Indonesia membuat wanita itu harus menetap lebih lama. Hingga menimbulkan asumsi bahwa visa kunjungannya telah kadaluwarsa. Di utas itu pula, Kristen Gray menjual buku yang berisi tips yang memiliki narasi ajakan agar banyak WNA yang pindah dan memulai hidup di Bali.

Muncullah masalah utamanya. Salah seorang warganet yang membeli buku tersebut membeberkan bahwa Kristen Gray memaparkan secara gamblang tentang tips untuk mengakali visa kunjungan ke Indonesia. Hal yang tentunya sangat bertentangan dengan prinsip negara kita yang mengacu pada hukum.

Digorengnya Isu Rasisme Terhadap Kulit Hitam dan LGBT

Cuitan Pendukung Kristen Gray

Bisa ditebak, warganet Indonesia pun mengeluarkan jurus ketikan pedasnya. Mulai dari kritik yang santun hingga hujatan mulai memenuhi beranda akun sosial media Kristen Gray. Opini pun terpecah. Ada yang fokus terhadap kesalahan yang Kristen Gray lakukan, ada yang hanya sekedar melontarkan ledekan rasis dan orientasi seksualnya, bahkan ada juga yang mendukungnya.

Merasa diserang, Kristen Gray dan beberapa warganet lain yang kebanyakan berasal dari luar negeri pun melakukan pembelaan. Lucunya, pembelaan yang dilakukan pun bukannya fokus pada inti konflik.

Kristen Gray malah playing victim (memainkan narasi kalau seakan-akan ia adalah korban) seolah hujatan yang ia dapat tak lain karena dirinya berkulit hitam dan LGBT. Yang menyedihkan, para pendukungnya juga menyebut kalau masyarakat kita terbelakang, tidak berpikiran terbuka, dan dengki dengan kehidupan orang lain. Padahal, Kristen Gray sendiri melanggar hukum.

Fenomena Ini Sejatinya Telah Berjalan Cukup Lama

Konten YouTube Mencari Uang di Bali

Ketika mengetik kata kunci mengenai mencari uang di Bali, YouTube akan menampilkan banyak konten yang dibuat oleh para WNA di sana. Video yang tampil juga telah diunggah cukup lama oleh kreatornya. Hal ini tentu menjadi bukti kalau praktik serupa tentu sudah menjamur cukup lama di Bali.

Akankah Gentrifikasi Terjadi di Bali Kelak?

Kasus Kristen Gray dan banyak warga asing ilegal lainnya seharusnya cukup kuat untuk menjadi alarm bagi Ditjen Imigrasi. Tak dapat disangkal, mungkin hal ini akan tetap terpendam kalau kasus ini tidak viral. Entah sudah berapa banyak kerugian dari pajak yang dialami negara oleh maraknya praktik yang berjalan sejak lama ini.

Di sisi lain, mencuatnya pemberitaan Kristen Gray di media sosial juga harus diperhatikan agar pihak terkait mengambil tindakan preventif guna mencegah gentrifikasi di Bali. Karena bilamana ini terjadi, akan sangat berdampak pada penduduk lokal yang mayoritas penghasilannya tidak sebesar WNA yang menetap di sana.

Secara sederhana, gentrifikasi adalah kondisi dimana nilai (harga) sebidang tanah di sebuah wilayah yang mengalami kenaikan yang signifikan dan timpang dengan penghasilan masyarakat di sana. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pendatang yang memiliki uang lebih banyak dari segi kurs yang memutuskan untuk menetap di wilayah itu.

Ya, Kristen Gray menampar segenap Indonesia dan memperingatkan kita bahwa peluang terjadinya gentrifikasi di Bali sangatlah besar bilamana pemerintah beserta jajaran terkait tidak ambil langkah tegas.

Fakta mencengangkan tentang Jepang — Sebagai sebuah negara maju, kesan positif tentunya melekat di kepala kita ketika mendengar negara Jepang. Terbayang kecanggihan teknologi, kesopanan dan kedisiplinan budayanya, serta paras tampan dan cantik penduduknya.

Sayangnya, semua yang kasat mata ternyata tak sepenuhnya istimewa. Negara yang pernah memainkan peran antagonis di benua Asia ini ternyata memiliki banyak fakta mencengangkan nan kelam yang tak banyak diketahui orang. Apa saja? Berikut fakta mencengangkan tentang Jepang:

1) Fenomena Hikikomori yang Semakin Meresahkan

Hikikomori di Jepang

Di Jepang, Hikikomori adalah kondisi psikologis yang membuat orang menutup diri dari masyarakat, sering tinggal di rumah mereka, dan enggan bersosialisasi. Tak tanggung-tanggung, mereka yang terjerat dalam fenomena ini bisa berdiam diri di rumah sampai berbulan-bulan!

Kita mengenal Jepang sebagai negara yang sangat sistematis, terstruktur, dan maju. Terdengar elegan, namun ternyata inilah faktor pendorong timbulnya fenomena ini. Kemajuan itu menuntut masyarakatnya untuk selalu perfeksionis, hingga menciptakan kesan kaku dan dipenuhi tekanan.

Fenomena yang diidap oleh setengah juta penduduk Jepang ini kebanyakan dialami oleh penduduk berusia remaja hingga pemuda. Tekanan sosial dari lingkungan dan bahkan keluarga sendiri membuat mereka merasa lebih nyaman dengan kesendiriannya di rumah. Selain itu, bullying adalah penyebab terbanyak lainnya.

Para Hikikomori menjadi semakin banyak karena banyaknya siswa atau orang muda yang frustrasi dengan lingkungan mereka yang penuh dengan bully, kesempatan kerja yang sempit, atau bosan dengan kehidupan yang ada di sekitar mereka. Mereka akhirnya mengandalkan orang tua untuk terus menopang hidup mereka, tak sedikit yang berujung dengan bunuh diri karena merasa sia-sia.

2) Masalah Etika yang Begitu Kompleks

Di Jepang, hal yang mungkin dianggap remeh oleh manusia di belahan bumi lain dapat menjadi besar. Ketatnya budaya disiplin dan malu yang secara turun temurun melekatlah sebabnya. Sekali lagi, terdengar begitu ideal. Akan tetapi, dampaknya terhadap individu dapat berbuntut panjang.

Di Jepang, ada sebuah tradisi bernama Harakiri. Tradisi yang cukup fenomenal di zaman dahulu itu adalah cara orang Jepang untuk mempertahankan harga dirinya, baik karena kesalahan maupun rasa malu. Sayangnya, Harakiri ternyata bukanlah sesuatu yang enteng. Harakiri adalah jenis tindakan bunuh diri dengan menyobek perut menggunakan katana.

Fenomena Harakiri di Jepang

Meskipun dewasa ini praktik tersebut semakin menurun, akan tetapi para pelaku Harakiri masih ada, terutama dari mereka yang lahir dari latarbelakang keluarga yang kental budaya. Mirisnya, penyebabnya kebanyakan sepele. Rasa malu atau bersalah akibat perbuatan yang tak sejalan dengan konsep etika Jepang.

3) Jam Kerja yang Sangat Panjang, Namun Kontras dengan Produktivitas

Di Jepang, waktu untuk bekerja seakan mengisi 75 persen dari aktivitas harian orang dewasa. Budaya malu yang besar membuat mereka masih akan terus bekerja untuk pulang lebih larut dari senior mereka. Mereka juga malu bila harus membawa pulang pekerjaan mereka, sehingga negara tersebut masuk ke dalam salah satu negara dengan jumlah jam kerja paling panjang di dunia.

Jam kerja tertinggi di dunia

Dari tabel di atas, mungkin masih ada negara-negara gila kerja lain di atas Jepang. Akan tetapi, tabel produktivitas di Jepang juga menduduki urutan yang jomplang.

Produktivitas kerja tertinggi di dunia

Lagi-lagi, inilah yang menjadi faktor lain yang mendorong penduduk Jepang semakin merasa stres dalam menjalani kehidupan mereka. Pekerjaan dengan beban dan waktu yang menggembung, namun produktivitas dan penghasilan yang tak seberapa.

4) Masalah Populasi I; Tergerusnya Populasi Muda

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan dimana ras Jepang dapat punah dalam beberapa puluh tahun kedepan apabila masalah populasi tak kunjung terselesaikan. Miris, ungkapan tersebut bukanlah omong kosong semata. Semenjak tahun 2008 silam, angka kematian sudah melebihi angka kelahiran di Jepang.

Angka kelahiran dan kematian di Jepang

Penyebabnya bervariasi, namun rendahnya angka pernikahan adalah salah satu pendulang utamanya.

Angka pernikahan dan perceraian di Jepang

Dari grafik di atas, kita dapat melihat bahwa angka perceraian masih rendah, namun angka pernikahan terus menurun. Begitu pula dengan angka kelahiran yang lebih rendah daripada kematian. Hal ini menarik, karena rupanya ada kecenderungan dari penduduk Jepang yang cukup umum saat ini untuk menunda pernikahan, tidak menikah sama sekali, dan banyak juga yang menikah namun berkomitmen untuk tidak punya anak.

Selain itu, isu ketimpangan gender juga membuat wanita di Jepang enggan menikah, atau menikah tanpa mau memiliki anak. Dalam indeks Gender Gap oleh PBB, dari 149 negara, wanita Jepang ada di peringkat 110 sebagai negara dengan perbedaan status terbesar antara Lelaki dengan Wanita. Para wanita menyiasati hal ini dengan mengurangi “beban” mereka, dengan tidak mau mempunyai anak.

Untuk mengatasi tingkat kelahiran yang terus menurun ini, pemerintah Jepang melakukan banyak upaya seperti menjamin biaya sekolah anak, mendukung wanita untuk berkarir dan memiliki emansipasi sesuai perkembangan jaman. Bahkan Jepang mendukung para wanita untuk tidak berganti nama belakang setelah menikah, agar memberikan kesan bahwa wanita kini sudah setara dengan pria.

5) Masalah Populasi II; Overpopulasi Lansia

Lansia Jepang

Pola hidup sehat masyarakat Jepang membuat jumlah manula di sana sulit berkurang, karena hampir seluruhnya berumur panjang. Tercatat, Jepang memiliki lansia dengan jumlah terbanyak di dunia.

Negara Jepang memiliki lansia terbanyak

Hal ini tidak diinginkan pemerintah, karena lansia sudah tidak produktif. Mereka cenderung menjadi beban negara karena tidak bekerja, akan tapi terus membutuhkan biaya hidup. Banyak diantara mereka tidak memiliki pensiun sehingga mengandalkan pemerintah. Beberapa bahkan rela dipenjara demi bisa terjamin hidupnya.

Mereka beranggapan bahwa di penjara jauh lebih baik, karena makan mereka ditanggung. Mereka bahkan mendapat perawatan kesehatan gratis di penjara. Biaya panti jompo sangat mahal, mereka malu jika terus bergantung pada anak-anak mereka, sehingga penjaralah yang menjadi pilihan.

6) Maraknya Pernikahan Aneh

Bukan, ini bukan pernikahan sesama jenis. Bukan juga pernikahan dengan hewan. Melainkan;


Berefleksi dari fakta mencengangkan tentang Jepang di atas, sejatinya pencipta jargon Cahaya Asia itu bukanlah negara yang sempurna. Banyak masalah internal yang terjadi dalam dinamika kehidupan mereka.

Apakah profis siap tinggal di Jepang?

Bendera Brazil sangat rumit — Di antara jajaran negara yang terletak di Amerika Selatan, bisa dibilang Brazil memiliki keunikannya tersendiri. Kondisi geografis yang indah, demografis yang beragam, serta konflik yang kerap terpantik seakan menciptakan ciri khas tersendiri terhadap negara ini. Selain itu pula, bendera Brazil juga memiliki kekhususan yang jarang diketahui orang.

Bendera Brazil

Tampaknya, bendera negara terluas di Amerika Selatan ini cukup sederhana komposisinya. Hanya kotak hijau, belah ketupat kuning, lingkaran biru, tulisan Ordem E Progresso dengan latar putih, dan bintang-bintang. Tapi ternyata, komposisi yang membentuk bendera Brazil ini sangatlah kompleks.

Lingkaran Biru yang Berada di dalam Bendera Brazil Membentuk Pola Rumit

Bagian biru bendera Brazil

Bilamana diperbesar, barulah banyak orang menyadari bahwa titik bintang yang bertengger di bagian biru bendera Brazil memiliki makna tersendiri. Semua bintang disusun menurut konstelasi yang terlihat di langit Rio de Janeiro tanggal 15 November 1889 pukul 8.30 pagi waktu setempat. Ukuran besar kecilnya bintang menyesuaikan dengan luas wilayah masing-masing state di Brazil. Penjelasan mengenai konstelasi bintang dalam bendera Brazil ialah sebagai berikut:

  1. Procyon, melambangkan state Amazonas. Bintang ditempatkan paling kiri melambangkan lokasi state Amazonas yang berada paling barat di Brazil.
  2. Canis Major, melambangkan state Mato Grosso, Amapá, Rondônia, Roraima, dan Tocantins;
  3. Canopus, melambangkan state Goiás;
  4. Spica, melambangkan state Pará. Bintang ditempatkan di atas tulisan Ordem E Progresso melambangkan lokasi state Pará yang berada di atas garis khatulistiwa;
  5. Hydra, melambangkan state Mato Grosso do Sul dan Acre;
  6. Crux Australis, melambangkan state São Paulo, Rio de Janeiro, Bahia, Minas Gerais, dan Espírito Santo;
  7. Sigma Octantis, melambangkan state Distrito Federal atau Brasília yang merupakan ibu kota Brazil;
  8. Triangulum Australe, melambangkan state Rio Grande do Sul, Santa Catarina, dan Paraná;
  9. Scorpius, melambangkan state Piauí, Maranhão, Ceará, Alagoas, Sergipe, Paraíba, Rio Grande do Norte, dan Pernambuco. Bintang-bintang ditempatkan paling kanan melambangkan lokasi semua state yang berada paling timur di Brazil.

Aturan Rumit Lain dalam Menggambar Bendera Brazil

Selain bintang-bintang yang rumitnya bukan main, penulisan Ordem E Progresso juga memiliki aturan sendiri. Huruf P dalam kalimat itu harus berada tepat di bagian diameter vertikal lingkaran. Setiap huruf dalam tulisan Ordem dan Progresso ditulis dengan tinggi 0.33 meter dan lebar 0.30 meter. Tulisan E ditulis dengan tinggi 0.30 meter dan lebar 0.25 meter.


Dari pemaparan mengenai bendera Brazil yang ternyata sangat rumit, sudah sewajarnya kita menanamkan rasa bersyukur karena Indonesia memiliki bendera yang sederhana, namun mampu menuangkan makna filosofis yang begitu dalam.

eSIM Card di Indonesia — Mulai dari tipe Full, Mini, Micro, hingga Nano, ukuran kartu SIM (SIMcard) pada ponsel terus dipangkas. Alasannya, karena teknologi yang disematkan di dalam ponsel akan semakin canggih seiring berjalannya waktu. Hasilnya, celah sekecil apapun di dalam bodi ponsel harus dimanfaatkan untuk meletakkan sistem lain.

Revolusi SIM Card di Indonesia

Tren ini tidak berhenti di ukuran nano yang bahkan sudah sangat kecil. Beberapa tahun belakangan, tren penggunaan eSIM Card atau kartu SIM non-fisik mulai menjamur di Indonesia. Para penyedia layanan telekomunikasi telah memulai lomba untuk merancang produk eSIM yang inovatif dengan strateginya masing-masing.

Serba-serbi eSIM Card di Indonesia

Smartfren adalah operator pertama yang membawa teknologi ini ke Indonesia. Berbeda dengan kartu SIM biasa, eSIM bersifat non-fisik. Cara pemakaiannya yaitu memanfaatkan teknologi barcode, dimana penggunanya memindai kode batang tersebut untuk mengaktifkan di ponselnya.

Sistem ini tentunya sangat inovatif, mengingat pengguna tidak perlu repot-repot membongkar pasang celah kartu SIM-nya. Apalagi, cara membuka tempat kartu SIM di ponsel kekinian cukup rumit. Ponsel berkonsep gawai kebanyakan mendesain bentuk ponselnya seminimalis mungkin. Membuka tempat kartu SIM memerlukan jarum khusus yang ditusukkan ke lubang dimana tempat kartu SIM tersebut tersimpan. Sayangnya, jarum tersebut tak selalu kita bawa.

Sayangnya, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) masih belum mengatur regulasi yang jelas mengenai sistem ini. Bisa dibilang, penggunaan eSIM di Indonesia tidak dilarang. Namun tanpa adanya regulasi, keamanan penggunaan masih dipertanyakan oleh para calon pengguna yang berminat dengan teknologi embedded SIM Card ini.

Keuntungan Ketika eSIM Card Sudah Didukung Mayoritas Ponsel

1) Lebih Murah

Jangan salah, produksi kartu SIM fisik tetap membutuhkan biaya. Biaya produksi benda mungil itu juga tidaklah sedikit. Dengan adanya inovasi ini, penyedia layanan operator telepon bisa menekan biaya produksi kartu SIM fisik. Dampaknya bagi pengguna yaitu harga paket internet akan lebih murah. Karena biaya untuk produksi kartu fisik oleh operator telepon akan dialokasikan untuk memanjakan pengguna mereka, dengan mempersembahkan biaya yang lebih terjangkau.

2) Teknologi Ponsel Waterproof akan Lebih Terjangkau

Teknologi anti air atau waterproof adalah salah satu hal yang diidam-idamkan hampir seluruh pemakai ponsel. Dengan pengaplikasian khusus eSIM pada ponsel, maka produsen ponsel akan lebih mudah untuk mewujudkan teknologi tersebut dengan biaya yang terjangkau. Mengapa demikian? Konsep ponsel khusus eSIM akan membuat desain ponsel tidak lagi memerlukan di sasis telepon. Implikasinya, improvisasi membuat bodi telepon yang tahan air akan lebih mudah diterapkan.

3) Tak Ada Lagi Gonta-Ganti Kartu SIM

Beberapa tahun sekali, tak jarang kartu SIM yang tersemat di ponsel kita tiba-tiba tidak dapat terbaca. Entah disebabkan oleh gangguan pada kuningan ponsel itu sendiri, atau karena fisik kartu SIM-nya yang sudah renta, namun hal ini sangat menyebalkan. Kita harus berkorban waktu dan biaya untuk pergi ke gerai resmi operator untuk mendapatkan fisik baru kartu nomor telepon kita. Setelah era eSIM berjaya, hal ini tak akan lagi kita temukan.

4) Aman

Sistem kartu non-fisik tentunya memaksimalkan teknologi digital yang dapat dengan mudah dikontrol oleh operator telepon. Di masa depan, kehilangan atau kerusakan ponsel tidak akan berdampak pada hilangnya nomor telepon. Pastinya, operator telepon penyedia eSIM akan membuat terobosan baru, dimana layanan laporan secara daring akan diciptakan. Mulai dari blokir hingga permintaan agar nomor yang sama kembali diaktifkan pastinya bisa dilakukan dengan mudah oleh pengguna.

Antara Sumatera Timur dan Aceh — Bagi beberapa orang, konotasi negatif mengenai Aceh telah melekat. Masifnya isu separatisme mengenai daerah di ujung barat Nusantara tersebut membuat banyak asumsi yang timbul akan kesetiaannya terhadap Indonesia. Sayangnya semua itu salah.

Tujuh puluh tahunan silam, Aceh pernah menjadi benteng bagi keutuhan republik. Ketika nafas terakhir federasi Sumatera mencari dukungan dari enam belas bangsa di sana, Aceh dan Nias adalah dua bangsa yang secara tegas menunjukkan penolakan.

Terlahirnya Konsep Negara Sumatera Timur

Pada masa itu, Sumatera terbagi menjadi dua golongan, pro-republik dan pro-feodal. Pemikiran ini berasal dari Tanah Deli. Kaum pro-republik terpicu oleh semangat nasionalisme yang gencar bergelora di nusantara. Sementara kaum pro-feodal berisi para pendukung dari bangsawan Sumatera (terutama Melayu) yang tak ingin kehilangan kekuasaan mereka atas kerajaan di Sumatera.

Dalam memperjuangkan kepentingan politik itu, kaum pro-feodal menggalang dukungan dari masyarakat non-pribumi. Mereka membuka jalur kemudahan kepada para pekerja India, saudagar Tionghoa, dan kaum kolonial Belanda. Bahkan Belanda amat senang dengan niatan para sultan membentuk negara pro-Belanda ini dan menjadi sponsor di balik gerakan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kaum pro-republik justru semakin menguat. Menguatnya dukungan masyarakat ke kaum pro-republik pun membuat pro-feodal berusaha berkompromi dan mencari jalan keluar. Alhasil, tercetuslah konsep federasi Sumatera, dimana agar negara Sumatera menjadi negara federasi di dalam Indonesia. Dengan konsep ini, Sultan Melayu diharapkan memiliki integritasnya tersendiri sekalipun Indonesia telah berdiri kokoh.

Daud Bereuh, Pahlawan Keutuhan Indonesia dari Sumatera yang Jarang Dibahas

Daud Bereuh, tokoh Aceh yang Menolak Negara Sumatera Timur

Tengku Mansoer, bangsawan Melayu Sumatera Timur yang berperan menggawangi inisiasi ini berniat menyelenggarakan Muktamar Sumatera sebagai momentum deklarasi federasi Sumatera. Ia mengundang enam belas bangsa besar di Sumatera, termasuk Daud Bereuh yang saat itu memimpin Aceh.

Sungguh bijaksana Daud Bereuh yang menolak undangan tersebut, bahkan mengecamnya. Daud juga menyebutkan bahwa konsep federasi hanyalah rekaan Belanda untuk menancapkan tentakelnya di nusantara. Lewat suratnya, Daud Beureueh menyatakan dengan tegas;

Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada, sebab itu kita tidak bermaksud untuk membentuk suatu Aceh Raya dan lain-lain karena kita di sini adalah Republiken. Sebab itu juga, undangan dari wali negara Sumatera Timur itu kita pandang sebagai tidak ada saja, dan karena itulah tidak kita balas.

Di Aceh tidak terdapat salah paham sebagaimana diterangkan oleh Belanda itu, bahkan kita mengerti betul apa yang dimaksud oleh Belanda itu dengan Muktamar Sumateranya. Maksud Belanda ialah hendak mendiktekan kepada dr. Mansoer supaya menjalankan politik devide et impera-nya lagi. Sebab itu kita menolak adanya Muktamar Sumatera tersebut dan kita sendiri telah siap menanti segala kemungkinan yang bakal timbul dari sikap penolakan kita itu.

Kita yakin bahwa mereka yang menerima baik undangan dr. Mansoer tersebut, bukanlah orang Republiken. Tetapi mereka itu adalah kaki tangan dan budak kolonialisme Belanda yang selama ini sudah diberi makan roti.

Kesetiaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah RI di Jakarta bukan dibuat-buat serta diada-adakan, tetapi kesetiaan yang tulus dan ikhlas yang keluar dari lubuk hati nurani dengan perhitungan dan perkiraan yang pasti. Rakyat Aceh tahu pasti bahwa kemerdekaan secara terpisah-pisah, daerah perdaerah, negara pernegara, tidak akan menguntungkan dan tidak akan membawa kepada kemerdekaan yang abadi.

Alasan Aceh Menolak Federasi Sumatera

Selain melihat ini sebagai akal-akalan Belanda, Aceh juga menunjukkan loyalitas untuk republik tatkala beberapa bangsa Sumatera lain masih ragu-ragu. Selain itu bangsa Aceh tidak pernah menganggap Sumatera sebagai satu kesatuan hingga didambakan adanya federalisme khusus Sumatera

Bagi orang Aceh, bangsa-bangsa Sumatera, seperti Lampung, Minang, maupun Palembang itu setara dengan bangsa-bangsa non-Sumatera. Tidak pernah ada ikatan khusus antara (misalnya) Aceh dan Palembang hanya karena keduanya sama-sama berasal dari Sumatera. Dari sini bangsa Aceh memandang federasi Sumatera adalah ide yang mengada-ada.

Sepemahaman dengan Aceh, Nias Menolak Pula Usulan Tersebut

Penolakan Nias akan Negara Sumatera Timur

Ternyata tak hanya Aceh. Dari enam belas bangsa di Sumatera kala itu, Nias pun menyatakan ketidaksetujuannya dengan wacana tersebut. Hal itu diungkapkan pemimpin Nias ketika utusan Tengku Mansoer datang ke Gunungsitoli.

Muktamar Sumatera itu sendiri sebenarnya tidak sukses. Sebagian besar tokoh undangan yang menyanggupi hadir sejatinya bukan para tokoh yang memiliki pengaruh besar di suku masing-masing. Sehingga Muktamar Sumatera ditutup dengan hasil yang sangat tidak memuaskan.

Berakhirnya Mimpi Federasi Sumatera Timur

Kemenangan pro-republik akhirnya menjadi pemenang antara pemikiran Sumatera Timur dan Aceh. Seiring berjalannya waktu, tokoh-tokoh penting setiap bangsa di Sumatera mulai berganti haluan menjadi pro-republik. Mayoritas tokoh Sumatera pada saat itu menyadari bahwa primordialisme bukanlah kunci dari keberhasilan kemerdekaan.

Selain itu, kekuatan pihak pro-republik terlampau besar untuk dihadapi kaum pro-feodal, baik dari aspek militer maupun dari aspek diplomasi internasional. Mimpi Negara Sumatera Timur luluh beberapa bulan kemudian, tatkala Negara Kesatuan Republik Indonesia diakui Belanda pada 27 December 1949. Hingga kemudian, entitas itu bubar pada tanggal 15 Agustus 1950.

Tak ada yang mengira kalau asal mula demonstrasi Hongkong yang sedang cukup viral di berita internasional saat ini berawal dari hal sepele. Bisa dibilang, peristiwa ini adalah salah satu contoh dari butterfly effect atau efek kupu-kupu, dimana sebuah peristiwa yang terjadi mengakibatkan peristiwa besar, yang bahkan dapat mengubah sejarah.

Infografik; Asal Mula Demonstrasi Hongkong
Infografik; Asal Mula Demonstrasi Hongkong

Awal Mula

Pada 17 Februari 2018, Chan Tong-kai alias Chen Tongjia membunuh pacarnya yang bernama Amber Poon Hiu-wing alias Pan Xiaoying di Taipei, Taiwan. Ia dan pacarnya berasal dari Hongkong dan sedang pergi berlibur di Taiwan. Di Taipei, Chan Tong-kai dan Poon Hiu-wing terlibat pertengkaran besar.

Di tengah pertengkaran, Poon Hiu-wing mengaku bahwa bayi yang dikandungnya bukanlah anak dari Chan Tong-kai, ia bahkan menunjukkan rekaman video tak senonohnya bersama mantan kekasihnya. Naik pitam, Chan Tong-kai pun membunuh pacarnya. Jenazah kekasihnya ia masukkan ke dalam koper dan dibuang ke Sungai Tamsui. Setelah itu, Chan Tong-kai pulang ke Hongkong.

Rekaman CCTV Chan Tong-kai Membawa Jenazah Kekasihnya dalam Koper
Chan Tong-kai tertangkap CCTV membawa jenazah kekasihnya di dalam koper

Orangtua Poon Hiu-wing yang khawatir pun melaporkan keberadaan anaknya yang sudah beberapa hari hilang kepada kepolisian Hongkong. Setelah serangkaian investigasi, akhirnya polisi menemukan titik terang. Chan Tong-kai dipanggil oleh pihak kepolisian dan ia mengaku telah membunuh Poon Hiu-wing di Taiwan.

Akar Permasalahan

Demonstrasi Penolakan Ekstradisi di Hongkong
Demonstrasi Penolakan Ekstradisi di Hongkong (Sumber: BBC)

Di sinilah masalahnya dimulai. Kejahatan itu dilakukan Chan Tong-kai di Taiwan yang merupakan kawasan diluar yuridiksi Hongkong. Dengan demikian, kejahatan yang dilakukannya tidak dapat diadili di Hongkong, melainkan hanya bisa di Taiwan. Akan tetapi, Taiwan dan Hongkong tidak memiliki perjanjian ekstradisi.

Perlu diketahui, Hongkong merupakan wilayah spesial yang diserahkan oleh Inggris kepada China pada tahun 1997. Namun setelah penyerahan itu, Hongkong tetap memiliki otonomi khusus, sehingga memiliki hukum yang berbeda dengan China daratan.

Usulan China akan pengadaan Undang-undang Ekstradisi antar China, Taiwan, dan Hongkong ditafsirkan sebagai kesempatan untuk China dalam memperkuat pengaruhnya atas Hongkong. Para aktivis pro-demokrasi khawatir jika UU ini disahkan, maka akan banyak aktivis pro-demokrasi yang ditangkap oleh otoritas China dan akan diadili sesuai hukum komunis di China daratan.

Demonstrasi Besar-besaran

Demonstrasi Hongkong Memanas pada 2019
Demonstrasi Hongkong Memanas pada 2019 (Sumber: Wikipedia)

Untuk menolak usulan Undang-undang Ekstradisi tersebut, protes dan demonstrasi besar-besaran pun terjadi. Bahkan sampai hari ini, protes tersebut belum juga usai. Akibat demonstrasi, situasi di Hongkong mencekam. Ekonomi melemah, keamanan menurun drastis, Hongkong seakan dilumpuhkan oleh karena konflik politik di sana.

Chan Tong-kai mungkin tidak akan menyangka, aksi kriminal yang ia lakukan akan membuat buku Sejarah di Hongkong menjadi lebih tebal. Tahun 2019 hingga sekarang tentunya akan menjadi tahun yang tak akan dilupakan warga Hongkong. Dimana akibat pembunuhan yang dilakukan oleh pemuda labil sukses menciptakan demonstrasi besar-besaran yang akan tercatat oleh sejarah.