Berawal dari sebuah proyek yang diusung oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia atau PPI di Paris, yang memberikan layanan jasa tempat tinggal bagi para wisatawan Indonesia yang ingin berlibur ke Paris, lahirlah Kamar Pelajar, yang tahun 2019 lalu menjadi sebuah lokapasar akomodasi atau marketplace yang menguntungkan, dari dan untuk warga Indonesia.

“Ide awalnya itu di Paris, Perancis, karena (di) Paris itu kan banyak sekali wisatawan dari Indonesia (dan) banyak juga pelajar Indonesia di sana,” ujar Satu Cahaya Langit, CEO dari Kamar Pelajar kepada VOA melalui Skype belum lama ini.

Satu Cahaya Langit, CEO Kamar Pelajar yang tinggal di Stockholm, Swedia (Dok: Satu Cahaya Langit)

Satu Cahaya Langit, CEO Kamar Pelajar yang tinggal di Stockholm, Swedia (Dok: Satu Cahaya Langit)

Satu yang juga adalah mahasiswa S2 jurusan ilmu komputer di KTH Royal Institute of Technology di Stockholm, Swedia, melihat adanya “potensi yang besar” dari proyek mahasiswa ini dan memutuskan untuk menjadikannya sebagai “roda ekonomi PPI dan mahasiswa Indonesia yang ada di luar negeri.”

Dengan moto “Hemat, Nyaman, Tambah Teman,” wisatawan Indonesia, termasuk juga pelajar Indonesia di luar negeri, bisa mendapatkan akomodasi dengan harga yang murah dan terjangkau, dengan tuan rumah yang adalah mahasiswa asal Indonesia di luar negeri.

“Ketika kita travel ke luar negeri, kita kayak jauh dari orang Indonesia, enggak tahu siapa-siapa, tapi kalau kita tahu ada pelajar Indonesia, di kota yang kita tuju ini, kita jadi merasa lebih nyaman, lebih enak atau lebih akrab,” kata Satu yang sudah tinggal di Swedia sejak tahun 2015 lalu.

Para wisatawan bisa langsung menghubungi Kamar Pelajar melalui situs-nya, dan nanti akan dihubungkan dengan tuan rumah, sesuai dengan kebutuhan atau yang diinginkan.

“Kalau misalnya dia cewek, biasanya aku kasih ke host yang cewek juga di (Stockholm),” tambah Satu yang sudah pernah menjadi tuan rumah Kamar Pelajar sebanyak 8 kali.

Tidak Perlu Serba Komplit

Sebagai tuan rumah Kamar Pelajar, pelajar Indonesia tidak diharuskan untuk menyediakan akomodasi yang serba komplit.

Mira Yuliani Roza yang tengah mengambil program S2 jurusan audit dan kontrol manajemen di Pôle Paris Alternance Business School di Paris, pernah menjadi tuan rumah dan juga tamu untuk Kamar Pelajar. Menurutnya, terkadang mahasiswa di luar negeri memiliki kamar yang agak luas, yang bisa disewakan.

“Enggak harus beneran kamarnya aja yang disewain. Kita bisa nyewain sofa bed aja atau kayak extra bed, kita bisa tidur di kamar yang sama gitu,” jelas Mira Yuliani Roza yang pernah menjadi tuan rumah dan tamu Kamar Pelajar ini, melalui wawancara lewat Skype dengan VOA.

Jenis akomodasi yang ditawarkan harus disampaikan sebelumnya kepada tamu dan tempat yang ditinggali memperbolehkan tuan rumah untuk menerima tamu secara legal.

Sebagai contoh misalnya, ada mahasiswa yang tinggal di asrama kampus di suatu negara tertentu, yang tidak memperbolehkan adanya tamu yang menginap di kamarnya.

Tambah Teman Baru

Para mahasiswa seperti Mira Yuliani Roza yang pernah menjadi tuan rumah dan tamu di Kamar Pelajar merasa beruntung, karena mereka bisa mendapatkan teman baru di luar negeri.

Mira Yuliani Roza, mahasiswa S2 dan tuan rumah Kamar Pelajar di Paris (Dok: Mira)

Mira Yuliani Roza, mahasiswa S2 dan tuan rumah Kamar Pelajar di Paris (Dok: Mira)

“Kamar Pelajar ini benar-benar ‘ngonekin’ kita sesama orang Indonesia yang ada di luar negeri yang mungkin sama-sama butuh bantuan,” ujar Mira.

“Kita tujuannya juga enggak mau buat bisnis aja tapi kita pengin orang itu ketemu dan berteman, jadi untuk ke depannya dia punya relasi, punya teman nih, di kota ini,” tambah Satu.

Merupakan kepuasan tersendiri bagi Satu ketika mendengar cerita dari para mahasiswa yang mendapat teman baru dari Kamar Pelajar ini.

“Dia bilang, ‘Kak, makasih banget ya, udah bikin Kamar Pelajar ini. Aku lagi winter, musim ujian, lagi sendiri gitu kan, terus tiba-tiba ada tamu yang datang, dan tamunya seru.’ Jadi dia merasa kayak ada saudaranya yang nemenin gitu,” cerita Satu.

Peluang Kerja Bagi Mahasiswa

Saat ini Kamar Pelajar memiliki sekitar 20 hingga 40 pengurus yang terdiri dari mahasiswa Indonesia baik di luar negeri maupun di Indonesia, dan juga yang sudah bekerja.

“Kami suka dengan konsep mencampur kayak gitu. Jadi mahasiwa bisa belajar sama yang sudah kerja juga, terus mahasiswa yang di Indonesia juga bisa terinpirasi dari mahasiswa Indonesia yang di luar negeri, supaya dia mau belajar keluar negeri juga,” jelas Satu.

Jumlah pengurus juga tergantung dengan musim dan semester libur kuliah. Di musim panas biasanya Kamar Pelajar menerima mahasiswa yang ingin magang.

Tugasnya pun beragam, mulai dari mengadakan kampanye di media sosial, hingga menyelenggarakan acara virtual yang berhubungan dengan wisata ke luar negeri, pengalaman berwisata, dan pelajar.

“Kalau sebentar lagi lulus, tapi belum punya pengalaman internship, atau pengalaman kerja, dan mau merasakan gimana sih kerja di start up (red. perusahaan rintisan), environment-nya, cara kerjanya, kami pengin bisa bantu di bagian itu,” ujar Satu.

Tetap membawa ide awal sebagai sebuah proyek mahasiswa, Satu ingin agar orang bisa belajar berorganisasi dan bekerja melalui Kamar Pelajar ini.

“Kalau memang kami kebetulan lagi ada posisi yang bisa kami siapin, kami pasti terima,” ujarnya.

Tidak Beroperasi Penuh Karena Pandemi

Sebelum pandemi COVID-19, Kamar Pelajar memiliki sekitar 100 tuan rumah yang tergabung di seluruh dunia, dimana sebagian besar berada di Eropa. Kini di tengah pandemi, Kamar Pelajar tidak beroperasi penuh, dan lebih banyak melakukan acara virtual.

Bersama para pengurus Kamar Pelajar. Selama pandemi Kamar Pelajar banyak melakukan acara virual yang berhubungan dengan wisata ke luar negeri (Dok: Satu Cahaya Langit)

Bersama para pengurus Kamar Pelajar. Selama pandemi Kamar Pelajar banyak melakukan acara virual yang berhubungan dengan wisata ke luar negeri (Dok: Satu Cahaya Langit)

Satu menambahkan, mereka juga tidak terlalu mempromosikan Kamar Pelajar, mengingat banyak negara yang melakukan pembatasan dan karantina wilayah.

“Berhenti banget sih enggak, kita cuman enggak promote aja gitu, tapi kalau ada request, itu kita tetap layani, dengan syarat safety regulation-nya harus tetap diutamain sesuai dengan kota dan negara yang dituju,” katanya.

Untuk ke depannya, Kamar Pelajar bercita-cita untuk menjadi perusahaan rintisan yang tidak hanya menawarkan akomodasi, tetapi juga berbagai layanan yang berhubungan dengan perjalanan, serta membuka peluang bagi tidak hanya mahasiswa Indonesia, namun juga diaspora Indonesia yang ingin menjadi tuan rumah. [di]

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Kolonel Czi IGN Suriastawa, mengatakan aksi teror yang dilakukan Kelompok Separatis Bersenjata (KSB) terhadap prajurit TNI dari Yonif Raider 400/BR terjadi di Kampung Titigi, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, Jumat (22/1). Dua prajurit TNI gugur dalam serangan tersebut.“Salah satunya Pratu Roy Vebrianto yang ditembak secara membabi buta sesaat dirinya usai melaksanakan ibadah salat Subuh di Pos Titigi Yonif Raider 400/BR,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/1) sore.

Suriastawa menjelaskan, Pratu Roy ditembak dari jarak 200 meter pada saat melaksanakan pembersihan usai melakukan ibadah salat subuh.

“Sedangkan korban yang lain atas nama Pratu Dedi Hamdani dari Pos Hitadipa, saat mengejar KSB yang melakukan penembakan terhadap Pos Titigi,” ujarnya.

Kemudian, Pratu Dedi Hamdani juga ditembaki secara membabi buta dari arah ketinggian di hutan yang terletak antara Kampung Sugapa Lama dan Kampung Hitadipa.

“Dua korban penembakan KSB itu meninggal dunia saat dievakuasi ke Timika dengan menggunakan helikopter Caracal,” ungkap Suriastawa.

Sementara juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, belum memberikan keterangan resmi terkait serangan yang dilakukan pihaknya tersebut. VOA sudah mencoba menghubungi TPNPB-OPM, tetapi belum membuahkan hasil.

Sebelumnya, TPNPB-OPM juga telah melakukan serangan terhadap anggota TNI, pada Minggu (10/1) di Intan Jaya. Serangan itu mengakibatkan satu prajurit TNI atas nama Prada Agus Kurniawan, gugur terkena tembakan. [aa/em]

Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, Minggu (27/12), mengatakan pihak berwenang negara itu sedang menyelidiki beredarnya sebuah video yang telah menghina lagu kebangsaan Indonesia.“Kedutaan Besar Malaysia telah mengetahui adanya video yang menghina Indonesia, yang diklaim diunggah dari Malaysia,” demikian petikan pernyataan itu. Maklumat tersebut merujuk pada video parodi lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berdurasi satu menit 31 detik yang diunggah di YouTube.

Video itu tidak saja memuat lagu kebangsaan Indonesia yang telah diubah total liriknya dengan kalimat-kalimat insinuatif, tetapi juga mengganti lambang negara burung Garuda dengan ayam jago berlambang Pancasila, dilatarbelakangi bendera Merah Putih. Video yang diunggah oleh akun dengan logo bendera Malaysia itu diketahui telah beredar sejak dua minggu lalu.

Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta melalui akun Facebook-nya mengatakan “pihak berwenang Malaysia sedang menyelidiki masalah ini.” Dan menegaskan bahwa “jika diketahui bahwa video itu diunggah oleh warga negara Malaysia, maka tindakan tegas akan diambil berdasarkan hukum yang berlaku.”

Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta melalui akun Facebook-nya mengatakan “pihak berwenang Malaysia sedang menyelidiki masalah ini." (Foto: Facebook)

Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta melalui akun Facebook-nya mengatakan “pihak berwenang Malaysia sedang menyelidiki masalah ini.” (Foto: Facebook)

Kedutaan Besar Malasia menggarisbawahi pernyataannya dengan mengatakan “…. mengutuk provokasi negatif apapun yang bertujuan menimbulkan dampak pada hubungan bilateral Malaysia dan Indonesia yang erat.”

Kementerian Luar Negeri Indonesia belum memberikan tanggapan terhadap isu ini. [em/ah]

Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan investasi Indonesia di tahun 2021 akan mengalami pemulihan dengan pertumbuhan hingga 6,4 persen. Realisasi investasi di 2021 diperkirakan mencapai Rp 858,5 triliun.“Sehingga investasi terhadap perekonomian Indonesia akan memberikan kontribusi sebesar 31,5 persen,” katanya dalam sebuah acara daring, Selasa (22/12).

Selain diharapkan tumbuhnya investasi Indonesia di 2021 usai terdampak Covid-19, Kementerian PPN/Bappenas juga berharap adanya peningkatan peran investasi domestik, yang diperkirakan nilai Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dari sektor industri pengolahan akan mencapai sekitar Rp 270 triliun.

Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, Selasa 22 Desember 2020. (foto: VOA/Anugrah)

Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, Selasa 22 Desember 2020. (foto: VOA/Anugrah)

“Tentunya ini sangat didukung oleh implementasi dari undang-undang cipta kerja serta iklim ketenagakerjaan yang lebih kondusif terhadap investor,” ungkap Amalia.

Lebih jauh Amalia menyampaikan rasa optimisnya bahwa sektor industri pada 2021 juga akan pulih. Dengan target pertumbuhan sekitar 5 persen, diperkirakan tenaga kerja yang bisa terserap di sektor industri pada 2021 akan mencapai 18,4 persen.

“Ini akan didorong oleh adanya promosi penggunaan produk dalam negeri termasuk penggunaan atau pengadaan barang dan jasa yang dilakukan pemerintah dan BUMN,” ungkapnya.

Dalam memulihkan sektor industri, ada beberapa strategi. Salah satunya akselerasi industri yang diarahkan untuk industrialisasi subtitusi impor seperti makanan, kimia, farmasi dan alat kesehatan.

“Pemulihan produktivitas dan pemasaran produk Industri Kecil Menengah (IKM) serta akan adanya beberapa kawasan industri yang akan beroperasi di 2021,” ujar Amalia.

Sektor pariwisata diprediksi akan kembali pulih dan menjadi momentum untuk menata kembali dan mempercepat penyiapan kawasan destinasi super prioritas. Namun, pemulihan sektor pariwisata akan berjalan secara bertahap.

Beberapa turis berlibur di Pantai Kuta, di tengah pandemi Covid-19 di Bali (foto: ilustrasi). Sektor pariwisata Indonesia diprediksi akan kembali pulih tahun depan.

Beberapa turis berlibur di Pantai Kuta, di tengah pandemi Covid-19 di Bali (foto: ilustrasi). Sektor pariwisata Indonesia diprediksi akan kembali pulih tahun depan.

“Belum bisa kembali dengan cepat karena memang adanya pergeseran preferensi atau daya beli masyarakat, serta juga pada tahap awal pada 2021 akan lebih didorong oleh upaya meningkatkan wisatawan lokal,” jelas Amalia.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa mengatakan dampak dari Covid-19 menyebabkan masih ada tekanan terhadap daya beli masyarakat, walaupun lebih moderat dibandingkan dengan tahun 2020. Untuk itu diperlukan pemetaan sektor yang paling parah, moderat, dan ringan akibat pandemi Covid-19.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas, Suharso Monoarfa, Selasa 22 Desember 2020. (Screenshot: VOA/Anugrah)

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas, Suharso Monoarfa, Selasa 22 Desember 2020. (Screenshot: VOA/Anugrah)

“Sektor ekonomi yang justru menjadi dominan pada keadaan seperti ini, misalnya seperti e-commerce, logistics, food delivery, teknologi, obat-obatan, streaming service, dan ekonomi kreatif,” ujarnya.

Masih kata Suharso, pada 2021 merupakan tahun pemulihan ekonomi dan reformasi sosial. Menata kembali dan memperkuat industri, pariwisata, dan investasi adalah tantangan pembangunan di tahun 2021.

“Kita akan bekerja dengan cara-cara yang lebih ekstra dari biasanya. Kita tidak bisa lagi bekerja yang konvensional tapi harus extraordinary,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Utama Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono mengungkapkan bahwa sektor yang paling tinggi terdampak karena pandemi Covid-19 adalah akomodasi dan makan minum di angka 92,47 persen.

“Pandemi Covid-19 ini memukul cukup berat terkait dengan dunia usaha. Kalau secara perekonomian 82,9 persen pendapatan dunia usaha menurun,” ungkapnya. [aa/em]

eSIM Card di Indonesia — Mulai dari tipe Full, Mini, Micro, hingga Nano, ukuran kartu SIM (SIMcard) pada ponsel terus dipangkas. Alasannya, karena teknologi yang disematkan di dalam ponsel akan semakin canggih seiring berjalannya waktu. Hasilnya, celah sekecil apapun di dalam bodi ponsel harus dimanfaatkan untuk meletakkan sistem lain.

Revolusi SIM Card di Indonesia

Tren ini tidak berhenti di ukuran nano yang bahkan sudah sangat kecil. Beberapa tahun belakangan, tren penggunaan eSIM Card atau kartu SIM non-fisik mulai menjamur di Indonesia. Para penyedia layanan telekomunikasi telah memulai lomba untuk merancang produk eSIM yang inovatif dengan strateginya masing-masing.

Serba-serbi eSIM Card di Indonesia

Smartfren adalah operator pertama yang membawa teknologi ini ke Indonesia. Berbeda dengan kartu SIM biasa, eSIM bersifat non-fisik. Cara pemakaiannya yaitu memanfaatkan teknologi barcode, dimana penggunanya memindai kode batang tersebut untuk mengaktifkan di ponselnya.

Sistem ini tentunya sangat inovatif, mengingat pengguna tidak perlu repot-repot membongkar pasang celah kartu SIM-nya. Apalagi, cara membuka tempat kartu SIM di ponsel kekinian cukup rumit. Ponsel berkonsep gawai kebanyakan mendesain bentuk ponselnya seminimalis mungkin. Membuka tempat kartu SIM memerlukan jarum khusus yang ditusukkan ke lubang dimana tempat kartu SIM tersebut tersimpan. Sayangnya, jarum tersebut tak selalu kita bawa.

Sayangnya, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) masih belum mengatur regulasi yang jelas mengenai sistem ini. Bisa dibilang, penggunaan eSIM di Indonesia tidak dilarang. Namun tanpa adanya regulasi, keamanan penggunaan masih dipertanyakan oleh para calon pengguna yang berminat dengan teknologi embedded SIM Card ini.

Keuntungan Ketika eSIM Card Sudah Didukung Mayoritas Ponsel

1) Lebih Murah

Jangan salah, produksi kartu SIM fisik tetap membutuhkan biaya. Biaya produksi benda mungil itu juga tidaklah sedikit. Dengan adanya inovasi ini, penyedia layanan operator telepon bisa menekan biaya produksi kartu SIM fisik. Dampaknya bagi pengguna yaitu harga paket internet akan lebih murah. Karena biaya untuk produksi kartu fisik oleh operator telepon akan dialokasikan untuk memanjakan pengguna mereka, dengan mempersembahkan biaya yang lebih terjangkau.

2) Teknologi Ponsel Waterproof akan Lebih Terjangkau

Teknologi anti air atau waterproof adalah salah satu hal yang diidam-idamkan hampir seluruh pemakai ponsel. Dengan pengaplikasian khusus eSIM pada ponsel, maka produsen ponsel akan lebih mudah untuk mewujudkan teknologi tersebut dengan biaya yang terjangkau. Mengapa demikian? Konsep ponsel khusus eSIM akan membuat desain ponsel tidak lagi memerlukan di sasis telepon. Implikasinya, improvisasi membuat bodi telepon yang tahan air akan lebih mudah diterapkan.

3) Tak Ada Lagi Gonta-Ganti Kartu SIM

Beberapa tahun sekali, tak jarang kartu SIM yang tersemat di ponsel kita tiba-tiba tidak dapat terbaca. Entah disebabkan oleh gangguan pada kuningan ponsel itu sendiri, atau karena fisik kartu SIM-nya yang sudah renta, namun hal ini sangat menyebalkan. Kita harus berkorban waktu dan biaya untuk pergi ke gerai resmi operator untuk mendapatkan fisik baru kartu nomor telepon kita. Setelah era eSIM berjaya, hal ini tak akan lagi kita temukan.

4) Aman

Sistem kartu non-fisik tentunya memaksimalkan teknologi digital yang dapat dengan mudah dikontrol oleh operator telepon. Di masa depan, kehilangan atau kerusakan ponsel tidak akan berdampak pada hilangnya nomor telepon. Pastinya, operator telepon penyedia eSIM akan membuat terobosan baru, dimana layanan laporan secara daring akan diciptakan. Mulai dari blokir hingga permintaan agar nomor yang sama kembali diaktifkan pastinya bisa dilakukan dengan mudah oleh pengguna.

Kementerian Luar Negeri Indonesia hari Minggu (20/12) memanggil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta untuk meminta klarifikasi dan sekaligus menyampaikan protes atas kedatangan staf Kedutaan Besar Jerman ke markas Front Pembela Islam (FPI) hari Kamis lalu (17/12). Hal ini disampaikan juru bicara Kemlu RI Tengku Faizasyah ketika dihubungi VOA melalui telepon.Pernyataan tertulis Kemlu RI menyatakan, “Dalam pertemuan, Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Jerman membenarkan keberadaan staf Kedutaan di sekretariat organisasi tersebut” dan bahwa pertemuan dilakukan “atas inisiatif pribadi tanpa mendapatkan perintah atau sepengetahuan pimpinan Kedutaan Besar Jerman.”

Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Jerman menyampaikan permintaan maaf dan menyesalkan kejadian ini; juga menyangkal pernyataan yang disampaikan salah satu pimpinan FPI.

FPI Mengaku Didatangi Staf Diplomatik Kedubes Jerman

Sebelumnya Sekretaris Umum FPI Munarman kepada wartawan di Jakarta mengatakan telah didatangi dua orang dari Kedutaan Besar Jerman hari Kamis (17/12) lalu “untuk menyampaikan dukacita dan belasungkawa atas kejadian dibunuhnya enam syuhada,” merujuk pada insiden tewasnya enam anggota FPI dalam bentrokan dengan polisi tanggal 7 Desember lalu.

Ditambahkannya, “Perhatian internasional terhadap kasus extrajudicial killing enam syuhada itu akan berdampak pada reputasi Indonesia di dunia internasional.”

Orang-orang berkumpul untuk menyambut kepulangan Rizieq Shihab, pemimpin Front Pembela Islam Indonesia (FPI) di Jakarta, 10 November 2020. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Orang-orang berkumpul untuk menyambut kepulangan Rizieq Shihab, pemimpin Front Pembela Islam Indonesia (FPI) di Jakarta, 10 November 2020. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Kedubes Jerman Sangkal Pernyataan FPI

Namun pernyataan pers Kemlu menyatakan “Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Jerman menyangkal isi berbagai pernyataan yang disampaikan salah satu pimpinan ormas dimaksud.” Juga bahwa kedatangan staf Kedutaan Besar Jerman itu “tidak mencerminkan kebijakan pemerintah dan Kedutaan Besar Jerman” dan “menolak tegas kesan bahwa kedatangan itu merupakan bentuk dukungan Jerman kepada organisasi tersebut.”

Ditambahkan pula bahwa staf diplomatik yang mendatangi markas FPI itu “telah diminta kembali segera untuk mempertanggungjawabkan tindakannya dan memberikan klarifikasi kepada pemerintahnya.”

Kemlu Minta Kedubes Jerman Beri Penjelasan pada Publik

Kementerian Luar Negeri Indonesia menuntut agar Kedutaan Besar Jerman memberikan pernyataan resmi kepada publik sebagaimana yang telah dijelaskan kepada Kementerian Luar Negeri.

Pakar hukum internasional di Universitas Indonesia Prof. Dr. Hikmahanto Juwana, yang sebelumnya telah menyesalkan tindakan staf kedutaan Jerman sebagai hal yang “tidak cerdas dan sensitif dengan situasi politik yang belakangan berkembang di Indonesia,” juga menyarankan agar Duta Besar Jerman Untuk Indonesia memberikan klarifikasi terbuka dan minta maaf.

“Dubes Jerman harus segera memulangkan pegawai kedubes yang telah bertindak secara ceroboh. Ini untuk mencegah rusaknya hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman,” ujarnya.

Bentrok dengan Polisi, Enam Pendukung FPI Tewas

Enam pendukung FPI tewas dalam bentrokan dengan polisi di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50. Kapolda Metro Jaya Mohammad Fadil Imran dalam keterangan pers tanggal 8 Desember mengatakan penembakan dilakukan setelah kedaraan polisi didekati dan dikejar pendukung Rizieq yang menyerang polisi dengan senjata api dan senjata tajam. Menurutnya satu kendaraan polisi rusak dalam peristiwa itu.

Komnas HAM telah membentuk tim untuk menyelidiki insiden ini. [em/jm]

Antara Sumatera Timur dan Aceh — Bagi beberapa orang, konotasi negatif mengenai Aceh telah melekat. Masifnya isu separatisme mengenai daerah di ujung barat Nusantara tersebut membuat banyak asumsi yang timbul akan kesetiaannya terhadap Indonesia. Sayangnya semua itu salah.

Tujuh puluh tahunan silam, Aceh pernah menjadi benteng bagi keutuhan republik. Ketika nafas terakhir federasi Sumatera mencari dukungan dari enam belas bangsa di sana, Aceh dan Nias adalah dua bangsa yang secara tegas menunjukkan penolakan.

Terlahirnya Konsep Negara Sumatera Timur

Pada masa itu, Sumatera terbagi menjadi dua golongan, pro-republik dan pro-feodal. Pemikiran ini berasal dari Tanah Deli. Kaum pro-republik terpicu oleh semangat nasionalisme yang gencar bergelora di nusantara. Sementara kaum pro-feodal berisi para pendukung dari bangsawan Sumatera (terutama Melayu) yang tak ingin kehilangan kekuasaan mereka atas kerajaan di Sumatera.

Dalam memperjuangkan kepentingan politik itu, kaum pro-feodal menggalang dukungan dari masyarakat non-pribumi. Mereka membuka jalur kemudahan kepada para pekerja India, saudagar Tionghoa, dan kaum kolonial Belanda. Bahkan Belanda amat senang dengan niatan para sultan membentuk negara pro-Belanda ini dan menjadi sponsor di balik gerakan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kaum pro-republik justru semakin menguat. Menguatnya dukungan masyarakat ke kaum pro-republik pun membuat pro-feodal berusaha berkompromi dan mencari jalan keluar. Alhasil, tercetuslah konsep federasi Sumatera, dimana agar negara Sumatera menjadi negara federasi di dalam Indonesia. Dengan konsep ini, Sultan Melayu diharapkan memiliki integritasnya tersendiri sekalipun Indonesia telah berdiri kokoh.

Daud Bereuh, Pahlawan Keutuhan Indonesia dari Sumatera yang Jarang Dibahas

Daud Bereuh, tokoh Aceh yang Menolak Negara Sumatera Timur

Tengku Mansoer, bangsawan Melayu Sumatera Timur yang berperan menggawangi inisiasi ini berniat menyelenggarakan Muktamar Sumatera sebagai momentum deklarasi federasi Sumatera. Ia mengundang enam belas bangsa besar di Sumatera, termasuk Daud Bereuh yang saat itu memimpin Aceh.

Sungguh bijaksana Daud Bereuh yang menolak undangan tersebut, bahkan mengecamnya. Daud juga menyebutkan bahwa konsep federasi hanyalah rekaan Belanda untuk menancapkan tentakelnya di nusantara. Lewat suratnya, Daud Beureueh menyatakan dengan tegas;

Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada, sebab itu kita tidak bermaksud untuk membentuk suatu Aceh Raya dan lain-lain karena kita di sini adalah Republiken. Sebab itu juga, undangan dari wali negara Sumatera Timur itu kita pandang sebagai tidak ada saja, dan karena itulah tidak kita balas.

Di Aceh tidak terdapat salah paham sebagaimana diterangkan oleh Belanda itu, bahkan kita mengerti betul apa yang dimaksud oleh Belanda itu dengan Muktamar Sumateranya. Maksud Belanda ialah hendak mendiktekan kepada dr. Mansoer supaya menjalankan politik devide et impera-nya lagi. Sebab itu kita menolak adanya Muktamar Sumatera tersebut dan kita sendiri telah siap menanti segala kemungkinan yang bakal timbul dari sikap penolakan kita itu.

Kita yakin bahwa mereka yang menerima baik undangan dr. Mansoer tersebut, bukanlah orang Republiken. Tetapi mereka itu adalah kaki tangan dan budak kolonialisme Belanda yang selama ini sudah diberi makan roti.

Kesetiaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah RI di Jakarta bukan dibuat-buat serta diada-adakan, tetapi kesetiaan yang tulus dan ikhlas yang keluar dari lubuk hati nurani dengan perhitungan dan perkiraan yang pasti. Rakyat Aceh tahu pasti bahwa kemerdekaan secara terpisah-pisah, daerah perdaerah, negara pernegara, tidak akan menguntungkan dan tidak akan membawa kepada kemerdekaan yang abadi.

Alasan Aceh Menolak Federasi Sumatera

Selain melihat ini sebagai akal-akalan Belanda, Aceh juga menunjukkan loyalitas untuk republik tatkala beberapa bangsa Sumatera lain masih ragu-ragu. Selain itu bangsa Aceh tidak pernah menganggap Sumatera sebagai satu kesatuan hingga didambakan adanya federalisme khusus Sumatera

Bagi orang Aceh, bangsa-bangsa Sumatera, seperti Lampung, Minang, maupun Palembang itu setara dengan bangsa-bangsa non-Sumatera. Tidak pernah ada ikatan khusus antara (misalnya) Aceh dan Palembang hanya karena keduanya sama-sama berasal dari Sumatera. Dari sini bangsa Aceh memandang federasi Sumatera adalah ide yang mengada-ada.

Sepemahaman dengan Aceh, Nias Menolak Pula Usulan Tersebut

Penolakan Nias akan Negara Sumatera Timur

Ternyata tak hanya Aceh. Dari enam belas bangsa di Sumatera kala itu, Nias pun menyatakan ketidaksetujuannya dengan wacana tersebut. Hal itu diungkapkan pemimpin Nias ketika utusan Tengku Mansoer datang ke Gunungsitoli.

Muktamar Sumatera itu sendiri sebenarnya tidak sukses. Sebagian besar tokoh undangan yang menyanggupi hadir sejatinya bukan para tokoh yang memiliki pengaruh besar di suku masing-masing. Sehingga Muktamar Sumatera ditutup dengan hasil yang sangat tidak memuaskan.

Berakhirnya Mimpi Federasi Sumatera Timur

Kemenangan pro-republik akhirnya menjadi pemenang antara pemikiran Sumatera Timur dan Aceh. Seiring berjalannya waktu, tokoh-tokoh penting setiap bangsa di Sumatera mulai berganti haluan menjadi pro-republik. Mayoritas tokoh Sumatera pada saat itu menyadari bahwa primordialisme bukanlah kunci dari keberhasilan kemerdekaan.

Selain itu, kekuatan pihak pro-republik terlampau besar untuk dihadapi kaum pro-feodal, baik dari aspek militer maupun dari aspek diplomasi internasional. Mimpi Negara Sumatera Timur luluh beberapa bulan kemudian, tatkala Negara Kesatuan Republik Indonesia diakui Belanda pada 27 December 1949. Hingga kemudian, entitas itu bubar pada tanggal 15 Agustus 1950.

Indonesia mampu menjadi negara maju – Pada tahun 1967 silam, Indonesia pernah menjadi salah satu bangsa termiskin di Asia. Wajar saja, 97% dari pendahulu kita adalah buta huruf ketika Indonesia merengkuh kemerdekaan. Ya, kita pernah berkubang di lumpur yang menyedihkan.

Kira-kira separuh abad yang lalu, hanya bangsa Rwanda, Burundi dan Mali yang memiliki nasib lebih mengenaskan dari Indonesia. Sungguh sebuah ironi pada masa itu dimana negara yang memiliki sumber daya alam melimpah harus masuk ke daftar di atas. Alasannya tak lain karena ketidakstabilan dan kompleksnya situasi politik di Indonesia.

Indonesia Kini; 2020

“Kami menggoyang langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang bekerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Ir Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia

Nyatanya, frasa bangsa tempe, bangsa kuli, dan banhsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari cukup mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia kala itu. Seakan sebuah dongeng, kita mungkin tak akan percaya kalau Indonesia pernah memiliki nasib sekelam demikian.

Puluhan tahun berlalu, Indonesia telah bertransformasi menjadi negara yang begitu kontras dengan kesedihannya dulu. Ya, negara kita tak lagi muncul di papan klasemen negara termiskin. Baik di dunia, maupun di Asia.

Negara termiskin di dunia 2020

Dari urutan terbawah, saat ini kita telah sukses menyalip Filipina, Myanmar, bahkan India. Kita sukses menjadi negara papan tengah, dan tentunya memiliki peluang yang besar untuk lebih maju lagi di masa depan.

Negara dengan infrastruktur terbaik di Asia tenggara

Dari segi infrastruktur transportasi, nama kita bertengger di posisi yang cukup menggiurkan. Hal yang tentunya dapat memantik investor untuk menanamkan modalnya di kita.

Jangan lupakan pula aspek kompetitif. Dari negara urutan terbontot, kita sukses menanjak tangga hingga menjadi urutan ke-empat di Asia Tenggara dan nomor 45 di dunia. Ya, 50 besar dari ratusan negara di dunia ini!

Ketika bangsa ini menjalani kehidupan tahun 1960-an, kita disibukkan dengan urusan kelaparan, gizi buruk, polio, buta huruf, dan pembunuhan senegara.

Sekarang bangsa Indonesia disibukkan oleh perkara investasi, infrastruktur jalan tol, kereta peluru, MRT, pemerataan ekonomi, ekspor lobster, hutan, kualitas pendidikan, mobil listrik, korupsi anggaran, kedaulatan data, alutsista, demo buruh, demokrasi, dan debat agama.

Betul. Masalah semakin kompleks. Tapi coba perhatikan, levelnya sudah berbeda. Suka tidak suka, begitu jauh bangsa ini sudah berubah dalam enam puluh tahun.

Belajar dari Korea Selatan yang Mampu Berevolusi menjadi Raksasa

Korea Selatan berangkat dari negara miskin pada tahun 1965, sampai menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-sebelas di dunia pada tahun 1995. Dari sebuah negara yang bertahan dengan mengirimkan pekerja-pekerja kasar di tambang batu bara Jerman, hingga kini menjadi manufaktur teknologi kelas dunia. Berawal negara yang ibukotanya tidak mempunyai bentuk, menjadi salah satu kota metropolitan termodern di dunia.

Seoul, pernah disebut sebagai ‘neraka urban’. Sungai Han yang bercorak kecokelatan diapit oleh rumah-rumah berdinding tripleks kumuh. Warganya hidup di kemiskinan akut, pencemaran di mana-mana, dan angka kejahatan begitu tinggi. Di negara ini hanya terdapat 50 perusahaan aktif yang memperkerjakan tidak sampai seribu orang karyawan. Sisa penduduknya semua bekerja serabutan.

Di waktu musim dingin melanda Korea, mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Masyarakatnya berpendidikan rendah, oligarki dan mafia menguasai negeri, alamnya tidaklah mempunyai SDA yang bisa diandalkan, dan pemimpinnya tidak kompeten.

Dalam peringkat perekonomian dunia, Korea Selatan di masa sulitnya memiliki posisi papan tengah. Posisi yang sama yang dimiliki Indonesia saat ini. Bahkan secara kasat mata, tentunya kita tahu walau di posisi yang sama, kondisi kita sekarang jauh lebih menguntungkan ketimbang mereka.

Satu Generasi Adalah Kunci Perubahan

Korea telah mengubah nasibnya dalam satu generasi. Singapura mengubah nasibnya dalam satu generasi. China mengubah nasibnya dalam satu generasi. Selanjutnya, barangkali negara tetangga kita, Vietnam, yang akan mengubah nasibnya dalam satu generasi mendatang.

Lantas, apakah kita akan mengikuti jejak yang sama? Tidak perlu waktu lama. Untuk mengubah negeri Indonesia menjadi negara kaya atau menjadi negara miskin. Menjadi negara sejahtera atau menjadi negara gagal. Menjadi Macan Asia atau kembali menjadi Raksasa Tidur Asia Tenggara. Semua itu hanya perlu satu generasi.

Setiap generasi mempunyai tantangan masing-masing. Mengatakan bahwa “masalah Indonesia saat ini begitu berat sehingga tidak mungkin jadi negara maju” adalah satu penghinaan terhadap leluhur kita, yang telah membawa bangsa ini dari papan bawah menuju papan tengah, dari negara termiskin di Asia menjadi negara menengah.

Meskipun perjalanan tidak selalu lancar, Indonesia sudah pernah beranjak dari negara termiskin di Asia menjadi anggota G-20. Indonesia sudah pernah lolos kekacauan dari periode 1945, 1949, 1953, 1961, 1965, 1974, 1984, 1998, dan luput dari Balkanisasi.

Siapkah Generasi Z Membawa Indonesia Menjadi Negara Maju?

Angkatan terbaru dalam generasi dunia karir di Indonesia mulai diisi oleh generasi Z, penerus generasi Y atau yang kerap disebut milenial. Di masa depan, pos-pos strategis dalam lingkup organisasi swasta maupun pemerintah akan diisi oleh generasi pembaharu ini.

Seperti yang sebelumnya telah dipaparkan, sekarang adalah kesempatan generasi Z untuk menyetir kemana negara ini kan mengarah. Ke arah yang lebih baik sehingga bisa mengantarkan Indonesia agar mampu menjadi negara maju, atau justru sebaliknya?

Jawabannya; tergantung. Dan percayalah, ini akan sulit, jauh lebih sulit dari perjuangan generasi sebelumnya. Namun bukan berarti mustahil. Karena ingat, posisi kita saat ini bisa dibilang tidaklah buruk.

Terkecuali kalau generasi Z hanya bisa berkoar “Hidup saya susah. Birokrasi berbelit, pemerintah korup, dan rakyatnya tidak terdidik. Indonesia tidak akan maju!” seraya menyeruput kopi di Starbucks, kemudian memposkan keluh-kesahnya di Instagram, hanya gara-gara membaca berita politik.

Belum lama ini, perusahaan mobil Tesla di Amerika Serikat, meluncurkan fitur kecerdasan buatan swakemudi penuh atau Full-Self-Driving versi beta, yang kini sudah tersedia secara terbatas bagi para pengguna mobilnya.

Di balik penggarapan fitur ini ada sosok warga Indonesia, Moorissa Tjokro (26 tahun), yang berprofesi sebagai Autopilot Software Engineer atau insinyur perangkat lunak autopilot untuk Tesla di San Francisco, California.

“Sebagai Autopilot Software Engineer, bagian-bagian yang kita lakukan, mencakup computer vision, seperti gimana sih mobil itu (melihat) dan mendeteksi lingkungan di sekitar kita. Apa ada mobil di depan kita? Tempat sampah di kanan kita? Dan juga, gimana kita bisa bergerak atau yang namanya control and behavior planning, untuk ke kanan, ke kiri, maneuver in a certain way (manuver dengan cara tertentu.red),” ujar Moorissa Tjokro lewat wawancara dengan VOA belum lama ini.

Moorissa Tjokro, Autopilot Software Engineer Tesla, bersama rekan-rekan kerjanya (dok: Moorissa Tjokro)

Moorissa Tjokro, Autopilot Software Engineer Tesla, bersama rekan-rekan kerjanya (dok: Moorissa Tjokro)

Bekerja untuk Tesla sejak Desember 2018 silam, sebelum dipercaya menjadi Autopilot Software Engineer, Moorissa ditunjuk oleh Tesla untuk menjadi seorang Data Scientist, yang juga menangani perangkat lunak mobil.

“Sekitar dua tahun yang lalu, temanku sebenarnya intern (magang.red) di Tesla. Dan waktu itu dia sempat ngirimin resume-ku ke timnya. Dari situ, aku tuh sebenarnya enggak pernah apply, jadi langsung di kontak sama Tesla-nya sendiri. Dan dari situlah kita mulai proses interview,” kenangnya.

Sehari-harinya, perempuan kelahiran tahun 1994 ini bertugas untuk mengevaluasi perangkat lunak autopilot, serta melakukan pengujian terhadap kinerja mobil, juga mencari cara untuk meningkatkan kinerjanya.

“Kita pengin banget, gimana caranya bisa membuat sistem itu seaman mungkin. Jadi sebelum diluncurkan autopilot software-nya, kita selalu ada very rigorous testing (pengujian yang sangat ketat.red), yang giat dan menghitung semua risiko-risiko agar komputernya bisa benar-benar aman untuk semuanya,” jelas perempuan yang sudah menetap di Amerika sejak tahun 2011 ini.

Bekerja Hingga 70 Jam Seminggu

Fitur Full-Self-Driving ini adalah salah satu proyek terbesar Tesla yang ikut digarap oleh Moorissa, yang merupakan tingkat tertinggi dari sistem autopilot, di mana pengemudi tidak perlu lagi menginjak pedal rem dan gas.

“Karena kita pengin mobilnya benar-benar kerja sendiri. Apalagi kalau di tikungan-tikungan. Bukan cuman di jalan tol, tapi juga di jalan-jalan yang biasa,” tambah perempuan yang hobi melukis di waktu senggangnya ini.

Moorissa mengaku bahwa proses penggarapan fitur ini “benar-benar susah” dan telah memakan jam kerja yang sangat panjang, khususnya untuk tim autopilot, mencapai 60-70 jam seminggu.

Salah satu tugas Moorissa adalah menguji kinerja mobil Tesla beserta perangkat lunaknya (dok: Moorissa)

Salah satu tugas Moorissa adalah menguji kinerja mobil Tesla beserta perangkat lunaknya (dok: Moorissa)

Walau belum pernah berinteraksi secara langsung dengan CEO Elon Musk, banyak pekerjaan Moorissa yang khusus diserahkan langsung kepadanya.

“Sering ketemu di kantor dan banyak bagian dari kerjaan saya yang memang untuk dia atau untuk dipresentasikan ke dia,” ceritanya.

Mengingat tugasnya yang harus menguji perangkat lunak mobil, sebagai karyawan, Moorissa dibekali mobil Tesla yang bisa ia gunakan sehari-hari.

“Karena kerjanya dengan mobil, juga dikasih perk (keuntungan.red) untuk drive mobilnya juga kemana-mana, biar bisa di-testing,” jelas Moorissa.

Perempuan di Dunia STEM Masih Jarang

Prestasi Moorissa di dunia STEM (Sains, Teknologi, Teknik/Engineering, Matematika) memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Tahun 2011, saat baru berusia 16 tahun, Moorissa mendapat beasiswa Wilson and Shannon Technology untuk kuliah di Seattle Central College. Pada waktu itu ia tidak bisa langsung kuliah di institusi besar atau universitas di Amerika, yang memiliki persyaratan umur minimal 18 tahun.

Tahun 2012, Moorissa yang telah memegang gelar Associate Degree atau D3 di bidang sains, lalu melanjutkan kuliah S1 jurusan Teknik Industri dan Statistik, di Georgia Institute of Technology di Atlanta.

Selain aktif berorganisasi di kampus, berbagai prestasi pun berhasil diraihnya, antara lain President’s Undergraduate Research Award dan nominasi Helen Grenga untuk insinyur perempuan terbaik di Georgia Tech. Tidak hanya itu, ia pun menjadi salah satu lulusan termuda di kampus, di umurnya yang baru 19 tahun, dengan predikat Summa Cum Laude.

Moorissa (ke-2 dari kanan) dan keluarga di acara kelulusan di Columbia University (dok: Moorissa)

 

Moorissa (ke-2 dari kanan) dan keluarga di acara kelulusan di Columbia University (dok: Moorissa)

Setelah lulus S1 tahun dan bekerja selama dua tahun di perusahaan pemasaran dan periklanan, MarkeTeam di Atlanta, tahun 2016 Moorissa lalu melanjutkan pendidikan S2 jurusan Data Science di Columbia University, di New York. Ia pun kembali menoreh prestasi dalam beberapa kompetisi, antara lain, juara 1 di ajang Columbia Annual Data Science Hackathon dan juara 1 di ajang Columbia Impact Hackacton.

Kecintaan Moorissa akan bidang matematika dan aljabar sejak dulu telah mendorongnya untuk terjun lebih dalam ke dunia STEM, sebuah bidang yang masih sangat jarang ditekuni oleh perempuan.

Berdasarkan data dari National Science Foundation di Amerika Serikat, jumlah perempuan yang memiliki gelar sarjana di bidang teknik dalam 20 tahun terakhir telah meningkat, namun jumlahnya masih tetap di bawah laki-laki.

Pada kenyataannya, menurut organisasi nirlaba, American Association of University Women yang bertujuan memajukan kesejahteraan perempuan melalui advokasi, pendidikan, dan penelitian, jumlah perempuan yang bekerja di bidang STEM, hanya 28 persen.

Organisasi ini juga mengatakan kesenjangan gender masih sangat tinggi di beberapa pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat dan dengan gaji yang tinggi di masa depan, seperti di bidang ilmu komputer dan teknik atau engineering.

Moorissa Tjokro bersama CEO Elon Musk dan tim Autopilot di acara peluncuran fitur FSD (dok: Moorissa)

Moorissa Tjokro bersama CEO Elon Musk dan tim Autopilot di acara peluncuran fitur FSD (dok: Moorissa)

Fakta ini terlihat di kantor Tesla, di mana hanya terdapat 6 Autopilot Engineer perempuan, termasuk Moorissa, dari total 110 Autopilot Engineer. Dua dari 6 perempuan tersebut kini fokus menjadi manajer produk.

“Jadi benar-benar jarang. Saya enggak tahu statistik di luar Silicon Valley, atau even di luar Tesla,” kata lulusan SMA Pelita Harapan di Indonesia ini.

Moorissa beruntung bahwa keinginannya untuk terjun ke dunia sains didukung oleh keluarganya, yang melihat prestasi gemilangnya di bidang yang ia cintai ini.

“Tapi sebenarnya yang bikin aku benar-benar tertarik untuk ke dunia ini adalah ayahku, karena aku benar-benar, (beranjak dewasa melihat Ayah sebagai inspirasi terbesar dalam hidupku). Dia seorang insinyur elektrik dan entrepreneur, dan aku bisa ngeliat kalau teknik-teknik insinyur, itu benar-benar fun, penuh tantangan, dan itu aku suka,” ceritanya.

Walau begitu, Moorissa mengatakan, ia merasa beruntung, karena tidak pernah mengalami diskriminasi atau perbedaan di dunia kerja yang masih didominasi oleh laki-laki ini. Meskipun menurutnya, perempuan cenderung lebih “nurut” dan mengiyakan.

“Mungkin ini karena saya dibesarkan di Indonesia, jadi juga sering ngomong sorry dan mungkin ini bukan cuman cewek aja, tapi minoritas-minoritas di bidang yang tertentu, gitu. Jadi self-esteem (rasa percaya diri.red) kita juga bisa turun, karena kita representing a minority (mewakili minoritas.red),” ungkapnya.

Mengingat masih jarang terlihat perempuan yang terjun ke dunia STEM, Moorissa melihat kurangnya panutan perempuan di dunia STEM sebagai “tantangan yang paling besar.” Hal ini menyebabkan kurangnya motivasi terhadap perempuan untuk mencapai posisi eksekutif, khususnya di dunia teknologi dan otomotif.

“Karena jarang ya, untuk bisa melihat posisi itu adalah perempuan, karena memang enggak ada, gitu. Hampir enggak ada,” ucap Moorissa.

Brenda Ekwurzel (kanan), Director of Climate Science di lembaga Union of Concerned Scientists, Washington, D.C. (dok: Brenda Ekwurzel)

Brenda Ekwurzel (kanan), Director of Climate Science di lembaga Union of Concerned Scientists, Washington, D.C. (dok: Brenda Ekwurzel)

Pernyataan ini dudukung juga oleh Brenda Ekwurzel, seorang ilmuwan senior di bidang iklim, yang juga adalah Director of Climate Science untuk program iklim dan energi di lembaga Union of Concerned Scientists di Washington, D.C. Menurutnya, kurangnya arahan yang diberikan mengenai karir di bidang STEM adalah salah satu faktor kendala.

“Tidak punya mentor ketika kamu sedang mempelajari perjalanan karier yang berbeda dan mencari tahu apa yang perlu dilakukan untuk bisa sukses. Sebagai ilmuwan tidak hanya perlu mengerti soal sains dan melakukan penelitian. Ada banyak hal lainnya, seperti bagaimana mencari dana dan apa yang perlu dilakukan,” jelasnya kepada VOA.

Kini, dengan semakin banyak perempuan yang menempuh pendidikan secara formal dan berhasil sukses, perlu adanya lebih banyak arahan dan dukungan yang bisa meningkatkan karier mereka.

“Cari orang yang dapat membantumu, siapa pun mereka. Bertanya jika punya pertanyaan,” tambah Ekwurzel.

Moorissa pun tetap optimistis, terutama dengan adanya berbagai organisasi yang meningkatkan pemberdayaan perempuan di bidang STEM, seperti Society of Women Engineers.

“Ini sangatlah penting untuk generasi kita di masa depan,” tegasnya.

Moorissa Tjokro, Autopilot Software Engineer Tesla di San Francisco, CA (dok: Moorissa Tjokro)

Moorissa Tjokro, Autopilot Software Engineer Tesla di San Francisco, CA (dok: Moorissa Tjokro)

Dalam meraih cita-cita dalam bidang apa pun, pesan Moorissa hanyalah satu, yaitu “follow your heart” atau ikuti kata hati.

“Walau pun mungkin banyak orang yang enggak setuju atau berpikir keputusan kita bukan yang terbaik, we have to follow our hearts (dan) karena ketika kita follow our hearts, kita enggak mungkin nyesel,” pesan Moorissa.

“Dan ketika kita tahu apa yang kita suka, sebesar-besarnya tikungan, jalan, atau mountains, ada sedikit semangat untuk menekuni bidang tersebut,” pungkasnya.

Untuk ke depannya, Moorissa bercita-cita untuk membangun yayasan yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan di Indonesia. (di/em)

Perkembangan teknologi, media dan telekomunikasi memainkan peran penting dalam perekonomian global. Berbagai inovasi akan meningkatkan produktivitas dalam setiap industri. Metrini Geopani melaporkan perusahaan rekrutmen IT pertama Indonesia, Geekhunter, berupaya mengatasi defisit talenta digital tahun 2030, menurut studi yang dilakukan Korn Ferry.

Simak laporan VOA mengenai peran Geekhunter yang melayani lebih dari 150 perusahaan pemasok tenaga IT di Indonesia dan beberapa negara lain.

Studi tahun 2016 yang dilakukan Korn Ferry menemukan bahwa sejumlah perusahaan tradisional berjuang mendapatkan talenta digital (tech talent) yang mereka butuhkan untuk memenuhi permintaan klien serta melakukan transformasi operasional secara digital.

TechinAsia Conference - Jakarta - 2019 (foto: courtesy).

TechinAsia Conference – Jakarta – 2019 (foto: courtesy).

Sebelum pandemi COVID-19, Talent Crunch menyatakan Indonesia telah menghadapi krisis talenta di mana defisit pekerja terampil dengan pendidikan tinggi (level A) akan mencapai 1,3 juta pada tahun 2020 dan mengalami penurunan pada tingkat 11,2% per tahun menjadi 3,8 juta pada tahun 2030. Itu setara dengan 29,9% dari angkatan kerja level A Indonesia pada tahun 2030.

Defisit talenta digital Indonesia itu berusaha diatasi Geekhunter dengan memasok pekerja IT ke sejumlah perusahaan. Perusahaan itu juga menyediakan berbagai pelatihan.

Geekhunter, perusahaan rekrutmen IT pertama di Indonesia, berupaya menghubungkan lebih dari 7.000 pekerja IT dengan sejumlah perusahaan. Perusahaan itu juga terlibat membangun ekosistem komunitas dalam bidang teknologi dan secara aktif berkolaborasi di seluruh Indonesia.

Ken Ratri Iswari, salah seorang pendiri Geekhunter menyatakan klien perusahaan pada awalnya kebanyakan berasal dari Singapura dan Malaysia. “Sekitar 70% klien perusahaan dari luar negeri dan 30% justru dari lokal, Indonesia. Ketika memasuki tahun 2015, ekonomi digital Indonesia mulai tumbuh dan banyak start up muncul serta adanya gerakan-gerakan dari pemerintah seperti gerakan 1.000 start up.”

Ken Iswari Techinasia Conference di Jakarta 2019 (foto: courtesy).

Ken Iswari Techinasia Conference di Jakarta 2019 (foto: courtesy).

Sebagai pemasok tenaga IT, Geekhunter yang berkantor di Jakarta dan Bandung, mulai melakukan pencarian dari 70.000 talenta yang ada dalam data base, komunitas digital dan ekosistem start up Indonesia untuk mendapatkan kandidat yang sesuai keahlian yang dibutuhkan oleh klien.

Malik Khrisna adalah seorang kandidat Geekhunter yang kini bekerja di perusahaan pembayaran secara online, sejenis PayPal, di Indonesia. Kepada VOA pemuda kelahiran Jakarta yang pernah kuliah di Malaysia itu menyampaikan Geekhunter membantunya menemukan karir yang ia impikan termasuk negosiasi gaji dan cakupan penuh layanan serta fasilitas yang disediakan perusahaan penerima mulai dari masa percobaan hingga menjadi pegawai tetap.

Malik Khrisna menjadi pembicara pada acara PMF - Swiss (foto: courtesy).

Malik Khrisna menjadi pembicara pada acara PMF – Swiss (foto: courtesy).

Pekerja IT yang bertemu dengan banyak headhunter sejak tahun 2015 itu membagikan pengalamannya tentang perusahaan headhunter yang menyediakan layanan yang bagus di Indonesia. “Yang saya perhatikan headhunter yang bagus itu bisa men-desaign jalur untuk karir progression (berlanjut), misalnya seperti saya di bidang produk, at the end pencapaian yang tertinggi pekerja IT bagian produk bisa dibilang jadi CPO, chief product officer. Oleh karena itu mereka bisa memberikan langkah-langkahnya.”

Kepada VOA, Ken Iswari menjelaskan market size Indonesia yang terbesar di Asia Tenggara menyebabkan klien-klien perusahaan Geekhunter lebih memilih pekerja IT Indonesia. Selain hemat biaya, klien perusahaan asing itu juga menjadikan Indonesia sebagai tempat mereka beroperasi mendapatkan tenaga-tenaga pengembang piranti lunak berkualitas yang tidak kalah dibandingkan pekerja IT di negara mereka sendiri.

Forbes 2019 Powerful Women Panel Session - Jakarta - 2019 (foto: courtesy).

Forbes 2019 Powerful Women Panel Session – Jakarta – 2019 (foto: courtesy).

Ketika ditanya mengenai pengetahuan dan keterampilan digital yang dibutuhkan di lapangan pekerjaan, Ken menyebut talenta ABC, yang meliputi artificial intelligence, big data dan cloud computing. “Jadi ini 3 skill yang sekarang sudah banyak banget dicari dan ke depannya juga akan masih lebih banyak lagi dicari.”

Studi Korn Ferry memproyeksikan semua negara kecuali India pada tahun 2030 akan menghadapi defisit talenta dalam bidang teknologi, media dan telekomunikasi, termasuk Indonesia.

Malik yang pernah membuat start-up kemudian mengurusi fitur-fitur pembayaran, logistik, customer support improvement sebagai seorang produk manajer terus menambah pengetahuan dan mempertajam keahlian dalam bidang e-commerce. “Nah, itu pertama kali aku bermain dengan big data, machine learning atau cloud technology. Bersyukur sekali, saya bertemu Geekhunter yang sudah kenalin saya ke Bukalapak.”

Teknologi sendiri tidak dapat meningkatkan produktivitas yang diharapkan jika tidak ada cukup pekerja dengan keterampilan yang tepat. Demikian halnya Malik dan Ken yang terus mengasah ketrampilan, merekrut para pekerja IT Indonesia sekaligus mempertemukan dengan perusahaan, tempat pekerjaan yang mereka impikan. [mg/ka]