Sampai kapanpun, istilah “mantan saudara” tidak akan pernah ada. Ungkapan ini tentunya sangat cocok bilamana disandingkan dengan kondisi Indonesia dan Timor Leste saat ini. Merdeka secara utuh saat 2002 silam, negara yang terletak di sisi selatan Indonesia ini ternyata masih menyimpan hubungan yang mesra dengan pihak yang pernah menganeksasinya. Bahkan, ketergantungan Timor Leste pada Indonesia masih sangat tinggi.

Infografik; Ketergantungan Timor Leste pada Indonesia
Infografik; Ketergantungan Timor Leste pada Indonesia

Kebutuhan Pokok

Warung di Dili, Timor Leste
Warung di Dili, Timor Leste

Tak dapat dipungkiri, Indonesia masih merupakan negara importir terbesar untuk Timor Leste. Tak tanggung-tanggung, suplai bahan pokok dari Indonesia bahkan mencapai angka 80 persen! Kondisi ini tentu saja membuat Timor Leste merasakan kedekatan dan berupaya membangun hubungan baik dengan Indonesia. Hubungan ini juga bisa dibilang melampaui jauh dengan apa yang negara sahabatnya (Australia dan Portugal) kontribusikan.

Menurut duta besar Indonesia untuk Timor Leste, Sehat Sitorus, kebutuhan pokok mulai dari bahan makanan, keperluan sanitasi, hingga barang-barang konsumsi tersier diimpor dari Indonesia melalui jalur perdagangan Surabaya-Timor. Kerjasama ini juga tentunya merupakan hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Pembangunan

Bandara Suai, Timor Leste, yang digarap oleh Waskita Karya
Bandara Suai, Timor Leste, yang digarap oleh Waskita Karya

Dari segi pembangunan, Indonesia pun ikut turun tangan. Jalan-jalan raya, sarana transportasi, pembangkit listrik, hingga gedung kenegaraan, semuanya memakai kontraktor dari Indonesia. BUMN Wijaya Karya, Waskita Karya, dan Brantas Abipraya yang paling sering menerima amanat untuk mengambil pekerjaan ini.

Contoh suksesnya adalah pembangunan Gedung Kementerian Keuangan Timor Leste dibangun oleh PT PP dan Bandara Suai di bangun oleh Waskita Karya dengan dana yang dihabiskan hingga US$ 67 juta atau sekitar Rp 670 miliar.

Hiburan

Sinetron Cinta Fitri yang ngetren di Timor Leste
Sinetron Cinta Fitri yang ngetren di Timor Leste

Minimnya hiburan dalam negeri juga turut menyumbang persentase ketergantungan Timor Leste pada Indonesia. Sinetron Cinta Fitri contohnya. Sinetron yang cukup populer pula di Indonesia ini sempat merajai dunia hiburan di industri pertelevisian Timor Leste. Bahkan, enam media arus utama di Timor Leste mengapresiasi karya anak Indonesia ini. Padahal, Timor Leste sendiri sebenarnya memiliki film potensial.

Jadi, dulu sempat ada film bernama Balibo. Film Balibo Five diangkat dari kisah terbunuhnya lima wartawan asing oleh Indonesia di Balibo, wilayah perbatasan di Timor Timur (kini Timor Leste) pada tahun 1975. Lima wartawan asal Australia, Selandia Baru, dan Inggris tewas saat tengah meliput masuknya tentara Indonesia ke Timor Leste. Ternyata, film Balibo ini tidak mendapat respon positif dari rakyat Timor Leste. Bahkan mirisnya, film sejarah ini dikalahkan dengan sinetron Indonesia waktu itu.


Terlepas dari dosa yang pernah Indonesia perbuat terhadap Timor Leste, tak dapat dipungkiri bilamana pada saat ini, Indonesia bisa dibilang yang paling dekat. Kita memang tidak memberikan bantuan yang sangat signifikan, namun suplai yang konsisten kita impor ke mereka tentunya akan sangat membantu mereka mendongkrak produktivitas masyarakatnya.

Meskipun semenjak merdekanya hingga saat ini kemerdekaan Timor Leste masih stagnan, namun tentunya semua pihak mengharapkan perubahan pada negara yang masih remaja ini. Semoga saja, Timor Leste bisa lebih semangat menjemput kemakmurannya.

Sebagai tempat dengan ragam fungsi, mulai dari tempat tinggal, bekerja, belanja, hingga sekedar rekreasi, sebuah bangunan haruslah memenuhi standar tertentu yang terdiri dari ragam aspek. Apalagi kalau bangunan tersebut memiliki lantai bertingkat, tentunya perhitungan seperti kekuatan kerangka bangunan dan struktur tanah wajib dianalisis secara tepat dan akurat. Sayangnya, beberapa hal membuat pengelola gedung mengesampingkan hal itu. Tragedi Sampoong Departement Store adalah salah satu kasus nyata akan penjelasan di atas.

Tragedi Sampoong Departement Store

Tragedi Sampoong Departement Store
Infografik; Tragedi Sampoong Departement Store

Lokasinya di Seoul, Korea Selatan. Bencana ini terjadi 25 tahun yang lalu, sekitar bulan Juni 1995. Bangunan 6 lantai (termasuk 1 basement) ini rubuh hanya dalam 20 detik dan mengubur 1.500 orang di dalamnya (502 orang tewas, sisanya luka-luka). Bayangkan, dalam 20 detik, badan para korban terkubur di dalam struktur 6 lantai. Di masa kejayaannya, dalam sehari, mal yang mencetak jargon The Largest Peacetime Disaster in South Korean History ini dapat dikunjungi hingga 20.000 orang.

Apa sebabnya? Bukan karena terorisme. Bukan juga karena gempa bumi. Dan bukan pula dibom oleh negara tetangganya. Sebab rubuhnya bangunan ini karena dilatarbelakangi keserakahan manusia. Lee Joon (pemilik gedung) dan Lee Han-Sang (Putra Lee Joon, CEO dari Sampoong Dept Store) adalah dua tersangka yang dipenjarakan.

Sebab-sebab

1. Jumlah Lantai yang Dipaksa Tambah

Sampoong Departement Store awalnya direncanakan sebagai pusat perkantoran dengan desain 4 lantai. Namun seiring dengan pembangunannya, Lee Joon merubahnya menjadi pusat perbelanjaan. Otomatis, alih fungsi itu menimbulkan kebutuhan lahan baru. Solusinya, lantai 5 pun ditambahkan.

Arsitek dan para kontraktor tentu saja tidak setuju dengan penambahan lantai tersebut karena khawatir bagian bawah bangunan tidak dapat menahan beban. Lahan yang notabenenya merupakan bekas lahan pembuangan sampah turut menciptakan struktur tanah yang labil.

Lee sebagai pemilik gedung tidak mau mendengar kritikan ini. Kemudian ia memecat arsitek dan semua kontraktornya, mengganti dengan arsitek yang “mau”. Apa ada yang mau? Tentu saja. Dengan uang, semua hal bisa terselesaikan, bukan?

2. Ukuran Struktur Utama yang Diperkecil
Diameter beton bertulang seharusnya (Tragedi Sampoong Departement Store)
Diameter beton bertulang seharusnya
Diameter beton bertulang yang diperkecil (Tragedi Sampoong Departement Store)
Diameter beton bertulang yang diperkecil

Dalam membangun gedung, struktur utama atau kombinasi tiang (lebih sering dikenal dengan nama kolom) dan balok adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Ada perhitungan diameter dan analisis kekuatannya untuk menentukan besarannya.

Lain halnya di Di Sampoong Departement Store ini. Untuk memaksimalkan ruang lantai, Lee Joon memerintahkan kolom lantai agar dikurangi diameternya menjadi 60 cm, bukan minimal 80 cm (standar yang diperlukan agar bangunan dapat berdiri dengan aman). Dengan dikuranginya volume kolom, Lee dapat menghemat uang sangat banyak ditambah ruang yang dihasilkan juga maksimal.

Kolom-kolom tersebut diberi jarak 11 meter untuk memaksimalkan ruang ritel. Sebuah keputusan yang berarti bahwa ada lebih banyak beban pada setiap kolom daripada jika kolom-kolom tersebut saling berdekatan. Bentang sepanjang 11 meter ini juga untuk tempat eskalator.

3. Penambahan Pemanas

Lantai 5 yang awalnya akan dijadikan sebagai tempat bermain sepatu roda, diganti oleh Lee Joon menjadi food court. Ketika makan, masyarakat Korea duduk lesehan. Oleh karena itu, pemanas ruangan ditaruh dibagian bawah lantai. Pemanas ini disebut ondol.

Panas yang dikeluarkan oleh ondol terus menjalar ke tiang atau kolom-kolom di bawahnya. Sistem ondol ini dengan menggunakan pipa yang dialiri air panas. Keberadaan ondol setebal 1,2 meter yang berat ini juga sangat meningkatkan beban bangunan apalagi letaknya yang berada di lantai 5.

4. Getaran AC
Letak Unit AC di Sampoong Departement Store (bagian yang dilingkari)
Letak Unit AC di Sampoong Departement Store (bagian yang dilingkari)

Getaran yang ditimbulkan oleh AC juga semakin memperburuk retakan di antara struktur gedung. Tiga unit pendingin udara yang masing-masing memiliki berat 15 ton ini dipasang di atap bangunan. Praktis, tiga AC ini menciptakan beban 45–50 ton, yang empat kali lipat melebihi batas desain bangunan.

Pada tahun 1993, AC dipindahkan dengan cara diseret melintasi atap yang rapuh, sehingga mengakibatkan keretakan. Karena sedari awal sudah setengah mati menahan beban yang tidak sepadan dengan besarnya. Awal kehancuran gedung mulai terproses dari saat itu.

Tanda-tanda

Pada bulan April 1995 alias 2 bulan sebelum tragedi, retakan mulai muncul di langit-langit lantai 5 sayap selatan. Akan tetapi, satu-satunya tanggapan Lee hanya memindahkan barang dagangan dan toko dari lantai atas ke basement. Tindakan meremehkan yang tanpa ia sadari adalah awal dari terjebloskannya ia ke penjara.

Pagi hari tanggal 29 Juni, jumlah retakan di area tersebut meningkat parah sehingga mendorong pengelola untuk menutup sebagian lantai 5. Manajemen mal tidak menutup gedung atau mengeluarkan perintah evakuasi resmi, karena jumlah pelanggan di dalam gedung sangat tinggi. Miris, tidak ingin kehilangan pendapatan, tapi menghilang nyawa ratusan orang.

Ahli teknik sipil sempat dipanggil untuk memeriksa struktur. Pemeriksaan sepintas mengungkapkan bahwa bangunan itu berisiko runtuh dan Lee mengetahui ini. Guna meredam keluhan pelanggan tentang getaran, AC pun dimatikan. Namun retakan di lantai sudah bertambah lebar. Saat menyadari bahwa runtuhnya gedung tidak bisa dihindari, rapat dewan darurat langsung diadakan.

Direktur menyarankan kepada Lee bahwa semua pelanggan harus dievakuasi, tetapi Lee dengan marah. Ia menolak melakukannya karena takut kehilangan pendapatan. Namun, Lee sendiri meninggalkan gedung dengan selamat sebelum keruntuhan terjadi. Dia bahkan tidak memberi tahu menantu perempuannya sendiri, Chu Kyung Young, yang merupakan salah satu karyawan di gedung itu tentang bahaya yang akan segera terjadi. Chu Kyung Young terjebak di reruntuhan dan berhasil diselamatkan beberapa hari kemudian.

Detik Kejadian

Ketika toko mulai mengeluarkan suara retak sekitar pukul 17:52, para pekerja langsung membunyikan alarm dan mengungsi dari gedung. Akan tetapi, semuanya sudah terlambat. Atapnya runtuh, AC seberat 50 ton tadi jatuh menabrak lantai 5 yang sudah kelebihan beban. Kolom utama runtuh secara bergantian dari sayap selatan bangunan dan menjalar sampai ke basement.

Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, semua kolom di sayap selatan toko telah lepas, menewaskan 502 orang. Bencana tersebut mengakibatkan kerugian sekitar 270 miliar Won (sekitar USD 216 juta pada saat itu dan sekitar USD 364 juta pada tahun 2020).

1.500 orang terkubur di dalamnya, orang terakhir yang berhasil diselamatkan adalah Park Seung-hyun, ditarik dari dalam puing 17 hari setelah kejadian. Ia mampu bertahan dari dehidrasi dengan hanya mengandalkan air tetesan hujan. Seorang pria yang diselamatkan setelah 9 hari berkata bahwa banyak korban selamat yang terperangkap, meninggal tenggelam karena hujan dan dari air yang digunakan untuk memadamkan api.


Begitulah cerita singkat tragedi Sampoong Departement Store yang disebabkan ketamakan manusia. Semoga kita semua mampu menarik maknanya.