Cardboard Collectors, Sisi Buruk Negara Singapura — Pagi menyingsing di daratan Singapura. Jarum jam baru menunjukkan angka 5. Namun beberapa lansia nampak telah keluar dari suaka masing-masing seraya mendorong troli barang. Para lansia tersebut bukanlah ingin berbelanja, melainkan memulung kardus guna menyambung hidup. Mereka disebut mendapat label sebagai cardboard collectors.

Infografik Cardboard Collectors
Infografik Cardboard Collectors

Dari pagi buta hingga malam tiba, mereka mampu mengumpulkan hingga 300-400 kg kardus. Per kilogram kardusnya, mereka dibayar sebesar $ 0,04 atau Rp 425. Jika bekerja sepanjang bulan tanpa libur, penghasilan mereka di kisaran $ 900 – $ 1200. Angka yang cukup menggiurkan, bukan? Sayangnya, ini Singapura, bukan Indonesia. Dimana biaya hidup berkali lipat dari negara tercinta kita.

Penghasilan itupun harus dipotong lagi dengan biaya operasional mereka. Mereka biasanya menyewa van untuk mengangkut hasil buruan. Dengan menyewa van, mereka harus membayar biaya sewa, supir, dan bensin. Seringkali penghasilan mereka justru lebih kecil dibanding biaya operasional. Begitu miris.

Pembayaran cardboard collectors

Dimana Keluarga Mereka?

Ada dua faktor yang menyebabkan angka para pekerja lansia ini menjamur di Singapura. Pertama tren tidak menikah lebih tinggi dibanding negara lain. Hal ini menyebabkan ketika usia memasuki senja, mereka tak lain sebatang kara. Yang sialnya, tak semua lansia mendapatkan bantuan pokok dari pemerintah. Sementara di sisi lain, biaya hidup terus merangkak naik seiring majunya industri di Negara Singa itu.

Kedua, karena di sana sendiri orangtua bukanlah pertanggungjawaban wajib seorang anak. Memang, pekerjaan di sana notabene memiliki gaji yang mentereng. Namun ongkos hidup pun sama. Anak-anak mereka yang bekerja hanya mampu menghidupi diri dan keluarganya masing-masing. Itulah yang membuat para orangtua terlantar.

Mendapatkan Bantuan dari LSM

Ada beberapa lansia yang meskipun telah mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun tetap menggeluti profesi ini. Namun ada juga yang tak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Akan tetapi, mereka semua dilindungi oleh sebuah LSM bernama HPHP (Happy People Helping People), dimana LSM tersebut menjamin kebutuhan dasar mereka untuk terus hidup .

Jadi sekalipun penghasilan mereka sedang menurun (karena stok kardus tidak selalu banyak), mereka tetap bisa makan dengan layak.


Belajar dari profesi cardboard collectors, sisi buruk bahkan dimiliki negara Singapura sekalipun dalam lingkup masyarakatnya. Itulah pentingnya mensyukuri anugerah dengan terlahir sebagai warga Indonesia.

Arti warna seragam sekolah — Sejak zaman penjajahan Jepang, sekolah-sekolah di Indonesia sejatinya sudah memiliki seragam. Hal ini merupakan saran dari Jepang agar setiap siswa yang menempuh pelajaran mendapatkan kesetaraan. Namun pada masa itu, seragam setiap sekolah masih berbeda-beda.

Asal Mula

Ialah Bapak Idik Sulaeman selaku Direktur Pembinaan Kesiswaan di Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah periode 1979-1983. Beliau yang mencetuskan ide penyetaraan seragam sekolah di seluruh Indonesia.

Pria yang merupakan pencipta lambang OSIS dan sebutan Paskibraka ini menerbitkan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah pada 17 Maret 1982, saat masa pemerintahan Soeharto. Isinya tentang penggunaan seragam sekolah dan aturan corak warna bagi tiap tingkatan sekolah.

Warna seragam sekolah setiap jenjang pendidikan

Makna Filosofis

Di balik pemilihan warna yang dipakai untuk seragam SD, SMP, dan SMA, tersirat makna filosofis yang masih belum diketahui banyak orang. Padahal, filosofi ini penting untuk memaknai arti dari pengenaan corak warna di tiap seragam angkatan sekolah, yang bukanlah sekedar dekorasi semata.

Infografik; Arti Warna Seragam Sekolah
Infografik; Arti Warna Seragam Sekolah

1) Merah Pada Tingkat SD

Warna merah di sini melambangkan keceriaan, energi, dan keberanian. Diharapkan siswa dapat meningkatkan hasrat dan semangat untuk belajar di sekolah.

2) Biru Pada Tingkat SMP

Warna biru dipilih sebagai lambang percaya diri. Dikarenakan usia masuk SMP adalah usia remaja, diharapkan siswa dapat membangun rasa percaya diri dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

3) Abu-abu Pada Tingkat SMA/SMK

Warna abu-abu di sini berarti sikap labil karena usia masuk SMA adalah usia peralihan dari remaja ke dewasa. Selain itu, warna abu-abu juga bermakna ketenangan di mana siswa diharapkan dapat lebih tenang dan fokus dalam belajar, serta berpikir secara matang dan dewasa.

Budaya kerja setelah pandemi — Setelah Indonesia resmi dimasuki oleh COVID-19, perusahaan-perusahaan pun mulai mengambil langkah untuk mempekerjakan karyawannya dari rumah. Tak hanya pekerja negeri sipil dan karyawan swasta perusahaan menengah ke atas, industri yang masih masuk ranah UMKM pun ikut memaksimalkan potensi digital untuk memberlakukan kerja dari rumah atau WFH (Work From Home).

Awalnya, pola bekerja seperti ini dianggap tidak efektif dan akan membuat produktivitas karyawan menurun. Maklum, saat di fase awal, para karyawan mengalami transisi yang cukup untuk menciptakan budaya kaget (shock culture) dalam bekerja. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, tak dapat dipungkiri bahwa penerapan sistem WFH terbilang berhasil.

Banyak perusahaan yang sukses mencetak tren peningkatan produktivitas karyawannya. Situasi ini dapat menyimpulkan bahwa dengan koordinasi dan integrasi yang maksimal antar sesama anggota dalam organisasi, maka proses bekerja dari rumah pun dapat menghasilkan output yang maksimal bagi perusahaan.

Budaya Kerja Kala WFH di Tengah Pandemi

Berjalannya WFH juga menciptakan banyak cerita-cerita unik di dunia karir. Mulai dari mereka yang tetap produktif walau bekerja sambil rebahan, hingga mereka yang bekerja seraya mengurusi pekerjaan rumah. Bagi individu-individu yang sudah berkeluarga, tak jarang harus memecah otak untuk memantau anak yang mengikuti pembelajaran daring sekaligus menuntaskan pertanggungjawaban kerjanya.

Bagi beberapa orang, WFH adalah sebuah anugerah. Karena selain bisa menghemat uang transportasi, pola bekerja pun bisa dilakukan dengan lebih fleksibel. Akan tetapi, nampaknya sebentar lagi metode bekerja seperti ini akan usai mengingat pemerintah mulai mengeluarkan sinyal akan berhasilnya vaksin yang digadang-gadang mampu menyelesaikan problematika penularan COVID-19.

Budaya Kerja di Kantor Setelah Pandemi yang Mungkin akan Muncul

Infografik Budaya Kerja Setelah Pandemi
Infografik; Budaya Kerja Setelah Pandemi

Perbedaan pola bekerja yang cukup kontras tentunya akan menciptakan budaya baru ketika nantinya meja-meja di kantor kembali diisi oleh para karyawan yang sebelumnya bekerja dari rumah. Apalagi jika para karyawan sudah terlanjur nyaman dengan pola WFH. Tentunya, manajemen tidak menginginkan adanya penurunan produktivitas akibat budaya bekerja di kantor yang dianggap tidak nyaman, bukan?

1. Kebebasan untuk Mengkreasikan Area Kerja

Bekerja di rumah pastinya menimbulkan kejenuhan tersendiri. Apalagi bagi para karyawan yang tinggal sendirian. Untuk mengusir kebosanan, para karyawan biasanya akan mengkreasikan area kerja di rumah dengan pernak-pernik unik. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan terbawa ke kantor. Tentunya sah-sah saja apabila motivasinya untuk mengusir jenuh atau mendapatkan inspirasi dalam bekerja.

2. Tambahan Coffee Break/ Smoking Break

Cemilan adalah hal wajib untuk mengusir rasa bosan saat bekerja dari rumah. Selain menghilangkan jenuh, rasa-rasa nikmat khas makanan ringan juga membuat otak lebih fleksibel, sehingga tingkat fokus para pekerja dapat meningkat. Setelah pandemi nanti, Coffee Break atau Smoking Break bagi karyawan perokok. Jeda semacam ini akan sukses untuk membuat pikiran para karyawan rileks, sehingga produktivitas setelah break pun dapat melonjak.

3. Fleksibilitas Seragam Kerja

Baju tidur, kaos lengan buntung hingga celana boxer mungkin adalah seragam spesial tatkala bekerja dari rumah. Kemeja paling hanya dikenakan ketika ada meeting melalui video call saja. Setelah itu dilepas kembali. Siapa juga yang mengetahui dresscode ketika WFH? Inilah alasan mengapa kemungkinan besar budaya ini mungkin akan terbawa. Mungkin tak akan seekstrim ketika bekerja dari rumah. Namun bisa jadi beberapa perusahaan memutuskan untuk menghalalkan karyawannya memakai kaos oblong atau celana jeans ketika kembali masuk ke kantor.

4. Pengadaan Fasilitas Area Olahraga atau Fitness di Kantor

Bekerja beberapa jam, kemudian workout sejenak. Di masa pandemi, kita dianjurkan untuk melakukan beberapa gerakan fisik harian untuk menjaga stamina. Rutinitas ini membuat sebagian karyawan merasa nyaman, dan mungkin akan merasa lebih segar. Setelah menjadi kebiasaan, maka bisa jadi manajemen mempertimbangkan agar fasilitas yang sama disediakan di kantor. Agar ketika pekerja mulai jenuh, mereka bisa mengangkat barbel beberapa kali, atau berlari sejenak di treadmill untuk mengeluarkan keringat.

5. Jam Istirahat yang Fleksibel

Katakan selamat tinggal pada tradisi “lunch at 12“. Pola makan saat bekerja di rumah menjadi tidak teratur. Selaparnya perut, baru makan. Ini tak asing, mengingat cemilan adalah sahabat setia ketika para karyawan duduk manis di depan laptop masing-masing. Jam istirahat mungkin karyawan akan dibuat bebas, asal tetap satu jam.

6. Lunturnya Budaya Komunikasi Langsung

WhatsApp, Skype, Telegram, dan berbagai media sosial lain adalah sarana berkoordinasi para karyawan saat bekerja dari rumah. Yang mejanya berdampingan pun mungkin akan merasa lebih nyaman untuk berkomunikasi melalui obrolan daring karena terlanjur terbiasa. Di perusahaan besar yang beberapa divisi harus terpisah lantai, mungkin penggunaan Google Meet atau Zoom bisa menjadi opsi ketika meeting akan diadakan.

7. Suasana Kerja yang Lebih Santai

Inilah benang merah dari semua budaya di atas. Kedepannya, bunyi kunyahan keripik, karyawan yang meninggalkan meja untuk berolahraga atau merokok, headset yang menyumbat telinga, hingga banyak tradisi baru yang mungkin sebelum pandemi dianggap tak lazim akan muncul ketika para karyawan kembali bekerja di kantor. Dampaknya? Tergantung, berbalik ke integritas setiap individu. Bilamana rasa tanggungjawab dan keinginan untuk menciptakan sinergi guna membangun perusahaan masih melekat, maka hal ini tidak selalu menjadi hambatan.


Kendati demikian, target dan KPI dalam bekerja adalah prioritas yang harus diutamakan dengan budaya bekerja baru setelah pandemi kelak. Biar bagaimanapun, perusahaan menggaji karyawan dengan harapan timbal balik, bukan? Oleh karena itu, jangan sampai budaya-budaya baru ini disalahgunakan, ya!

Tak ada yang mengira kalau asal mula demonstrasi Hongkong yang sedang cukup viral di berita internasional saat ini berawal dari hal sepele. Bisa dibilang, peristiwa ini adalah salah satu contoh dari butterfly effect atau efek kupu-kupu, dimana sebuah peristiwa yang terjadi mengakibatkan peristiwa besar, yang bahkan dapat mengubah sejarah.

Infografik; Asal Mula Demonstrasi Hongkong
Infografik; Asal Mula Demonstrasi Hongkong

Awal Mula

Pada 17 Februari 2018, Chan Tong-kai alias Chen Tongjia membunuh pacarnya yang bernama Amber Poon Hiu-wing alias Pan Xiaoying di Taipei, Taiwan. Ia dan pacarnya berasal dari Hongkong dan sedang pergi berlibur di Taiwan. Di Taipei, Chan Tong-kai dan Poon Hiu-wing terlibat pertengkaran besar.

Di tengah pertengkaran, Poon Hiu-wing mengaku bahwa bayi yang dikandungnya bukanlah anak dari Chan Tong-kai, ia bahkan menunjukkan rekaman video tak senonohnya bersama mantan kekasihnya. Naik pitam, Chan Tong-kai pun membunuh pacarnya. Jenazah kekasihnya ia masukkan ke dalam koper dan dibuang ke Sungai Tamsui. Setelah itu, Chan Tong-kai pulang ke Hongkong.

Rekaman CCTV Chan Tong-kai Membawa Jenazah Kekasihnya dalam Koper
Chan Tong-kai tertangkap CCTV membawa jenazah kekasihnya di dalam koper

Orangtua Poon Hiu-wing yang khawatir pun melaporkan keberadaan anaknya yang sudah beberapa hari hilang kepada kepolisian Hongkong. Setelah serangkaian investigasi, akhirnya polisi menemukan titik terang. Chan Tong-kai dipanggil oleh pihak kepolisian dan ia mengaku telah membunuh Poon Hiu-wing di Taiwan.

Akar Permasalahan

Demonstrasi Penolakan Ekstradisi di Hongkong
Demonstrasi Penolakan Ekstradisi di Hongkong (Sumber: BBC)

Di sinilah masalahnya dimulai. Kejahatan itu dilakukan Chan Tong-kai di Taiwan yang merupakan kawasan diluar yuridiksi Hongkong. Dengan demikian, kejahatan yang dilakukannya tidak dapat diadili di Hongkong, melainkan hanya bisa di Taiwan. Akan tetapi, Taiwan dan Hongkong tidak memiliki perjanjian ekstradisi.

Perlu diketahui, Hongkong merupakan wilayah spesial yang diserahkan oleh Inggris kepada China pada tahun 1997. Namun setelah penyerahan itu, Hongkong tetap memiliki otonomi khusus, sehingga memiliki hukum yang berbeda dengan China daratan.

Usulan China akan pengadaan Undang-undang Ekstradisi antar China, Taiwan, dan Hongkong ditafsirkan sebagai kesempatan untuk China dalam memperkuat pengaruhnya atas Hongkong. Para aktivis pro-demokrasi khawatir jika UU ini disahkan, maka akan banyak aktivis pro-demokrasi yang ditangkap oleh otoritas China dan akan diadili sesuai hukum komunis di China daratan.

Demonstrasi Besar-besaran

Demonstrasi Hongkong Memanas pada 2019
Demonstrasi Hongkong Memanas pada 2019 (Sumber: Wikipedia)

Untuk menolak usulan Undang-undang Ekstradisi tersebut, protes dan demonstrasi besar-besaran pun terjadi. Bahkan sampai hari ini, protes tersebut belum juga usai. Akibat demonstrasi, situasi di Hongkong mencekam. Ekonomi melemah, keamanan menurun drastis, Hongkong seakan dilumpuhkan oleh karena konflik politik di sana.

Chan Tong-kai mungkin tidak akan menyangka, aksi kriminal yang ia lakukan akan membuat buku Sejarah di Hongkong menjadi lebih tebal. Tahun 2019 hingga sekarang tentunya akan menjadi tahun yang tak akan dilupakan warga Hongkong. Dimana akibat pembunuhan yang dilakukan oleh pemuda labil sukses menciptakan demonstrasi besar-besaran yang akan tercatat oleh sejarah.

Sampai kapanpun, istilah “mantan saudara” tidak akan pernah ada. Ungkapan ini tentunya sangat cocok bilamana disandingkan dengan kondisi Indonesia dan Timor Leste saat ini. Merdeka secara utuh saat 2002 silam, negara yang terletak di sisi selatan Indonesia ini ternyata masih menyimpan hubungan yang mesra dengan pihak yang pernah menganeksasinya. Bahkan, ketergantungan Timor Leste pada Indonesia masih sangat tinggi.

Infografik; Ketergantungan Timor Leste pada Indonesia
Infografik; Ketergantungan Timor Leste pada Indonesia

Kebutuhan Pokok

Warung di Dili, Timor Leste
Warung di Dili, Timor Leste

Tak dapat dipungkiri, Indonesia masih merupakan negara importir terbesar untuk Timor Leste. Tak tanggung-tanggung, suplai bahan pokok dari Indonesia bahkan mencapai angka 80 persen! Kondisi ini tentu saja membuat Timor Leste merasakan kedekatan dan berupaya membangun hubungan baik dengan Indonesia. Hubungan ini juga bisa dibilang melampaui jauh dengan apa yang negara sahabatnya (Australia dan Portugal) kontribusikan.

Menurut duta besar Indonesia untuk Timor Leste, Sehat Sitorus, kebutuhan pokok mulai dari bahan makanan, keperluan sanitasi, hingga barang-barang konsumsi tersier diimpor dari Indonesia melalui jalur perdagangan Surabaya-Timor. Kerjasama ini juga tentunya merupakan hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Pembangunan

Bandara Suai, Timor Leste, yang digarap oleh Waskita Karya
Bandara Suai, Timor Leste, yang digarap oleh Waskita Karya

Dari segi pembangunan, Indonesia pun ikut turun tangan. Jalan-jalan raya, sarana transportasi, pembangkit listrik, hingga gedung kenegaraan, semuanya memakai kontraktor dari Indonesia. BUMN Wijaya Karya, Waskita Karya, dan Brantas Abipraya yang paling sering menerima amanat untuk mengambil pekerjaan ini.

Contoh suksesnya adalah pembangunan Gedung Kementerian Keuangan Timor Leste dibangun oleh PT PP dan Bandara Suai di bangun oleh Waskita Karya dengan dana yang dihabiskan hingga US$ 67 juta atau sekitar Rp 670 miliar.

Hiburan

Sinetron Cinta Fitri yang ngetren di Timor Leste
Sinetron Cinta Fitri yang ngetren di Timor Leste

Minimnya hiburan dalam negeri juga turut menyumbang persentase ketergantungan Timor Leste pada Indonesia. Sinetron Cinta Fitri contohnya. Sinetron yang cukup populer pula di Indonesia ini sempat merajai dunia hiburan di industri pertelevisian Timor Leste. Bahkan, enam media arus utama di Timor Leste mengapresiasi karya anak Indonesia ini. Padahal, Timor Leste sendiri sebenarnya memiliki film potensial.

Jadi, dulu sempat ada film bernama Balibo. Film Balibo Five diangkat dari kisah terbunuhnya lima wartawan asing oleh Indonesia di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Timur (kini Timor Leste) pada tahun 1975. Lima wartawan asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris tewas saat tengah meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste. Ternyata, film Balibo ini tidak mendapat respon positif dari rakyat Timor Leste. Bahkan mirisnya, film sejarah ini dikalahkan dengan sinetron Indonesia waktu itu.


Terlepas dari dosa yang pernah Indonesia perbuat terhadap Timor Leste, tak dapat dipungkiri bilamana pada saat ini, Indonesia bisa dibilang yang paling dekat. Kita memang tidak memberikan bantuan yang sangat signifikan, namun suplai yang konsisten kita impor ke mereka tentunya akan sangat membantu mereka mendongkrak produktivitas masyarakatnya.

Meskipun semenjak merdekanya hingga saat ini kemerdekaan Timor Leste masih stagnan, namun tentunya semua pihak mengharapkan perubahan pada negara yang masih remaja ini. Semoga saja, Timor Leste bisa lebih semangat menjemput kemakmurannya.

Sebagai tempat dengan ragam fungsi, mulai dari tempat tinggal, bekerja, belanja, hingga sekedar rekreasi, sebuah bangunan haruslah memenuhi standar tertentu yang terdiri dari ragam aspek. Apalagi kalau bangunan tersebut memiliki lantai bertingkat, tentunya perhitungan seperti kekuatan kerangka bangunan dan struktur tanah wajib dianalisis secara tepat dan akurat. Sayangnya, beberapa hal membuat pengelola gedung mengesampingkan hal itu. Tragedi Sampoong Departement Store adalah salah satu kasus nyata akan penjelasan di atas.

Tragedi Sampoong Departement Store

Tragedi Sampoong Departement Store
Infografik; Tragedi Sampoong Departement Store

Lokasinya di Seoul, Korea Selatan. Bencana ini terjadi 25 tahun yang lalu, sekitar bulan Juni 1995. Bangunan 6 lantai (termasuk 1 basement) ini rubuh hanya dalam 20 detik dan mengubur 1.500 orang di dalamnya (502 orang tewas, sisanya luka-luka). Bayangkan, dalam 20 detik, badan para korban terkubur di dalam struktur 6 lantai. Di masa kejayaannya, dalam sehari, mal yang mencetak jargon The Largest Peacetime Disaster in South Korean History ini dapat dikunjungi hingga 20.000 orang.

Apa sebabnya? Bukan karena terorisme. Bukan juga karena gempa bumi. Dan bukan pula dibom oleh negara tetangganya. Sebab rubuhnya bangunan ini karena dilatarbelakangi keserakahan manusia. Lee Joon (pemilik gedung) dan Lee Han-Sang (Putra Lee Joon, CEO dari Sampoong Dept Store) adalah dua tersangka yang dipenjarakan.

Sebab-sebab

1. Jumlah Lantai yang Dipaksa Tambah

Sampoong Departement Store awalnya direncanakan sebagai pusat perkantoran dengan desain 4 lantai. Namun seiring dengan pembangunannya, Lee Joon merubahnya menjadi pusat perbelanjaan. Otomatis, alih fungsi itu menimbulkan kebutuhan lahan baru. Solusinya, lantai 5 pun ditambahkan.

Arsitek dan para kontraktor tentu saja tidak setuju dengan penambahan lantai tersebut karena khawatir bagian bawah bangunan tidak dapat menahan beban. Lahan yang notabenenya merupakan bekas lahan pembuangan sampah turut menciptakan struktur tanah yang labil.

Lee sebagai pemilik gedung tidak mau mendengar kritikan ini. Kemudian ia memecat arsitek dan semua kontraktornya, mengganti dengan arsitek yang “mau”. Apa ada yang mau? Tentu saja. Dengan uang, semua hal bisa terselesaikan, bukan?

2. Ukuran Struktur Utama yang Diperkecil
Diameter beton bertulang seharusnya (Tragedi Sampoong Departement Store)
Diameter beton bertulang seharusnya
Diameter beton bertulang yang diperkecil (Tragedi Sampoong Departement Store)
Diameter beton bertulang yang diperkecil

Dalam membangun gedung, struktur utama atau kombinasi tiang (lebih sering dikenal dengan nama kolom) dan balok adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Ada perhitungan diameter dan analisis kekuatannya untuk menentukan besarannya.

Lain halnya di Di Sampoong Departement Store ini. Untuk memaksimalkan ruang lantai, Lee Joon memerintahkan kolom lantai agar dikurangi diameternya menjadi 60 cm, bukan minimal 80 cm (standar yang diperlukan agar bangunan dapat berdiri dengan aman). Dengan dikuranginya volume kolom, Lee dapat menghemat uang sangat banyak ditambah ruang yang dihasilkan juga maksimal.

Kolom-kolom tersebut diberi jarak 11 meter untuk memaksimalkan ruang ritel. Sebuah keputusan yang berarti bahwa ada lebih banyak beban pada setiap kolom daripada jika kolom-kolom tersebut saling berdekatan. Bentang sepanjang 11 meter ini juga untuk tempat eskalator.

3. Penambahan Pemanas

Lantai 5 yang awalnya akan dijadikan sebagai tempat bermain sepatu roda, diganti oleh Lee Joon menjadi food court. Ketika makan, masyarakat Korea duduk lesehan. Oleh karena itu, pemanas ruangan ditaruh dibagian bawah lantai. Pemanas ini disebut ondol.

Panas yang dikeluarkan oleh ondol terus menjalar ke tiang atau kolom-kolom di bawahnya. Sistem ondol ini dengan menggunakan pipa yang dialiri air panas. Keberadaan ondol setebal 1,2 meter yang berat ini juga sangat meningkatkan beban bangunan apalagi letaknya yang berada di lantai 5.

4. Getaran AC
Letak Unit AC di Sampoong Departement Store (bagian yang dilingkari)
Letak Unit AC di Sampoong Departement Store (bagian yang dilingkari)

Getaran yang ditimbulkan oleh AC juga semakin memperburuk retakan di antara struktur gedung. Tiga unit pendingin udara yang masing-masing memiliki berat 15 ton ini dipasang di atap bangunan. Praktis, tiga AC ini menciptakan beban 45–50 ton, yang empat kali lipat melebihi batas desain bangunan.

Pada tahun 1993, AC dipindahkan dengan cara diseret melintasi atap yang rapuh, sehingga mengakibatkan keretakan. Karena sedari awal sudah setengah mati menahan beban yang tidak sepadan dengan besarnya. Awal kehancuran gedung mulai terproses dari saat itu.

Tanda-tanda

Pada bulan April 1995 alias 2 bulan sebelum tragedi, retakan mulai muncul di langit-langit lantai 5 sayap selatan. Akan tetapi, satu-satunya tanggapan Lee hanya memindahkan barang dagangan dan toko dari lantai atas ke basement. Tindakan meremehkan yang tanpa ia sadari adalah awal dari terjebloskannya ia ke penjara.

Pagi hari tanggal 29 Juni, jumlah retakan di area tersebut meningkat parah sehingga mendorong pengelola untuk menutup sebagian lantai 5. Manajemen mal tidak menutup gedung atau mengeluarkan perintah evakuasi resmi, karena jumlah pelanggan di dalam gedung sangat tinggi. Miris, tidak ingin kehilangan pendapatan, tapi menghilang nyawa ratusan orang.

Ahli teknik sipil sempat dipanggil untuk memeriksa struktur. Pemeriksaan sepintas mengungkapkan bahwa bangunan itu berisiko runtuh dan Lee mengetahui ini. Guna meredam keluhan pelanggan tentang getaran, AC pun dimatikan. Namun retakan di lantai sudah bertambah lebar. Saat menyadari bahwa runtuhnya gedung tidak bisa dihindari, rapat dewan darurat langsung diadakan.

Direktur menyarankan kepada Lee bahwa semua pelanggan harus dievakuasi, tetapi Lee dengan marah. Ia menolak melakukannya karena takut kehilangan pendapatan. Namun, Lee sendiri meninggalkan gedung dengan selamat sebelum keruntuhan terjadi. Dia bahkan tidak memberi tahu menantu perempuannya sendiri, Chu Kyung Young, yang merupakan salah satu karyawan di gedung itu tentang bahaya yang akan segera terjadi. Chu Kyung Young terjebak di reruntuhan dan berhasil diselamatkan beberapa hari kemudian.

Detik Kejadian

Ketika toko mulai mengeluarkan suara retak sekitar pukul 17:52, para pekerja langsung membunyikan alarm dan mengungsi dari gedung. Akan tetapi, semuanya sudah terlambat. Atapnya runtuh, AC seberat 50 ton tadi jatuh menabrak lantai 5 yang sudah kelebihan beban. Kolom utama runtuh secara bergantian dari sayap selatan bangunan dan menjalar sampai ke basement.

Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, semua kolom di sayap selatan toko telah lepas, menewaskan 502 orang. Bencana tersebut mengakibatkan kerugian sekitar 270 miliar Won (sekitar USD 216 juta pada saat itu dan sekitar USD 364 juta pada tahun 2020).

1.500 orang terkubur di dalamnya, orang terakhir yang berhasil diselamatkan adalah Park Seung-hyun, ditarik dari dalam puing 17 hari setelah kejadian. Ia mampu bertahan dari dehidrasi dengan hanya mengandalkan air tetesan hujan. Seorang pria yang diselamatkan setelah 9 hari berkata bahwa banyak korban selamat yang terperangkap, meninggal tenggelam karena hujan dan dari air yang digunakan untuk memadamkan api.


Begitulah cerita singkat tragedi Sampoong Departement Store yang disebabkan ketamakan manusia. Semoga kita semua mampu menarik maknanya.